
Galaksi menatap dengan lekat gadis yang beberapa jam lalu sudah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah menyangka akan melewati fase saat ini padahal sebelumnya tak pernah dipikirkan oleh nya karena kesibukan nya dalam bekerja. Galaksi akui hari ini Rumi terlihat sangat berbeda, sangat cantik dan manis terutama saat Rumi tersenyum seperti ada getaran asing dalam hatinya.
Saat ini mereka sedang berada di kamarnya Galaksi menunggu bagian tata rias yang sedang mengambil pakaian untuk sesi berikutnya. Pada acara pernikahan ini mereka akan berganti dua kali, sekalian digunakan untuk sesi potoshoot. Bagaimanapun juga mereka hatus punya Poto kenangan saat menikah walaupun tidak di buatkan pesta yang meriah
"Ngapain Tu-tuan liatin saya??" tiba-tiba Rumi mengeluarkan suaranya.
Sedari tadi sebenarnya Rumi menyadari jika Galaksi terus-menerus melihat kearahnya namun dia tak berani untu berucap.
"Memangnya ga boleh?? Mata-mata saya kenapa kamu protes hah? Lagian liatin istri sendiri boleh kali, udah halal juga," uvap Galaksi spontan.
Entak kenapa perkataan tersebut keluar begitu saja dari mulutnya padahal sebenarnya dia ingin mengeluarkan kalimat lain.
"Jangan lama-lama apalagi terlalu sering bisa menimbulkan efek jatuh cinta atau bahkan tergila -gila sampai mati," ucap Rumi dengan sombong.
"Et dah..sombong amat kau Nona. Jangan terlalu percaya diri, tidak mudah membuatku jatuh cinta. Aku bukan Pria gampangan," ucap Galaksi dengan angkuh.
"Lalu kenapa Tuan liatin saya terus??" Rumi penasaran.
"Kamu mau tau??" Rumi menganggukkan kepalanya, "saya cuma heran aja, ada ya tukang rias yang bisa membuat kamu cantik seperti ini, padahal biasanya kamu burik bin dekit," ucap Galaksi sambil mendekatkan kepalanya, hampir saja mendaratkan sebuah ciuman jika tidak segera di rem.
Deg
Deg
Deg
Mendengar perkataan Galaksi seharusnya Rumi marah tapi malah sebaliknya Rumi menjadi deg degan saat terucap kata cantik dari bibir Galaksi. Secara tidak langsung Galaksi tengah memuji Rumi cantik.
"Cih... Tentu saja cantik, memangnya mau di hari pernikahan kita aku terlihat dekil hah?? Trus jadi bahan ejekan rekan bisnis Tuan ternyata jika istri Pak Galaksi yang terhormat dekil dan kumal," ucap Rumi. Harusnya dia mengucapkan terima kasih tetapi lidahnya justru berbicara yang lain
"Saya tidak peduli istri saya terlihat dekil dan jelek di mata orang lain. Buat apa punya istri cantik tetapi tukang selingkuh," ucap Galaksi dengan menohok.
Rumi tak lagi membalas perkataan Galaksi, selain tak tahu harus berkata-kata apa ternyata ibu mertuanya sudah masuk kedalam kamar.
"Loohhh kok kamu di sini Gala?? Seharusnya kamu kan di kamar Andra ganti bajunya. Dah sana pergi pergi jangan gangguin Rumi, ga sabaran banget siihhh. Dasar lelaki!!!" usir Maulindya
"Ya elah Bun, galak banget sih. Ya.. ya ini pergi!" Ucap Galaksi sambil meninggalkan kamarnya.
Maulindya membaw sebuah gaun yang sangat mewah dan indah. Sebuah gaun dengan model sabrina berwarna biru toska dengan berhiaskan batuan indah di depannya. Sebuah pita besar dibelakangnya membuat penampilannta semakin cantik dan indah.
"Nyo-Bunda, Rumi ganti baju dengan gaun ini??" ucap Rumi dengan mata yang berbinar-binar, dirinya tersihir dengan kecantikan gaun tersebut.
Apalagi gaun tersebut berwarna biru toska sesuai dengan warna kesukaan Rumi. Baru kali ini Rumi melihat gaun seindah itu, seperti gaun yang di gunakan putri kerajaan dalam cerita dongeng.
"Iya sayang, kenapa? Ga suka ya??"
"Suka banget bun. Ini indah sekali, apalagi warna cantik kayak warna Favorit Rumi," ucap Rumi sambil meraba gaun tersebut, sangat halus.
"Syukurlah kalo kamu suka Rum. Ini adalah gaun yang di pake Bunda ketika resepsi pernikahan dengan ayah Galaksi, ini gaun yang khusus di pesankan oleh ayah Gala untuk di pake oleh Bunda," ucap Maulindya, tiba-tiba dia teringat saat resepsi pernikahan dahulu yang sangat mewah.
__ADS_1
"Apa?? Ibu ga bercanda kan tapi ini masih terlihat sangat bagus dan baru," ucap Rumi tidak percaya.
"Gaun ini sudah berumur kurang lebih 33 tahun tetapi masih terlihat sangat bagus karena bunda menyimpannya dengan di ruang khusus sehingga tidak rusak. Lagi pula dulu saat Galaksi dan Andra lahir, Bunda ingin mewariskan gaun ini pada menantu Bunda," ucap Maulindya
Rumi pun segera mengganti pakaiannya dengan gaun pengantin warisan dari ibu mertuanya. Dibantu oleh Maulindya untuk memakaikan gaun tersebut, Rumi tampak menyatu dengan gaun tersebut. Bentuk tubuh Rumi sangat pas dengan ukuran gaun tersebut. Kali ini Maulindya sendiri yang akan merias menantunya tersebut. Rambut Rumi di buat setengah terurai, sebagian rambutnya di buat bergelombang. Tak lupa hiasan mahkota kecil diletakkan di kepala beserta untaian bunga-bunga mungil yang mempercantik hiasan rambutnya. Make up Rumi hanya sedikit ditambah perona karena masih terlihat bagus. Kini penampilan Rumi sudah sempurna seperti putri kerajaan dongeng.
"Nak, Bunda tau kamu terpaksa menikah dengan Galaksi karena untuk menyelamatkan nenekmu. Tetapi bunda yakin Galaksi ga akan pernah menyakiti kamu, dia pasti akan bertanggung jawab kepadamu sebagai istrinya. Bunda harap kamu bisa menjalankan peran sebagai seorang istri dengan baik begitu dengan Galaksi. Jika suatu hari nanti Galaksi menyakitimu, bilang saja pada Bunda biarkan bunda yang akan membuat Galaksi menyesal dengan perbuatannya. Kamu anak baik Rum," ucap Maulindya
"Iya Bun, Rumi akan berusaha menjadi Istri yang baik. Tolong ingatkan Rumi jika Rumi melakukan kesalahan," balas Rumi
Ceklek
Seorangpun wanita cantik pun masuk kedalah kamar Galaksi, sambil memegang perutnya yang sedikit membesar karena sedang hamil.
"Aaahhhh bunda jahaaatt!!!" ucapnya
"Apa sih kamu Aurora, lebay banget," jawab Maulindya
"Huuaaa .. gaun Bunda, Rora kan pengen pake," rengek Aurora yang tak lain adik Galaksi.
"Banyak drama deh, dulu yang ngomongnya pas nikah mau pake gaun hasil design sendiri siapa???" tanya Maulindya.
Aurora memiliki bakat menggambar dengan baik menurun dari Raka ayahnya yang merupakan pelukis terkenal. Tetapi Aurora memiliki mengembangkan bakatnya dalam bidang design baju yang sekarang juga menjadi pekerjaan utamanya sebagai designer terkenal.
"Hehehehe inget aja, aku ga nyangka gaun pengantin bunda secetar ini, bahkan kakak ipar sangat cantik memakainya," puji Aurora.
"Kayaknya galaksi udah siap di bawah deh, ayo kita susul ke bawah sekalian sesi foto," ajak Maulindya
.
.
Galaksi segera menyambut Rumi di ujung tangga, menggandeng tangannya sambil membawa ketengah- tengah tamu undangan yang sedang berkumpul. Galaksi sengaja melakukan hal itu agar para tamu yang datang dapat melihat jika penganti merupakan pasangan yang saling mencintai walaupun kenyataannya tidak seperti itu.
Rumi tersenyum tipis saat menyapa tamu yang datang walaupun dalam dirinya merasakan gugup yang teramat sangat. Galaksi pun bisa merasakan kegugupan yang tengah dilanda oleh Rumi karena tangannya terasa sangat dingin.
Setelah melakukan beberapa kali sesi photoshoot Galaksi meninggalkan bumi untuk berbincang-bincang dengan beberapa rekan kerjanya. Untung saja ada Aurora adiknya Galaksi yang menemaninya sehingga tidak terlihat canggung.
Saat Galaksi sedang berbincang dengan rekan bisnis ternyata Lusiana ikut nimbrung bersama yang lainnya. Lusiana yang terbiasa mengobrol dan memang memiliki banyak rekan bisnis tentu saja bisa nyambung ketika mengobrol dengan yang lainnya.
Dalam kesempatan tersebut Lusi mencari peluang agar bisa berdekatan dengan Galaksi. Beberapa kali Lusi bahkan tanpa malu mencondongkan bagian dadanya pada tubuh Galaksi. Tentu saja Galaksi tidak menyadarinya karena terlalu fokus berbincang dengan rekan bisnisnya.
Rumi yang melukai tingkat Lusi yang berusaha menempel pada Galaksi bagaikan ulat bulu mulai terusik. Walaupun mereka belum saling cinta tapi istri mana yang diam saja ketika suaminya digoda oleh wanita lain. Aurora yang melihat tersebut pun merasa kesal dan membisikkan sebuah rencana kepada Rumi. Rumi tersenyum mendengar rencana yang diberikan oleh Aurora.
Rumi berjalan menghampiri Galaksi yang tengah asyik mengobrol. Sebelumnya mampir ke stand untuk mengambil minuman.
"Uppss, sorry sengaja. Aduhh jadi basah deh bajunya, lengket lagim maaf ya abisnya mbaknya tiba-tiba bergerak kebelakang," ucap Rumi memulai dramanya.
Rumi sengaja menumpahkan minuman tersebut ke Lusiana sebagai kode mengusir hama pengganggu. Lusiana tidak menyangka jika Rumi akan melakukan hal tersebut. Ingin sekali membalas perbuatan Rumi tetapi tidak bisa Lusi lakukan karena harus menjaga sikapnya didepan rekan bisnisnya.
__ADS_1
"Ohh iya gapapa. Ini juga salah saya kok. Duh ini bagaimana ya, mana basah dan lengket," ucap Lusi sambil mengibaskan gaunnya yang basah, sesekali melirik Galaksi dan berharap dia memberikan jasnya untuk menutupi gaunnya yang basah.
Tetapi sayangnya yang diharapkan tidak terjadi karena Galaksi malah melilit istrinya dengan tatapan tajam. Galaksi tahu jika yang sudah dilakukan oleh Rumi adalah rencananya.
"Aduh gimana ya? Oh gini aja deh Mbak, gimana kalo mbak ke toilet aja nanti biar saya antarkan pakaian pengganti untuk mbaknya, kasian lo nanti masuk angin kalo ga di ganti," ucap Rumi sambil menahan tawa. Rumi menatap ngeri pada bagian dada Lusi, membayangkan jika benda tersebut pecah dan meledak.
"Oke baiklah," ucap Lusi dengan pasrah
Rumi tersenyum lebar karena rencananya berhasil, dari jauh dia melihat adik iparnya memberikan dua jempol untuknya. Galaksi hanya bisa menghela napas nya menyaksikan kerjasama yang baik antara istrinya dan adiknya Aurora.
"Ternyata istriku cerdik juga," ucap Galaksi. Rumi mendengus merasa itu bukan sebuah pujian tetapi sindiran.
Galaksi pun pamit kepada rekan kerjanya dan membawa Rumi kembali ke kursi pelaminan, hari Rumi sudah kacau tak karuan takut Galaksi marah karena telah mengganggunya ketika sedang mengobrol bersama rekan bisnisnya.
"Maaf," gumam Rumi sambil berusaha menahan air mata.
"Hah, untuk apa?" tanya Galaksi heran
Rumi tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Galaksi. Sialnya airmata yang berusaha Rumi tahan jatuh setetes dan sempat di lihat oleh Galaksi. Galaksi langsung memegang dagunya dan mengangkat kepala Rumi dengan lembut. Menggunakan tisu Galaksi mengusap sisa air mata yang ada di pelupuk mata Rumi.
"Harusnya aku yang minta maaf karena tak sengaja menyakiti hatimu istri," ucap Galaksi dengan lembut.
Blush
Wajah Rumi memerah setelah Galaksi mengucapkan kata istri. Ingin tersenyum tetapi harus ditahan karena gengsi.
"Stop Rumi, jangan sampai tertipu dengan pesona palsu seperti itu!!!" guman Rumi dalam hati.
Tak lama Lusi yang sudah kembali dati toilet setelah berganti pakaian datang menghampiri Galaksi dan Rumi sambil emosi.
"Apa maksudnya kamu dengan memberikan saya pakaian ini hah??" bentak Lusi
Rumi tak gentar, senyumnya menyeringai memandang Lusi dari atas hingga ujung kaki.
"Kan bagus, sangat cocok dengan tubuh anda Mbak," ucap Rumi dengan santai, Galaksi meletakkan satu tangannya di mulut untuk menahan tawa.
Emang gila ide Aurora memberikan baju daster ART nya untuk Lusi. Galaksi melirik kearah Aurora yang tak jauh disana, terlihat dia tertawa puas. Galaksi hanya bisa menggeleng- gelengkan kepalanya.
"Bagus kamu bilang hah!!! Pak Galaksi apa istri anda punya gangguan mata? Bagaimana baju daster seperti ini dikatakan bagus bahkan lebih mirip baju gembel!!!" seru Lusi
"Bagus untuk anda Mbak. Apa anda sadar anda membawa dua buah melon yang besar kemana -mana. Saya takut di tengah jalan tersenggol seseorang tau tertusuk benda tajam lalu boooommmm meledak," ucap Rumi sambil memeragakan adegan sesuatu jika meledak.
Lusi semakin geram dan emosi, Rumi bukan orang yang bisa digeretak dengan mudah.
"Kamu!!!! Eeeuuuhhhh!!?" ucap Lusi sambil menunjuk kearah Rumi kemudian pergi meninggalkan Rumi dan Galaksi.
Galaksi tertawa terbahak -bahak melihat tinggak istrinya, baru lain dia menyukai seseorang yang bertindak bar-bar seperti Rumi. Dia tidak menyangka cara Rumi mengusir cara yang seperti itu. Dia kira Rumi akan melakukan aksi marah-marah sambil jambak-jambakan.
"Dasar sia hileud keket!!!!" gerutu Rumi.
__ADS_1
Rumi terus saja komat kamit nggak jelas tanpa menyadari Galaksi tengah memperhatikannya dengan serius. Galaksi majukan kepalanya mendekati Rumi yang masih ngomel-ngomel tak jelas. Sedikit tergoda dengan bibir mungil berwarna merah yang terus saja bergerak.
Cup