Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Apa membuatmu bersedih Rum?


__ADS_3

Begitu sampai di parkiran gedung apartemennya Galaksi melihat Rumi tertidur lelap. Tak tega membangunkannya Galaksi memutuskan untuk menunggu Rumi hingga bangun. Sambil menunggu Galaksi mengecek beberapa email yang masuk dan membaca laporan yang dikirimkan oleh Eddy untuk proyek terbarunya.


Hampir sepuluh menit Galaksi menunggu namun Rumi tak kunjung bangun. Sepertinya Rumi kelelahan setelah seharian bekerja dilanjutkan dengan kuliah hingga malam hari.


Galaksi terhipnotis untuk melihat wajah lugu Rumi ketika tidur. Tangannya mulai terulur menyentuh kulit wajah Rumi yang mulus tanpa ada satupun jerawat. Padahal Rumi tak memakai skincare apapun atau melakukan perawatan di klinik kecantikan.


Bayang saat Rumi tiba-tiba saja memeluk dan menangis tersedu-sedu melintas di pikirannya. Entah apa yang terjadi dengan Rumi ketika di kampusnya sehingga membuat Rumi sangat sedih.


"Aku siap mendengarkan segala ceritamu dan aku harap kamu tidak menyembunyikan apapun dariku. Aku juga tidak suka kebohongan, lebih baik jujur walaupun itu akan menyakiti hatiku, " gumam Galaksi sambil menatap wajah Rumi.


Karena sudah larut malam, Galaksi memutuskan untuk menggendong Rumi hingga ke apartemennya. Kasihan juga jika Rumi tidur dalam posisi yang nyaman apalagi dia baru saja sembuh dari sakit.


"Huph.. semoga badannya ga berat kayak beruang," gumam Galaksi.


Dia menggendong Rumi di punggungnya karena letak apartemen di lantai paling atas.


"Kenapa lo balik lagi ke kehidupan gue sih, setelah gue berhasil move on dan menata hidup gue dengan sangat baik. Gue benci lo Satya gue benci lo!!!!" racau Rumi


Galaksi mengereyitkan dahinya saat mendengar Rumi meracau. Bahkan Rumi sempat menangis dalam tidurnya.


"Gue harus cari tau siapa Satya dan ada hubungan apa dengan Rumi," gumam Galaksi.


Sesampainya di kamar mereka, Galaksi dengan hati-hati membaringkan Rumi agar tidak terbangun. Tak lupa sepatu dan kaos kaki yang di pakai Rumi di lepaskan nya. Galaksi juga menggantikan baju kerja Rumi dengan setelan baju tidur. Sudah tak ada kata risih untuk Galaksi apalagi dia juga sudah hapal bentuk dan rupa tubuh Rumi.


Setelah selesai, Galaksi menyelimuti tubuh Rumi agar tak kedinginan. Sebuah kecupan mendarat tepat di kening Rumi.


"Mimpi indah Rum, terima kasih selalu menjadi temen tidurku setiap malam," ucap Galaksi dengan lirih.


Karena merasakan tubuhnya juga lelah, akhirnya Galaksi memutuskan untuk bergegas beristirahat. Sebenarnya ada rass penasaran tentang apa saja yang telah terjadi di kampusnya tadi. Tapi Galaksi pun tidak bisa memaksa Runi untuk berbicara, tunggu hingga Rumi siap menceritakannya.


.


.


Sayup -sayup Galaksi mendengar suara Rumi yang tengah meracau. Galaksi terbangun dan melihat keadaan Rumi, wajahnya dipenuhi keringat dingin. Seperti Rumi mengalami mimpi buruk, sesekali dia meracau tidak jelas, bahkan Rumi sempat menangis terlihat dari jejak air matanya yang masih tertinggal.


"Kenapa kamu kembali setelah aku bisa hidup normal. Apa kamu ingin mengacaukan kembali hidupku yang sudah damai ini," racau Rumi dalam tidurnya


"Kenapa kamu ga sekalian mati saja, mati,mati, mati !!!" lanjut racaunya.


Tak tega melihat Rumi bermimpi buruk Galaksi berusaha membangunkannya. Di tepuk-tepuk pipinya dengan lembut sambil menyebut namanya.


"Rum, Rumi bangun Rumi, Rumi....."


Kelopak mata Rumi mulai bergetar, lama-lama akhirnya terbuka dan terbangun. Saat membuka matanya Rumi melihat wajah tampan Galaksi, dia terpaku. Teringat dengan mimpinya, Rumi langsung memeluk tubuh Galaksi.

__ADS_1


"Maaf Tuan, maafkan Rumi, huuuu," ucap Rumi sambil menangis.


Galaksi mengusap punggungnya untuk memberikan ketenangan kepada Rumi dan tak berkata apapun. Biarlah sementara Rumi meluapkan segala emosinya. Dia tahu Rumi tengah dilanda rada bimbang, sesuatu dari masa lalunya kembali dan mengacaukan kehidupannya.


Hampir sepuluh menit Rumi memeluk tubuh Galaksi dan selama itu juga Rumi merasakan sebuah kenyamanan. Tiba-tiba timbul rada ketakutan akan kehilangan, rasa yang sama ketika dirinya ditinggalkan Satya hingga terpuruk. Hampir saja dia memilih jalan mengakhiri hidup tetapi Rumi teringat akan neneknya yang hidup seorang diri jika Rumi memutuskan untuk pergi selamanya.


"Sudah tenang???" tanya Galaksi saat Rumi melepaskan pelukannya, Rumi mendongakkan kepalanya melihat langsung wajah Galaksi.


Galaksi mengambil selembar tisu kemudian mengusap air mata dan membersihkan cairan hidung Rumi yang sempat keluar tanpa rasa jijik.


"Iiiiyyuuhhhhhh, jijaaayyy," ucap Rumi spontan


Bukannya berterima kasih, Rumi malah berkata seperti itu. Sepertinya Rumi sudah dalam kondisi normalnya. Galaksi tertawa lepas diiringi oleh wajah Rumi yang cemberut karena di tertawakan.


"Terus aja ketawa sampai pagi," gerutu Rumi sambil memalingkan wajah.


Galaksi tetap tertawa apalagi setelah melihat bibirnya yang di monyong-monyongkan membuat wajahnya terlihat lucu.


"Puas banget sih ketawanya kayak abis nonton monyet joget -joget," gerutu Rumi, hatinya mulai kesal melihat Galaksi menertawainya


Galaksi menghentikan akti tawanya dan tersenyum lebar, ditariknya lengan Rumi dalam satu tarikan dan langsung membawa dalam pelukannya yang hangat.


"Sudah hilang sedihnya?" tanya Rumi.


Rumi masih sibuk dengan bibirnya yang monyong. Gemas, Galaksi langsung mencubit kedua pipi Rumi dengan tangannya.


Galaksi tidak marah, malah semakin tersenyum. Kepalanya kemudian bergerak mendekatinya wajah Rumi.


"Aku lebih suka melihat wajah kamu yang cemberut seperti ini dari pada harus melihat wajah cantikmu yang basah karena air mata kesedihan," bisik Galaksi tepat di depan wajah Rumi.


Wajah terasa memanas, pandangannya mengabur karena air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Tepat sebelum air mata tersebut jatuh, Galaksi sudah keburu menghapusnya dengan tisu.


"Iighhh tisu yang tadi, jorok!!!!!" umpat Rumi.


Galaksi kembali tertawa lepas.


"Maaf, abisnya takut keburu air matanya jatuh nanti basah," ucap Galaksi


"Menyebalkan!!!" Ucap Rumi sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Galaksi kembali memeluknya, Rumi tidak menolak hanya diam sambil menikmati hangatnya pelukan suaminya. Jarang-jarang mereka berdua bisa sedekat ini, bila sudah di kantor mereka akan seperti dua orang asing yang saling tidak mengenal.


"Tu-tuan," guman Rumi lirih


"Iya, ada yang ingin kamu ceritakan?" tebak Galaksi

__ADS_1


Mungkin ini saatnya Rumi bercerita kepada Galaksi, dia juga tidak ingin menyembunyikan apapun. Rumi juga sudah siap jika Galaksi marah kepadanya. Hanya saja jika boleh berharap Rumi tak ingin Galaksi meninggalkannya suatu saat nanti.


Namun Rumi kebingungan bagaimana menceritakan kepada Galaksi, bingung harus mulai dari mana. Rumi justru sibuk memainkan jari jemarinya.


"Apa membuatmu bersedih Rum?" tanya Galaksi, Rumi mendesah kasar


"Dia-dia yang sudah lama aku anggap mati ternyata kembali. Berani muncul di hadapanku seolah-olah tak memiliki dosa apapun," ucap Rumi dengan geram, membayangkan wajahnya pun membuat Rumi muak.


"Dia siapa?" tanya Galaksi seolah belum mengetahuinya.


"Namanya Satya, cinta pertamaku, pacar terakhirku sekaligus orang yang pertama kali membuatku begitu terluka hingga depresi. Hampir membuatku kehilangan akal sehat jika tidak ingat masih ada seorang nenek yang selalu mengasihi ku," ungkap Rumi.


Galaksi masih diam menyimak dan mendengarkan semua cerita Rumi. Ada sedikit kekhawatiran jika yang bernama Satya akan mengusik kehidupan rumah tangganya dengan Rumi.


"Dia yang hanya menganggap ku sebagai pacar hasil taruhan dan tidak berguna. Aku yang miskin tidak selevel dengannya yang merupakan anak orang kaya," ucap Rumi, dia menarik nafas panjang.


Rumi menahan rasa sesak di dadanya, saat perasaan itu hadir kembali, takut kembali di tinggalkan setelah mencintai sepenuh hati.


"Tapi kemudian dia kembali datang dan meminta maaf menyampaikan penyesalannya karena sudah meninggalkan aku saat itu," ucap Rumi terakhir kalinya sebelum memeluk tubuh Galaksi.


Tubuh Rumi bergetar, menahan tangisnya agar tidak tumpah. Rumi memejamkan matanya berusaha menghilangkan bayangan kelamnya dimasa lalu.


"Apa Tuan akan meninggalkanku sama seperti dia, membuang ku seperti sampah ketika sudah tidak berguna lagi?"


Galaksi melepaskan pelukannya dsn segera membungkam mulutnya dengan ciuman sebelum omongannya semakin aneh.


Tubuh Rumi tersentak saat tiba-tiba bibir mereka saling bersentuhan, tak ada gerakan apapun hanya saling menempel.


Galaksi menjauhkan bibirnya dari bibir Rumi sebelum tubuhnya menginginkan hal yang lebih jauh. Dia masih takut, bayangan Rumi yang kesakitan melintas di benaknya.


"Secara tidak langsung kamu menyamakan dengan pria breng-sek itu hah?" Galaksi pura -pura marah.


"Bukan maksudnya begitu Tu-tuan, aku -aku takut kembali di buang," ucap Rumi dengan sendu.


Pernah menjadi yang terbuang membuat hati Rumi lebih sensitif hingga tak tersisa air matanya mengalir deras membasahi pipi.


Dengan segera galaksi kembali memeluk Rumi merasa bersalah membuat istrinya tersebut kembali menangis.


"Heii jangan menangis, aku hanya bercanda tidak sepenuhnya marah. Jangan di ambil hati ya," ucap Galaksi sambil membelai punggung Rumi.


"Dengarkan ucapan aku baik-baik, dan ingat selalu. Hubungan kita ini bukan pacaran tapi sudah memiliki ikatan yang sah, kita suami istri. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun kecuali kamu yang ingin pergi jauh dari sisiku, aku juga tidak akan pernah menahan dirimu untuk tetap tinggal di sampingku,"


"Walaupun kita menikah atas dasar paksaan, tetapi aku berusaha untuk menjadi suami yang bertanggung jawab. Aku berusaha menerima kehadiran mu dalam hidupku dan aku harap kamu juga begitu mesti tak mudah membangun rasa cinta diantara kita. Tapi aku percaya jika rasa cinta itu akan hadir seiring waktu. Apa kamu juga percaya?"


Rumi menganggukkan kepalanya, jawaban Galaksi membuat hati Rumi sedikit lebih tenang walaupun masih ada sedikit rasa takut kehilangan.

__ADS_1


"Rum, apa kamu tidak ingin membalas rasa sakit hatimu kepadanya?" ucap Galaksi dengan tatapan mendalam


"Caranya???"


__ADS_2