Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Galaksi Merajuk???


__ADS_3

Meeting dengan pihak kementrian perumahan akhirnya selesai satu jam lebih cepat dan semuanya berjalan lancar. Ini merupakan langkah yang sangat berarti untuk kemajuan perusahaan milik Galaksi. Baru saja dia membereskan media dan properti yang digunakan untuk bahan presentasi, Lucas masuk kedalam ruang meeting bahkan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Maaf pak, saya langsung masuk. Ada hal penting yang harus saya sampaikan. Di lobby ada Tuan Muda Kevin dan juga Nona Rumi. Sepertinya mereka sedang memperdebatkan sesuatu. Para karyawan dan security yang ada tak berani mengambil tindakan karena takut dengan ancaman jika Tuan Muda Kevin akan membuat perusahaan ini bangkrut.


Brakkkk


Seketika Galaksi berdiri dan langsung mengebrak mejanya, emosinya naik.


"Apa yang kamu katakan, dia mengancam seperti itu. Kurang ajar!" geram Galaksi.


"Ayo kita ke bawah sebelum terjadi kekacauan," ajak Galaksi.


Dengan langkah yang terburu-buru Galaksi segera menuju lobby. Perasaan semakin tidak tenang karena Kevin bertemu dengan Rumi. Ada perasaan takut jika Rumi akan terbuai dengan bujuk rayu Kevin apalagi Kevin lebih sukses darinya.


Sesampainya di bawah Galaksi menahan Lucas agar tidak menghampiri Rumi dan Kevin. Dia ingin mengamati kondisi disana, dan mencari tahu apa yang terjadi.


Galaksi mengepalkan tangannya ketika melihat interaksi Rumi yang begitu dekat. Apalagi Kevin berada dengan jarak kurang dari satu meter dari Rumi.


"Maaf saya harus kembali bekerja. Jika anda masih ingin bertemu dengan suami saya di mohon menunggu dengan tenang di tempat yang sudah di sediakan. Jika berkeberatan untuk menunggu silakan anda bisa pergi dari sini dan membuat janji bertemu di kemudian hari," ucap Rumi dengan tegas lalu meninggalkan Kevin yang masih terpaku di tempat.


"Hubby," gumam Rumi


Kedua mata Rumi membola ketika melihat Galaksi dari kejauhan, tatapannya terlihat begitu kurang menyenangkan. Dengan segera Rumi menghampiri Galaksi, namun sayangnya Galaksi lebih memilih menghindar dan masuk kedalam lift. Rumi sudah berusaha mengejar tetapi gagal karena pintu lift sudah tertutup.


"Hubby kelihatan marah, kayaknya dia salah paham. Ga bisa di biarin, harus dijelaskan," gumam Rumi.


Diapun terpaksa menunggu lift yang berikutnya.


Lucas berusaha menyamakan langkah Galaksi yang begitu cepat. Lucas menyangka jika Galaksi sedang marah dengan Rumi karena Rumi terlihat sangat dekat dengan Kevin. Lucas tak ingin ikut campur dan memilih diam.


"Lucas, jika ada yang hendak menemui saya katakan saya sedang sibuk dan tidak ingin bertemu siapapun!!" tegas Galaksi.


"Apa termasuk dengan Nona Rumi, Pak?"


"Jika Rumi biarkan saja," ucapnya dengan datar.


Galaksi berlalu memasuki ruangannya dan menutup pintunya dengan keras. Membuat Lucas sedikit terkejut hingga mengelus dada.

__ADS_1


Tak berselang lama, Rumi datang menyusul. Napasnya tersengal-sengal karena buru-buru berjalan cepat. Pinggangnya juga sedikit sakit dan pegal akibat berjalan cepat. Tangannya terulur mengelus perutnya agar mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh Rumi.


"Kak Lucas, Pak Galaksi ada di dalam?" tanya Rumi.


"Ada, masuk aja. Tapi sepertinya beliau salah paham, mukanya kusut seperti beliau cemburu melihat kedekatan Rumi dengan Tuan Muda Kevin," ungkap Lucas.


Rumi semakin cemas, Galaksi benar-benar salah paham. Pikirnya.


"Uughhhh gimana dong ini, pasti Hubby marah banget. Padahal ini tidak seperti yang dia lihat, semuanya salah paham," rengek Rumi.


"Kalo marah-marah sih enggak, tapi keliatan kesel aja. Coba aja masuk dan jelasin semuanya. Barangkali pak Galaksi ingin mendengarkan apa yang terjadi sebenarnya," usul Lucas.


"Yakin nih gapapa kalo Rumi masuk ke dalam?? Ga akan di marah-marahin kan?? Soalnya Rumi belum pernah dimarahin sama Paksu," ucap Rumi sambil mencebikkan bibirnya.


"Hey, kok murung begitu sih??? Pak Galaksi ga akan marah-marah kok. Yang penting Rumi berusaha menjelaskan apa adanya dan jangan ada kebohongan. Ayo cepat masuk, sepertinya Pak Galaksi memang sengaja menunggu mu karena beliau berkata tidak ingin diganggu oleh orang lain," bujuk Lucas, dia tidak tega melihat wanita hamil tersebut bersedih.


Akhirnya dengan langkah gontai Rumi berjalan menuju ruangan kerja Galaksi. Sebelum masuk Rumi terlebih dahulu mengetuk pintu.


"Hubby, ini Rumi," ucapnya dengan sendu.


"Masuk!" Terdengar suara Galaksi dari dalam.


Rumi memberanikan diri untuk masuk kedalam dan berniat untuk memberikan penjelasan tentang apa yang terjadi sebenarnya agat Galaksi tidak salah paham.


"Hubby," sapa Rumi


" Heeemmmm," balasnya dengan deheman


Rumi mencebikkan bibirnya yang melihat sikap Galaksi yang begitu cuek. Wajahnya terlihat sangat dingin seolah -olah yang dihadapannya bukan Rumi.


"Hubby, marah??" tanya Rumi.


Rumi memainkan jemarinya karena gugup, Galaksi hanya melihat sekilas kemudian kembali fokus memeriksa beberapa dokumen.


"Tidak," jawabnya singkat.


"By, soalnya tadi di lobby itu tidak seperti yang Hubby pikirkan. Apa yang Hubby liat itu salah paham By, aku hanya memberitahu peringatan untuk tuam Muda sombong itu," ucap Rumi memberikan klarifikasi.

__ADS_1


Galaksi masih diam di kursi kebesaran nya, tak mengeluarkan sepatah katapun.


"Hubby, apa kamu tidak mempercayai perkataan ku?" tanya Rumi dengan cemas.


Galaksi melepaskan kacamata yang di gunakan kemudian berdiri dan berjalan menuju jendela. Galaksi menghela napas panjang, tatapannya menuju pemandangan di luar sana.


"Bukankah Tuan Muda Kevin lebih sukses dan kaya jika dibandingkan dengan diriku. Bahkan ribuan wanita berlomba -lomba untuk mendapatkan perhatiannya," ucap Galaksi dengan datar.


"Apa maksudmu By??? Rumi terkejut dengan.


"Kamu pasti tertarik dengan Tuan Muda Kevin kan? Bahkan tak kalian berdekatan dengan jarak kurang dari semeter," tuduh Galaksi.


Rumi menggelengkan kepalanya saat Galaksi menuduhnya menyukai Kevin. Padahal tidak sedikit pun Rumi tertarik apalagi suka dengan Kevin.


"By, mana ada yang seperti itu. Aku bahkan malas melihat wajahnya yang sombong," ucap Rumi dengan tegas.


Rumi menghampiri Galaksi dan menggenggam tangannya dengan erat seolah-olah takut kehilangan Galaksi.


"Sumpah By, tak pernah ada pemikiran sedikitpun untuk berpaling darimu terlepas apapun itu. Mau dia paling kaya, paling tampan, paling sukses, aku tidak pedulu. Yang jelas aku paling sayang sama kamu suamiku. Please percaya sama aku By," ungkap Rumi secara gamblang. Nada suaranya terdengar bergetar, takut Galaksi tak mempercayai perkataannya.


"Boong!!!" Jawab Galaksi. Matanya bahkan tak menatap wajah Rumi.


Sakit. Itu yang dirasakan oleh Rumi saat ini. Galaksi justru menganggap perkataan Rumi adalah bohong, padahal dia sudah memberantakkan diri mengucapkan itu semua.


"By, apa kamu tidak mempercayai ku lagi?? Apa kamu menganggap apa yang aku bicarakan ini bohong??" tanya Rumi dengan suara yang bergetar. Pandangan matanya mulai memburam, ada genangan air mata di pelupuk.


Galaksi merubah posisinya menjadi membelakangi Rumi, mengulum senyum. Rasanya ingin segera berhamburan memeluk Rumi mendengar ucapannya yang menyentuh sanubari yang paling dalam.


"Wanita mana yang tidak tergoda dengan lelaki sukses?? Apalagi di depan mataku kamu sangatlah berdekatan bahkan terlihat jika kamu sedang mencium tuan muda itu," terang Galaksi, dia ingin menguji Rumi.


"Hubby itu tidak seperti yang kamu bayangkan, aku hanya memperingatkan dia agar tidak bermacam -macam. Aku tak ingin di berbuat sesuka hati dengan kekuasaannya termasuk membuat perusahaan ini bangkrut!!!" ucap Rumi dengan sendu.


"Bukan kah itu lebih baik, jika aku bangkrut kamu akan dengan mudah meninggalkan ku dan berpaling ke pelukan Tuan muda Kevin," ucap Galaksi, hatinya sebenarnya sakit jika harus berpura-pura.


"Memangnya hubby pikir aku ini wanita yang tergila -gila dengan harta?" ucap Rumi dengan mata melotot.


Galaksi gelagapan, harusnya yang berakting marah. Tetapi justru Galaksi membuat Rumi marah.

__ADS_1


"Itu.... Itu... Mungkin saja," ucap Galaksi tercekat


"By.... Jahat sekali kamu menuduhku seperti itu!!!"


__ADS_2