
"Dea, pekerjaannya sudah beres?" tanya Rumi saat menghampiri meja kerja Dea.
"Sudah Bu Rumi baru saja. Tumben Bu Rumi kesini, ada apa gerangan," ucap Dea sambil menggoda Rumi.
"Gue beliin lo makan siang, keruangan gue yuk, kayaknya pesanannya sebentar lagi sampe," ucap Rumi sambil berbisik.
Dea cekikikan, Rumi tak pernah berubah walau jabatannya saat ini sudah lumayan. Sejak Rumi menjabat sebagai supervisor dia mendapatkan ruang kerja pribadinya terpisah dengan staf divisi pemasaran lainnya.
Di dalam ruang kerja Rumi.
"Eh, lo tau ga si Ratna semakin songong aja sama anak baru. Kasian tau pada jadi pelampiasan karena dia gagal lolos test kemarin. Dia ngerasa sebagai senior jadi berlaku semena-mena sama anak baru. Sumpah Rum, gue kesel banget. Pengen gue pites tu cewek, apalagi salah satunya temen gue yang baru masuk," ucap Dea berapi -api.
"Kalo sudah watak sudah De, apalagi karyawan yang lain seakan tutup mata. Tapi selama batas wajar sih diemin aja dulu, itung-itung ospek buat anak baru. Nanti kalo sudah kelewatan, gue akan coba laporan sama yang berwenang," ujar Rumi.
"Gue tu yang sukanya dia ngebossy banget Rum. Apalagi kalo udah ketemu diluar, gayanya selangit tapi sayang dompet sempit," ledek Dea
Rumi hanya menggelengkan kepalanya, Dea selaku saja bercerita hal yang lucu. Tak lama seorang OB mengantar pesanan Rumi, dua buah bento jepang makanan kesukaan Rumi
"Waahh masakan jepang, enak banget ini. Wangi menggoda iman. Lo mah selalu bisa bikin gue gagal diet Rum. Emang Lak-nat ya jadi temen," ucap Dea sedikit menggerutu.
"Gue hanya ga mau temen gue kerja badannya jadi kurus. Lo mesti sadar ga kerja lagi di bagian bersih-bersih. Kerjaan lo tu sekarang wara wiri kesana kesini, gimana lo mau punya tenaga kalo makannya selalu dikit. Pokoknya gue ga mau tau kotak bento itu isinya harus habis lo makan, kalo ga gue marah dan kasih lo pekerjaan di luar lapangan terus," ancam Rumi.
"Ya.. ya... Gue abisin ini kalo perlu sama kotak-kotaknya sekalian deh" ketus Dea, Rumi malah tergelak tawa.
Dea teringat sesuatu yang ingin dia pastikan, akhirnya dari pada penasaran Dea pun mengkonfirmasi kepada Rumi.
"Rom,sorry ya gue mau nanya sesuatu sama lo. Sebenarnya sih udah lama, tapi gue agak sungkan nanya sama lo. Apalagi gosip lo di kampus terus-terusan ada. Tapi ada satu yang yang bikin gue penasaran banget. Tapi sebelumnya gue minta maaf ya kalau misalnya gue menyinggung perasaan lo. Kalau lo nggak mau jawab juga nggak apa-apa kok, gue ngerti," ucap Dea
"Emangnya lo mau nanya apa?" tanya Rumi
Dea menarik napasnya dalam-dalam.
"Apa bener lo udah nikah dan menjadi simpanan om-om? Maaf ya kalo gue lancang," tanya Dea dengan ragu-ragu, Rumi tersenyum dan memperlihatkan cincin kawin di jari manisnya.
"Iya gue bener udah nikah kok, sorry waktu itu gue nggak ngundang lo karena pernikahannya sendiri tertutup. Tapi gue nggak nikah dan menjadi simpanan om-om kok. Gue nikah sama seseorang yang berstatus lajang, dan bukan sugar Daddy seperti yang heboh di kampus. Tapi sorry ya Dea gue belum bisa cerita siapa yang jadi suami gue saat ini. Tapi nanti kalau sudah ada saatnya gue pasti cerita kok sama lo," ungkap Rumi.
Sebenarnya Rumi ingin mengatakan dengan jujur siapa suaminya, tapi dia takut Dea suatu saat keceplosan menyebutkan suami Rumi dan membuat semuanya terbongkar. Untuk saat ini Rumi belum siap jika hal itu sampai terjadi
"Ahhh demi apa Rum, selamat ya atas pernikahan lo. Yang penting lo bahagia dan gosip diluaran sana yang bilang lo simpanan om-om itu ga bener. By the way, suami lo ganteng ga Rum, kaya juga ga?" Dea penasaran.
__ADS_1
"Mmmmmm... Ya aku akui dia ganteng, dia juga kaya, sultan lagi. Hehehe." Rumi terkekeh dan membayangkan wajah Galaksi. Jadi kangen.
"Ahhhh beruntung banget sih lo. Pokonya lo nanti wajib kenalin sama gue," ucap Dea dengan semangat.
"Sebenernya suami gue atasan lo Dea," guman Rumi dalam hati, Dia hanya bisa mengiyakan permintaan Dea
Mereka menikmati makan siangnya dengan bergosip ria, membicarakan perihal teman kantor dan pekerjaan. Tak berselang lama seseorang mengetuk pintunya dan Rumi pun mempersilahkan masuk.
"Maaf Bu Rumi di tunggu oleh Pak Galaksi diruangnya. Beliau ingin menanyakan perihal proyek perumahan yang di tanah abang," ucap Lucas, dia sekertaris baru Galaksi.
Lucas sebenarnya adalah Kaka tingkat Rumi di kampus, semester akhir. Tetapi setelah melihat pengalaman magang yang dimilikinya cukup lumayan dan ternyata dia pernah menjadi asisten magang di perusahaan ayahnya Galaksi, Lucas diterima sebagai sekertaris Galaksi. Walaupun Galaksi sempat protes karena Lucas memiliki wajah yang cukup rupawan, namun setelah Rumi meyakinkan dirinya Galaksi terpaksa menerimanya.
Untung saja dalam beberapa minggu kinerja Lucas sangat baik, pengaturan jadwal dan kemampuannya dalam hal lobi melobi cukup baik membuat Galaksi puas.
"Baik Kak, nanti saya segera ke ruangan Pak Galaksi, terima kasih," ucap Rumi.
Lucas pun keluar dari ruangannya Rumi dan menungguinya di luar.
"Ahhhhh demi apa barusan gue liat wajah charming kak Lucas, uhhh imut banget sih," puji Dea, dia termasuk Fans Lucas garis keras.
"Seneng lo liat yang seger-seger," ledek Rumi
"Dihhh, kapan gue bilang suka sama kak Lukas, lo aja kali," gerutu Rumi, seenaknya saja Dea menuduh begitu.
"Hehhe. Ya..ya.. cuma gue yang suka kak Lucas. Uuugh jadi semangat kerja semenjak kak Lucas jadi sekertarisnya pak bos. Ehhh, si Sarah yang kecentilan itu kemana ya, tau-tau dah ganti aja sama kak Lucas," tanya Dea penasaran
"Udah jadi makanan buaya," ucap Rumi jujur, kesal jika ada yang mengingatkan tentang Sarah.
"Bisa aja lo bercandanya,"
Rumi hanya tersenyum melihat temannya yang menyangka dia hanya bercanda. Tetapi memang itu kenyataan, setelah beberapa hari Sarah disekap di markas milik Andra dan menjadi pemuas untuk anak buah disana, tubuh Sarah dilempar ke kolam tempat Marvel berada.
Rumi jalan beriringan dengan Lucas, membuat beberapa karyawan tampak iri dengannya. Rumi memang cukup dekat dengan Lucas selain karena Lucas sudah tau perihal status Rumi mereka juga akrab ketika di kampus.
"Nona, sepertinya Pak Gala sedang sakit. Beberapa kali saya lihat beliau tertidur dan kurang nafsu makan," ucap Lucas.
"Ighh kak jangan panggil nona, panggil Rumi aja. Tapi tadi pagi Tuan Gala baik -baik aja kok. Bahkan sarapan juga dua kali lipat porsinya," jawab Rumi.
"Saya juga kurang tau Rum, nanti kamu coba cek aja kondisinya. Kamu kan istrinya Pak Galaksi,"
__ADS_1
"Ssssttttt, jangan keras-keras kak, bisa berabe kalo ada yang denger," peringat Rumi.
Rumi pun sampai di depan ruangan Galaksi dan bergegas masuk. Sebenarnya hanya akal-akalan Galaksi saja memanggil Rumi karena pekerjaan tetapi Galaksi ingin melihat wajah Rumi saat ini. Entah mengapa tiba -tiba Galaksi teringat dengan Rumi istrinya.
"Tuan sakit?" tanya Rumi.
Dia melihat Galaksi sedang tertelungkup di meja kerjanya. Mendengar suara Rumi yang lembut membuat Galaksi sedikit bersemangat.
"Hoaamss, kamu udah dateng Rum. Aku hanya ngantuk Rum, ga tau nih bawaannya ngantuk terus. Padahal semalem tidur juga ga terlalu malem," ucap Galaksi dengan senyuman khasnya.
"Loohh Tuan belum makan?" tanya Rumi sedikit khawatir melihat makanan di meja Galaksi masih utuh.
Galaksi menggelengkan kepalanya.
"Belum Rum, ga selera. Mungkin kalo kamu suapin akan jadi selera," goda Galaksi, modus.
Rumi menghembuskan napasnya dengan kasar, sudah mengira jika Galaksi hanya alasan saja memanggilnya karena alasan pekerjaan.
"Ya udah sini Rumi suapin"
Mendengar hal itu Galaksi langsung semangat dan duduk di sofa menunggu Rumi menyuapinya. Rasa makanannya langsung enak setelah Rumi yang menyuapi nya padahal beberapa saat yang lalu melihat makanan tersebut pun enggan. Galaksi makan dengan lahap dan makanannya hanya tersisa dikit.
Namun di tengah-tengah kegiatannya menyuapi Galaksi, Rumi merasakan sakit pada perutnya.
"Tuan, sepertinya aku harus segera pergi ke toilet," ucap Rumi langsung pergi begitu saja.
Melihat Rumi yang memegangi perutnya membuat Galaksi paham kemana Rumi pergi.
Rasa sakit di perutnya sungguh luar biasa, mules tak tertahankan. Untung saja Rumi masih bisa menahannya hingga sampai di toilet.
Setelah perutnya melega, Rumi pun keluar dari toilet tersebut. Tetapi baru berapa langkah, perutnya terasa sakit lagi, terpaksa Rumi masuk kembali ke dalam toilet. Tidak hanya dua kali, empat kali Rumi harus bolak-balik toilet.
Sakit diperutnya sedikit berkurang, tetapi tiba-tiba Rumi merasa perutnya bergejolak dan mual. Rumi segera berlari dan mengeluarkan isi perutnya.
"Sepertinya gue salah makan deh," ucap Rumi dengan lirih.
Hampir semua isi perutnya dikeluarkan tetapi rasa mual nya tak kunjung hilang. Setelah tak ada lagi yang keluar dari mulutnya Rumi pun hendak kembali ke ruangannya, dia butuh istirahat dan minum.
Namun di tengah perjalanan, Rumi merasakan rasa pening di kepalanya, tubuhnya yang lemas membuat jalannya sempoyongan. Runi berusaha agar tidak jatuh dan berpegangan ke tembok. Namun pandangannya mulai mengabur dan semuanya menjadi gelap. Untung saja ada yang menahan tubuh Rumi sehingga tidak terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Rum, Rumi bangun Rum!!! Lo kenapa??"