Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Aku kira kamu sudah mati


__ADS_3

Rumi tak menyangka setelah pergi tanpa pesan apapun selama lima tahu akan bertemu kembali dengan orang yang paling dia benci. Mengapa dia harus kembali setelah kehidupan Rumi kembali normal?


Tak ada kerinduan sedikitpun dalam hatinya, rasa itu sudah lama terbunuh seiring kepergiannya tanpa kabar. Dahulu Rumi menangisi kepergiannya setiap malam hingga jatuh sakit. Tak peduli kesalahan apapun yang telah di buatnya Rumi selalu percaya, hingga kenyataan yang sebenarnya membuatnya hancur seketika.


Satya, dia lah pacar pertama sekali cinta pertama Rumi. Di hari itu Rumi begitu bahagia saat Satya mengungkapkan perasaannya dan meminta Rumi untuk menjadi pacarnya. Tetapi dia juga yang sudah menghancurkan hati Rumi hingga berkeping-keping.


"Aku kira kamu sudah mati," balas Rumi dengan malas.


"Rumi, kenapa bicaramu seperti itu? Akhirnya aku bisa menemukan mu, Aku-,"


"Dirimu sudah lama aku anggap mati sejak saat itu. Bahkan ingatan tentang siapa dirimu juga sudah aku lupakan." Rumi berusah untuk tetap terlihat tenang.


Sebisa mungkin Rumi menahan amarahnya, melihat wajah orang itu ingin rasanya Rumi membunuhnya saat ini juga.


"Maafkan aku Rum, sungguh aku menyesal. Aku ingin kita memperbaiki hubungan kita seperti dulu Rum. Sungguh aku menyesal," ucap Satya dengan sendu.


"Aku sudah memaafkan mu sejak lama. Dan mulai detik ini menjauhlah dari hidupku. Aku sudah menikah, tolong kamu tau batasannya," tegas Rumi.


Dia tau kedatangan Satya ingin mengajak nya balikan tapi itu sangat tidak mungkin. Walaupun Satya pernah berada dalam posisi spesial tetapi itu dahulu.


Netra Satya mulai mengabur seiring air mata yang mulai tertampung di pelupuk mata. Tidak percaya dengan yang Rumi katakan, dia berusaha menyangkalnya


"Aku tau kamu sedang berbohong Rum. Jika kamu menikah mengapa tak mengundang temen-temen sekolah mu dulu Rum," elak Satya. Dia berusaha mencari pembenaran.


"Cih, teman??? Apa dulu ada orang yang pantas aku sebut sebagai teman hah?? Bahkan orang yang paling aku percaya pun hanya memanfaatkan ku saja. Buat apa mereka aku bagikan kebahagiaanku, mereka tidak pernah menganggap ku ada," jawab Rumi.


Satya menggelengkan kepalanya, walaupun benar kondisinya seperti itu.


"Jika sudah tidak ada yang penting sebaiknya kamu segera pergi dari sini, aku harus segera masuk kuliah," usir Rumi


Rumi meninggalkan Satya begitu saja. Tak ingin kehilangan kesempatannya Satya menarik salah satu lengan Rumi buku-buku yang dibawa olehnya terjatuh.


Plakkkk

__ADS_1


Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi Satya yang mulus. Rasa perih dan panas bercampur jadi satu, begitu juga rasa malu langsung menghinggapi dirinya karena menjadi objek yang di lihat banyak orang. Tetapi Satya tidak marah karena hal itu tak sebanding dengan rasa sakit Rumi lima tahun yang lalu.


"Tidak bisakah kamu membiarkan hidupku uang menjadi sudah bahagia ini tenang? Tidak bisakah aku menjalani hidupku dengan normal? Apa kamu akan mengganggu terus seperti kuman? Aku harap ini peringatan terakhir, kau akan taku akibatnya jika kesabaran ku sudah habis. Cih..tidak berguna!!!!" hardik Rumi


Satya masih terpaku, tidak menyangka Rumi akan berbicara setegas itu. Padahal dahulu untuk membalas hinaan saja Rumi tak bisa. Ternyata selama lima tahun banyak yang berubah dalam diri Rumi apalagi wajahnya semakin cantik.


"Aku pastikan kamu menjadi milikku Rumi walaupun aku harus merebutmu dari suamimu," guman Satya, netranya terus melihat Rumi hingga menghilang dikejauhan.


Di sisi yang lain seorang lelaki mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Walaupun tak bisa mendengar percakapan antara Rumi dan Satya tetapi dia tau jika Satya datang untuk mengusik kehidupan Rumi. Dia tidak akan membiarkan siapapun mengambil Rumi, dia sudah berjuang sejauh ini walaupun belum memiliki kesempatan untuk mendekati Rumi.


*****


Rumi dikejutkan dengan sebuah kotak di depan mejanya, kotak berwarna merah muda dilengkapi dengan pita berwarna putih. Dengan ragu Rumi mulai membuka kotak tersebut karena penasaran dengan isinya. Ternyata didalamnya terdapat coklat dan cake red valvet, makanan kesukaan Rumi. Secarik kertas yang ada didalamnya Rumi ambil untuk di baca.


Dear My Sweetheart,


The sweet things for the sweetest person. I hope you like with the gift for you.


Have a nice day


Rumi menghela nafasnya dengan kasar. Selalu ada hadiah atau kiriman barang untuk Rumi tanpa dia tau siapa pengirimnya. Walaupun cake itu adalah kesukaan Rumi, tetapi Rumi tak bernafsu untuk memakannya. Romi selalu mengingat nasehat dari Galaksi jika dia tidak boleh menerima pemberian apapun dari orang lain.


Akhirnya Rumi menyimpan kotak tersebut di bawah kursinya, mungkin setelah sesi kuliah berakhir dia akan memberikannya kepada orang lain seperti biasa.


.


.


Tepat jam 09.00 malam akhirnya perkuliahan Rumi selesai, hari ini hanya ada dua mata kuliah. Rumi pun bergegas meninggalkan kelas untuk menemui Galaksi yang sudah menunggu di area parkir.


Deg


Deg

__ADS_1


Deg


Jantung Rumi berdetak kencang saat melihat Galaksi yang begitu tampang dibawah sinar rembulan. Bahkan wajahnya terlihat bersinar terkena pantulan cahaya bulan. Senyumnya terkembang saat Galaksi melihat Rumi dari kejauhan. Bergegas Rumi menghampiri Galaksi yang sedang berdiri di samping mobilnya.


Grep


Tiba-tiba saja Rumi langsung memeluk tubuh Galaksi. Mendapatkan pelukan dadakan membuat Galaksi menegang, aliran darahnya berubah kencang, jantungnya berdebar-debar. Bahkan kedua tangannya tanpa sadar membalas pelukan Rumi.


"Maaf Tuan, maafkan Rumi. Maaf Rumi sudah lancang memeluk Tuan tanpa izin terlebih dahulu," ucap Rumi diiringi Isak tangis


Sebagian air mata Rumi bahkan membasahi baju yang dikenakan oleh Galaksi. Sementara Galaksi membiarkan Rumi menangis hingga dirinya tenang baru menanyakan apa yang terjadi hingga membuat Rumi bersedih. Galaksi mempererat pelukannya membawa Rumi semakin dalam didekapannya.


Rumi meluapkan segala rasa dihatinya, mulai dari sedih, kesal hingga marah, semuanya bercampur menjadi satu. Rumi selalu saja menjadi sensitif jika berhubungan dengan masa lalunya yang tidak baik.


Setelah merasa sedikit tenang, Rumi melepaskan pelukannya.


"Maaf Tu-tuan jadi basah baju nya," ucap Rumi bersalah.


Galaksi tersenyum saat melihat istrinya itu memonyongkan bibirnya. Tangannya pun terulur untuk mengusap sisa air mata di pipinya


"Ga papa, hanya basah. Nanti juga kering. Katakan, apa yang membuatmu menangis? Apa ada yang menyakitimu tadi hah?" tanya Galaksi sambil menangkup pipi Rumi dengan kedua tangannya.


Rumi dia membisu, sejujurnya dia belum siap untuk menceritakannya kepada Galaksi. Dia juga takut galaksi akan salah paham dan memarahinya.


"Ya sudah kalau belum mau cerita lebih baik kita pulang saja karena ini udah terlalu malam. Kita juga sepertinya menjadi tontonan gratis untuk beberapa mahasiswa di kampus ini, lihatlah," ucap Galaksi.


Mendengar ucapan Galaksi, Rumi mulai melihat beberapa orang sedang melihat kearah dia dan Galaksi, Rumi lupa jika dia masih berada di area kampusnya.


"Maaf," ucap Rumi sendu.


"Nggak apa-apa nggak usah takut, toh kita juga bukan pasangan selingkuh. Hahahaha," ucap Galaksi sambil tertawa puas.


"Ighh.. dasar menyebalkan," gerutu Rumi berlalu sambil masuk kedalam mobil meninggalkan Galaksi yang masih ketawa.

__ADS_1


"Loohhhh???"


__ADS_2