
Setelah membereskan kekacauan yang ada, Galaksi dan Eddy tengah duduk terdiam di sofa. Mereka berdua menundukkan kepalanya tak berani melihat Rumi yang tengah mengeluarkan tanduk. Dada Rumi naik turun seraya tarikan nafas yang begitu berat, menatap kedua orang pria yang baru saja berbuat onar beberapa menit yang lalu.
"Boss, binik Lo kalo marah kok serem amat ya, kayak mau makan orang aja," bisik Eddy
"Diem lu, ba-cot amat. Ga liat ibu negara udah kayak ratu neraka gitu. Lo liat nih bulu kuduk gue berdiri semua," balas Galaksi.
"Apa yang kalian berdua bicarakan!!!" bentak Rumi dengan mata menyalang.
Galaksi dan Eddy malah main sikut, tak ada yang berani menjawab pertanyaan Rumi. Apalagi tatapan mata Rumi yang menyeramkan hingga nyali Galaksi di buat ciut. Baru kali ini Galaksi melihat Rumi marah, bahkan dirinya tak ada nyali untuk membantahnya.
"Kalian sudah tua tetapi berbuat onar persis seperti anak TK. Membuat kekacauan, barang-barang berantakan, meja kursi tidak pada posisinya, kertas, berkas penting berserakan. Apa kalian tidak memikirkan bagaimana OB yang akan membereskan kekacauan ini semua? Mengerjakan pekerjaan yang bukan job desk mereka. Apa yang kalian rasakan setelah membereskan semua kekacauan yang kalian buat?" Rumi melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh.
"cape," jawab mereka bersama
"Cape kan. Apa setelah OB membersihkan kekacauan ini akan mendapatkan bonus atau tambahan gaji?" lanjut Rumi
Eddy menggelengkan kepalanya, Galaksi hanya diam karena tak tahu apa-apa perihal gaji karyawan.
"Kenapa Tuan Galaksi hanya diem??" tanya Rumi
"Aku ga tau masalah gaji karyawan, semua di urus oleh bagian keuangan. Tapi setiap OB atau OG yang sudah membersihkan ruangan ku dengan baik selalu aku beri tips yang sesuai," ucap Galaksi
Rumi mengangguk-anggukkan kepalanya, memang benar uang di katakan oleh Galaksi dia selalu memberikan tips yang lumayan besar. Bagaimanapun juga Rumi pernah mendapatkan tips karena membuatkan kopi untuk Galaksi. Tak tanggung-tanggung dua lembar uang berwarna merah.
"Awas aja kalian membuat kacau ruangan ini, akan aku botakin satu persatu kepala kalian. Menyebalkan!!! Bikin mood ancur," gerutu Rumi sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Lantas Rumi meninggalkan ruangan kerja Galaksi begitu saja. Galaksi dan Eddy hanya bisa tercengang melihat Rumi pergi dan menghilang di balik pintu.
"Istri lo tuh boss!!" seru Eddy
"Emang istri gue, napa??? Masih berminat??" jawab Galaksi
"Gue kira dia jinak-jinak merpati ternyata singa betina," balas Eddy.
"Sialan, itu istri gue!!!" geram Galaksi, tak terima istrinya tercinta di ledek oleh Eddy
Bugh
__ADS_1
Bugh
Galaksi melemparkan bantal sofa ke arah Eddy. Sedangkan Eddy semakin bertinggi, dia menjulurkan lidahnya kearah Galaksi. Kemudian menunjuk ke arah bantal sofa yang berserakan.
"Mampus gue!!" ucap Galaksi sambil menepuk dahinya dengan telapak tangan.
Eddy tertawa renyah melihat wajah Galaksi yang muram, lalu meninggalkan ruangan kerja Galaksi.
.
.
Rumi berjalan menuju ruangan kerjanya, mulutnya terus komat kamit ga jelas.
"Dasar para pria bisanya cuma bikin kacau, udah bagus-bagus ruangan dirapihin malah diacak-acak. Kenapa sih makhluk yang bernama pria itu selalu menyebalkan. Ahhh bikin badmood aja," gerutu Rumi sepanjang perjalanan.
"Rummm....." teriak Dea begitu melihat Rumi masuk ke divisi pemasaran.
Dea setelah berlari menghampiri kemudian memeluk tubuhnya dengan erat.
Rumi sejenak melupakan kekesalannya dengan duo pria yang menyebalkan.
"Emang aku kenapa? Aku baik baik saja kok," jawab Rumi dengan tersenyum.
Dea merasa heran dengan Rumi, padahal beberapa saat yang lalu Rumi berteriak histeris dan sekarang Rumi seolah melupakan kejadian tadi seolah tak terjadi apa-apa.
Rumi melanjutkan langkahnya ke ruangan kerjanya. Begitu masuk kedalam ruangan, Rumi disuguhkan dengan tumpukan dokumen dan laporan yang harus dia kerjakan. Ternyata imbas dari dirinya yang tidak masuk selama dua hari membuat pekerjaannya semakin banyak karena tidak ada yang menghandle pekerjaannya.
"Ternyata semakin tinggi jabatan seseorang akan semakin besar pula tanggung jawabnya. Ayo Rumi semangat, jangan putus asa. Jangan malas walaupun sudah memiliki suami sultan," gumam Rumi menyemangati dirinya sendiri.
Rumi pun langsung duduk di kursi kebanggaannya dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Tanpa disadari oleh Rumi, Galaksi tengah melihatnya dari laptop melalui CCTV yang terpasang di ruangan kerja Rumi. Galaksi tampak tersenyum cerah melihat bagaimana istrinya bekerja dengan cekatan.
.
.
Dari pihak kontraktor memberitahu Galaksi jika ada masalah dengan pembangunan proyek perumahan yang baru. Mendapatkan kabar itu, Galaksi bergegas menuju lokasi bersama Lucas untuk meninjau masalah apa yang terjadi.
__ADS_1
Ternyata sudah ada Lusiana yang terlebih dahulu sampai dan langsung menghampiri Galaksi untuk menyambutnya.
"Pak Galaksi selamat datang. Apa kabarnya Pak, sudah lama kita tidak bertemu," ucap Lusi dengan ramah, tak lupa tangannya terulur untuk menjabat tangannya.
Galaksi hanya tersenyum tanpa berniat untuk menjabat tangan Lusiana. Apalagi disebelah ada Lucas yang menjadi CCTV untuk Rumi, sehingga Galaksi tak berani mengambil resiko kontak langsung dengan Lusiana.
"Terima kasih Bu Lusi untuk sambutannya. Sekarang kita langsung saja meninjau dan menganalisa permasalahannya agar proyek ini selesai tepat pada waktunya," ucap Galaksi tanpa basa basi.
Sempat merasa kesal karena Galaksi tidak membalas uluran tangannya tak membuat Lusi menyerah untuk mendekatkan Galaksi.
"Mari Pak, saya tunjukkan disebelah sana," ucap Lusi sambil melingkarkan tangannya ke tangan Galaksi
Merasa risih, Galaksi berusaha untuk melepaskan tangan Lusi. Namun ternyata Lusi memegangi dengan sangat erat. Merasa rencana berhasil, Lusi tersenyum puas.
"Eheemmm...gatal!" celetuk Lucas. Dia memberikan kode kepada Galaksi untuk menjaga sikap.
Dengan sedikit kasar Galaksi melepaskan pegangannya tangan Lusi.
"Maaf, silahkan jalan terlebih dahulu Bu Lusi. Saya mengikuti dari belakang. Silahkan!" Ucap Galaksi dengan dingin.
Lusi merasa kesal karena ada Lucas yang mengganggu dan menghentakkan kakinya ke tanah. Lucas terkekeh melihat tinggal Lusi yang kekanak-kanakan. Dengan terpaksa Lusi akhirnya berjalan terlebih dahulu dari pada menjadi pusat perhatian anak buahnya.
"Oke baik Pak nah di sini kita mulai mendapatkan sedikit masalah mengenai kontur tanah yang tidak stabil. Dari area sini sampai ujung sebelah sana itu kita mengalami kesulitan untuk membuat tanah agar tetap stabil. Nah adapun cara agar kontur tanah tetap stabil itu dengan cara mempertebal pondasi agar rumah yang nantinya akan dibangun di atas tanah tersebut tetap kokoh dan berdiri. Namun kendalanya karena untuk pondasi itu budgetingnya sangat lumayan, mungkin akan ada perubahan dalam masalah keuangannya. Seperti itu pak masalah nya," jelas Lusi dengan rinci.
"Kalau memang tidak ada solusi yang lain selain mempertebal pondasi, ya sudah nanti hitung saja penambahan biaya yang diperlukan. Yang penting proyek tepat waktu, saya ga mau sampai mundur dari deadline yang telah disepakati," jawab Galaksi dengan tegas.
"Baik apa jika sudah setuju nanti akan dibuatkan perencanaan tambahan biaya oleh tim saya dan nantinya akan di tunjukkan terlebih dahulu kepada pak Galaksi untuk acc. Berhubung cuaca sangat panas, mari pak, kita minum-minum dulu di kantor sekalian membahas beberapa proses proyek kita kali ini," ajak Lusi
Galaksi menganggukkan kepala dan mengikuti Lusi menuju kantor begitu juga Lucas setia mengekor dibelakangnya. Namun tiba-tiba saja tubuh Lusiana oleng karena hak sepatunya lepas, beruntung Galaksi dengan tangkas menahan tubuh Lusi agar tidak terjerembab ke tanah yang kasar.
"Aaahhhhkkkkk," teriak Lusi mengaduh
**Cekrek**
Cekrek
Cekrek
__ADS_1