
Srett
Stett
Brakkkk
Eddy menyobek kertas laporan yang ada di depannya lalu dilemparkan ke sembarang arah beserta map- mapnya. Para karyawan yang ada di dalam ruangan meeting tersebut tercekat dan terkejut melihat Eddy yang marah.
"Yang begini saja masih salah hah??" Bentak Eddy sambil menunjuk ke arah karyawan yang melakukan kesalahan.
" Maaf, " ucapnya lirih sambil menekuk kepalanya.
"Ulangi, saya tidak terima kesalahan seperti ini!!!" Tegas Eddy sambil memberikan laporan tersebut dengan cara di lempar.
Eddy mengambil laporan lain yang sudah ada diatas meja. Dia membaca dan memeriksa nya dengan teliti.
"Ini yang salah mata saya atau mata anda?? Kesalahan sefatal ini masih bisa lolos? Bagaimana bisa ada ketidaksamaan antara bagian pemasukan dan pengeluaran hah!!!!" Ucap Eddy menyalang. Kepalanya pening makin pening melihat laporan karyawan nya yang banyak kesalahan.
Saat ini mereka semua tengah berkumpul di ruangan meeting untuk membahas laporan triwulan yang bisanya di lakukan oleh Eddy sebelum dilaporkan kepada Galaksi. Hari ini berbeda, Eddy tak lagi mentolerir setiap kesalahan yang ada. Para karyawan tentu terkejut dengan perubahan Eddy yang menjadi pemarah. Biasanya dia masih bisa memaklumi dan memberi kesempatan kepada karyawan yang melakukan kesalahan untuk memperbaikinya.
"Sudah berulang kali kesalahan ini terjadi dan sudah berulang kali kesalahan ini saya maafkan. Kalian ini bisa bekerja secara profesional atau tidak. Kesalahan yang begitu fatal kenapa bisa terlewatkan. Apa kalian selalu bertindak ceroboh seperti ini?? Kerja kalian apa saja?? Saya tunggu perbaikan laporan ini satu jam dan saya tidak mau ada yang namanya kesalahan lagi. Bagi yang bosan dan tidak sungguh-sungguh bekerja silahkan serahkan surat pengunduran diri kalian ke HRD. Jika masih ingin bekerja, cepat perbaiki laporan ini sekarang juga. Dan jika masih ada kesalahan maka kalian akan mendapatkan SP1 serta bonus yang kalian dapatkan akan ditangguhkan. Jika sudah mengerti silakan tinggalkan ruangan ini. Cepat jangan membuang waktu!!!!" hardik Eddy dengan angkuh. Benar -benar bukan sosok Eddy yang seperti biasa.
Eddy memijat kepalanya yang berdenyut, beberapa hari kebelakang dia kesulitan tidur. Cekungan hitam tercetak jelas di bawa matanya pertanda kualitas tidurnya tidak baik. Bagaimana tidak, bayangan Imelda saat mereka tidur bersama selalu melintas setiap kali Eddy mulai memejamkan mata. Kehilangan sosok Imelda untuk kedua kalinya membuat dirinya kehilangan separuh jiwanya.
"Aaarrrrgggghh," pekik Eddy sambil mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
Lucas yang berada disampingnya tampak terkejut.
"Pak Eddy anda kenapa?? Muka anda juga kusut sekali, apalagi kantung matanya hitam dan cekung. Sudah berapa hari ini anda tidak tidur???" tanya Lucas penasaran.
Eddy meraup udara disekitarnya, kepalanya benar -benar berdenyut.
"Saya tidak apa-apa. Tolong tinggalkan saya sendiri untuk saat ini. Satu jam lagi kamu bisa kembali sini lagi begitu meeting dilanjutkan," ucap Eddy dengan malas.
Lucas tak banyak lagi bertanya atau berbicara, dilihat Eddy memang sedang tak ingin di ganggu. Lucas pun langsung keluar meninggalkan Eddy sendirian didalam ruangan.
Tinggallah Eddy sendirian saat ini, sunyi tanpa ada suara apapun. Sekelebat bayangan Imelda muncul dihadapannya sedang tersenyum manis. Kadang suara manjanya saat bersenda gurau muncul di kepalanya.
"Mel, kenapa lo selalu bikin hidup gue menderita sih!! Gue cape Mel, gue cape terus -terusan menahan rasa sakit di hati gue. Kenapa lo harus memberikan harapan sedangkan lo malah diam-diam pergi meninggalkan gue. Apa gue ga pantas buat menjadi seseorang yang berarti di hati dan hidup lo," ucap Eddy dengan sendu.
Eddy menundukkan kepalanya di atas meja, sejenak memejamkan mata untuk mengurai rasa penat yang dirasakannya. Lelah? Susah pasti.
*
*
"Sibuk ya??" Ucap Lucas tiba-tiba
Ehh yang disapa terlonjak kaget saat seseorang berbicara didekatnya. Hampir saja dia terjengkang kebelakang begitu wajahnya tepat beberapa senti di depan wajah pria pujaan hatinya.
"Kak-kak Lucas?? ngapain disini??" Ucap Dea dengan gugup, hampir saja mereka berciuman secara tidak langsung.
__ADS_1
"Emangnya ga boleh gue disini??" Goda Lucas.
"Ya boleh aja kak, ga ada yang larang kok. Cuma aneh aja di jam kantor begini kak Lucas ada disini." Heran Dea.
Yang jelas sih hati Dea dag dig dug tak karuan, jantungnya berdebar kencang.
"Lagi break meeting, barusan pak Eddy marah-marah soalnya laporan karyawan banyak yang salah. Udah gitu mukanya kusut amat, ga bergairah. Semenjak kuyang itu pergi, Pa Eddy berubah," ungkap Lucas.
"Hah kuyang?? Kuyang apa maksud kakak??" tanya Dea penasaran.
"Itu loh, wanita yang ngakunya cinta pertamanya Pak Galaksi, model luar yang terjerat kasus skandal," terang Lucas.
"Owh, mbak Imelda. Memangnya Mbak Imelda kemana??"
"Gue juga kurang tau sih, kayaknya dia balik ke negaranya. Soalnya kan semenjak kasus skandal dia meledak, dia jadi orang paling di cari. Pak Eddy juga ga banyak cerita, tapi seminggu ini keliatan banget kalo Pa Eddy ada masalah," terang Lucas secara nyata.
"Ohh seperti itu. Pantes aja muka pak Eddy serem banget. Udah kayak kanebo kering sekarang kayak kerupuk bantet," bisik Dea,
"Hahahahahah lo jujur banget sihh. Gue bilangin loh ke Pak Eddy udah ngejelekin dia dibelakang," ancam Lucas
"Eh...eh...ehh jangan dong kak, nanti Dea kena marah ighh," rengek Dea.
"Okey, ga akan gue bilangin. Tapi sda syaratnya?" Lucas mengangkat sebelah alisnya
"Apa syarat nya??" Feeling Dea mulai tidak tenang.
__ADS_1
"Syaratnya adalah....."