Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Mengantarkan Rumi


__ADS_3

Rumi merasakan sesuatu yang berat menindih tubuhnya. Rumi yang terbiasa bangun subuh untuk membereskan rumah walaupun jam masih menunjukkan pukul 4 pagi.


Dengan jelas Rumi bisa merasakan deru napas Galaksi yang terdengar teratur. Bola mata Rumi menatap wajah suaminya yang terpahat begitu sempurna. Entah Bagaimana ceritanya mereka berakhir tidur dalam kondisi saling berpelukan dengan kaki dan tangan Galaksi berada di atas tubuh Rumi yang kecil. Rumi berusaha untuk menyingkirkan tangan Galaksi yang berada diatas perutnya.


Namun saat hampir berhasil, Galaksi justru mempererat perlukannya.


"Tidur aja sebentar lagi, ini masih terlalu pagi. Jangan banyak gerak kalo tidak mau aku makan. Ternyata seenak ini tidur bareng istri, hangat dan empuk. Pantas saja ayah betah banget di kamar kalo ada bunda," ucap Galaksi dengan suara seraknya, matanya masih terpejam.


Rumi menghembuskan napasnya perlahan agar tidak membangunkan Galaksi. Bahkan Rumi berusaha menormalkan detak jantungnya yang berdebar kencang saat Galaksi mempererat pelukannya. Hembusan napas Galaksi yang tepat di sisi telinga membuat Rumi sedikit berdesir. Lama-lama Rumi kembali memasuki alam mimpinya.


Entah bangun jam berapa, sosok Rumi sudah tidak ada disisi ranjang saat Galaksi mulai terbangun. Diliriknya jam yang menempel di dinding masih menunjukkan pukul 6 pagi. Setelah nyawanya terkumpul, Galaksi bangun dari ranjangnya menuju kamar mandi. Tercium aroma sabun yang menandakan jika Rumi baru saja selesai mandi. Karen suhu udara yang cukup dingin Galaksi memutuskan untuk mencuci muka dan menggosok gigi saja.


.


.


"Bun, Rumi kemana, kok pagi-pagi udah ga ada?" tanya Galaksi


Dia melihat secangkir kopi dengan aroma yang khas, sudah pasti buatan Rumi. Galaksi duduk di meja makan dan menikmati kopi buatan istrinya.


"Ohh.. Rumi, tadi izin pergi ke pasar sama si mbok soalnya bahan-bahan di dapur udah habis," ucap Maulindya sambil mengoleskan selai pada roti.


Galaksi masih bersantai menikmati mati masa cutinya beberapa hari kedepannya dengan alasan cuti menikah. Namun berbeda dengan Rumi Senin esok harus masuk kerja karena bisa gawat jika Rumi sama-sama cuti.


Tak berselang lama, Rumi sampai di rumah dengan membawa beberapa belanjaan yang sangat banyak.


"Rumi, kenapa kamu belanja sebanyak ini? Kok bisa? Kan Bunda ga ngasih uang banyak?" tanya Maulindya dengan terbengong-bengong.


Bagaimana tidak, Maulindya hanya memberikan uang tiga ratus ribu untuk kebutuhan beberapa hari saja. Tetapi Rumi malah membeli banyak bahan makanan dan diantara ada ikan laut dan daging.


"Rumi dapat harga murah Bun, soalnya belinya di langganan nenek. Walaupun agak jauh tapi harganya juga jauh bedam lumayan Bun, buat stok seminggu lebih," ucap Rumi sambil memijat tangannya yang terasa pegal setelah menjinjing banyak barang.


"Non Rumi keren banget loh Nyah, jago nawarnya. Makanya kita bisa beli sebanyak ini Nyonya, saya kira Non Rumi ga demen ke pasar," puji si Mbok


"Wah benarkah, lain kali kita ke pasar bareng ya. Mau belajar cara nawar ala Rumi, kan lumayan tuh kalo uang belanja masih ada sisa bisa buat jajan Boba," ucap Maulindya dengan girang.


Galaksi memperhatikan bagaimana Rumi tersenyum, bagaimana cara berpenampilan Rumi. Hanya menggunakan kaos longgar dipadukan dengan celana jeans serta rambut panjangnya dikepang Rumi terlihat begitu manis. Apalagi wajahnya hanya menggunakan bedak tanpa memakai pemerah bibir karena bibirnya sudah berwarna merah muda, membuat kecantikan tampak alami dan natural.

__ADS_1


Rumi yang merasa di perhatikan oleh Galaksi sejak tadi berusaha membuang mukanya. Dia menjadi salah tinggah karena dilihat terus menerus oleh suaminya itu.


"Ayo Rum, sini duduk. Haus kan dari pasar. Ini Bunda sudah buatin teh manis anget. Maaf ya sarapan hanya roti saja soalnya mau bikin nasi goreng ternyata nasinya abis heheh," ucap Maulindya.


"Iya bun, gapapa. Lagian Rumi juga sempet beli sesuatu buat sarapan, bunda mau??" tanya Rumi sambil memperlihatkan bungkusan keresek.


"Bunda udah kenyang Rum, kamu makan aja,"


Galaksi memperhatikan bungkusan yang Rumi pegang, nampak aneh belum pernah dia melihat makanan di bungkus dengan kertas nasi.


"Kamu beli apa?" tanya Galaksi


"Ohh..ini beli kupat tahu. Tu-tuan mau?" jawab Rumi gugup karena jarak diantara mereka sangat dekat .


"Enak ga, coba buka dong!!?" pinta Galaksi.


Rumi pun mulai membuka bungkusan makanan itu dan mengambil sendok untuk menyuapi Galaksi.


"Gala, jangan kamu makan itu nak, kamu kan alergi ka-"


"Ini ga pake kuah kacang Bun, pake kuah sayur. Jadi aman untuk Tuan Gala," jawab Rumi.


"Hemmmm... Sudah tau dari pak Eddy," jawab Rumi.


Galaksi hanya menganggukkan kepalanya saja, Rumi mulai memotong motong kupat dan tahunya menjadi bagian kecil. Kemudian mulai menyendoknya sedikit dan menyuapkan ke mulut Galaksi yang sudah terbuka.


Galaksi mulai mengunyah dan merasakan makanan yang baru saja masuk ke mulutnya. Rasanya begitu aneh tetapi enak juga dan sepertinya Galaksi menyukai makanan tersebut.


"Gimana Tu-tuan enak??" tanya Rumi sambil memperhatikan ekspresi Galaksi saat makan.


"Not bad, lumayan juga rasanya. Mau lagi dong," ucap Galaksi.


Rumi pun dengan senang hati menyuapi makanannya ke mulut Galaksi. Mereka makan dengan sendok yang sama. Maulindya sangat senang melihat interaksi diantara mereka yang berusaha saling menerima. Kedua orang tua Galaksi tidak menuntut lebih karena tau kondisi pernikahan anaknya atas dasar keterpaksaan.


"Kamu hari ini ada kuliah?" tanya Galaksi sambil memainkan handphonenya.


"A-ada Tu-tuan, nanti jam 10," jawab Rumi.

__ADS_1


"Okey nanti saya antar,"


"Tidak perlu Tu-tuan saya bisa berangkat sen-"


"Saya ga suka penolakan. Nanti saya antar, kamu tenang saja," ucap Galaksi dengan dingin


Rumi tidak membantahnya tetapi mulutnya menggerutu kesal karena Galaksi selalu memaksakan kehendaknya. Setelah itu Rumi pamit untuk ke kamar untuk menyiapkan keperluan kuliahnya. Sedangkan Galaksi pergi ke ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa laporan yabg Eddy kirimkan kemarin malam.


*


*


Galaksi benar-benar mengantarkan Rumi ke kampus padahal Rumi mengatakan akan berangkat sendiri dengan ojek online. Bukannya apa-apa dia takut jika Galaksi mengantarkan nya ke kampus akan menjadi perbincangan mahasiswa di kampusnya.


Rumi semakin kesal dan terus-menerus menggerutu sepanjang jalan. Bagaimana tidak Galaksi justru menggunakan mobil sport nya untuk mengantarkan Rumi ke kampus. Pasti akan terjadi berita yang sangat menghebohkan jika teman-temannya di kampus melihat dirinya diantarkan dengan menggunakan mobil merah.


Tapi Galaksi tidak peduli, tanpa Rumi ketahui Galaksi sudah memasukkan seseorang ke kampus tempat Rumi berkuliah untuk mengawasi dan menjaga Rumi. Walaupun belum ada yang tahu jika Rumi adalah istri Galaksi tetapi dia tidak ingin mengambil resiko.


"Sudah sampai," ucap Galaksi


"Kok malah di turunin di depan kampus siihhh iigghhh. Kan aku mintanya dituruni di minimarket sana, kalo gini ceritanya teman -teman pasti langsung heboh ngeliat aku kekuatan dari mobil ini," ucap Rumi dengan kesal.


" Ya udah ga usah kuliah saja kalo begitu, kita pulang," balas Galaksi


"Eehhhh ga bisa begitu enak saja. Hari ini ada kuis ga bisa bolos. Lagian aku sudah sering bolos. Ya sudah aku pamin," ucap Rumi sambil mengulurkan tangannya hendak salim.


Galaksi yang tidak paham malah mengira Rumi meminta uang jajan kepadanya. Dia pun mengeluarkan dompetnya dan memberi Rumi beberapa lembar uang.


Rumi berdecak saat Galaksi malah memberinya uang. Dengan kasar Rumi mengambil tangan Galaksi kemudian mencium. Rumi pun tersenyum melihat uang yang diberikan oleh Galaksi lumayan untuk jajan di kafe depan.


"Terimakasih uang ya, aku kuliah dulu babay Tuan Paksu!!" ucap Rumi sambil melenggang keluar dari mobil Galaksi.


Galaksi masih membeku di tempatnya bahkan tangannya gemetaran setelah Rumi mencium tangannya. Tanpa sadar tangan sebelahnya mengusap tempat dimana Rumi menciumnya.


"Wangi," gumannya


Galaksi akhirnya mulai sadar dengan apa yang dia lakukan. Dirinya merasa kesal karena mulai terpedaya dengan pesona Rumi dan lupa mengingatkan Rumi jika nanti dia akan menjemput nya kembali. Galaksi pun mengambil handphone nya dan mengirimkan pesan kepada Rumi.

__ADS_1


Seperti yang di duga oleh Rumi beberapa mahasiswa melihat kearahnya saat dirinya turun dari mobil mewah milik Galaksi. Beberapa bahkan berbisik -bisik membicarakannya Rumi, tak ingin ambil pusing Rumi segera berjalan menuju kelasnya. Tanpa Rumi sadari seseorang menatapnya dari kejauhan dengan sorot mata yang tajam dan mengepalkan tangan menahan emosinya, tidak menyukai apa yang baru saja di lihatnya.


****


__ADS_2