
Tak pernah lepas sedikit pun perhatian Galaksi untuk Rumi. Rumi sudah mendapatkan pertolongan di rumah sakit dan kondisinya sudah lebih baik. Menurut hasil pemeriksaan dokter Rumi mengalami dehidrasi dan tubuhnya lemah karena tidak ada asupan makanan.
Selepas infus yang dipasang Rumi habis dan kondisinya membaik dia sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun hingga saat ini Rumi belum sadarkan diri. Galaksi pun belum memberitahu keluarganya jika Rumi masuk rumah sakit karena tidak ingin membuat orang tuanya khawatir terutama bundanya.
Tak lama jemari Rumi bergerak dan matanya mulai mengerejap. Galaksi belum menyadarinya karena sedang tertidur di sebelah Rumi.
"Eeeeuuhhhhhh," gumam Rumi sambil mencoba membuka matanya.
Cahaya kamar ruang perawatan yang terang begitu menyilaukan matanya. Rasa pusing masih terasa dikepalanya dan tubuhnya pu begitu sulit untuk digerakkan. Namun Rumi bisa merasakan sesuatu tengah menindih sebelah tangannya.
Rumi menyipitkan matanya agar dapat melihat dengan jelas siapa yang ada disisinya. Dari aroma parfum yang sangat dikenalin dia tau siapa orang tersebut.
"Tuan Galaksi," gumam Rumi.
Senyum tipis terbit di sudut bibirnya yang mungil saat mengetahui suaminya lah yang telah menyelamatkannya. Sempat terbayang bagaimana reaksi Galaksi ketika mendapati Rumi lemah tak berdaya.
Saat itu Rumi sebenarnya masih dalam keadaan sadar tetapi terlalu berat untuk tetap membuka matanya. Rumi mendengar dengan jelas bagaimana Galaksi begitu mengkhawatirkan kondisi Rumi.
Masih terasa hingga saat ini bagaimana Galaksi yang memeluknya dengan erat, begitu nyaman dan menghangatkan. Tapi Rumi tak ingin terhanyut, menganggap hal itu wajar karena panik setelah menemukan dirinya dalam kondisi pingsan.
Galaksi yang tak sengaja tertidur saat menjaga Rumi karena kelelahan. Merasa suatu gerakan Galaksi langsung terhenyak dan terbangun.
"Rumi!!!!!" teriaknya tanpa sadar
"Ya Tu-tuan," gumam Rumi tapi dapat di dengar oleh Galaksi
Galaksi langsung mengarahkan pandangan kepada Rumi, kedua bola mata mereka saling berpandangan.
"Rum, kamu sudah sadar," ucap Galaksi dengan girang
"Hemmmm, terima kasih," ucap Rumi dengan lemah, "ha-haus," lanjut Rumi
__ADS_1
"Hah, apahhhh haus?" Galaksi melamun, " ahhh iya sebentar aku ambilkan," jawabnya.
Galaksi menekan tombol disampingnya ranjang Rumi dan menaikkan sedikit bagian atasnya agar Rumi bisa minum dengsn baik. Kemudian diambilnya sebotol air yang sudah Galaksi beli lengkap dengan sedotannya agar memudahkan Rumi untuk meminumnya.
"Terima kasih,"
"Heeemmmm," jawab Galaksi singkat.
Krucuk ..
Krucuk..
Terdengar bunyi perut Rumi yang kerongkongan, sejak siang tadi belum ada makanan apapun yang masuk kedalam perutnya. Tiba-tiba dia teringat makanan yang diberikan oleh Galaksi, makanan jepang kesukaannya. Tetapi gara-gara perintah mencari dokumen Rumi tidak sempat memakan makanan tersebut dan malah berakhir di rumah sakit. Teringat hal itu, Rumi menjadi sedih dan cemberut.
"Ayo makan, aku suapin," ucap Galaksi yang sudah siap dengan sekotak makanan jepang dengan lauk yang lengkap.
Mata Rumi berbinar-binar saat melihat apa yang sedang di pegang oleh Galaksi.
"Iniiii....."
Rumi membuka mulutnya dengan lebar sudah siap untuk merasakan bagaimana enaknya makanan tersebut. Rumi benar-benar menikmati matinya, Galaksi mengulum senyum saat melihat mulut istrinya yang penuh makanan terlihat cubby.
"Heiii kok malah nangis sihh?? Makanannya ga enak? Atau ada yang sakit," ucap Galaksi cemas saat melihat Rumi meneteskan air mata
Rumi menggelengkan kepalanya, " ini enak banget," ucap Rumi sambil mengusap air mata.
Galaksi geram, dikiranya ada apa -apa dengan Rumi. Galaksi mendengus kesal, dan menghirup napasnya dengan kasar. Ingin rasanya menyentil dahi Rumi saat ini juga, tetapi harus ditahan teringat kondisi Rumi yang masih lemah.
"Kirain kenapa, kalo kamu mau makan tiap hari kita bisa membelinya. Atau jika mau beli dengan restorannya sekalian," ucap Galaksi datar. Tangannya masih fokus menyuapi Rumi.
"Diihhhh sombong amat," ucap Rumi tanpa sadar.
__ADS_1
"Apa kamu bilang??"
"Ga ada lupakan," ucap Rumi dengan malas.
Tak lama Eddy muncul setelah mengurus administrasi dan mencari tahu siapa yang sudah membuat Rumi terjebak di ruang dokumen.
"Rum, Lo udah sadar? Gimana kondisi lo, udah enakan?" tanya Eddy.
"Alhamdulillah udah baikan mas," ucap Rumi dibarengi senyum yang menawan
"Mas??? Sejak kapan kamu memanggil dia dengan panggilan mas???" tanya Galaksi dengan suara yang di tekan
Eddy mendadak merinding, mendengar suara Galaksi yang menjadi berat. Matanya juga mendelik melihat Eddy dengan jenggah.
"Mmmmmmm... Sejak Rumi jadi staf pemasaran Pak Eddy meminta Rumi untuk memanggil dengan sebutan mas jika diluar kantor katanya biar ga terlalu formal," ucap Rumi dengan polosnya.
"JUNAEDI!!!!!!" Ucap Galaksi dengan sangat geram.
"Maaf boss jangan cemburu," ucap Eddy dengan santai.
Galaksi semakin geram, bisa-bisanya istrinya punya panggilan khusus untuk Eddy. Sedangkan untuknya Rumi selalu memanggilnya dengan sebutan Tuan padahal sudah berulang kali memintanya agar cukup memanggil Gala ketika sedang diluar atau di rumah.
Rumi menahan tangan Galaksi saat ingin berdiri. Kemudian memberikan kode agar Galaksi tidak bertindak nekat, dia tau jika suaminya itu ingin memukul Eddy.
"Apah!?? Bisa-bisanya kamu memanggil dia Mas, sedangkan aku suami sendiri masih kamu panggil mas hah!!!" ucap Galaksi dengan menggebu-gebu.
Ahh.. dia merajuk, membalikkan badannya enggan melihat Rumi yang tidak paham dengan situasi. Eddy, sahabat sekaligus asisten nya hanya tertawa kecil melihat Galaksi yang sedang marah ala anak kecil.
"Maaf kan aku Tuan Suami," ucap Rumi dengan lembut.
Sebelah telinga Galaksi bergerak, tergelitik dengan sesuatu yang baru daja di ucapkan oleh Rumi.
__ADS_1
"Katakan sekali lagi!!!" ucapnya dengan tatapan yang tajam.
"Tu-tuan Suami."