Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Kedatangan Lusiana ke Kantor


__ADS_3

Dengan percaya diri, Lusiana berjalan menghampiri Galaksi dan Rumi yang sedang menikmati makan siang. Lusi sengaja datang ke kantor Galaksi untuk membicarakan proyek pembangunan yang sempat terhambat. Sebenarnya itu hanya alasan Lusi saja untuk bertemu dengan Galaksi.


Hampir sebulan Galaksi tidak mengunjungi proyek pembangunan yang berkerjasama dengan kontraktor tempat Lusi bekerja.


"Boleh saya gabung??" ucap Lusi dengan senyum terkembang.


Keempat orang yang berada di meja yang sama menoleh kearah Lusiana. Galaksi melihatnya dengan tatapan dingin sedangkan Rumi memberikan senyuman kepada Lusi


"Ok, silahkan duduk Mbak. Maaf tempatnya seadanya," ucap Rumi dengan ramah.


Lusi membalas senyuman Rumi walaupun dibalik wajahnya merasa dongkol karena Rumi sengaja mempertontonkan kemesraan mereka di depannya.


Galaksi sengaja mengangkat genggaman tangannya dengan Rumi ke atas meja agar Lusiana sadar diri. Galaksi dapat melihat Lusi memiliki tujuan tertentu mendatangi kantor. Padahal Galaksi sudah mengutus seseorang untuk mengontrol dan mengawasi proyek tersebut.


"Maaf ya, saya mengganggu makan siang kalian. Kebetulan saya melintas di kantor ini jadi sekalian saja saya kesini. Pak Gala juga sudah lama tidak datang ke proyek untuk mengevaluasi kinerja kami," ucap Lusi


"Maafkan ketidakhadiran saya dalam beberapa agenda yang sudah di jadwalkan karena ada masalah internal yang tidak bisa saya tinggalkan. Tapi sebagai gantinya saya sudah mengirimkan orang yang berkompeten untuk mewakili saya dan saya juga sudah mendapatkan laporan perkembangan terakhir mengenai sejauh mana proses pembangunan," ungkap Galaksi.


"Iya Pak Gala, saya juga sudah beberapa kali bertemu dan memberikan laporan perkembangan. Tetapi alangkah lebih afdol nya jika saya juga melaporkan kepada orang yang bertanggung jawab secara langsung, bukan seperti itu Bu Rumi," ujar Lusiana, Rumi terkejut.


"Eh..i-iya iya begitu," ucap Rumi asal. Dia tidak terlalu memperhatikan pembicaraan Lusi karena matanya terasa sangat berat setelah makan dengan kenyang.


Lucas dan Dea meminta izin untuk kembali bekerja karena tidak ada kaitannya dengan pembicaraan Lusiana dan Galaksi. Lucas sebenarnya memilih menghindar karena tak ingin menjadi penonton perang dunia yang mungkin terjadi antara Rumi dan Lusi.


"Maaf Bu Lusi sebaiknya pembicaraan kita ini dilanjutkan di ruangan kerja saya. Berhubung waktu istirahat juga sudah selesai, tidak enak jika kita masih berada di area kantin," ucap Galaksi

__ADS_1


"Oh iya pak Galaksi Saya rasa itu lebih baik karena kita akan membicarakan masalah proyek yang sedang kita kerjakan. Apa yang kita bicarakan sampai didengar oleh orang yang tidak berkepentingan," ucap Lusi sambil melirik Rumi yang bersikap masa bodoh.


Galaksi mengelus rambut Rumi dan memberikan sentuhan di pipinya.


"Bunny, kamu mengantuk ya sayang? Lihat matanya merah gini," ucap Galaksi sangat lembut.


"Hheemmmm, habis makan kenyang malah bikin ngantuk. Mungkin bawaan debay," ucap Rumi sambil mengelus perutnya.


"Ya udah kamu istirahat aja ya di kamar seperti biasa. Dokumen yang urgent sudah dikerjakan tadi kan, habis ini kamu bisa santai. Udah kita kembali keruangan saja, aku ga tega liat kamu nahan ngantuk," ucap Galaksi sambil terkekeh.


Rumi dan Galaksi berjalan beriringan diikuti oleh Lusi di belakang. Lusi terus ngedumel melihat Galaksi dan Rumi lah asyik bercanda dan mengobrol di depan dirinya seolah keberadaan Lusi tidak dianggap.


"Bunny, di kamar?"


"Ga mau, sendirian. Mau di sofa aja biar nemenin Hubby, boleh ya?" Rengek Rumi.


Lusianya nyaris mual melihat dan mendengar adegan romantis yang menurutnya sangat lebay.


"Boleh, yang penting nyaman aja,"


Rumi lantas mengambil posisi berbaring yang nyaman, persis menghadap meja kerja Galaksi.


"Maaf Pak, bisa kita bicarakan pekerjaan ini di tempat yang lebih privat supaya tidak didengar oleh orang yang tidal berkepentingan," keluh Lusiana merasa keberatan dengan keberadaan Rumi.


Karena dengan adanya Rumi diruangan yang sama, Lusi tidak bisa bertindak bebas berduaan saja dengan Galaksi.

__ADS_1


"Maksudku anda dengan orang yang tidak berkepentingan itu adalah istri saya begitu?" Tegas Galaksi, matanya menatap dengan tajam.


"Bu-bukan begitu maksudnya Pak Galaksi. Tapi kalo anda tidak berkeberatan dengan adanya bu Rumi saya ikut saja," ucap Lusi begitu lirih. Dia terpaksa menurunkan egonya dari pada harus menerima kemarahan atau bahkan di usir oleh Galaksi.


Rumi yang pura-pura tertidur merasa lega mendengar Galaksi yang bersikap tegas. Sebenarnya Rumi sudah mencurigai kedatangan Lusi ke kantor ada maksud lain.


"Rumi istri saya juga bekerja sebagai supervisor pemasaran tentu ada hubungannya dengan proyek kerja sama kita. Jadi anda, Bu Lusi tak perlu khawatir," ungkap Galaksi


Lusiana tidak memprotes apapun pagi, dia hanya pasrah karena tak mendapatkan kesempatan untuk berduaan dengan Galaksi.


"Baik Pak, kalo begitu saya langsung sejelaskan saja bagaimana perkembangan proyek saat ini."


*


*


Dengan tergesa-gesa Eddy keluar dari kantor menuju jalan utama di depan kantornya. Dia sudah memesan ojek online bermaksud akan pergi ke hotel tempat Imelda menginap. Dia memilih ojek online karena di jam istirahat kantor seperti ini pasti jalanan akan padat.


Pikiran tak tenang karena sepuluh menit sebelumnya berulang kali Eddy menghubungkan Imelda tetapi tak kunjung dijawab. Eddy khawatir Imelda akan melakukan tindakan bodoh dan kembali berbuat masalah. Apalagi saat ini Imelda mendapat tuntutan ganti-rugi yang cukup besar karena pembatalan kontrak kerja sama.


Eddy langsung berlari dan menaiki lift begitu sampai di tujuannya. Sembari menunggu lift sampai di lantai yang dituju, Eddy masih berusaha untuk menghubungi Imelda, tetap nihil tetap tak direspon oleh Eddy


Eddy mengetuk pintu kamar dengan rasa tak sabar. Hatinya gelisah tak karuan, takut terjadi sesuatu dengan Imelda. Tak berselang lama pintu kamar pun di buka.


"Mel, apa yang terjadi sama lo???"

__ADS_1


__ADS_2