Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Kevin Mendatangi Perusahaan Galaksi


__ADS_3

Dengan langkah gontai, Eddy berjalan menuju tempat bekerja. Tak ada semangat dan gairah hidup yang saat ini Eddy rasakan. Kantung matanya sangat jelas terlihat karena seharian kemarin tidak tidur sama sekali.


Kepergian Imelda membuat Eddy sangat kacau, bukan hal yang mudah kehilangan untuk kedua kalinya. Saat Eddy merasa sedang dipuncak kebahagiaan tetapi didorong kedalam jurang yang tak bertepi.


Beberapa karyawan melihat Eddy dengan tatapan aneh, penampilannya sangat berantakan. Rambut berantakan, muka lepek, kemeja kusut seperti tidak di setrikaan, warna dasi bertabrakan.


Bisa saja Eddy membolos kerja tetapi dia tidak mau dianggap tidak profesional kerenae campur adukkan kepentingannya pribadi.


"Pa Eddy, lemas amat. Masih pagi loh," sapa Lucas.


Eddy hanya melirik sekilas, malas menjawab pertanyaan Lucas.


"Masih pagi jangan melamun, nanti kesambet ayam mati," ujar Lucas bercanda.


Lagi-lagi Eddy hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Pada akhirnya Lucas meninggal Eddy sendiri dan berjalan menuju meja kerjanya.


Tak berselang lama, Galaksi tiba di depan ruang kerjanya. Sebelum masuk kedalam ruangan, matanya sempat melirik ke arah Eddy yang melamun dengan pandangan kosong.


Galaksi bertanya kepada Lucas melalui sebuah kode dan Lucas menggelengkan kepalanya. Tak mau ambil pusing, Galaksi membiarkan Eddy sementara dan masuk ke ruangan kerjanya.


*


*


Dengan langkah tegap dan percaya diri, Kevin turun dari mobil Buggati miliknya. Matanya memindai kondisi sekeliling di perusahaan milik Galaksi. Ada urusan tertentu yang membuat Kevin harus berkunjung ke perusahaan milik Galaksi.


"Gimana penampilan saya sudah okey? Wajah saya sudah tampan kan?" tanya Kevin kepada Nando sang asisten.


"Sudah Tuan Muda," ucapnya


"Tapi sayang jomblo ngenes," lanjutnya dalam hati.

__ADS_1


Begitu masuk ke lobby perusahaan, Kevin langsung disambut oleh resepsionis. Siapa yang tidak mengetahui diri Kevin, Tuan Muda keluarga Bathara pebisnis nomor satu di Indonesia.


"Selamat pagi Tuan Muda , ada yang bisa kami bantu?" Ucap Resepsionis dengan ramah.


Suatu keberuntungan bisa bertatapan muka dengan Tuan Muda Kevin, seorang pria lajang, tampan dan sukses.


Kevin melepas kacamata yang dia gunakan. Matanya tak lepas melihat dan memeriksa setiap bagian lobby. Dia mulai membandingkan suasana perusahaan milik Galaksi dengan miliknya.


"Saya ingin bertemu dengan Galaksi. Katakan saja, Tuan Muda Kevin sudah menyempatkan waktunya yang sibuk untuk datang ke perusahaannya ini, " ucap Kevin dengan angkuh.


"Maaf sebelum Tuan Muda, apakah sudah membuat janji dengan Pak Galaksi karena kebetulan saat ini beliau sedang ada meeting online dengan pihak kementrian pekerjaan umum dan perumahan rakyat hingga pukul sepuluh," jawab Resepsionis memberikan penjelasan.


"Apa hal itu lebih penting dari pada saya, apa dia tidak tau seberapa penting diri saya hahh!!! Orang lain sampai membuat agenda hingga beberapa bulan sebelum hanya untuk bertemu dengan saya. Ini saya sudah menyempatkan waktu datang kesini tapi yang akan di temui merasa dirinya paling penting begitu?" ucap Kevin dengan angkuh, dirinya tidak suka jika disuruh menunggu.


"Maaf sekali Tuan Muda, maaf beribu-ribu maaf. Tetapi pak Galaksi memang sedang ada meeting dan tidak bisa diganggu. Kedatangan Tuan Muda secara mendadak tentunya tidak bisa mengganggu jadwal pak Galaksi yang sudah tersusun. Pak Galaksi sangat profesional Tuan Muda, jadi tidak bisa membatalkan janji yang sudah di rencanakan."


"Cihhh ,baru segitu saja sombong!!! Cepat panggilkan Galaksi sekarang juga, katakan Tuan Muda Kevin datang. Jika tidak maka perusahaan ini akan saya buat bangkrut," hardik Kevin.


Dia bahkan sudah membatalkan beberapa pertemuan dengan investor dan rekan kerja sama bisnisnya hanya untuk bertemu dengan Galaksi tetapi justru yang di ajak bertemu tidak bisa temui.


Salah satu Resepsionis menelepon Rumi jika ada Kevin yang memaksa ingin bertemu dengan Galaksi. Mendapatkan kabar seperti itu, Rumi langsung turun tangan dan akan membuat perhitungan dengan Kevin.


Kevin menoleh, raut wajahnya seketika menjadi tegang. Melihat muka Rumi yang terlihat galak membuat Kevin tak berkutik. Sikapnya yang semula sombong dan angkuh langsung memasang wajah berseri.


"Oh, ternyata dia juga mempekerjakan istrinya. Ckckckckckc, udah tau istri lagi hamil malah di suruh bekerja. Dia sebenarnya sayang atau tidak sih!!!" sahut Kevin.


Rumi mengangkat sebelah alisnya, memindai penampilan Kevin dari bawah sepatu hingga ujung rambut. Lebay!!!


"Apa urusan rumah tangga orang lain juga di urusin oleh Tuan Muda seperti mu hah!!! Saya rasa bukan hal yang pantas untuk dikonsumsi oleh orang seperti anda. Bahkan anda lebih kepo dibandingkan dengan wartawan," sindir Rumi.


Ingin rasanya Kevin mengelus dadanya sekedar memberikan tambahan rasa sabar. Baru kali ini dia berhadapan dengan seorang wanita yang ketus dan jutek seperti Rumi. Bahkan tak ada sinyal-sinyal apapun yang menandakan jika Rumi tertarik atau terpesona dengan dirinya.

__ADS_1


Padahal wanita lain akan berebut dan mencari muka didepannya dan berupaya untuk menarik perhatiannya. Tapi Rumi berbeda membuat dirinya penasaran. Istilahnya istri orang lebih menggoda.


"Hei tidak bisakah anda bersikap lebih ramah dengan tamu? Anda bahkan memasang wajah jutek dan galaknya seakan-akan anda membenci saya. Apa anda tidak tau siapa saya? Apa perlu saya memperkenalkan diri kembali?" ucapnya dengan pede


Rumi menghela napas panjang, malas sekali rasanya berhadapan dengan manusia model seperti Kevin. Rumi memutar kedua bola matanya dengan malas, mulai menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Kevin.


"Wahai Tuan Muda Kevin yang terhormat, yang katanya ganteng, tampan dan sukses. Yang mampu mempesona setiap wanita yang melihatnya. Tapi sayangnya aku tidak!!!" ucao Rumi dengan santai. Dia memainkan kuku-kuku yang baru saja di potong oleh Galaksi sebelum berangkat bekerja.


Kevin mulai geram, ternyata tak mudah beradu mulut dengan Rumi. Pesona tak mampu membuat Rumi melembut justru semakin beringas dan galak.


Resepsionis yang mendengar Rumi yang beradu mulu hanya diam mengamati. Walaupun sebenarnya dia membenarkan ucapan Kevin jika wanita manapun pasti akan terpesona dengan ketampanannya.


"Sombong sekali anda Nona, jangan sampai ucapan anda berbalik. Anda akan tergila-gila dengan saya Nona, aku jamin itu. Hahahahah," seru Kevin mulai sombong kembali


Rumi memijit ruang diantara alisnya. Dia mendengus dan ingin sekali memukul mulut sombongnya hingga salah satu atau salah dua giginya rontok.


"Kau yakin Tuan Muda dengan ucapan Anda??" tanya Rumi, tangannya sesekali mengusap perutnya yang sedikit membuncit.


"Sure," jawabnya penuh keyakinan.


Rumi perlahan berjalan mendekati Kevin, senyuman tersungging di bibirnya yang mungil. Justru Kevin yang mulai terpedaya dengan pesona Rumi. Kehamilan membuat aura kecantikan Rumi keluar.


Deg


Deg


Deg


Jarak mereka begitu dekat saat ini hingga parfum pakaian Rumi tercium oleh indra penciuman Kevin. Seakan dibuat mabuk, Kevin mulai terpedaya. Detak jantungnya mulai meningkat, berdebar -debar tanpa ritme yang beraturan. Bahkan jika seseorang menempelkan telinganya di dada Kevin dapat dengan jelas mendengar suara jantungnya yang dag dig dug.


Rumi perlahan mulai mendekat, melancarkan aksinya saat ini juga.

__ADS_1


"Sayang sekali Tuan Muda, anda terlalu percaya diri. Anda begitu elegan dan mempesona. Daya tarik dan daya pikat anda sangat menawan pasti akan membuat para Wanita begitu memuja anda. Limpahan harta, sukses di usia muda, pebisnis yang handal, kehidupan yang terjamin. Tapi sayang sekali sebagai pria terhormat anda sama sekali tidak memiliki harga diri. Apa tidak punya harga diri kah sehingga anda perlu berepot-repot diri merebut wanita yang sudah bersuami?"


Deg


__ADS_2