Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Pergi Rum, aku mohon kamu pergi


__ADS_3

Sarah mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan Galaksi yang menyebut nama istrinya. Namun tak ingin usahanya yang sejauh ini sudah hampir berhasil Sarah harus berakting sebaik mungkin.


Apalagi saat ini tangannya tengah membelai wajahnya dengan sangat lembut. Belum lagi aroma parfum Galaksi yang selalu membuat Sarah tergoda.


"Maaf Rumi, malam ini Galaksi akan menghabiskan malamnya bersama denganku. Kamu tenang saja akan ku buat Galaksi tidak melupakan malam bergairah ini. Bukan Sarah namanya jika tidak bisa membuat lelaki terpuaskan," gumamnya dalam hati.


Sarah yang begitu mendamba Galaksi mulai menyentuh tubuh Galaksi dan satu- persatu melepaskan kancing kemaja Galaksi. Terlihat dengan jelas bagaimana bentuk tubuh Galaksi yang kekar dan atletis.


Sedangkan Galaksi semakin hanyut dalam luapan nafsunya, apalagi setiap sentuhan yang di berikan membuat Galaksi terlena, rasanya sudah lama Galaksi merindukan sentuhan seperti ini.


"Tenang saja Mas Gala, malam ini kita akan menikmatinya bersama," ucap Sarah sambil menyentuh dada Galaksi yang bidang.


Deg


Galaksi menyadari sesuatu yang salah.


"Tidak... Tidak... Itu bukan Rumi," elak Galaksi dalam alam bawah sadarnya.


Galaksi berusaha sadar dan keluar dari lautan nafsu yang mulai menguasai dirinya. Galaksi memejamkan matanya sebentar dan mencubit pahanya dengan tangannya sendiri hingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.


"Kau!!!!!" ucap Galaksi dengan geram.


Tangan yang semula menyentuh pipi Sarah dengan lembut kini berubah mencengkram dengan kasar bahkan nyaris hendak mencekiknya andai Galaksi tidak meredam sedikit emosinya.


"Pa-pak Ga-gala sa-sakit, lepaskan!!" ucap Sarah kesakitan.


"Wanita ja- lang, brani nya kau berbuat laknat seperti ini!!!" pekik Galaksi, dirinya sudah murka dengan tingkah laku Sarah yang sudah keterlaluan.


Galaksi semakin kuat mencengkram pipi Sarah hingga meninggalkan bekas. Sarah mengalami kesulitan berbicara karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Dia tidak menyangka rencana yang sudah dis susun dengan sangat matang berakhir dengan tragis. Sarah tak bisa membayangkan nasibnya akan berakhir seperti apa.


"Sudah berulang kali saya peringatkan jangan melampaui batas. Bertindak seenaknya, berpakaian tak sepantasnya. Selama ini saya diam karena saya menghargai cara kerja kamu yang baik. Tapi ternyata perilaku mu tak lebih dari seorang ja- lang, bahkan ja- lang masih punya harga diri. Seperti nya kamu harus di hukum!!" seru Galaksi.


Wajah Sarah menampilkan ekspresi ketakutan, melihat Galaksi yang murka membuat nyalinya menciut.


"Ma-maaf kan saya Pak Ga-gala," ucap Sarah memohon.


"Terlambat!!!!!" Teriak Galaksi.


Brakkkk


Tubuh Sarah dilempar dengan sangat kuat ke tembok bahkan hingga terpental, membuat Sarah kehilangan kesadaran dan tergeletak begitu saja di lantai.


Galaksi berusaha untuk menahan hasrat dalam dirinya yang semakin memuncak, belum lagi hawa panas yang tiada henti dia rasakan pada tubuhnya.


"Tahan Gala, tahan. Ini hanya sebentar," gumam Galaksi.


"Aaarrrgggghhhhhhh,"


Galaksi menghempaskan semua benda yang ada diatas meja kerjanya. Laptop, dokumen penting, pulpen dan beberapa benda lainnya terlempar sembarang arah. Galaksi sudah tidak kuasa menahan efek dari obat perangsang tersebut.


"Apa yang terjadi Gala!!!" Pekik Eddy saat memasuki ruangan Galaksi.

__ADS_1


Kondisinya sudah berantakan, barang-barang telah berceceran di lantai bahkan kursi sudah tidak pada posisi yang seharusnya. Eddy semakin terkejut saat melihat Sarah yang terbaring pingsan di lantai.


"Antar gue pulang sekarang juga Eddy, please!!!" rintih Galaksi, dia sudah sangat tersiksa dengan kondisinya saat ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi, ini kenapa bisa berantakan seperti ini, lalu Sarah kenapa?" tanya Eddy bertubi-tubi.


"Ja- lang itu menjebak gue dengan obat perangsang. Hampir saja gue tidak bisa menahannya. Sekarang gue harus pulang, gue udah ga kuat!!!" ucap Galaksi


Tubuhnya saat ini mulai gemetaran, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Dirinya merasa seolah -olah diantara hidup dan mati.


" Satu lagi, setelah ini lo urus kekacauan ini, bawa ja- lang itu ke markas Andra atau om Bara. Terserah mau ja- lang itu di jual organnya, di jual ke rumah bordil, disekap dijadikan budak, atau bahkan dijadikan makanan Marvel gue ga peduli. Yang penting ja- lang itu enyah dari sini!!?" Perintah Galaksi


*Marvel adalah buaya muara kesayangan Andromeda, kembaran Galaksi. :)"


Eddy hanya diam dan tidak berkomentar apapun. Bergegas dia membantu Galaksi berjalan karena sudah sempoyongan. Tak lupa dia mengunci pintu ruangan kerja Galaksi agar Sarah tidak dapat kabur. Seperti Eddy harus meminta salah seorang security untuk berjaga-jaga di lantai atas.


Dengan kecepatan maksimal Eddy melaju membelah jalanan kota Jakarta yang hampir sepi menuju tempat tinggal Galaksi yang baru. Galaksi di jok belakang semakin gelisah tak tahan dengan hasrat yang ada. Tubuhnya benar-benar butuh pelampiasan saat ini juga.


"Rum... Rumi...Rumi," racau Galaksi


Eddy menghembuskan napasnya dengan kasar, merasa kasihan dengan sahabatnya tersebut. Bisa saja Eddy membawa ke tempat hiburan malam mencari wanita bayaran untuk menyembuhkan Galaksi. Tapi setelah ini Eddy dapat dipastikan akan kehilangan nyawanya bahkan tubuhnya akan menghilang tanpa jejak.


Eddy membayangkan bagaimana nasib Sarah setelah ini. Wanita itu sudah berulang kali Eddy peringatkan agar tidak macam-macam dengan Galaksi tetapi malah mencari mati sendiri.


.


.


"Aaahhh, ini kenapa kerasa gerah ya?" keluh Rumi sambil mengibas- ngibaskan tangannya.


Rumi mencari remote AC mungkin saja settingan suhunya belum tepat.


"Ehhhh tapi ini sudah suhu paling rendah, kenapa kerasa gerah ya," ucap Rumi keheranan.


Lantas Romi memutuskan untuk ke dapur mengambil air minum karena tenggorokan nya kerasa haus.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Terdengar suara bel berbunyi.


"Apa Tuan Galaksi sudah pulang ya, bukan tadi ngabarin akan pulang diatas jam 10 sedangkan ini baru jam 9? Ahh mungkin saja pekerjaan nya sudah selesai," ucap Rumi.


Dia meletakkan gelas dimeja dan bergegas menuju arah depan untuk membukakan pintu, menyambut kepulangan suaminya.


Rumi sangat terkejut saat melihat kondisi Galaksi yang sudah kacau, kancing di mejanya juga sudah terlepas semuanya.


"Apa yang terjadi mas?" tanya Rumi kepada Eddy.

__ADS_1


"Galaksi dijebak Rum, gue harap lo bisa menolongnya. Sorry gue harus kembalikan ke kantor, membereskan kekacauan di sana," ucap Eddy.


Rumi lalu mengambil alih memapah Galaksi yang sudah kepayahan. Sedangkan Eddy langsung kembali menuju perusahan Galaksi.


Galaksi yang masih sadar berusaha menjaga jarak dengan Rumi. Sentuhan nya barusan membuat tubuhnya sedikit bereaksi.


"Eehhh Tu-tuan tidak apa-apa," ucap Rumi saat tiba-tiba saja Galaksi mendorong tubuhnya


Mereka berdua saat ini sudah dalam kamar.


"Pergi Rum, aku mohon kamu pergi dari kamar ini sementara. Tinggalkan aku sendiri," pinta Galaksi.


Galaksi tidak bisa membiarkan Rumi dalam kamar, dia takut tidak bisa mengendalikan nafsunya dan justru akan menyakiti Rumi.


"Tidak, aku tidak mungkin meninggalkan Tuan suami sendirian," ucap Rumi.


"Tidak bisa Rum, kamu harus pergi aku mohon,"


Menatap Rumi membuat Galaksi semakin membuatnya tergoda apalagi Rumi terlihat sangat cantik menggunakan gaun tidur selutut.


"Ta-tapi"


"Rumi, aku takut akan menyakitimu nanti walaupun kita sudah menikah dan bisa melakukan apapun," lirih Galaksi


Rumi yang belum paham dengan situasi yang dihadapi oleh Galaksi berjalan mendekat. Tapi melihat mata Galaksi yang sayu dia tau ada sesuatu yang berusaha di tahan.


"Katakan apa yang harus Rumi lakukan Tuan, aku tau Tuan sedang butuh bantuan," ucap Rumi tanpa sadar.


Melihat Galaksi yang kepayahan membuat Rumi tak ingin menjauh, seolah ada yang menarik agar tidak berjauhan dengan suaminya.


"Ka-kamu Rumi istriku ???" tanya Galaksi memastikan.


Dia takut masik dalam halusinasinya, takut yang dihadapannya bukan Rumi melainkan wanita lain.


"Iya, Tu-tuan," jawab Rumi dengan gugup.


Tangan Galaksi mulai menyentuh dan membelai pipi Rumi dengan lembut. Kepalanya mulai mendekati tubuh Rumi dan mencium aromanya.


"Dia, dia Rumi istriku," yakin Galaksi.


Aroma tubuh Rumi sudah sangat dikenali olehnya dan menjadi candu kala tidur bersama. Aroma tubuh Rumi yang mampu membuat tidur Galaksi begitulah nyenyak setiap malam.


Rumi memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan jemari Galaksi, tangannya bahkan tanpa sadar mulai menyentuh dada bidang yang di tumbuhi sedikit rambut.


Deru napas mereka saling beradu, hawa panas mulai menyatu satu sama lain.


"Apakah ini saatnya," guman Rumi dalam hati.


Galaksi tak tahan lagi, hasratnya semakin menggebu berada dekat Rumi. Tapi dia tidak bisa melakukan jika Rumi tidak mengijinkannya.


"Rumi, istriku. Malam ini aku menginginkanmu, apa boleh??"

__ADS_1


__ADS_2