Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Kebersamaan Orang Tua Galaksi


__ADS_3

Sambil membawa secangkir kopi, Maulindya berjalan menuju ke ruang kerja sang suami. Meskipun sudah mengambil pensiun dini, Raka tetap mengawasi kinerja beberapa perusahaan nya di kelola oleh beberapa orang kepercayaan dan sahabatnya. Tak ada satupun anaknya yang mau mengelola perusahaan miliknya yang merupakan warisan atau peninggalan almarhum kakek mereka.


"Kak, masih banyak kerjaannya??" ucap Maulindya sambil meletakkan secangkir kopi hangat.


"Sini," ucap Raka sambil menepuk pahanya mengkode agar Maulindya duduk dipangkuan.


Maulindya tersenyum manis, suaminya tetap mesra seperti dulu. Panggilan mereka juga masih tetep sama tak pernah berubah. Hanya saat ada anak saja mereka memanggil ayah-Bunda.


Maulindya menghampirinya dan langsung mendaratkan bokongnya tepat di pangkuan Raka. Tangan Raka langsung melingkar di perutnya dan menyandarkan kepalanya di punggung Maulindya.


"Kenapa kak, ada masalah?" tanya Maulindya, tak biasanya Raka seperti ini


"Heemmm ga ada, kangen aja sama moment seperti ini. Kayaknya udah jarang banget ya semenjak sibuk mengurusi anak," sahut Raka.


"Mmm...maca ciihh. Emangnya di kamar kurang gitu. Lagisn semenjak Galaksi tinggal berdua sama istrinya, kita kan hanya tinggal berdua disini. Masih bilang ga banyak waktu? Kakak aja yang sok sibuk deh," sela Maulindya


"Ya..ya..ya.. ngomong sama kamu ga pernah bisa menang deh," ujar Raka sambil memonyongkan bibirnya.


Maulindya terkekeh, tak ada yang berubah dari hidup mereka meskipun usia mereka tak muda lagi.


"Kak, minggu depan di rumah ini akan di adain acara selametan empat bulanannya kandungan Rumi. Kata Galaksi mereka akan mengundang beberapa orang anak yatim piatu sekalian memberikan santunan. Kakak ga keberatan?" terang Maulindya, posisinya sekarang tangannya sudah melingkar di leher Raka.


"Ga kerasa ya, udah empat bulan aja. Rumi juga sedang hamil anak kembar ya, pasti seru ya kalo mereka sudah lahir. Harus siap-siap nih kalo mereka tingkahnya pada aktif," sahut Raka


"Rumah ini jadi rame lagi ya kak. Dulu kita punya anak kembar dua-duanya kelainan semua. Ga ada bandel-bandel," ucap Maulindya.


Maulindya teringat anak pertama nya Andromeda -Galaksi yang memang berbeda dari anak kebanyakan. Karena tingkah anak kembar Maulindya yang kalem dan pendiam seringkali di anggap sebagai anak dengan autisme. Maulindya tak ambil pusing, bersyukur dengan kondisi anaknya yang pendiema sehingga saat itu Maulindya bisa fokus menyelesaikan kuliahnya.


"Sayang, kamu pengen punya anak lagi??" Goda Raka.

__ADS_1


"Isshh apaan sih. Inget umur kak, cucu udah brojol satu, dua lagi beberapa bulan launching. Masa kita mau nyaingin mereka punya anak bayi juga sih," sungut Maulindya, tangan cantiknya mencubit perut Raka. Wajah Raka mesem menahan rasa sakitnya.


"Ya.. ya.. maaf sayang hanya bercanda. Aku juga ga tega melihat kamu kesakitan waktu melahirkan. Lebih tegang dibandingkan ujian skripsi tau ga," sahut Raka.


Maulindya terkekeh, dia teringat bagaimana Raka yang kesakitan ketika dirinya sedang kontraksi, padahal Maulindya sama sekali tidak merasakan apa-apa hanya mules-mules sedap.


"Oh iya kak, masalah Andra dan Tania kakak ga akan ikut campur kan? Ga mempermasalahkan jika mereka tidak memiliki keturunan?" Ucap Maulindya sendu


Raka menggelengkan kepalanya.


"Urusan anak, itu adalah rezeki dari Alloh sayang. Yang terpenting Andra tetap mensupport Tania. Lagipula Tania masih muda, masih banyak cara untuk mendapatkan keturunan jika mereka menginginkan nya. Kita sebagai orang tua tetap support mereka tapi jangan sampai merusak mental mereka. Kakak lebih khawatir jika nanti Andra akan meninggalkan Tania," ujar Raka. Matanya menerawang ke langit-langit.


"Percayalah, anak-anak mu sama seperti ayahnya. Mencintai seseorang seumur hidupnya."


*


*


Sudah enam pasang baju miliknya yang yang dipakai tetapi tak ada satu pun yang bagus menurutnya. Padahal setengah jam lagi Lucas akan segara datang. Baru saja dia mendapatkan pesan jika Lucas tengah on the way kerumahnya.


"Duuhh ini gimana dong, ga ada baju yang bagus, semuanya jelek bahkan norak. Napa sih kemarin ga kepikiran buat beli baju dulu. Ini yang namanya nyusahin diri sendiri. Pasti nanti gue bikin malu kak Lucas deh. Mana belum sempat dandan lagi. Aaarrrrgggghh," gerutu Dea. Dia bahkan mengacak -acak rambut yang belum sempat disisir.


Diliriknya jam dinding waktunya semakin menipis. Dea harus bergerak cepat jangan sampai meninggalkan kesan buruk saat jalan pertama kali. Dari pada pusing memikirkan persoalan baju lebih Dea me-make up wajahnya terlebih dahulu.


Sepuluh menit kemudian Dea sudah siap dengan make up natural, make up yang biasa dia gunakan ketika bekerja. Sedikit di tambahkan sentuhan shadding dibagian hidung dan maskara untuk bulu matanya.


Dea kembali memeriksa lemari pakaiannya untuk melihat baju mana yang cocok dikenakannya hari ini. Akhirnya Dea memilih memakan kaos dan celana jeans yang lebih santai, tak lupa di padukan dengan blazer agar sedikit menyamarkan lekuk tubuhnya.


Ting nong

__ADS_1


Ting nong


Ting nong


Terdengar suara bel, mungkin itu Lucas yang sudah tiba di rumah Dea. Dea langsung mengambil tas kecil miliknya z tak lupa dompet dan handphone miliknya dimasukkan, itu adalah hal yang penting.


"Dea, temennya susah datang," teriak mamahnya dari arah luar.


Dea makin panik, sekali lagi dia memastikan tidak ada penampilan nya yang kurang.


"Iya mah, ini Dea udah siap sebentar lagi keluar," jawabnya sedikit berteriak, takut tidak terdengar.


Lucas menolak masuk kedalam rumah Dea dan lebih memilih menunggu dengan duduk di kursi yang ada di teras rumah Dea. Ada perasaan gugup yang melanda dirinya saat ini, hari ini pengalaman pertamanya mengajak jalan keluar anak gadis orang lain. Biasanya di weekend seperti ini Lucas lebih banyak menghabiskan waktu di rumah atau mengantarkan ibunya ke acara arisan.


Setelah sekitarnya lima menit menunggu akhirnya datang menghampiri Lucas


"Kak Lucas, maaf bikin menunggu ya," ucapnya malu-malu.


Lucas melihat penampilan Dea dari bawah hingga ujung kepala tanpak lain dari biasanya. Lebih casual dan trendy, rambutnya juga setengah digerai. Jika biasanya Dea mengikat rambut kala sedang bekerja.


"Cantik, " ucap Lucas tanpa sadar


Dea mendengar dengan jelas ucapan Lucas menjadi salah tingkah. Jemarinya menyisipkan sedikit rambutnya kebelakang telinga, kepalanya menunduk menahan malu.


"Yuk kita berangkat, udah siap kan?" Ajak Lucas, tangannya terulur di depan diri Dea. Berharap akan di sambut dengan manis oleh Dea.


Beberapa detik Dea hanya melamun, tanpa sadar mengagumi ketampanan Lucas yang terpampang nyata di depan matanya. Apalagi sikap Lucas yang sangat manis membuat Dea semakin salah tingkah.


Gemas dengan sikap gadis di depannya akhirnya Lucas berinisiatif untuk mengambil salah satu tangan Dea dan menggenggam nya.

__ADS_1


__ADS_2