Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Duka untuk Rumi


__ADS_3

Hampir lima toko sudah di datangi oleh Lucas dan Dea. Lucas kebingungan mencari kado yang cocok untuk ibunya sedangkan Dea belum mengetahui apa yang menjadi kesukaan ibunya Lucas. Kaki Dea sebenarnya sudah cukup pegal dan lelah berkeliling di mall terbesar di ibu kota tapi dia tak bisa mengeluh takut Lucas akan kapok mengajaknya jalan-jalan.


"Kita duduk dulu yuk, lumayan cape juga muter -muter ga jelas," ajak Lucas ketika melihat bangku kosong


Tentu dengan senang hati Dea menerima ajakan Lucas, dia butuh mengistirahatkan kakinya sejenak sebelum kembali berkeliling mencari kalo yang cocok.


"Tunggu disini sebentar ya, gue mau cari sesuatu dulu. Ga akan lama kok," ucap Lucas berlalu begitu saja.


Belum sempat Dea menjawab ternyata Lucas malah langsung pergi. Tak apa, tak ada Lucas berarti dia bisa meletakkan kakinya diatas bangku.


Tak lama kemudian Lucas sudah kembali sambil membawa dua cup besar minuman. Dengan sumringah Lucas menghampiri Dea dan memberikan salah satu cup minuman di tangannya.


"Nih, lo pasti haus. Kata orang-orang sih enak dan rekomen banget. Katanya minuman khas korea, kalo kurang suka bilang aja nanti gue beliin yang lain," ucap Lucas.


Tanpa ragu Dea mengambilnya dan langsung mencobanya. Awal-awal agak sedikit aneh tapi lama-lama lumayan seger juga rasanya.


"Not bad sih. Lumayan enak. Makasih ya kak," ucap Dea


"Harusnya gue yang berterima kasih sama lo udah mau capek-capek nemenin gue jalan-jalan ga jelas gini."


"Loh kok ga jelas sih, kan kita kesini jelas mau cari kado buat ibu kak Lucas. Ya walaupun belum dapet," ucap Dea dengan terkekeh.


"Ehh, tadi ga sengaja lewat bioskop, ada film seru kayaknya. Kita nonton yuk?" Ajak Lucas tanpa malu-malu


"Hah!!"


*


*


*


Semenjak semalam Rumi merasa gelisah, tidurnya sama sekali tidak tenang. Matanya pun tak bisa dia ajak kompromi padahal sudah merasa mengantuk sejak jam tujuh malam. Memang weekend ini Rumi dan Galaksi menghabiskan waktu di apartemen saja, menonton drama film atau mengobrol berbagi cerita.


Ya, Rumi juga mengeluh jika badannya terasa pegal-pegal dan tidak nyama di bagian perutnya. Namun Rumi menolak untuk di ajak periksa ke klinik atau bahkan ke rumah sakit. Dia beranggapan itu dikarenakan terlalu lelah bekerja.


Jadi sesekali Galaksi membantu memijat bagian tubuh Rumi yang pegal seperti kaki dan tangan sedangkan pinggangnya Galaksi usap-usap perlahan. Katanya jika sedang hamil di larang untuk memijat di area pinggang karena akan berbahaya bagi kandungan.


Hingga malam menjelang Rumi masih saja terjaga padahal puluhan kali mulutnya menguap pertanda jika Rumi sudah mengantuk berat. Beberapa kali juga Galaksi meminta Rumi untuk tidur duluan, alhasil justru Galaksi yang tertidur saat sedang mengusap-usap perut Rumi.


Entah jam berapa Rumi berhasil tertidur, yang jelas lewat tengah malam. Galaksi yang sempat terbangun membenarkan posisi tidur Rumi yang bersandar di papan ranjang agar lebih nyaman.

__ADS_1


Pukul setengah enam pagi, Galaksi terbangun karena ada yang menelepon ke handphone miliknya. Dering pertama dan kedua diabaikan oleh Galaksi karena nomornya tidak dikenal. Namun pada dering ketiga diangkat oleh, Galaksi menganggap orang yang meneleponnya memang penting dan perlu berbicara segera.


Ternyata yang menelepon adakah suster yang bertugas untuk merawat nenek Rumi di rumahnya. Galaksi tergugu mendapatkan kabar jika nenek Rumi telah meninggal dunia usai menjalankan solat subuh. Galaksi menatap nanar rupa istrinya yang masih terlelap tidur, bingung harus bagaimana cara menyampaikan kabar duka ini. Rumi pasti akan sangat bersedih mendengar hal ini, tetapi Galaksi juga tidak bisa tidak menyampaikannya. Bagaimanapun juga Rumi keluarga kandung satu-satunya dari neneknya.


Untuk sementara Galaksi membiarkan Rumi tertidur dengan lelap, dia juga tau jika semalaman Rumi kesulitan tidur. Mungkin semalam adalah pertanda, Rumi sempat mengatakan jika dia merasa tidak nyaman atau gelisah.


Galaksi bergegas keluar kamar untuk menelepon keluarganya. Dia hendak memberitahu ayah dan bundanya perihal meninggal nya nenek Rumi dan meminta tolong untuk mengurus acara pemakamannya. Sekalian meminta izin Galaksi akan kesana setelah Rumi bangun dan sarapan terlebih-lebih dahulu. Sebisa mungkin Galaksi membuat Rumi beraktivitas seperti biasa sebelum memberikan kabar duka ini.


Rumi mengucek matanya yang masih mengantuk tetapi karena keberadaan Galaksi yang tidak ada disampingnya terpaksa membuat Rumi akhirnya terbangun dan mencari keberadaan suaminya.


"By.... Hubby," panggil Rumi saat keluar dari kamarnya.


Tercium aroma masakan yang sangat enak dari arah dapur. Aroma tersebut menghipnotis diri Rumi untuk datang ke dapur dan sangat kebetulan perutnya sudah terasa lapar ketika bangun tidur.


"Sayang, ayo duduk. Itu ada teh manis anget, diminum dulu ya biar relaks. Semalaman tidurmu ga nyenyak kan?" ucap Galaksi sambil memasak di dapur.


Rumi meresapi aroma teh yang menenangkan, lumayan bikin tubuh sedikit lebih segar. Galaksi memang tak pernah gagal dalam membuat apapun, bahkan teh campur gula saja bisa seenak ini.


"Tara, nasi goreng kambing spesial silahkan di nikmati Baginda Ratu," ucap Galaksi sambil menghidangkan sepiring nasi goreng buatannya.


"Pasti ini enak deh, eeeemmmmm porsi segini kayaknya kurang deh Bu?" Ucap Rumi sambil menyengir, deretan gigi putihnya terlihat.


"Masih banyak di wajan, nanti nambah lagi kalo kurang apalagi kamu makan juga untuk dua orang anak kita. Seharusnya sekali makan 3 porsi," ungkap Galaksi sambil terkekeh.


Galaksi tersenyum, dia berusaha bersikap biasa saja agar Rumi tidak menyadari sesuatu. Sebenarnya sedari tadi Galaksi berpikiran kelas Bagaimana cara menyampaikan kepadanya agar Rumi tidak syok. Rumi makan dengan sangat lahap, membuat Galaksi senang.


Dua porsi nasi goreng dihabiskan oleh Rumi, akibat sedang hamil kembar tentu saja meningkatkan porsi makannya. Kadang-kadang jam sepuluh atau sebelas siang Rumi sering kali merasa lapar.


"Oh iya By, kok kamu udah rapi sih. Memangnya kamu mau pergi?" tanya Rumi.


Rumi sudah melihat keanehan Galaksi sejak dia bangun, tak biasanya pagi-pagi suaminya itu sudah rapi. Namun karena rasa lapar yang menyerang Rumi menunda dulu untuk bertanya.


Galaksi menganggukkan kepalanya dan senyum tipis, wajahnya terlihat sedikit sendu.


"Hemmm..kita akan pergi sayang. Kamu mandi dulu gih, mau ikut ga?"


"Memangnya akan pergi kemana?" tanya Rumi penasaran.


"Ada deh rahasia. Nanti aku kasih tau kalo kamu udah mandi," ucap Galaksi sambil menahan diri agar suaranya tidak bergetar.


Melihat senyum manis di wajah Rumi membuat Galaksi menjadi tak tega untuk menyampaikan kabar duka itu. Pasti setelah ini wajah Rumi akan dihiasi air mata dan kesedihan. Sungguh Galaksi tak ingin seperti itu. Tapi Galaksi tak bisa menahannya lebih lama karena almarhum nenek Rumi harus segera dimakamkan.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Rumi sudah selesai mandi, tubuhnya sudah lebih segar dari sebelum. Galaksi menghampiri Rumi yang masih memakai bathrobe hendak memilik pakaian.


"Pakai ini saja ya sayang?" ucap Galaksi sambil memberikan sebuah gamis panjang berwarna hitam.


Rumi mengereyitkan dahinya melihat pakaian yang disodorkan oleh suaminya. Memberikan tatapan aneh kepada suaminya, wajahnya tersirat suatu kesedihan. Mendadak perasaan Rumi menjadi tak enak.


"Hub-hub-hubby kok baju ini sih? Memangnya kita mau kemana?" tanya Rumi, suaranya sedikit bergetar. Kesedihan tiba -tiba menyeruak dadanya


"Pake dulu ya sayang, nanti aku akaj cerita kita akan kemana okey," bujuk Galaksi.


Tanpa banyak bicara Rumi langsung mengambil pakaian tersebut dab memakainya di depan Galaksi. Usau berpakaian rapi, Galaksi menepuk ranjang di sisinya memberi kode agar Rumi duduk disampingnya.


"Sebelum aku berbicara, Bunny janji dulu ya janga terlalu emosional. Ingan dede bayi yang ada di sini okey. Ini memang begitu mendadak, tapi percayalah ini sudah takdir dari Alloh," ucap Galaksi membuka percakapan. Sebisa mungkin dia membuat istrinya tenang terlebih dahulu.


Penglihatan Rumi mendadak buram, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tak salah lagi, pasti ada berita buruk yang ingin disampaikan oleh suaminya, apalagi Rumi di minta memakai pakaian hitam. Rumi menduga ada kabar duka yang akan disampaikan z tapi siapa? Dia tak berani mengira -ngira.


Galaksi menggenggam tangan Rumi begitu erat. Menghembuskan napasnya perlahan dan berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu.


"Bunny, innalilahi wa innailaihi rajiun. nenek sudah tutup usia tadi pagi setelah beliau menunaikan solat subuh. Maaf baru bisa menyampaikan kepadamu saat ini. Tak ada maksud lain , hanya takut kamu terlalu emosional dan mempengaruhi perkembangannya debay sayang," ucap Galaksi begitu sendu.


Sebelah tangannya berusaha menopang tubuh Rumi yang sedikit limbung. Air mata Rumi mulai menetas, salah satu tangannya menutup mulutnya, dia masih tidak percaya.


"Innalilahi wa innailaihi rajiun," ucap Rumi, begitu menyadari hati.


Rumi terdiam kemudian memejamkan matanya sejenak. Berusaha mengontrol kesedihannya, kabar duka ini begitu memukul hatinya. Apalagi neneknya merupakan keluarga kandung satu-satunya setelah kedua orang tuanya meninggal. Ibunya tak memiliki saudara lagi, beliau anak tinggal. Sedangkan untuk keluarga pihak ayahnya Rumi tak tahu sedikitpun, ayahnya pernah berbicara jika beliau adalah anak yatim piatu.


Rumi menangis tergugu tanpa suara, tubuhnya bergetar merasakan kesedihan yang mendalam. Galaksi memeluk Rumi dengan erat, memberikan kekuatan agar Rumi lebih tabah.


"Sayang, hari ini kamu boleh menangis. Tetapi tidak untuk besok dan seterusnya. Almarhum nenek juga pasti tidak akan tenang di kuburnya jika tau cucu kesayangan malah menangisi kepergian. Meninggal nya nenek adalah takdir yang tidak dapat di rubah sayang. Setiap yang bernyawa pasti akan ada waktunya untuk kembali kepada sang pencipta. Nenek sudah tenang saat ini, sudah tidak menderita kesakitan lagi. Alangkah lebih baiknya kita berdoa untuk almarhum nenek sayang," ucap Galaksi. Dia juga mengalami kesedihan dan kehilangan yang sama seperti Rumi.


Hampir setengah jam Rumi menangis dalam pelukan Galaksi dan membuat bajunya basah terkena air mata. Rumi pun mulai menghentikan tangisannya dan menghapus air mata yang sempat membasahi pipinya. Ada hal yang lebih penting dari pada menangisi kepergian neneknya yaitu mengurusi pemakamannya.


"By, nenek bagaimana??"


Galaksi membersihkan jejak air mata di wajah Rumi, matanya sembab tapi masih terlihat cantik.


"Bagaimana apanya?"


"Pe-pemakaman nenek. Ayo kita kesana," ajak Rumi.


"Kuatkan dirimu ya sayang. Tenang saja, ayah dan bunda sudah terlebih dulu datang kesana mengurus segala keperluan untuk pemakaman nanti. Maaf aku memberi tahu kabar meninggalnya nenek kepada ayah dan bunda terlebih dahulu," ucap Galaksi dengan sendu

__ADS_1


"Gapapa by, aku paham. Ayo kita segera ke rumah nenek, beliau pasti sudah menunggu kedatangan kita," ucap Rumi dengan berusaha tegar.


Galaksi menganggukkan kepalanya dan menuntun dengan hati-hati.


__ADS_2