
Galaksi mencelos melihat Rumi hanya terdiam, lebih banyak melamun bahkan hanya merespon jika seseorang mengajaknya mengobrol. Selebihnya Rumi kembali kedalam kamar milik neneknya dan rebahan diatas ranjang.
Lucas dan Dea langsung datang ke rumah duka begitu mendapatkan telepon dari Galaksi jika nenek Rumi meninggal dunia. Pelukan hangat dari sang sahabat membuat Rumi bertambah tegar jika di luar sana masih ada sahabat yang selalu menemaninya.
"Gue tau lo sedih Rum, tapi ga baik terlalu sedih. Almarhum juga ga akan tenang di alam saja. Ingat disini ada dua calon anak lo, jangan sampai kesedihan lo mempengaruhi perkembangan mereka ya say," ucap Dea menyemangati Rumi.
"Makasih ya Dea. Gue baru sadar ternyata masih banyak yang sayang sama gue walaupun kini gue sebatang kara," ucap Rumu terisak menangis.
"Heeeyy.. lo lupa atau gimana sih. Lo masih punya suami yang kece badai, sayang dsn cinta sama lo. Belum keluarga mertua lo, mereka ga pernah sekalipun membedakan mana mantu mana anak kandung. Lo juga ga sendiri Rum, ada dua calon anak lo disini nih. Lo ga sendiri, banyak orang yang sayang sama lo," ucap Dea sambil memeluk Rumi.
*
*
Setelah acara tahlilan hari pertama selesai, Galaksi dan Raka membereskan tikar dan karpet yang di gunakan oleh para tamu. Sedangkan Maulindya dibantu beberapa ibu tetangga membereskan dan mencuci piring dan gelas bekas suguhan untuk para tamu. Sedangkan Rumi beristirahat di kamar karena tubuhnya kelelahan setelah standby seharian.
Setelah selesai, Galaksi menyusul Rumi kedalam kamar neneknya. Dilihat Rumi sedang tertidur sambil memeluk guling. Matanya sedikit bengkak,ada jejak air mata di pipinya.
Galaksi membelai rambut Rumi dan sedikit merapikannya. Merasakan ada sentuhan di kepalanya, Rumi perlahan mulai membuka matanya. Rumi mengangkat kepalanya dan melihat sosok suaminya dihadapannya.
"Hubby," panggil Rumi dengan lembut.
Galaksi tersenyum dan duduk disebelah Rumi. Tanpa canggung Rumi merebahkan kepalanya di paha Galaksi.
"By"
"Ya, Bunny," balas Galaksi
"Cape ya??"
"Hemmm.. lumayan"
"Maaf," sesal Rumi
"Untuk?"
"Rumi selalu merepotkan Hubby dan keluarga," ucap Rumi dengan sendu.
__ADS_1
Galaksi memaksa Rumi untuk bangun, kini mereka saling berhadapan, bertatap mata. Perlahan Galaksi mendekati Rumi dan hingga akhir saling menempel dahi.
"Bunny, kita ini sudah menjadi satu keluarga. Keluarga ku, keluarga mu juga begitu pula sebaliknya. Duka mu juga duka bagiku, duka bagi kita semua. Jangan pernah merasa sendiri karena akan selalu ada aku disampingmu. Membagi segala rasa, sedih, sedang, tawa dan canda," ungkap Galaksi, dia merasa rasa sedih yang mendalam pada diri Rumi hanya saja dia berusaha kuat menutupi nya dari semua orang.
Galaksi mendekap tubuh Rumi, mengecup keningnya dengan begitu hangat. Mesti tau itu tak akan berpengaruh terhadap rasa kehilangan orang yang tersayang.
Rumi melihat raut kelelahan di wajah Galaksi, seharian ini dia sama sekali tidak istirahat. Di sela-sela waktu kosong, Galaksi menemani Rumi agar melamun. Walaupun Rumi sedang tidur sekalipun, Galaksi tetap berjaga disampingnya karena sesekali Rumi terisak menangis dalam tidurnya. Kesedihan atas meninggalnya neneknya terbawa hingga alam mimpi.
Rumi tak ingin egois. Dia mengajak kekamar Rumi yang ada di rumah ini. Sebuah kamar berukuran kecil dan hanya ada ranjang sederhana dan lemari. Tak banyak perabot didalam kamar tersebut.
"By, mau pulang saja??" Ucap Rumi saat dalam kamarnya
"Pulang? Kamu ga ingin menginap disini malam ini sayang?" tanya Galaksi keheranan.
"Ingin, cuma kasian kamu ga bisa tidur dengan nyenyak By. Kasurnya keras, ga kayak di apartemen atau di rumah Bunda. Ga ada AC, nanti Hubby kegerahan. Rumi ga papa kalo Hubby ingin pulang," ucap Rumi.
"Heiii kau meledek sayang???" Gerutu Galaksi, dia pura-pura merajuk.
"Meledek bagaimana bi? Ga ada. Hubby pasti ga terbiasa tidur di tempat yang sederhana ini," ucap Rumi sendu.
Galaksi menangkup kedua pipi Rumi yang mulai terlihat cubby. Kemudian memberikan sebuah kecupan singkat di bibir mungilnya.
Mendengar perkataan Galaksi, perasaan Rumi begitu senang. Sejenak melupakan rasa sedih dan dukanya. Dia merasa menjadi seorang istri yang sangat bahagia memiliki suami sempurna seperti Galaksi.
"By, ayo bobo," rengek Rumi.
"Sini," ucap Galaksi sambil menepuk bantal disebelahnya.
Mereka harus tidur agak berdempetan karena ranjangnya tidak sebesar yang ada di rumah tetapi cukup untuk tidur dua orang
"By, peluk."
*
*
*
__ADS_1
Sang surya sudah keluar dari peraduannya menyinari alam semesta dengan cahayanya. Rumi menggeliat tubuhnya, tangganya meraba sebelah ranjangnya mencari keberadaan suaminya.
"Hubby kemana sih, udah ilang aja?" gerutu Rumi.
Padahal dia masih ingin bermanja-manja dengan suaminya, semalam tidur dengan berpelukan membuatnya terasa nyaman. Rumi pun terbangun dan duduk sejenak di tepi ranjang hingga nyawanya terkumpul.
Aroma wangi masakan mulai menyusup kedalam kamar dan terhirup oleh indra penciuman Rumi. Rumi pun bangun dan berjalan menuju dapur yang letaknya di belakang rumah.
Terlihat Galaksi seksi dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Untung saja tidak ada orang lain karena Maulindya dan Raka memutuskan untuk pulang sebelum tengah malam.
Galaksi sibuk memotong beberapa sayuran yang ada sambil menumis bumbu. Semerbak aroma menyebar keseluruhan bagian rumah.
"Hubby," ucap Rumi dengan suaranya yang sedikit serak.
Tenggorokan nya terasa kering membutuhkan air minum.
"Bunny, sudah bangun sayang?" lirik Galaksi sebentar, senyumnya sumringah.
Rumi mengambil segelas air teh manis yang ada di atas meja, Galaksi yang menyiapkannya. Setelah itu, Rumi berjalan menghampiri Galaksi dan memeluknya dari belakang.
"Bunny, aku belum mandi lo. Masih bau" ucap Galaksi.
Rumi makin menenggelamkan kepalanya dibawah ketiak Galaksi dan meresapi aroma alami tubuhnya tanpa sentuhan parfum.
"Ga apa, aku suka," jawab Rumi tanpa rasa malu.
Mungkin jika mereka saat ini berada di dapur apartemen, Rumi akan langsung di dudukan di atas meja kitchen set. Tapi berhubung sedang berada di dapur rumah nenek Rumi tak banyak aktivitas yang bisa di lakukan karena tempatnya yang sempit.
Seporsi capcay dengan irisan baso telah siap. Untung ada nasi sisa semalam, dihangatkan oleh Galaksi. Meskipun berasal dari keluarga berada, tapi bunda Maulindya tidak pernah mengajarkan untuk menyia-nyiakan makanan.
Rumi makan dengan lahap, perut nya begitu kelaparan karena menahan lapar saat tidur, semalam makan tak terlalu banyak.
Tak lama terdengar deru suara mobil, kedua orang tua Galaksi datang pagi-pagi sekali. Mereka membawa beberapa bahan makanan dan bahan baku untuk membuat nasi kotak untuk acara tahlilan sore nanti. Sengaja memberdayakan tetangga sekitar untuk menghormati mereka dan sekedar membagi sedikit rezeki.
"Gala... Rumi.... Sudah bangun sayang??" Sahut Maulindya.
Maulindya melenggang langsung ke arah dapur, haus hendak mengambil segelas air minum.
__ADS_1
"Masya Alloh!!!!"