
Huuueeekkk
Huuueeekkk
Huuueeekkk
Tubuh Galaksi merasa lemas seketika. Seluruh isi perutnya sudah keluar, tiba-tiba saja saat terlelap tidur dia merasakan perutnya bergejolak. Galaksi berpegangan ke wastafel dengan sangat kuat menggunakan sisa tenaganya yang terakhir. Dia takut terjatuh dan nantinya malah akan merepotkan Rumi.
Rumi meraba ranjang di sebelahnya kosong, tidak ada Galaksi disana. Terdengar sayup-sayup suara dari arah kamar mandi, Rumi bergegas bangun menuju kesana.
"Tu-tuan kenapa?" tanya Rumi panik
Rumi melihat wajah Galaksi yang sudah pucat pasi, baju tidurnya pun basah.
"Jangan mendekat Rum, aku bau dan menjijikan. Aku baru saja muntah, perut ini ga enak rasanya. Tolong panggilan ayah saja ya," pinta Galaksi.
Rumi membandel, dia tahu suaminya itu sudah terlalu lemas, kaki dan tangannya bahkan bergetar hebat. Tanpa rasa jijik Rumi membantu Galaksi berjalan menuju ranjangnya.
Rumi pun membuka baju tidur Galaksi yang basah kemudian membersihkan tubuhnya dengan mengunakan washlap. Tak lupa tubuh Galaksi dibalur dengan minyak angin agar hangat. Galaksi yang sudah lemas dan merasa pening pasrah saja dan tidak banyak berkomentar.
"Tuan mau aku bikinin teh manis anget?" tanya Rumi.
"Boleh Rum, tapi jangan terlalu manis ya. Yang penting kerasa gula aja. Kamu ga usah kebawah, di ujung kamar dekat balkon ada dapur bersih. Disana kayaknya ada persediaan teh dan gula. Airnya dari dispenser ini aja. Kamu hati -hati jalannya ya," ucap Galaksi.
Rumi pun segera keluar dari kamarnya dan menuju dapur bersih yang dikatakan oleh suaminya. Dia mengambil sesendok gula dan teh melati kemudian membawanya ke kamar.
" Tuan ini minumlah selagi hangat," ucap Rumi sambil membantu Galaksi untuk minum.
Rasa hangat langsung terasa pada perutnya setelah meminum teh buatan Rumi.
"Sudah enakan Tuan?" tanya Rumi begitu cemas, wajah Galaksi masih terlihat pucat
"Sudah lebih baik, sini," Ujar Galaksi sambil menepuk ranjang kosong disebelahnya.
Tahu arti kode yang di berikan oleh Galaksi, Rumi naik keatas ranjang dan duduk disampingnya. Galaksi merebahkan kepalanya diatas paha Rumi.
"Sayang, boleh aku minta sesuatu," tanya Galaksi, jemari Rumi membelai kepala suaminya dengan lembut.
"Minta apa tuan, jika bisa akan aku lalukan."
"Mmmm.. sebentar lagi kita kan akan menjadi orang tua. Bisakah kamu mengganti panggilan mu untukku. Aku ini suamimu Rum, bukan atasan atau majikanmu yang harus kamu panggil Tuan," pinta Galaksi.
"Ta-tapi bukannya Tuan yang minta untuk aku memanggilmu Tuan?"
"Itu kan dulu sebelum aku jadi suamimu Rum. Aku ingin seperti pasangan suami istri lainnya yang memiliki panggilan kesayangan. Bisa kan?"
Rumi berfikir sejenak, ada benarnya juga yang Galaksi katakan. Apalagi mereka sudah menyatakan perasaan mereka masing-masing. Tapi mulut Rumi sudah terlanjur terbiasa memanggil suaminya dengan sebutan Tuan agak sulit rasanya harus membiasakan memanggil dengan sebutan lain.
"Lalu aku harus memanggil tuan apa?"
"Terserah, tapi harus spesial" jawab Galaksi
__ADS_1
"Mmmmm abang?"
"Aku bukan kakakmu Rum."
"Beibh"
"Lebay"
"Cinta, honey," ucap Rumi
"Ighh ogah," tolak Galaksi
"Kalo mas gimana?" usul Rumi
Galaksi teringat dengan seseorang yang pernah memanggilnya dengan sebutan itu.
"Jangan!!! Ga boleh!! Jangan sekali-kali kamu memanggil aku mas. Seperti tukang baso saja, lagi pula kamu ke junaedi pun memanggilnya Mas. Yang lain!!!" seru Galaksi
"Kakak gimana?"
"Ga mau, Lucas juga kamu panggil kakak!!!" tolak Galaksi
Rumi menghela nafas panjang, pikirannya merasa buntu sejenak.
"Kalo Hubby?"
Galaksi langsung terbangun, matanya berbinar-binar mendengar panggilan itu.
"Hehhh... Bunny? Bukankah itu artinya kelinci??"
"Ya memang artinya kelinci, kamu seperti kelinci mungil sangat lucu dan menggemaskan. Pipi chubby ini yang sangat aku sukai. Apalagi jika kamu sedang tertawa atau tersenyum maka akan terlihat sangat manis. Kamu adalah kelinci kecilku, my bunny," ungkap Galaksi.
Rumi tersipu malu mendengar pujian Galaksi hingga tak terasa kedua pipinya memerah.
"Coba panggil aku dengan sebutan kesayanganmu," pinta Galaksi.
"Hubby...." ucap Rumi dengan lembut.
"Yes Bunny, I love you so much," sorak Galaksi kegirangan.
*
*
Galaksi sekeluarga menikmati sarapan di meja makan bersama kecuali Aurora yang masih sibuk menangani bayinya yang baru berusia 2 bulan.
Dddrrrrttttt
Handphone milik Galaksi berbunyi, ada panggilan dari Eddy. Tak biasanya dia menghubungi di jam segini.
"Dari siapa By??"tanya Rumi
__ADS_1
"Dari Eddy,tumben jam segini telepon padahal aku sudah bilang akan ke kantor besok," jelas Galaksi.
"Coba angkat dulu, sapa tau penting,"
Galaksi pun segera mengangkat panggilan tersebut.
"Ya Ed, ada apa?"
"..............."
"Memangnya hal seperti itu tidak bisa lo tanganin sendiri," geram Galaksi
"........................."
"Baiklah, persiapan semuanya. Aku dan Rumi nanti akan datang ke kantor sekitar jam 11. Sekalian datangkan beberapa wartawan. Semuanya akan aku klarifikasi agar tidak ada gosip murahan seperti itu," pinta Galaksi.
".................."
Galaksi menutup teleponnya dan langsung mengarahkan pandangan kepada Rumi.
"Bunny, seperti kita tidak bisa menutupi pernikahan ini lebih lama lagi. Bersiaplah, nanti siang kita akan ke kantor," ucap Galaksi.
"Iya aku paham By, baiklah aku akan bersiap," ucap Rumi dengan senyuman hangat.
Galaksi meminta Aurora untuk mendatangkan make up artist yang dipakai jasanya saat pernikahannya dahulu untuk merias Rumi sepertinya saat itu.
Semuanya sudah dipersiapkan dengan baik. Rumi terpaksa menuruti keinginan Galaksi yang memintanya duduk di kursi roda karena tak ingin istrinya kelelahan. Apalagi dokter sudah memberikan peringatan agar kondisi Rumi harus banyak bedrest. Ditambah 3 orang bodyguard yang berjaga di sekitar Rumi untuk mencegah sesuatu yang buruk. Galaksi menjadi sosok suami yang siaga.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Para pemburu berita atau wartawan berebutan mengambil foto saat Rumi dan Galaksi tiba di depan lobby. Beberapa rekan bisnis turut di undang sebagai saksi dalam acara klarifikasi perihal siapa yang menjadi istri Galaksi selama ini.
Riuh suara para karyawan yang saling berbisik membicarakan tentang rumah tangga Galaksi. Selentingan terdengar jika beberapa karyawan menuduh Rumi sebagai pelakor. Galaksi hanya bisa menahan amarahnya sambil mengepalkan tangannya. Untung saja, Rumi mampu sedikit meredam amarahnya.
Semua karyawan dan tamu undangan sudah berkumpul di tempat yang telah dipersiapkan. Galaksi, Rumi, Eddy dan Lucas berada di atas panggung untuk melakukan klarifikasi perihal gosip yang beredar.
Saat ini Rumi sudah di make up seperti saat menjadi pengantin sehingga tidak ada yang menyadari jika dia adalah Rumi rekan kerja Mereka selama ini
"Selamat siang semuanya. Salam sejahtera bagi kita semua. Terima kasih saya ucapkan untuk rekan-rekan sekalian yang telah meluangkan waktu kali ini.
Saya Galaksi sebagai CEO sekaligus presiden direktur disini ingin mengklarifikasi perihal wanita yang selama ini menjadi istri saya. Karena banyak berita bohong dan fitnah yang sudah beredar membuat saya harus melakukan klarifikasi secepatnya. Tentunya demi kenyamanan kita semua khususnya perasaan istri saya.
Apalagi saat ini istri saya sedang mengandung buah cinta kami, tentu saja harus menjaganya dalam kondisi prima.
Baiklah saya perkenalkan kepada kalian semua istri saya tercinta," Rumi Maharetha Putri atau yang selama ini kalian kenal dengan nama Arumi Putri"
Deg
__ADS_1