
Setelah beristirahat selama dua jam Rumi merasa tubuhnya lebih enakan, kepalanya pun sudah tidak merasakan pusing. Ternyata obat yang diberikan oleh Galaksi manjur juga. Rumi pun memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Namun saat keluar dari ruang pribadi, Rumi melihat Galaksi tengah serius memeriksa beberapa dokumen. Rumi agak segan untuk berbicara takut mengganggu konsentrasi Galaksi.
Sebenarnya Galaksi tahu jika Rumi sedang berdiri dibelakangnya hanya saja Galaksi menunggu Rumi mengeluarkan suaranya. Kebetulan dia juga ingin meminta pendapat Rumi tentang perekrutan calon sekertarisnya yang baru.
"Ehemm!!" Galaksi mencoba memancing Rumi yang masih sibuk memainkan jari jemarinya.
"Tu-tuan maaf mengganggu," ucap Runi dengan ragu.
"Ehh Rum sudah bangun ternyata, gimana sudah enakan?" tanya Galaksi basa basi.
"Iya sudah Tuan, terima kasih sudah mengizinkan aku untuk istirahat sebentar. Aku izin kembali untuk mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda ya tuan," pinta Rumi.
Galaksi memberikan kode agar Rumi duduk disofa yang ada di ruangnya.
"Rum, maaf boleh aku minta tolong buatkan kopi seperti biasa? Rasanya kepala ini cukup pening melihat berkas -berkas yang tiada habisnya. Sebentar lagi juga sudah masuk jam makan siang, sebaiknya kamu disini dulu saya sudah pesan makan siang," ungkap Galaksi.
Sebenarnya hanya akal-akalan dia saja agar bisa berlama -lama dengan Rumi. Rumi pun izin ke pantry untuk membuat kopi untuk Galaksi.
Untung saja tak banyak orang di pantry sehingga Rumi leluasa untuk membuat kopi tanpa harus berbasa-basi.
"Rumi, lo disini???" Pekik Dea kegirangan.
Semenjak Rumi pindah bagian, mereka jarang ketemu karena kesibukan Rumi bekerja di lapangan.
"Ahhh Dea, kangen deh gue. Kita sekantor tapi kayak kerja beda negara aja, jarang ketemu. Uuuhhh kangen banget," ucap Rumi sambil memeluk tubuh temannya.
"Ehh gimana Rum, enak kerja di bagian pemasaran? Apalagi sekarang kamu sudah jadi team leader, keren banget sih kamu," puji Dea
"Lumayan enak, tapi lumayan cape. Oh iya bulan depan ada rekrutmen untuk staf pemasaran yang baru, lo ikutan kan?" tanya Rumi penasaran.
__ADS_1
Besar harapannya Des ikut dsn berharap berhasil lolos. Rumi merasa kesepian di posisinya yang baru karena belum ada rekan kerja yang seakrab dengan Dea.
"Tentu dong kesempatan seperti itu ga boleh sampai dilewatkan. Oh iya, kamu ngapain ke sini," tanya Dea
"Ini gue disuruh bikin kopi sama Tuan Gala. Maaf ya ga bisa lama-lama ngobrolnya soalnya takut Tuan nungguin. Nanti bahaya kalo ngamuk bisa mirip dengan singa lapar," jawab Rumi jujur.
"Hussh ga boleh ngomong gitu, nanti beliau denger lo dipecat. Dah sonoh-sonoh anterin tu kopi sebelum dingin," ucap Dea sambil mendorong -dorong tubuh Rumi keluar dari pantri.
.
.
Pikiran mumet dan pening dikepala Galaksi langsung menguap begitu saja setelah meminum sedikit kopi buatan Rumi. Rumi masih berdiam diri melihat Galaksi yang sangat maco jika sedang mode serius.
"Rum," panggil Galaksi
"Ya"
Galaksi memberi CV ketiga orang tersebut kepada Rumi. Rumi mulai membaca setiap CV dengan seksama, keningnya berkerumun saat menyadari jika semua kandidat seorag pria.
"Ini semua nya laki-laki Tuan?" tanya Rumi memastikan, Galaksi menganggukkan kepalanya.
"Kenapa?" ucap Galaksi sambil melepaskan kacamata
"Apa ga ada yang perempuan yang melamar?" Tanya Rumi heran.
Galaksi berdiri dari duduknya kemudian berdiri tepat dihadapan Rumi. Kepalanya dicondongkan mendekati wajah Rumi, mendadak udara disekitar mereka menjadi sedikit lebih panas.
"Belajar dari pengalaman 29 orang sekertaris yang pernah bekerja di sini, mereka semuanya seorang penggoda. Apa kamu ingin sekertaris yang ke 30 nantinya menggoda suamimu yang begitu mempesona ini hah??"ucap Galaksi tepat di hadapan wajah Rumi.
Deg
__ADS_1
Deg
Deg
Rumi memalingkan wajahnya, tak sanggup rasanya jika berlama-lama memandang wajah Galaksi yang tampan. Galaksi tersenyum lebar saat melihat wajah Rumi yang semerah tomat.
"Sudahlah tak usah di pikirkan, aku bukan pria gampangan yang akan tergoda dengan wanita murah-an. Hanya saja aku berusaha mencegah hal buruk. Bukankah itu lebih baik," terang Galaksi.
Tangan sebelahnya kanan mengacak-ngacak rambut Rumi, membuat Rumi semakin salah tingkah.
Rumi pun membuang pandangannya kesembarang arah. Bahkan dia lupa untuk memeriksa CV yang tengah dia pegang.
.
.
Hari ini kebetulan Rumi ada jadwal kuliah, minggu kemarin sudah libur sehingga minggu ini tak mungkin tidak masuk kuliah lagi. Galaksi sebenarnya sudah meminta Rumi agar mengambil cuti saja, tetapi Rumi ingin cepas lulus dan menyandang status sebagai sarjana memenuhi keinginan sang almarhum ayahnya.
Seperti biasa Rumi diantar Galaksi ke kampusnya, agar tak menciptakan kehebohan kembali Galaksi mengganti mobilnya dengan merek biasa.
Dengan semangat Rumi melangkah menuju kelasnya kali ini. Untung saja minggu lalu tak ada kuis atau ujian sehingga Rumi tak perlu menghubungi Dosen untuk melakukan test susulan.
Setelah lama menunggu, akhir-nya dia bisa tersenyum bahagia saat orang yang telah lama dia cari akhirnya ketemu juga. Tak ingin membuang kesempatan yang sangat langka, dia berlari menerobos kumpulan mahasiswa yang sedang berdiri di lorong koridor.
"Rum.. rumi... Tunggu...," Panggilnya dengan semangat.
Sudah lima tahun dia menyimpan rasa bersalahnya dan ingin memperbaiki kesalahannya yang pernah dia buat di masa lalu. Membuang cinta tulus seseorang hanya karena tak ingin dipandang rendah oleh teman- temannya.
Mendengar seseorang memanggil namanya Rumi membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Hai Rumi, akhirnya kita bertemu kembali," ucapnya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Ka-kamu???"