
Di sebuah restoran Western mereka sekarang berada setelah Galaksi meminta Rumi untuk menemaninya makan. Rumi sudah tidak lagi menggunakan pakaian seragam kerjanya sudah berganti dengan pakaian biasa. Namun pakaianya sangat bertolak belakang dengan yang dikenakan oleh Galaksi. Rumi terlihat lebih santai dengan pakaian casualnya yang hanya mengenakan kaos dan celana jeans sedangkan Galaksi masih mengenakan setelan jasnya.
Tetapi Galaksi yang tidak pernah peduli dengan keadaan sekitar alias cuek padahal mereka tengah menjadi pembicaraan beberapa orang di dalam restoran. Sedangkan Rumi celingukan kesana kemarin karena merasa tidak nyaman apalagi beberapa orang seperti memandang rendah dirinya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Galaksi
"Samain aja Tuan, saya ga begitu tau makanan disini apa aja," ucap Rumi sambil menundukkan kepala.
"Kalo di luar jam kantor kamu panggil saya Gala aja, tidak perlu terlalu formal," ucap Galaksi sambil memilih -milih menu.
Rumi masih melihat kondisi dalam restoran yang penuh ramai, memang bukan restoran mewah tapi cukup mahal bagi Rumi yang hanya mendapatkan gaji standar UMR daerah.
Tak lama setelah memesan makanan mereka pun sudah datang. Galaksi memesankan menu steak standard karena takut Rumi tidak suka dengan makanan barat. Sebenarnya Rumi tidak terlalu lapar tapi demi menemani "calon suami" makan.
Namun saat mereka tengah menikmati makanan mereka tiba-tiba segerombolan wanita datang menghampiri meja mereka.
"Oohhh ternyata begini cara lo supaya bisa tetap membayar uang kuliah yang mahal, pintar juga ya dengan mencari om sugar yang kaya raya," ucap salah seorangpun wanita.
Mereka tak lain adalah teman kuliah Rumi ketika mengambil kelas reguler.
Rumi menolehkan wajahnya kearah "temen-temennya" tersebut lalu berdiri sambil mengulas senyum.
"Kenapa?? Lo syirik?? Lo pengen dapetin om sugar yang tampan seperti milik gue tapi sayangnya om sugar lo itu hanya seorang pria tua dengan kepala botak dan perut buncit. Selera orang rendahan!!!" balas Rumi tak kalah telak.
Galaksi berusaha menahan tawanya, tidak menyangka Rumi bukan gadis yang gampang di tindas. Galaksi hanya diam saja mendengarkan keributan sekumpulan wanita tersebut.
__ADS_1
"Hei lo jangan nuduh seperti itu, sahabat gue ga mungkin dong berperilaku muraan seperti Lo karena dia merupakan orang kaya. Ngapain harus menjadi simpanan om sugar," bela salah satu temannya
"Lo g usah sok suci juga dengan membela teman Lo ini. Lo juga sama jangan kira gue ga tau kelakuan minus lo yang suka rela mengobral tubuh ke dosen buat ditukar dengan nilai yang bagus. Kalo otak lo ga mampu ga usah kuliah, jualan aja sana di pinggir jalan," ucap Rumi tak mau kalah.
"Lo ga usah fitnah deh, udah ketahuan belangnya ternyata nuduh-nuduh orang sembarangan!!"
"Fitnah?? Apa yang gue omongin itu kenyataan alias fakta!!! Kalo lo masih ingin nama.baik lo ga gue buat buruk besok pagi sebaiknya kalian pergi dari sini, ganggu acara makan gue aja. Lama-lama gue makan kalian satu-satu!?" seru Rumi dengan mata mendelik.
"Awas besok lo di kampus, lo ga akan bisa kabur dari gue," ucapnya sambil meninggalkan Rumi dan Galaksi.
Rumi mendengus kesal bisa-bisanya bertemu dengan teman sekampusnya yang tak pernah bosan membully nya dari SMP. Rumi menghempaskan bokongnya lalu melanjutkan acara makannya yang sempat terganggu.
Galaksi terkekeh melihat wajah Rumi yang tampak kesal. Bahkan Rumi memotong steak dagingnya dengan kasar hingga terdengar bunyi piring dan pisau saling beradu.
"Ngapain pak liat-liat!! Awas nanti jatuh cinta," ucap Rumi dengan kesal.
"Tu-tuan kapan kita akan menikah?" Ucap Rumi dengan ragu.
"Kenapa kamu tanyakan hal itu, apa kamu sudah tidak sabar ingin malam pertama denganku," ucap Galaksi sambil mengedipkan satu matanya, dia hanya mengoda Rumi
"Bu-bu-bukan begitu maksudnya. Aku hanya ingin mempersiapkan diri. Dan bolehkah aku meminta beberapa syarat?" tanya Rumi
"Kan sudah ku bilang seminggu lagi kita akan menikah apa tadi siang kau tidak mendengarnya hah. Apa uang mahar yang kemarin aku kasih kurang? Minta berapa lagi sebagai mas kawin?" ucap Galaksi dengan dingin.
"Bukan soal mas kawin, tapi bolehkah aku minta pernikahan ini dirahasiakan dan setelah menikah aku mohon agar tetap bekerja dan kuliah. Aku janji tidak akan melalaikan perkerjaan rumah nantinya," ucap Rumi dengan rasa takut.
__ADS_1
"Kenapa?? Bukankah wanita ingin pernikahannya mewah dan di rayaa besar-besaran? Apa jangan-jangan ada yang sedang kamu tutup-tutupi hah? Apa kamu sudah punya pacar? Dan ingin berpacaran walaupun kita sudah menikah?" Tuduh Galaksi dengan emosi
"Jangan menuduhku seperti itu!!! Apa yang Tuan pikirkan salah semuanya. Aku tidak memiliki pacar, bahka berpacaran pun tidak ada dalam pikiranku selama ini. Aku sibuk belajar dan mencari uang untuk bertahan hidup. Kehidupan keluarga sudah sangat sulit Tuan, tolong jangan menambahkannya dengan berita pernikahan yang akan tersebar ke seluruh kantor. Apa Tuan tidak berfikir bagaimana aku mendapatkan cemoohan dari karyawan yang lainnya karena berhasil menggoda Tuan. Aku ini hanya gadis miskin dengan jabatan office girl bukan suatu prestasi jika dapat menikah dengan orang seperti Tuan. Justru akan membuat tanda tanya besar dan tuduhan tidak bermoral untukku. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan kepada mereka jika aku layak menjadi istri Tuan, biarkan aku tetap bekerja sesuai kemampuanku. Aku janji tidak akan merepotkan dan membuat Tuan malu!!" Seru Rumi dengan menahan air mata.
Galaksi menghela napas panjang, padahal dia ingin istrinya nanti tidak sibuk diluar dan tinggal di rumah menunggu kedatangannya. Tapi dia juga tidak bisa selalu memaksakan kehendaknya apalagi bagi Rumi yang sudah terpaksa Menerima tawaran Galaksi karena kondisi neneknya.
"Huph baiklah aku akan menuruti kemauan mu itu yang penting jangan bermain curang di belakangku. Aku tidak suka penghianatan karena aku juga tidak akan pernah melakukannya. Padahal aku sudah menyiapkan rumah dengan 10 pelayan agar kamu bisa nyaman tinggal di rumah tapi okay lah. Jika nanti kamu lelah dan ingin berhenti bekerja katakan saja," ucap Galaksi.
Sebuah senyum terbit dari sudut bibirnya, walaupun terpaksa menikah tetapu Galaksi juga bukan calon suami yang buruk. Dia bisa mendengarkan dengan baik permintaan pasangannya dan mencoba untuk mengerti.
"Terima kasih"
"Hemmm... Ayo kita pulang sudah hampir larut malam. Aku antarkan kamu pulang karena jam segini sudah pasti tidak ada angkutan umum dan terlalu bahaya jika kamu pulang sendiri," ucap Galaksi
"Bolehkah aku minta diantarkan ke rumah sakit saja karena malam ini aku harus menemani nenekku yang baru saja selesai operasi Tuan," pinta Rumi dengan sopan.
Usai mengantar Rumi ke rumah sakit Galaksi langsung pulang kerumahnya. Entah mengapa perasaan Galaksi hari ini jauh lebih ringan. Biasanya jika saat-saat pulang kerumahnya seperti ada batu besar diatas kepalanya.
Dengan langkah santai sambil bersiul Galaksi berjalan memasuki kediaman orang tuanya. Kebetulan ada ayahnya yang sedang bermain PS di ruang tengah.
"Gala tumben sekali wajah kamu keliatan seneng seperti orang pertama kali terima gajian, apa jangan jangan kamu sudah menemukan calon istri ya?" Ucap Raka langsung to the point.
Galaksi yang hendak menaiki tangganya berhenti sejenak lalu membalikkan badannya dan melihat kearah ayahnya.
"Iya dong," ucap Galaksi dengan senyum yang lebar kemudian berlari menuju kamarnya sebelum sang ayah bertanya lebih jauh.
__ADS_1
"Woooii Galaksi tunggu jangan dulu ke kamar cerita dulu sama ayah!!!" Teriak Raka
"Besok Gala ceritain yah. Gala mau tidur dulu!?!!" Ucap Galaksi sebelum akhirnya menutup pintu.