
"Kau adalah bidadari terindah yang Tuhan kirimkan dalam hidupku. Memberikan warna terindah dan arti hidup bagiku. Walaupun pernikahan kita terjadi karena sebuah keterpaksaan tetapi tak pernah aku menyesalinya. Terima kasih telah datang dalam hidupmu, aku mencintaimu seumur hidupku,"
Cup
Galaksi terbangun terlebih dahulu dibandingkan dengan Rumi dan langsung menatap wajah polos istrinya dengan bahagia. Walaupun hanya tidur beberapa jam saja namun Galaksi merasakan tidurnya sangat berkualitas.
Lantas Galaksi bergegas bangun dan pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan yang spesial. Mengingat akhir-akhir ini porsi makan Rumi bertambah banyak.
Melihat stok makanan di kulkas Galaksi akan membuat nasi uduk dan ayan goreng. Kemampuan memasak Galaksi menurun dari ayahnya Raka, sejak kecil Galaksi terbiasa membantu ayahnya memasak di dapur.
Satu jam kemudian semua hidangan untuk sarapan telah siap lengkap dengan orange jus. Tinggal dirinya bersiap diri dan menunggu kopi spesial buatan Rumi.
Saat masuk kedalam kamar tidurnya Galaksi dikejutkan dengan keadaan kamar yang berantakan. Baju-baju Rumi berserakan diatas kasur dengan keadaan Rumi setengah telanjang setelah selesai mandi.
"Rum, apa yang terjadi kenapa ini semua berantakan seperti ini?" tanya Galaksi.
Rumi terhenyak bercampur takut di marahi oleh Galaksi. Selesai mandi Rumi ingin mengenakan langsung pakaian kerjanya. Namun setelah di coba ternyata tak ada satupun celana yang muat.
"Tuan maaf aku memberantakkan pakaianku soalnya nggak ada satupun celana yang cukup. Sepertinya aku bertambah gemuk Tuan. Lihatlah perutku sudah membuncit gini," keluh Rumi.
Galaksi mengamati bentuk tubuh Rumi, memang sedikit bertambah berisi terutama dibagian perutnya. Galaksi terkekeh melihat Rumi yang manyun dan memberengut. Tiba-tiba dia ingat jika kemarin dia membelikan Rumi setelah baju kerja. Lalu Galaksi pergi begitu saja meninggalkan Rumi.
"Ighh kok dia pergi sih. Menyebalkan!!! Kemarin aja dia berkata manis, aku mencintaimu Rum. Eh sekarang malah mau pergi begitu saja setelah badan aku melar begini. Salah siapa coba dia masak makanan yang enak-enak. Kan aku jadi ketagihan makan," gerutu Rumi sambil berkacak pinggang.
Diamatinya bentuk tubuh yang yang terlihat gendut di kaca, apalagi paha dan perut yang membuncit. Rumi mendesah kasar kemudian menutup bathrobe yang dia pakai.
Tak lama Galaksi kembali sambil membawa handbag yang isinya tak lain adalah pakaian kerja untuk Rumi
"Cobalah, aku membelinya untukmu. Aku rasa cukup soalnya ukurannya sedikit lebih besar," ucap Galaksi sambil memberikan bungkusan tersebut.
Rumi mengambil dan membukanya. Dilihatnya setelan baju kerja dengan warna biru dongker.
"Benarkah Tuan membelikannya untukku??" tanya Rumi dengan wajah yang berbinar-binar.
"Heeemm tentu saja. Aku beli dua, cobalah mudah-mudahan cukup. Kalo tidak cukup bisa dikembalikan," ucap Galaksi.
"Pakailah disini toh aku juga sudah pernah melihat tubuhmu polos tanpa sehelai benangpun," sahut Galaksi saat Rumi hendak menuju ke kamar mandi.
Rumi mendengus kesal bibirnya bahkan dimonyongkan sepanjang lima senti. Mau tidak mau Rumi mengenakan pakaian tersebut dihadapan Galaksi.
Galaksi begitu terpana melihat Rumi tampak anggun mengenakan setelan pakaian tersebut. Biasanya Rumi menggunakan celana panjang namun kini Rumi memakai rok yang panjang sebetis.
"Cantik," gumam Galaksi.
Tubuh molek Rumi berputar -putar depan cermin. Entah mengapa mengenakan setelah kerja tersebut membuatnya sedikit lebih percaya diri. Model setelan nya yang tampak elegan dan warnanya yang tidak begitu mencolok sangat cocok dipakai oleh Rumi.
"Bagus Tuan?" tanya Rumi dengan mata genitnya.
"Heemmm.. bagus sekali," ucap Galaksi sambil memberikan dua jempol.
Rumi tersenyum bahagia apalagi baju tersebut pemberian suaminya yang tercinta.
"Yuk sekarang kita sarapan, aku sudah buatkan nasi uduk spesial. Habiskan ya?" ucap Galaksi menggoda.
Rumi menggembung pipinya, "apa Tuan sengaja ingin membuatku semakin gendut?" kesal Rumi.
__ADS_1
"Tak apa sayang, aku menyukainya. Berarti kamu bahagia hidup bersamaku," bisik Galaksi tepat ditelinga Rumi.
Rumi tertunduk malu, setelah pengungkapan perasaan Galaksi semalam membuatnya bersikap lebih manis.
*
*
Semua orang memandang Rumi dengan tatapan yang berbeda. Penampilan Rumi yang sedikit anggun dan elegan. Apalagi para lelaki sampai lupa menutup mulut saat melihat aura Rumi yang sangat berbeda.
"Rumi!!!! Kamu cantik banget siihhh hari ini. Apalagi bajunya wow banget, keren abis," puji Dea saat melihat Rumi yang menghampiri meja kerjanya.
"Ini dibeliin sama Tuan suami, bagus ga?" tanya Rumi sambil berbisik.
"Bagus banget, pinter juga Pak Galaksi memilih baju," ucap Dea
"Daahhhh ayo berkerja," seru Rumi.
Rumi pun bergegas masuk kedalam ruangannya dan langsung mengerjakan pekerjaannya yang sudah menunggu. Berhubung mood Rumi sangat bagus, pekerjaan dikerjakan dengan hati yang riang.
.
.
Berbeda dengan Galaksi begitu sampai di lantai 7 langsung disambut dengan muka masam Eddy. Semalam Eddy menjadi sasaran kekesalan Imelda karena ditinggalkan begitu saja oleh Galaksi di mall.
"Napa lo Junaedi asem banget muka lo kek pantat mo-nyet," ledek Galaksi
"Au ah!!!!" hardik Eddy
Galaksi terkekeh, dari kantung matanya dapat dipastikan jika Eddy kurang tidur.
"Profesional dong, ga usah ancam-mengancam potong gaji!!!" jawab Eddy tidak suka.
"Ga usah meragukan profesionalisme gue. Lagian salah lo juga kebanyakan mendem perasaan, padahal kesempatan ada di depan mata," ujar Galaksi
" Gue butuh waktu boss. Gue takut kembali terluka. Apalagi semalam Imelda menggila, gue sampe stress ngejagain dia di club," keluh Eddy.
"Apah semalem dia ke club?? Bocah edyan!! Gue ga habis pikir sama dia. Gara-gara dia dan lo gue hampir aja kehilangan Rumi. Gue ga mau terlibat lagi urusan dan masalah diantara kalian ah. Jangan selalu mengkambinghitamkan gue lagi. Gue ga mau Rumi salah paham," ungkap Galaksi
"Apaahhhh Rumi hilang? Maksud lo kabur begitu?" Eddy terkejut
"Hemm... Untung saja gue bisa nemuin dia kalo enggak mungkin lo yang akan jadi sasaran gue. Mulai urusan Imelda menjadi urusan lo, gue ga nau kehidupan gue yang tenang terusik," tegas Galaksi.
Eddy mendengus kasar, jempolnya terus menerus menekan tombol bolpoin. Lucas tak berani berkomentar hanya menjadi pendengar saja, toh selama tidak mengganggunya dia tak akan ikut campur. Galaksi meninggalkan Eddy yang sedang cemberut begitu saja.
*
*
Imelda berjalan dengan angkuh dan langsung masuk begitu saja kedalam kantor. Resepsionis yang berada di lobby tak berani mencegahnya apalagi Imelda adalah sahabat Galaksi.
Imelda langsung menuju ke lantai tempat ruangan Galaksi berada. Dia membawa sekotak makan siang. Tiba di lantai yang di tuju dia langsung melangkah dengan santai. Kebetulan Eddy dan Lucas sedang berada di dalam ruangan Galaksi sehingga tak ada yang mencegahnya masuk kedalam.
"Spada....!!! I'm coming beiibh," ucapnya setengah berteriak.
__ADS_1
Semua orang yang berada di ruangan Galaksi langsung melihat kearah pintu. Galaksi menepuk jidatnya saat melihat kedatangan Imelda, matanya langsung melirik kearah Eddy untuk mengurus Imelda.
"Mel, lo ngapain datang kesini, ini kan jam kantor. Lo ga bisa seenaknya masuk ke sini!!!" Ucap Eddy dengan tegas.
"Memangnya siapa yang akan melarang gue masuk hah!! Emangnya ini kantor punya lo!??" sungut Imelda tak terima.
"Gue yang larang karena lo ga bisa di atur Mel. Apa lo ga bisa bersikap dengan benar hah??" hardik Galaksi, kesal dengan tingkah laku Imelda
"Lo jahat banget sih Gala. Kmaren juga lo tinggalin gue sendiri. Dulu lo baik sama gue, kenapa sekarang lo jahat banget. Apa gara-gara istri lo yang ga ngebolehin lo temenan sama gue. Lagian gue lebih dulu kenal lo dibandingkan dia, kenapa sekarang lo lebih milih dia hah!!!" Ucap Imelda
"Dari dulu gue emang kayak gini Mel. Jelas gue lebih milih istri gue karena dia orang yang paling penting setelah orang tua gue. Gue juga ga mau lo salah paham lagi sama gue," jawab Galaksi.
"Emang apa lebihnya dia dari gue sihh? Apa dia lebih cantik dari gue?" tanya Imelda penasaran
"Lo mau tau?"
"Sure, why not!?" seru Imelda
Galaksi pun meminta Lucas untuk membawa Rumi ke ruangannya saat ini juga. Galaksi sudah cukup jengah dengan tingkah laku Imelda yang tidak bisa diberi tahu.
Selang beberapa lama, Rumi masuk kedalam ruangan Galaksi. Imelda terbelalak melihat Rumi, wanita yang dia temui di lobby kemarin ternyata istri Galaksi.
"Lo istri Gala??" tunjuk langsung Imelda
Rumi yang masih berusaha membaca situasi sedikit bingung dengan ucapan Imelda.
"Maaf ada ada apa ya??" tanya Rumi canggung.
Galaksi langsung menghampiri dan merangkul Rumi tanpa rasa malu.
"Imelda kenalin ini istri gue, Rumi," ucap Galaksi memperkenalkan istrinya
Imelda berdecih, dia dapat melihat jika Rumi berasal dari kalangan biasa tak sebanding dengan Galaksi yang berasal dari keluarga Sultan. Padahal Imelda sudah bekerja keras selama lima tahun ini di luar negeri agar setara dengan Galaksi. Tapi ternyata Galaksi malah menikah dengan gadis dari kalangan biasa.
Plakkk
Tanpa aba-aba Imelda langsung menampar pipi Rumi. Bekas telapak tangan begitu jelas di pipi Rumi yang putih.
"Imelda!!!!!" Teriak Eddy.
Galaksi membelai bekas tamparan di pipi Rumi. Matanya menyimpan kemarahan, ingin dirinya membalas perlakuan Imelda namun di cegah oleh Rumi.
"Napa Ed, lo juga mau ngebela cewek ini hah?? Gue Ed, yang kenal lebih dulu dengan Gala tapi kenapa dia yang mendapatkan Gala. Gue ga rela, gue ga rela Ed," raung Imelda.
"Imelda cukup," seru Eddy
"Gue benci sama lo, gue benci.. benci!!!!" bentak Imelda, tangannya mendorong tubuh Rumi dengan kuat.
Brugh
Karena tidak siap, tubuh Rumi terhuyung kebelakang hingga punggungnya menabrak meja dengan sangat keras hingga kesakitan. Galaksi yang sudah murka akhirnya membalas mendorong Imelda dengan kasar. Untung saja Eddy berhasil menahan tubuh Imelda sehingga tidak jatuh.
"Keterlaluan lo jadi cewek!!! Lo kasar Mel!!!" geram Galaksi
"Tu-tuan tolong!!! Sakit," rintih Rumi.
__ADS_1
Mendengar Rumi kesakitan Galaksi segera menghampiri Rumi dan memapahnya ke sofa. Lukas melihat sesuatu yang janggal di kaki Rumi. Mata Lucas membola menyadari sesuatu mengalir di kaki Rumi.
"Tuan, Rumi berda-rah!!?"