
Sepanjang malam Kevin menjaga Rumi yang demamnya tak kunjung turun meski telah diberi obat penurun panas dan dikompres dengan air hangat. Kevin begitu khawatir dengan kondisi ini yang terus-terusan mengeluarkan keringat dingin. Kevin takut sakitnya Rumi akan mempengaruhi kondisi janin yang sedang dikandungnya. Dengan sigap Kevin mengganti handuk yang di gunakan untuk mengompres kening Rumi. Tak pernah sekalipun Kevin melakukan hal tersebut pada wanita manapun termasuk mantan tunangannya yang berkhianat.
Saat ini Rumi sedang menikmati hangatnya sinar mentari di pagi hari. Meskipun kondisi tubuhnya masih lemas dan sedikit demam, tetapi tak melunturkan semangat menikmati berkah di pagi hari. Dengan bantuan kursi roda Mbok Darni membantu Rumi menuju taman di samping Villa, Kevin telah memberikan izin agar Rumi keluar dari tamannya.
"Kenapa kau masih keras kepala tidak mau makan?" Tanya Kevin
Tiba-tiba dia muncul dan berdiri disamping Rumi. Sedangkan Rumi hanya menatap nya sekilas dengan enggan lalu kembali melihat pemandangan taman yang lumayan indah.
"Apa kau tidak memikirkan kondisi janin mu, mereka kelaparan. Kau sungguh calon ibu yang buruk!!" ucap Kevin dengan jawaban cukup menohok.
Rumi tak menanggapi, dia muak melihat wajah Kevin yang tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Apapun akan aku kabulkan asal kau mau makan sedikit saja. Setidaknya pikiran kesehatan janin yang ada di kandunganmu. Mereka butuh asupan nutrisi yang baik," ucap Kevin, akhirnya dia menyerah dengan sifat keras kepala Rumi.
"Aku hanya mau makan dari tangan suamiku," ucap Rumi
"Jangan memancing emosiku Rumi. Mintalah yang lain," keluh Kevin.
"Apa kau tak tau yang namanya mengidam. Itu sangat menyiksa!!" seru Rumi
"Tidak.. karena aku belum menikah," jawabnya polos
"Makanya carilah wanita dan menikahlah," pinta Rumi.
"Menikahlah denganku Rumi," ucap Kevin spontan
"Kau gila!!!" Umpat Rumi.
"Ya..aku memang gila. Aku tergila-gila dengan mu Rumi!!! Puas!!!" Teriak Kevin. Nafasnya memburu, rasa kesal bersarang dalam dadanya.
Daripada lama-lama emosi Kevin memutuskan untuk meninggalkan Rumi seorang diri. Akhirnya Rumi bisa kembali tenang setelah kepergian Kevin.
__ADS_1
"Aaaawwwww," pekik Rumi kesakitan.
Tiba-tiba Rumi merasakan sakit di bagian bawah perutnya. Seharian kemarin Rumi sama sekali tidak memasukkan makanan apapun ke perutnya. Ada kekhawatiran pada kondisi janinnya, tapi Rumi percaya anaknya memiliki kondisi yang terbaik.
"Sabar sayang, kangen dengan papa ya? Doakan mama kuat ya nak, mama akan lebih berusaha agar segera bisa bertemu dengan papa," ucapnya sambil mengelus-elus perutnya perlahan, berharap rasa sakitnya hilang.
Setelah hampir satu jam berdiam diri di luar villa, Rumi meminta tolong ke mbok Darni untuk kembali ke kamarnya. Tubuhnya masih terasa lemas, kepalanya pun berdenyut saat Rumi mencoba untuk berdiri.
Rumi memutuskan untuk berbaring di ranjangnya berharap kondisinya segera membaik. Meskipun makanan yang disiapkan begitu menggugah selera tapi Rumi sama sekali tak berminat untuk memakannya. Rumi hanya meminum susu ibu hamil dan air mineral yang disediakan.
"Mbok, apa Rumi mau makan??" tanya Kevin diluar kamar Rumi
Mbok Darni menggelengkan kepalanya, dia sama sekali tidak bisa membujuknya untuk mau makan meskipun hanya beberapa sendok saja.
"Kenapa wanita tersebut keras kepala sekali. Apa dia tidak memikirkan kesehatannya??" gerutu Kevin.
"Maaf Tuan Muda, apa ga sebaiknya Non Rumi dikembalikan kepada suaminya. Kondisinya sudah sangat lemah Tuan. Saya takut terjadi apa-apa dengan kandungannya. Apalagi sejak datang kesini Non Rumi sama sekali nggak mau makan," ungkap mbok Darni.
"Mbok harap kelak Tuan Muda tidak menyesal," ucap mbok Darni sambil berlalu meninggalkan Kevin yang masih berdiri di depan pintu kamar Rumi.
Kevin menatap nanar kearah pintu kamar. Ingin rasanya menerobos masuk dan berbicara empat mata dengan Rumi. Tapi sudah pasti jawabannya Rumi tidak akan mau berbicara dengannya, Rumi pasti akan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Andai kita bertemu terlebih dahulu sebelum kamu bertemu dengan suamimu itu tentu kamu sudah menjadi ratu di istanaku ini. Dan tentunya anak yang sedang kamu kandung saat ini adalah benih yang berasal dariku."
*
*
*
Galaksi, Bara dan Andromeda beserta beberapa anak buah yang terbaik sedang fokus memeriksa sebuah penelusuran CCTV yang berhasil Bara retas. Kemampuan Bara dalam hal retas- meretas apapun sudah tidak di ragukan lagi, baginya seperti menyusun sebuah mainan puzzle yang sering di mainkan.
__ADS_1
Mereka mendapatkan beberapa petunjuk tentang keberadaan Rumi. Dari CCTV yang di retas ada video mobil yang digunakan oleh penculik melewati sebuah jalanan. Bara meretas beberapa CCTV pribadi yang terpasang di pinggir jalan, seperti yang terpasang di toko besar, rumah pribadi atau kantor kantor lokal.
"Lokasi terakhir mobil yang telah membawa Rumi terlihat di daerah Kebungsu Bogor. Kemungkinan Kevin membawa Rumi ke salah satu Vila miliknya yang berada di Bogor," ucap Bara.
"Bagaimana mungkin Om Bara bisa memiliki pemikiran kesana Om??" tanya Galaksi
"Karena om berhasil mendapatkan data -data tentang kepemilikan aset yang Kevin miliki, baik atas namanya pribadi ataupun atas nama almarhum ayahnya," terang Bara.
Ada binar kebahagiaan yang terpancar dari dua sorot mata Galaksi. Ada titik terang tentang keberadaan Rumi. Secepatnya Galaksi harus segara mempersiapkan diri untuk menjemput Rumi.
"BINGO!!!!" Teriak beberapa anak buah di bagian belakang.
"Kita berhasil Tuan!!!" pekik salah satu anak buah Bara.
Mendengar keributan Galaksi, Andromeda dan Bara segera menghampiri anak buah mereka. Beberapa anak buah ada yang saling berpelukan merayakan keberhasilan.
"Kenapa kalian ribut-ribut begini?? Apa yang berhasil ?" Tanya Bara penasaran.
" Itu Tuan Bara, Virus yang kita disisipkan di beberapa titik akses berhasil menyusul masuk ke titik poin mereka. Sekarang virus tersebut sudah berhasil meretas beberapa data. Saat ini pasti mereka sedang mengalami kekacauan sistem keamanan, bahkan beberapa data yang bocor bisa di akses oleh siapa saja," terang Fadli.
Bara menyunggingkan senyumannya, Fadli memang tak pernah mengecewakannya, dia adalah tangan emas yang ditemukan secara tidak sengaja. Saat ini Fadli sudah menjadi menantu Bara, setelah menikah satu-satunya anak perempuan nya.
"Kau memang kebanggaanku Fadli. Sudah lah, tak usah bersikap formal dengan ayah mertuamu ini. Bukankah semua sudah mengetahui status mu itu??" Ucap Bara sambil merangkul Fadli dengan bangga.
Fadli hanya tersenyum kikuk, meski sering mendapatkan pujian atas kerjanya yang baik tetap saja merasa canggung dengan mertuanya itu.
"Okey baiklah, atas kerja keras kita ini. Setelah ini kita makan sepuasnya di restoran. Kita rayakan keberhasilan ini!!!" Ucap Andromeda.
"Maaf kakak sayang, aku tidak bisa ikut pesta kalian, tapi aku yang akan membayar seluruh biaya tagihannya. Aku harus segara menjemput istri kesayanganku. Tentunya dia sudah menanti kedatangan ku untuk menjemputnya pulang dan memberikan hadiah kejutan kepada sang penculik," ucap Galaksi.
"Aku ikut!!!" Ucap Bara dan Andromeda kompak.
__ADS_1