
Rumah yang biasanya sepi kini ramai oleh warga yang ingin bertakziah. Kesedihan terpancar dari raut wajah para pelayat yang silih berdatangan untuk mengucapkan turut berduka cita. Iringan doa dan lantunan ayat-ayat suci dibacakan oleh beberapa anak yatim piatu yang diundang oleh bunda Maulindya.
Segala urusan pemakaman dan pengaturan pelayat di rumah almarhum sudah di urus dengan baik oleh keluarga Galaksi. Namun almarhum belum dimandikan menunggu kedatangan Rumi sebagai cucu kandung, tidak ingin mendahului mungkin saja Rumi hendak memandikan jenazah neneknya.
"Bun, Rumi gimana kondisinya ketika Gala menyampaikan kabar duka ini? Ayah khawatir ada apa-apa dengan kondisi kandungan Rumi, bukankah masih dalam pemantauan?" tanya Raka dengan cemas.
"Bunda belum dapet kabar Yah. Tadi ketika ditelepon Gala akan.memberitahu Rumi jika Rumi sudah sarapan. Mungkin anak itu takut Rumi ga mau makan setelah tau neneknya meninggal. Bunda juga jadi cemas yah," ucap Maulindya
"Coba bunda telpon lagi tanyain mereka sedang apa. Soalnya kasian jenazah nenek Rumi jika tidak diurus secepatnya. Apalagi ini sudah mau siang Bun, apa sebaiknya jenazah dimandikan terlebih dahulu?"
"Kita tunggu kabarnya sebentar lagi ya Yah, ini bunda akan segera telepon Gala. Kita juga harus mendapatkan konfirmasi dari Rumi, jangan sampai dia kecewa karena jenazah almarhum neneknya sudah dimandikan tanpa izin dari dia"
Maulindya segera mengambil handphone milik dan menelepon Galaksi untuk menanyakan kabar Rumi. Ternyata Galaksi dan Rumi sedang dalam perjalanan menuju rumah duka. Mendapatkan kabar seperti itu, Maulindya dengan sigap meminta tolong untuk menyiapkan keperluan untuk memandikan jenazah. Agar setelah Rumi tiba langsung segera di mandikan dan di kafani.
Turun dari mobil Rumi menatap nanar bendera kuning yang terpasang di depan rumah neneknya. Para warga sekitar terutama tetangga sudah berkumpul membantu mengurus keperluan jenazah dan pemakamannya.
Melihat menantu nya datang, Maulindya datang menghampiri dan memeluknya dengan erat. Memberikan dorongan moril agar Rumi bisa lebih tabah jika sang nenek sudah menghadap Illahi.
Rumi sama sekali tidak mengeluarkan air mata, dia berusaha menahan tangisnya agar almarhum neneknya tidak kesakitan. Maulindya menatap dengan bangga Rumi begitu tabah dan kuat kehilangan keluarga kandung satu-satunya.
"bunny, sanggup memandikan almarhum nenek? Kalo ga sanggup biar bunda dan ibu-ibu lainnya yang akan memandikan almarhum. Rumi istirahat saja, sambil melantunkan doa buat almarhum," ucap Maulindya dengan pelan, agar tidak menyinggung Rumi.
__ADS_1
"Insya Allah Rumi kuat Bun, ini sebagai wujud bakti terakhir untuk almarhum nenek bun. Biar Rumi yang memandikan. Mungkin nenek juga ingin dimandikan oleh cucunya untuk yang terakhir kalinya," ucap Rumi dengan sendu. Bulir -bulir air matanya terpaksa jatuh kembali padahal sudah berusaha di tahan.
Matanya menatap tubuh kaku neneknya yang terbungkus selembar kain, siap untuk menjalani proses pemandian jenazah.
Rumi mengambil air pertama kemudian disiramkan ke tubuh neneknya, tangannya mengusap-usap kulit almarhum yang keriput. Di bantu oleh ibu mertuanya dan ibu-ibu lainnya, Rumi berhasil hingga akhir memandikan jenazah neneknya. Untuk urusan mengkafani jenazah, di urus oleh ibu-ibu pengajian yang lebih paham.
Galaksi terus mendampingi Rumi di sisinya, takut kondisinya Rumi tiba-tiba drop. Walaupun berusaha kuat, wajahnya menyiratkan kehilangan yang mendalam.
Selesai di solatkan, Rumi, Galaksi dan keluarga mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir akhir. Galaksi dan Ayahnya Raka membantu mengangkat keranda menuju area pemakaman yang tidak jauh dari rumah almarhum.
Rumi menabur bunga diatas pusara yang baru saja tertimbun tanah. Semua proses pemakaman dan doa terakhir berjalan lancar.
Tak banyak yang di persiapkan hanya beberapa snack dan minuman karena merupakan hari pertama. Beberapa ibu -ibu tetangga juga memasak makanan untuk orang-orang yang sudah membantu pemakaman nenek Rumi. Semua biaya dikeluarkan pribadi oleh keluarga Galaksi.
Beberapa jam kemudian Rumi mulai terbangun dari tidurnya, dan sedikit linglung mengapa ada di kamar neneknya. Setelah kesadarannya terkumpul semua, Rumi baru ingat jika neneknya sudah meninggal tadi pagi. Rumi menghela napas panjang dan berusaha menguatkan diri agar tidak larut dalam kesedihan. Rumi sadar jika kematian merupakan takdir Alloh yang tidak dapat diubah.
"Bunny, sudah bangun?? Ini makan dulu udah lewat jam makan siang, pasti debay nya misscall-in dari tadi nih. Sini aku suapin ya?" ucap Galaksi dengan lembut
Rumi menganggukkan pasrah, badannya juga masih lemas setelah bangun tidur. Galaksi dengan telaten menyuapi istrinya hingga seluruh makanan di piringnya habis tak bersisa.
*
__ADS_1
*
*
Usai nonton film di bioskop, wajah Dea tampak murung. Entah sengaja atau tidak Lucas justru mengajaknya menonton film horor. Dea yang tak bisa menolak ajakan Lucas pasrah saja mengikuti apa yang diinginkan pria tersebut.
"Uuhhh lucu banget sih kalo lagi namun gini. Minta di gigit tau ga?" ucap Lucas bercanda.
Dea tak bergeming, jantung nya masih berdetak tak beraturan karena ketakutan menonton film horor. Selama didalam studio Dea hanya bisa menutup matanya saat ada adegan hantu lewat, dia juga tidak berharap lebih jika Lucas akan bertindak seperti pria gantle yang ada di cerita-cerita novel online.
Lucas terus saja meledek Dea yang masih dengan raut wajah pucatnya. Lucas sama sekali tidak tau jika Dea ketakutan ketika menonton. Dirinya yang memang penggemar film horor justru asyik dan enjoy saja menikmati suguhan di depan mata tanpa memperdulikan bagaimana kondisi Dea pada saat itu.
Tiba-tiba handphone milik Lucas berdering, ternyata atasannya Galaksi yang menelepon. Lucas mengereyit keningnya, tidak biasanya Galaksi menelepon nya di luar jam kerja.
"Halo selamat siang Pak Galaksi," ucap Lucas saat mengangkat telepon.
"................."
"Innalilahi wa innailaihi rajiun, turut berduka cita ya Pak, semoga ibu Rumi dan keluarga diberikan ketabahan dan almarhum diterima amal dan ibadahnya oleh Allah," ucap Lucas dengan keterkejutan.
Dea yang berada disampingnya juga terkejut mendapati kabar duka yang datang dari Rumi sahabatnya. Pasti Rumi sangat terpukul dan bersedih kehilangan nenek yang sangat di sayanginya.
__ADS_1