
Semua mata tengah memandang ngeri kearah Rumi yang sedang memegang alat cukur. Terutama Galaksi, tanpa disadari dia mengelus bagian pipinya bagaimana bila dirinya yang berada di posisi ayahnya. Pasti akan merasa panas dingin, tidak terbayangkan bagaimana perihnya terkena sayatan mesin cukur.
"Nak Rumi, pelan-pelan ya," ucap Ayah Raka setengah cemas.
"Tenang saja ayah, nanti pastinya pipi ayah akan semulus pantat bayi," ucap Rumi dengan semangat.
Maulindya hanya bisa menahan tawanya melihat Bagaimana suaminya memohon dengan kode kedipan mata. Hal yang langka sang suami pasrah tanpa bisa melakukan apapun.
Ya... Rumi mengidam ingin mencukur jenggot dan kumis ayah mertuanya. Padahal saat ini ayah mertuanya sedang memiliki keinginan untuk memperpanjang kumis dan jenggotnya. Sedangkan Maulindya sang istri malah bersorak kegirangan atas ngidamnya Rumi. Bukan apa-apa, Maulindya memang tak suka sang suami memanjangkan jenggot dan kumisnya. Maulindya lebih suka melihat suami memiliki wajah polos tanpa di tumbuhi apapun, geli katanya.
Dengan berat hati, Raka menuruti permintaan Rumi karena ini adalah permintaan calon cucu kembar nya.
Rumi mulai mengarah alat pencukur tersebut setelah sebelumnya mengoleskan busa pencukur. Raka memejamkan matanya dan menahan rasa takutnya saat Rumi mulai mengerakkan alat tersebut di pipinya.
Anggota keluarga yang lain dengan serius menonton bagaimana proses Rumi yang sedang mencukur jenggot dan kumis ayah mertuanya yang belum terlalu panjang.
Ngeng
Ngeng
Ngeng
Bunyi yang berasal dari alat pencukur tersebut terdengar begitu nyaring. Jantung Raka dag dig dug tak karuan, bersiap jika kemungkinan pipinya akan terluka. Galaksi pun sudah siap dengan kemungkinan terburuk menjadi sasaran marah ayahnya.
"Selesai!!!" seru Rumi.
Galaksi, Aurora dan Raka menghela napas panjang, akhirnya bagian yang menegangkan selesai juga. Namun berbeda dengan Maulindya, dia justru cemberut saat kegiatan yang menurut nya menyenangkan sudah berakhir.
"Sayang, masih ngidam sesuatu ga??" tanya Maulindya dengan berbinar-binar diikuti pelototan tajam dari sang suami
"Enggak bun. Rumi cape mau pulang aja, udah malem juga. Tu-tuan Gala juga cape harus istirahat," ucap Rumi sambil menutup mulutnya menahan kantuk.
"Eh... Eh.. ini sudah terlalu malam sayang apa ga sebaiknya kalian menginap saja disini? Terlalu bahaya Galaksi menyetir dalam keadaan lelah dan ngantuk apalagi selama beberapa hari ini dia kurang tidur," bujuk Bunda Maulindya.
__ADS_1
"Iya Nak, lagi pula kamu kan baru pulang dari rumah sakit. Ga boleh terlalu cape. Sebaliknya menginaplah disini, kamar Gala masih bersih kok. Lagi pula semenjak kalian tinggal di apartemen belum pernah menginap disini," ucap ayah Raka sambil memeluk pinggang istrinya.
Rumi melihat ke arah Galaksi untuk meminta pendapatnya dan dia menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan.
"Baiklah ayah, bunda, kami akan menginap disini untuk malam ini. Maaf jika akan merepotkan," jawab Rumi.
"Ya udah kalian sebaiknya ke kamar saja dan beristirahat. Gala, ajaklah Rumi ke kamarmu," ucap ayah Raka menyuruh Galaksi.
Galaksi pun mendekat Rumi dan mengajaknya untuk beristirahat. Namun saat tangan Rumi di genggamnya dia sama sekali tidak beranjak.
"Napa sayang? Ada yang sakit?" tanya Galaksi sedikit cemas.
"Gendong," rengek Rumi.
Galaksi tersenyum, dengan senang hati dia pastinya mau menggendong Rumi. Tentunya menggendong di punggungnya karena takut terjatuh jika digendong ala bridal Style.
Rumi tersenyum bahagia, suaminya tak pernah menolak keinginannya. Rumi langsung naik keatas punggung saat Galaksi sudah siap. Kedua orangtuanya dan Aurora tampak senang melihat hubungan Galaksi dan Rumi yang mesra.
"Jadi kangen abang, uuhhhh. Kalo deket aku peluk-peluk deh," ucap Aurora sambil membayangkan wajah suaminya yang mirip opa-opa korea.
.
.
"Tu-tuan mau apa?" tembak Rumi, tangannya refleks menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya.
"Ma-maaf, aku lupa meminta izin. Bolehkah aku menyentuh dan mencium perutmu itu, aku ingin menyapa calon anak-anak kita," ucap Galaksi dengan lembut.
Rumi menganggukkan kepalanya perlahan kemudian membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tak ingin membuang kesempatan emas, Galaksi lalu membantu Rumi menyingkap bajunya.
Tangannya terulur menyentuh dan membelai perut Rumi yang mulus, mulai sedikit terlihat membuncit karena hamil anak kembar. Tak terasa Galaksi teringat calon anaknya yang ketiga yang telah meninggal. Mungkin jika masih ada perut Rumi akan semakin buncin. Entah bagaimana jika nanti kandungannya sudah sembilan bulan, pasti akan lebih bisa dari pada kehamilan tunggal atau kembar, Galaksi tak sanggup membayangkannya.
"Calon anak-anak papa, yang sehat ya di dalam sana. Jangan bikin mama kalian repot atau merasa kesakitan. Papa akan selalu berusaha menjaga kalian bertiga. Sudah ga sabar menunggu kalian lahir di dunia ini. Love you all dear," ucap Galaksi diakhiri dengan ciuman di perut Rumi.
__ADS_1
Perasaan Rumi menghangat mendengar ucapan Galaksi yang menyentuh. Dari perkataannya Rumi bisa melihat bagaimana dia sayang dengan calon anak-anaknya.
"Aku mandi dulu ya, selama di rumah sakit aku ga mandi sama sekali. Hehehe. Kamu tidur aja duluan ya, nanti aku menyusul," ucap Galaksi
Cup
Sebelum pergi mandi, Galaksi mengecup kening Rumi dan mengucapkan selamat tidur. Rumi melihat Galaksi hingga masuk kedalam kamar mandi dan mencari posisi yang ternyaman untuk tidur. Kali ini dia tidak bisa tidur dengan sembarang karena sudah ada janin yang mengisi rahimnya.
Setengah jam berlalu tapi Rumi masih gelisah, tubuhnya di bolak-balik ke kanan ke kiri. Matanya tak kunjung merasa mengantuk padahal sudah sangat lelah.
"Sayang, kok belum tidur?" tanya Galaksi begitu keluar dari kamar mandi.
Aroma sabun dan shampo yang digunakannya menguar hingga tercium ke indra penciuman Rumi. Otot bagian tangan atas dan dadanya terlihat begitu menggoda membuat Rumi meneguk kasar salivanya. Ada rasa ingin menyentuhnya dengan jemarinya yang mungil. Namun Rumi berusaha untuk menepisnya karena tak ingin di cap sebagai wanita mesum.
"Ga bisa tidur," jawab Rumi sambil cemberut.
Galaksi segara mengenakan pakaian tidurnya lalu menghampiri Rumi yang gelisah di atas ranjang.
"Ada yang terasa kurang nyaman atau sakit ga?" Rumi menggelengkan kepalanya.
"Mau aku pijat??" tawar Galaksi, Rumi masih menggelengkan kepalanya.
"Mau makan?" Rumi kembali menggelengkan kepalanya.
"Terus maunya apa supaya bisa tidur?" tanya Galaksi dengan lembut, tangannya mengusap rambut Rumi.
Rumi berfikir sejenak, menebak -nebak apa yang bisa membuatnya mengantuk. Sungguh Rumi ingin segera tidur dan memejamkan matanya. Karena jarak mereka yang begitu dekat membuat aroma tubuh Galaksi tercium olehnya. Seakan terhipnotis Rumi mendaratkan kepalanya di dada Galaksi yang bidang dan tangannya melingkar di perutnya.
"Mau dipeluk kayak gini boleh??" ucap Rumi terdengar manja.
Galaksi tersenyum, ada perasaan hangat hatinya saat Rumi bersikap manja seperti ini.
"Tentu boleh sayang, setiap hari di pelukin begini juga gapapa,"
__ADS_1
Galaksi memeluk tubuh Rumi dan mengecup puncak kepala istrinya. Kehangatan menjalar diantara keduanya hingga hawa dingin yang di hasilkan oleh AC tak terasa. Dengkuran halus mulai terdengar oleh Galaksi pertanda jika Rumi mulai tertidur.
"I love you my wife dan thank you," bisik Galaksi.