Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Akhirnya Terbongkar


__ADS_3

"Ah... beruntungnya gue bisa bertemu dengan Kak Lucas. Ahhh Gi-la ganteng banget sih. Duh pasti malem bakalan kebawa mimpi nih. Pria idaman banget sih, calon suami sempurna," gumam Dea dalam hati.


Sejak pertama kali menginjakkan kaki kampusnya Dea sudah menyukai dan tergila-gila dengan Lucas. Orangnya ramah senyum, tampan, pintar dan yang utamanya adalah memakai kacamata, membuat Dea sangat nge-fans. Menurutnya seorang pria yang memakai kacamata memiliki daya tarik tersendiri.


Lucas masuk kedalam ruang perawatan Rumi sambil membawa beberapa berkas penting untuk Galaksi. Galaksi emang memintanya datang ke rumah sakit karena ada beberapa dokumen yang harus segera di tandatangani.


"Kamu bawa semua dokumen yang saya minta?" tanya Galaksi


"Sudah Pak tapi saya juga bawa beberapa dokumen urgent untuk besok takutnya bapak akan menginap di rumah sakit untuk menjaga Nona Rumi," ucap Lucas dengan lugas. Galaksi sangat menyukai kinerja Lucas yang cekatan dan energik.


Dea kembali tercengang, otaknya yang hanya memiliki kapasitas setara Pentium 2 dipaksa berfikir keras. Ucapan Lucas sangat menganggu pikiran Dea.


"Kak Lucas sudah tau jika Rumi adalah istri pak Galaksi, " tanya Dea dengan sorot mata penuh kesungguhan.


Lucas hanya menganggukkan kepalanya, tanpa senyuman, sikapnya sangat dingin dan cenderung kaku jika dalam mode bekerja. Namun di luar itu dia tetaplah Lucas yang selalu tersenyum ramah.


Dea menatap mata Rumi dengan dalam, sedikit ada rasa kecewa karena hati Dea karena hanya dia saja yang baru mengetahui rahasia Rumi. Tapi dia juga berusaha mengerti, pasti ada alasan kuat mengapa Rumi tidak cerita tentang statusnya.


"Sejak kapan Kak Lucas tau?" tanya Dea, kali ini sorot matanya kosong.


"Sejak dia diinterview dan diterima langsung menjadi sekretaris, bahkan Rumi sendiri yang merekomendasikan dan meyakinkan says untuk menerima Lucas. Ada alasan khusus mengapa Lucas diberitahu perihal hubungan saya dan Rumi," terang Galaksi, dia tau temannya Rumi tengah merasa kecewa


"Maafkan aku Dea, " ucap Rumi sambil menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah karena tidak menceritakan dari awal kepada sahabatnya.


"Lo ga salah Rum, kenapa minta maaf. Dea paham kenapa lo ga cerita dari awal. Yang penting sekarang Dea sudah tau dan tentunya akan menjaga rahasia ini agar keselarasan lo terjaga. Maaf ya, ga seharusnya gue baper," kata Dea dengan sendu.


Galaksi mulai memeriksa dokumen yang di bawa oleh Lucas. Lucas pun, menunggu Galaksi selesai memeriksa dan menandatangani dokumen yang harus selesai hari ini, setelah itu dia akan kembali ke kantor. Berhubung Galaksi sedang di rumah sakit, sementara pekerjaan di handle oleh Eddy.


"Ini dokumen sudah saya periksa ada satu dokumen yang harus direvisi kembali. Tolong kembalikan kepada manager yang bersangkutan. Setelah ini kamu akan langsung ke kantor?" ucap Galaksi sambil memberikan dokumen kepada Lucas.


"Iya Pak, saya akan kekantor sebentar untuk menyimpan dokumen lalu setelah itu saya pulang," jawab Lucas.


"Kak Lucas, maaf bisakah kak Lucas teman Rumi ikut nebeng ke kantor Soalnya ada barang yang tertinggal," pinta Rumi

__ADS_1


Ingin rasanya Dea mencekik Rumi saat ini. Bagaimana bisa temannya itu malah sengaja mendekatkan dirinya dengan Lucas. Dea pun menyenggol lengan Rumi.


"Bisa Nona, nanti bisa bareng ke kantor dengan saya," ucap Lucas.


Nyes


Ahh rasanya hati Dea langsung meleyot saat melihat senyuman Lucas yang menggetarkan hatinya. Apalagi Lucas sama sekali tidak menolak untuk mengantarkannya ke kantor. Padahal tak ada barangnya yang tertinggal, itu semua hanya akal-akalan Rumi. Bahkan jantungnya siap lepas karena saking cepatnya debar.


"Titip teman Rumi ya kak, jangan ngebut-ngebut bawa motornya soalnya dia suka parno kalo motornya ngebut," pesan Rumi.


"Tentu Nona."


Rumi sungguh menyebalkan, dengan sengaja mengerlingkan sebelah matanya. Tangan Dea sudah gatal rasanya ingin mencubit kedua pipi Rumi namun tak bisa dia lakukan karena ada Galaksi di sampingnya. Dia masih ingin bekerja dan mengejar karir, sehingga harus menjaga sikap di depan atasannya.


"Kalau begitu saya pamit Nona, semoga lekas sembuh ya. Pak Galaksi saya mohon pamit untuk kembali ke kantor," ucap Lucas


"Udah sono buruan ikutin Nanti keburu hilang di jalan malah nangis," ledek Rumi.


Dea hanya bisa mengikuti langkah Lucas dibelakangnya. Dia tidak berani jalan disampingnya, aroma parfumnya yang Dea suka bisa membuatnya terhipnotis.


"Ayo naik," ucap Lucas.


Dea hanya berdiri di samping motor Lucas, tanpa naik keatas motor padahal Lucas sudah siap untuk menjalankan motornya.


"Kenapa ga mau naik? Ga terbiasa naik motor butut ya?" tuduh Lucas.


Lucas hanya memakai motor matic, hasil bekerja di sela-sela waktu senggang kuliahnya. Kadang Lucas juga mengajar privat, dari situ dia mampu membeli sebuah motor dengan cash.


Dea yang sedikit melamun tersentak kaget saat mendengar suara Lucas yang sedikit meninggi.


"Maaf kak, maaf. Ta-tapi kalo Dea naik, kakak bisa kena tilang di jalan," jawab Dea sambil menundukkan kepalanya.


Dahi Lucas mengereyit, mengolah perkataan Dea. Sejenak dia akhirnya paham dengan maksud. Sedangkan gugup setengah mati, jantungnya berdetak tak stabil.

__ADS_1


"Maaf, gue lupa," ucap Lucas.


Dia lalu membuka jok motornya dan mengambil helm yang tersimpan di dalamnya. Lalu langsung memakainya kepada Dea.


**Deg**


Deg


Deg


Rasanya jantung Dea berdetak semakin kencang, apalagi jarak mereka begitu dekat. Apalagi aroma parfum membuat Dea begitu terlena.


"Sudah, ayo kita segera berangkat keburu sore jalanan suka macet," ucap Lucas sembari tersenyum.


"I-iya kak, ayo," jawab Dea dengan sejuta rasa gugup.


"Pegangan!!!!"


"Hah, apahhhh!?" Dea sedikit terkejut.


Tak banyak omong lagi, Lucas langsung mengambil kedua tangan Dea dan langsung melingkarkannya di pinggangnya. Dea hanya menurut dan tak banyak berkomentar, terlalu syok dengan perlakuan Lucas. Tanpa Dea sadari, senyuman tipis tersungging di sudut bibir Lukas.


.


.


Di tempat lain, seorang wanita sedang merasa kesal karena rencananya gagal. Padahal dia sudah merencanakan ini sejak lama dan sematang mungkin agar berhasil. Namun semuanya sia-sia saat Rumi di tolong oleh pria yang di sukainya.


"Si-al, si-al, si-al!!! Gagal semua rencana gue!!!! Kenapa harus ada yang nyelametin sih. Kenapa keberuntungan selalu berpihak kepada si Rumi. Aaarrrrgggghh," hardik wanita tersebut


Tangannya mengepal menahan emosi. Sudah lama dia tidak menyukai Rumi bahkan menyimpan kebencian yang sangat dalam. Berkali-kali dia berusaha menyingkirkan Rumi namun tak pernah memiliki kesempatan. Terakhir kali dia menuangkan pembersih lantai agar Rumi terjatuh namun sayangnya justru orang lain yang kena.


"Lo kali ini boleh selamat Rum, tapi nanti gue pastikan lo ma-ti. Hahahahaha,"

__ADS_1


__ADS_2