
"Seret dia sekarang juga!! Buang keluar dari area perusahaan, jangan pernah sekalipun memperbolehkan orang ini masuk apapun alasannya, cepat!!!!" perintah Eddy dengan wajah yang merah padam terbakar amarah.
"Tidak!!! Tidak!!?? Lepaskan!!! Saya tidak bersalah. Saya tidak bersalah. Wanita jahat itu yang seharusnya keluar dari sini!!!" hardik Ratna. Dia semakin menggila setelah melihat Eddy justru membela orang yang dia benci
Eddy kemudian mendekati Rumi yang berteriak histeris, disampingnya Dea berusaha untuk menenangkannya. Namun Dea tak kuasa nahan Rumi yang terus berteriak tanpa kendali membuat beberapa karyawan membicarakannya.
"Dasar wanita ja-lang kau Rumi. Gara-gara lo masa depan gue rusak. Gara-gara lo gue kehilangan pekerjaan. Gue membenci lo seumur hidup gue. Lo akan menerima pembalasannya wanita sia-la. Hidup lo akan menderita wanita jahat," umpat Ratna tiada henti.
Tubuhnya terus meronta saat para security menyeret tubuhnya keluar dari ruangan auditorium, suasana menjadi kisruh para karyawan mulai tidak nyaman. Terpaksa Eddy membawa tubuh Rumi keluar dari ruangan tersebut.
"Tolong pastikan tidak ada satupun orang yang mengikuti saya dibelakang. Lucas ambil alih untuk langkah selanjutnya, tolong tenangkan karyawan. Jangan sampai ada karyawan yang berani membicarakan kejadian barusan baik di dalam maupun di luar lingkungan kantor. Dan kamu teman Rumi, ikut saya," ucap Eddy memberi perintah.
Merasa kasian dengan kondisi Rumi, akhirnya memutuskan membawanya ke ruangan Galaksi. Berharap Galaksi bisa menenangkan Rumi yang histeris, Dea hanya bisa berjalan sambil mengikuti Eddy dibelakangnya. Dia pun cemas dengan kondisi Rumi yang seperti itu .
Begitu sampai di depan pintu ruangan Galaksi Eddy langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Apa yang terjadi dengan Rumi??" tanya Galaksi khawatir
Eddy merebahkan tubuh Rumi di atas sofa dan Galaksi menghampirinya. Tanpa aba-aba, reflek tubuhnya langsung memeluk erat Rumi.
"Aku bukan wanita jahat, aku tidak jahat!!! Aku bukan wanita ja-lang," racau Rumi.
Galaksi semakin mendekap tubuh Rumi yang bergetar hebat, jemarinya bahkan sangat dingin. Rumi tak berhenti meracau.
Eddy dan Dea hanya bisa saling memandang tak tega melihat kondisi Rumi. Tak banyak yang bisa mereka lakukan untuk Rumi.
"Siapa yang berkata kejam seperti itu, dengarkan aku okey, dengarkan baik-baik dan selalu ingat dalam hati dan pikiranmu. Kamu adalah wanita baik, bahkan sangat baik. Kamu juga wanita hebat dan tangguh," ucap Galaksi penuh kesungguhan, walaupun belum paham dengan keadaan Rumi saat ini.
"Tidak-tidak, dia bilang akan wanita jahat, bahkan menyebut aku wanita sun-dal. Padahal selama ini aku sudah berbuat baik kepadanya tapi kenapa dia tidak bisa baik kepadaku. Dia selalu ingin melihatku menderita, huuuuuu," ucap Rumi dengan sendu bahkan semakin lama tangisnya semakin menjadi.
"Eddy, tolong kamu panggil dokter Reza segera. Seperti Rumi butuh pertolongan dokter," pinta Galaksi dengan penuh rasa khawatir.
__ADS_1
"Baik pak akan saya telepon dokter Reza," balas Eddy.
Eddy memberikan kode berupa kedipan mata agar Dea ikut keluar dengannya karena tidak mungkin meninggalkan Dea dalan ruangan kerja Galaksi. Untung saja Dea paham dengan kode yang diberikan oleh Eddy. Kemudian dia bergegas mengikuti Eddy keluar.
Eddy segera menggunakan telepon kantor untuk menelepon Dokter Reza yang merupakan dokter pribadi keluarga Rahadian. Dea yang cemas hanya bisa bolak balik didepan meja Eddy karena tidak tau harus berbuat apa.
"Heiii nama kamu siapa??" tanya Eddy kepada Dea
"Saya pak?" jawab Des menunjuk dirinya sendiri
"Emang ada orang lain selain kita berdua hah?" tanya Eddy dengan ketus.
"Ma-maaf Pak. Saya Dea dari divisi Pemasaran," jawab Dea dengan gugup, kepalanya tertunduk tak berani melihat Eddy
"Mmmm.... Kamu sudah tau hubungan Pak Galaksi dengan Bu Rumi?"
" Sudah pak, kemarin ketika saya menjenguk Bu Rumi ke rumah sakit"
Dea hanya bisa menganggukkan kepalanya, tubuhnya gemetaran. Baru kali ini dia bisa berbicara dengan Eddy secara langsung. Menakutkan!
Setelah tiga puluh menit, dokter Reza sudah sampai di kantor Galaksi. Eddy buru-buru meminta Dokter masuk kedalam ruangan.
"Sepertinya istri anda pernah mengalami trauma atas kejadian yang baru saja terjadi. Trauma psikis yang sudah lama tersimpan, namun kambuh setelah apa yang menjadi sumber traumanya kembali muncul. Saya sudah resepkan obat penenang, selama istri anda tidak histeris tidak perlu di berikan obatnya. Lebih baik jika kondisinya setelah siuman nanti coba tanya secara personal tentang kondisi dirinya dan masa lalunya. Saya sarankan istri anda mendapatkan penanganan psikiater untuk pengobatan traumanya,"
Galaksi tidak menyangka jika istrinya memiliki trauma separah itu. Jika sebelumnya Galaksi tau kejadian hari ini akan berakibat buruk untuk Rumi, dia akan memilih mengeksekusi langsung Ratna.
Setelah dokter selesai memberikan penjelasan dan meninggalkan kantornya, Eddy pun masuk untuk mengetahui kondisi Rumi.
"Boss, gimana kondisi Rumi?" tanya Eddy
Galaksi sedang menyangga kepalanya di atas meja, rasa pening tiba -tiba terasa.
__ADS_1
"Rumi punya trauma masa lalu Ed, gara-gara kejadian tadi trauma itu kembali kambuh dan membuat Rumi histeris. Gue harus membuat perhitungan dengan wanita sia-lan. Mulutnya terlalu lancang berani menghina istri gue, gue akan pastikan dia menderita!!!!" geram Galaksi
"Lo tenang aja, gue sudah tempat beberapa orang untuk membuat hidupnya tidak tenang. Gue akan buat wanita itu hidup dalam ketakutan hingga depresi," ucap Eddy tak kalah geram.
"Lohh kok ikut-ikutan marah sih? Jangan bilang Lo suka istri gue hah??? Lo naksir Rumi??" Hardik Galaksi
Galaksi bangkit dari kursinya dan mencengkram kearah baju Eddy. Eddy tak panik, dia justru tersenyum meremehkan.
"Rumi? Siapa yang ga suka sama Rumi. Dia cantik, energik, pintar, dan satu hal lagi senyuman nya bisa membuat orang bersemangat. Termasuk gue, kalo gue suka Rumi memangnya ga boleh?" jawab Eddy dengan songong
Buugh
Galaksi memukul rahang Eddy dengan cukup kuat membuatnya hingga tersungkur dan sudut bibirnya berdarah. Ucapan Eddy membuat emosi Galaksi naik seketika.
"Lo jangan ngelunjak. Jangan pikir lo sahabat gue, lo bisa bertindak sesuka hati. Jangan mentang-mentang lo gue izinkan dekat dengan Rumi lo bisa seenaknya Ed. Gue izinkan lo dekat dengan Rumi untuk menjaganya. Tapi lo malah membuat kepercayaan gue hancur Ed, lo malah ingin merebut istri gue. Baji-ngan lo Junaediii!!!!!" umpat Galaksi dengan emosi yang tak terkendalikan.
"Kapan gue bilang akan merebut istri Lo pak Galaksi? Gue hanya bilang gue suka dengan Rumi apa salah? Bukankah suka itu hak azasi seseorang? Itu naluri gue sebagai lelaki bro, bukan seorang pecundang. Gue bukan lo yang tak pernah bisa menilai hati, lo itu pecundang bahkan isi hati lo sendiri ga tau. Jangan biarkan Rumi hidup sama lo tanpa rasa boss. Cewek juga butuh pernyataan cinta, cewe ga butuh banyak materi, pecundang lo!!!" ucap Eddy dengan tatapan meremehkan.
"Tau apa lo sama kehidupan rumah tangga gue dengan Rumi hah!! Jangan ikut campur!! Breng-sek!!!" teriak Galaksi
Emosi Galaksi semakin menjadi namun Eddy tak berusaha menghindari setiap pukulan yang Galaksi berikan.
Buugh
Buugh
Buugh
Mereka berguling-guling di lantai hingga membuat seisi ruangan berantakan. Akibat mendengar keributan yang terjadi, Rumi akhirnya bangun dari istirahat kemudian keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Matanya terbelalak melihat kondisi ruangan yang kacau balau bak kapal pecah. Belum lagi dia melihat adegan tak biasa antara Galaksi dan Eddy yang saling berguling-guling di lantai.
__ADS_1
"Berhenti... berhenti apa yang kalian lakukan!!!"