
Seorang diri Rumi JJS, jalan-jalan sore usai memakan mie rebus rasa sate kambing. Galaksi yang hampir gila memikirkan bagaimana membuat mie rebus rasa sate kambing hampir saja membeli pabrik mie instan dan menyuruhnya membuat varian mie instan rasa sate kambing.
Namun karena sang istri memintanya untuk ke tanah Abang dulu untuk mencari mie yang sesuai keinginan Rumi akhirnya dia memutuskan untuk kesana terlebih dahulu. Hampir setengah jam berputar -putar di tanah abang tetapi belum menemukan mie yang sesuai dengan keinginan istrinya.
Lelah, Galaksi berhenti dahulu di sebuah emperan toko sambil mengusap keringat yang membasahi keningnya. Ingin rasanya menyerah saat itu juga. Tapi tak tega jika harus kembali dengan tangan kosong.
Lalu ada seorang tukang parkir menghampiri Galaksi. Dia dapat melihat jika Galaksi tengah memiliki sebuah masalah.
"Mas, lagi ada masalah ya?" tanya Bang Heri, tukang parkir di daerah tanah abang
"Ehh iya bang, istri saya ngidam. Tapi permintaan bikin pusing tujuh keliling," ucap Galaksi curhat
"Hahahaha sabar mas, ini masa paling indah bagi setiap suami saat istrinya hamil. Kalo boleh tau, memangnya istrinya mas ngidam apa sih?" tanya Bang Heri pemasaran.
"Istri saya ngidam mie rebus rasa sate kambing bang. Pusing saya cari nya. Udah keliling tanah abang tapi ga ketemu. saya lebih baik istri ngidam beliin berlian dari pada ngidam begituan bang. Mau pulag tapi ga tega liatin istri sedih karena ga nemu mie yang sesuai keinginan istri saya," keluh Galaksi.
Bang Heri mengereyitkan dahinya, seperti tidak asing mendengar permintaan istrinya Galaksi.
"Mie rebus rasa sate ayam???" tanya Bang Heri memastikan.
"Iya bang. Masa iya saya harus beli pabriknya buat bikin varian baru," desah Galaksi, cape, panas, haus semua jadi satu.
"Kok sama kayak ngidam istri saya waktu hamil anak ke lima ya bang?? Ayo saya antar, sepertinya tau maksudnya ngidam istrinya mas, ayo!!" Ajak Mang Heri.
Seperti mendapatkan pelangi setelah hujan badai, Galaksi dengan semangat mengikuti Mang Heri.
"Ini tempatnya mas," ucap Bang Heri begitu sampai di sebuah warkop
"Emang di sini ada ya?? Ini kan warkop?" Galaksi masih belum paham.
"Gini nih mas, ini ada warkop bersebelahan dengan tukang sate. Nah sekarang mas nya pesen sate sepuluh tusuk kemudian kasiin ke mbak -mbak penjaga warkopnya minta bikinin mie rebus dicampur dengan sate kambing yang udah mas beli," ucap Bang Heri
"Gitu aja??"
"Iya mas, mie rebus rasa sate kambing," tegas Mang Heri.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
Hingga detik ke-lima Galaksi masih dalam mode loading bagaikan komputernya Pentium satu. Detik berikutnya baru dia tertawa terbahak-bahak menyadari kebodohannya saat ini.
"Aaahhhh kenapa ga kepikiran mang. Ya ampun makasih ya sudah ngasih petunjuk," ucap Galaksi dengan tulus, bang Heri juga ikut bahagia.
__ADS_1
Akhirnya setelah setengah jam kemudian pesanan Rumi sudah siap. Dia membeli dia porsi untuk dirinya dan Rumi. Dia juga ingin merasakan bagaimana sensasi memakan mie rebus rasa sate kambing.
Sebelum pulang tak lupa Galaksi memberikan ucapan terima kasih kepada Bang Heri dengan menyelipkan beberapa lembar uang merah untuk jajan anaknya.
.
.
Sudah lima jajanan yang Rumi makan, mulai dari cilok, cimol, kue ape, telur gulung dan permen gulali. Tenggorokan Rumi merasa haus dan ingin membeli sebuah minuman yang rasanya segar.
"Kayaknya thai tea enak nih," gumamnya saat melihat kedai minuman yang cukup ramai.
"Pergi dari sini!!! Gara-gara lo tempat ini sepi, pengunjung ga mau datang kesini, dasar miskin. Kalo ga punya uang jangan makan disini. Enak aja mau makan gratis!!!" Hardik seorang pria kepada wanita paruh baya.
Wanita paruh baya itu tersungkur di tanah setelah didorong dengan kasar oleh pria tersebut. Dia hanya bisa menahan kesedihan mendapatkan cacian dan umpatan dari pegawai sebuah rumah makan.
Melihat hal tersebut Rumi pun bergegas menolong wanita tersebut dan membantunya berdiri.
"Tante gapapa? Ada yang sakit ga?" tanya Rumi sambi membersihkan bajunya yang kotor. Wanita tersebut menggeleng lemah.
"Heh, bisa ga sih ga usah kasar sama orang tua hah!!! Memangnya kamu ga punya orang tua!!! Edyan!!" umpat Rumi
"Lo ga usah jadi pahlawan. Ini memangnya orang tua lo hah!! Orang tua ini ga punya uang tapi dengan gayanya masuk dan makan tanpa mau bayar. Katanya anaknya mau jemput. Tapi udah hampir dua jam ga datang-datang. Udah ga punya duit mau makan yang enak pula!!!" Hardik pria tersebut.
"Ya tapi kan ga perlu kasar bisa ga sih. Ini orang tua yang harus di hormati, apa lo lahir dari batu hah, sama sekali ga ada sopan-sopannya!!?" Balas Rumi tak mau kalah.
"Memangnya berapa sih ganti rugi yang harus di bayar, kalo perlu gue beli tempat ini juga hah!!!" ucap Rumi sombong
"Dua juta, lo punya hah!!" Ucapnya tak kalah sombong.
Rumi merogoh saku celananya dan mengambil sisa yang dia punya. Hanya tersisa dua lembar uang sepuluh ribu dan selembar lima ribu. Andai tadi dia mengambil kartu ATM yang di kasih oleh Galaksi dia tak akan kesusahan membungkam mulut pria tersebut dengan uang. Rumi juga lupa membawa handphone sehingga dia tidak bisa menghubungi suaminya.
"Hahahah... Hanya punya dua puluh lima ribu aja sombong loh!!! Sok sok mau beli tempat gue lupa. Jangan-jangan lo juga sama-sama pengemis kayak wanita tua ini. Dah sana pergi-pergi, bikin kumuh saja!!" Ucap pria tersebut sambil mendorong tubuh Rumi dan wanita itu.
Untung saja Rumi bisa menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh. Tapi berbeda dengan wanita paruh baya tersebut harus tersungkur kebelakang.
"Tante!!!" Pekik Rumi
Buru-buru dia menolongnya dan membantunya untuk bangun. Rumi memberikan telapak tangannya yang kotor tetapi ada bekas goresan luka akibat teradu dengan tanah yang penuh kerikil. Rumi menjadi emosi melihat pria bersikap kasar didepan matanya apalagi dengan orang tua
"Kalo ingin menghina, hina saja jangan kasar jadi cowok. Lo emang ga bisa di kasih tau, lo emang bukan pria yang lahir dari seorang wanita tapi lo lahir dari batu!!??" hardik Rumi.
Pria tersebut tidak terima dengan hinaan Rumi kembali menyerang Rumi dan hampir saja menamparnya.
"Apa tangan ini mau saja potong hah!!!!" ucap seorang pria tampan dan bertubuh tegap.
Pria yang berbuat kasar langsung gemetaran seluruh tubuhnya setelah melihat siapa orang yang berani mencegahnya menampar Rumi. Sorot matanya memperlihatkan ketakutan yang teramat sangat.
__ADS_1
"Tu-tuan Muda Ke-kevin!!! Saya minta ampun Tu-tuan. Saya minta maaf!!" Pria tersebut langsung bersujud meminta maaf.
Kevin berdiri dengan angkuh, salah satu tangannya dimasukkan kedalam saku celananya.
"Setelah menunggak uang sewa selama lima bulan masih punya muka hah sudah memperlakukan ibu saya dengan sangat buruk!!!" ucap Kevin menyalang. Suara bariton nya begitu sangar.
Rumi saja dibuat merinding disko mendengar suaranya yang menggelegar. Baru kali ini dia mendengar seorang pria yang sangat tegas. Rumi menyentuh kulitnya, bulu kuduknya berdiri sempurna.
"Jadi wanita tua itu adalah ibu anda Tuan muda. Saya minta maaf, maafkan saya Tuan. Saya tidak tau," ucapnya mengiba meminta maaf.
Buugh
Dengan sekali tendangan tubuh pria tersebut terlempar dan terhempas dengan cukup jauh. Tapi Kevin belum puas, rasa sakit hatinya mengetahui ibunya diperlakukan buruk harus di lampiaskan. Kevin kembali menghampiri pria tersebut kemudian menginjak telapak tangannya.
Kretek
Terdengar bunyi patahan tulang yang begitu nyaring, membuat siapa saja yang mendengarnya merasa linu.
"Aaaaahhhhhkkkkk," pakai pria tersebut kesakitan.
Wanita paruh baya itu menghampiri Rumi dengan tergopoh -gopoh, sorot matanya penuh kekhawatiran.
"Nak, tolong hentikan Kevin. Dia bisa membunuh orang jika tidak ada yang mencegahnya. Ibu mohon nak," ucap wanita itu dengan mengiba, sorot matanya sangat berharap Rumi mau menuruti kemauannya.
Rumi akhirnya menganggukkan kepalanya tanda setuju karena diapun tak ingin ada korban jiwa. Tanpa rasa takut Rumi menghampiri Kevin yang tanpa rasa ampun menyiksa pria tersebut.
"Tu-tuan, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada tuan tolong maafkan pria tersebut. Jangan sampai membuat ibu anda bersedih jika bersikap seperti ini. Apa bedanya sikap Tuan dengan pria tadi jika masih bersikap kasar. Sebaiknya Tuan bawa ibu anda pulang, beliau lebih membutuhkan anda," ucap Rumi dengan sorot mata yang lembut.
Kevin seakan terhipnotis dengan cara bicara Rumi yang sangat lembut dan anggun. Biasanya dia akan sangat murka jika ada orang yang berani menyelanya. Seolah mengandung mantra sihir yang sangat kuat, Kevin menuruti perkataan Rumi.
Kevin segera menghampiri Ibunya yang sedang duduk disebuah kursi plastik dengan wajah yang sedih. Rasa bersalahnya muncul karena sudah bersikap sangat arogan didepan mata ibunya. Kevin pun segera memeriksa kondisi ibunya, memastikan apakah ada luka yang parah atau tidak.
Rumi pun pamit untuk pulang kepada wanita tersebut, tetapi cuek dengan Kevin karena merasa tidak memiliki kependidikan dengannya. Kevin tidak percaya jika ada wanita yang tidak terpengaruh dengan pesona dan ketampanannya.
"Nak, kamu suka ya dengan wanita itu?" tanya ibunya saat Rumi mulai menjauh.
"Igh enggak.bukan tipe Kevin Bu," elak Kevin.
"Syukurlah kalo kamu ga suka, soalnya dia sepertinya sudah memiliki suami. Dia kayaknya lagi hamil karena perutnya sedikit buncit. Dan kamu Kevin, ibu ingatkan jangan jadi perebut istri orang. Cari wanita yang baik seperti dia. Jangan seperti pacar kamu yang sudah sudah hanya mengincar kekayaan semata," ucap ibu menasehati anaknya
"Iya bu, iya bu. Malu lah ceramah di depan orang banyak. Apa kata anak buah Kevin!!" gerutu Kevin.
"Kamu ini tiap dibilangin sama orang tua selalu begitu!!! Umur kamu sudah 36 tahun kevin, seharusnya sudah membina rumah tangga dan memiliki banyak anak. Tapi apa yang kamu lakukan hanya bersenang-senang dan menghambur-hamburkan uang," keluh ibu Kevin.
"Iya bu..iya bu. Ibu saja lah yang cari istri buat Kevin. Kevin sibuk!!!" ucap Kevin sambil memapah ibunya ke mobil.
Ibu Kevin hanya menggelengkan kepalanya, bosan dengan tingkah anaknya yang memiliki 1000 alasan jika ditanya perihal istri.
__ADS_1
Didalam mobil, pikiran Kevin tak tenang. Wajah Rumi yang lembut terbayang di pikiran membuatnya merasa gelisah.