
Pikiran yang kalut dan kacau membuat Rumi seolah hilang arah. Apalagi setelah mendapatkan kabar jika Galaksi tengah pergi bersama cinta pertamanya membuat Rumi semakin gusar.
Dibukanya aplikasi hijau untuk memesan ojek online bermaksud untuk pulang. Baru kali ini Rumi pulang kerja sendiri setelah lima bulan terbiasa pulang bersama Galaksi. Tak pernah sekalipun Galaksi absen atau lupa mengantarkan Rumi pulang dengan selamat. Sesibuk apapun Galaksi selalu menyempatkan diri untuk menjemput istrinya.
Tetapi hari ini sudah berbeda, posisinya bahkan tersisih setelah cinta pertamanya itu hadir kembali. Walaupun Galaksi pernah berikrar tak akan berpisah dengan Rumi namun tak ada yang menjamin hati manusia jika sudah berhadapan dengan cinta pertama. Apalagi mereka menikah tanpa adanya cinta sama sekali, berusaha hidup berdua dengan nyaman. Tapi tanpa cinta tak ada yang bisa mengikatnya untuk selalu ada di sampingnya.
"Sekali babu tetap selamanya babu, tak akan pernah berubah menjadi Ratu," gumam Rumi dalam diri.
Niatnya memesan ojek online di urungkan, rasanya tak ingin kembali ke apartemen untuk saat ini. Sadar dirinya siapa dan ingat rasanya pernah di buang saat tidak dibutuhkan lagi membuat Rumi berpikir untuk sekalian saja pergi.
Kakinya menyusuri jalanan saat kondisi hampir malam. Apalagi langit nampak tak bersahabat, angin yang berhembus begitu dingin pertanda akan turun hujan malam ini. Tanpa tujuan yang jelas, Rumi terus berjalan tanpa arah hanya mengikuti instingnya untuk pergi menjauh.
Di sebuah halte kini Rumi tengah beristirahat, setelah berjalan selama satu jam. Tak ada rasa lelah yang dia rasakan, hanya hampa yang kini melingkupi relung hatinya. Sekilas teringat sosok Galaksi yang selaku tersenyum saat Rumi masuk kedalam mobil. Tak sadarkan hingga handphonenya kehabisan daya.
"Yah, mati," ucap Rumi begitu sendu.
Brummm
Brummm
Brummm
Deru suara knalpot motor yang sangat memekakkan telinga melintas dihadapannya. Sang pemilik melepaskan helm nya dan mematikan mesin motornya. Dihampirinya seorang wanita yang sangat dia rindukan hingga saat ini.
"Hai Rum, ngapain lo disini? Suami lo mana? Pasti sedang selingkuh ya?" ujar Satya
Rumi memandang sekilas wajah Satya yang selalu membuatnya muak. Ditambah hatinya sedang tidak baik-baik saja membuatnya ingin mencekik lelaki di hadapannya hingga ma-ti.
"Bukan urusan lo!!!" ucap Rumi
"Gue tau lo pasti sedang kecewa ya, saat tau suaminya selingkuh dengan wanita yang lebih bohay. Berpelukan di tempat umum tanpa rasa malu sama sekali, cih lelaki murahan!!!" umpat Satya
Rumi mengerenyitkan dahinya saat mendengar ucapan Satya. Teringat saat beberapa jam yang lalu ada sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal mengirimi poto Galaksi yang berpelukan dengan Lusiana.
"Jadi lo yang kirim foto ga jelas itu?" tuduh Rumi.
"Emang lo pikir siapa??" jawab Satya sambil mengangkat salah satu alisnya.
Satya sudah tahu Rumi adalah istri dari Galaksi, anak Rakasetya pemilik kerajaan bisnis. Satya tak berani gegabah untuk mengusik keluarga Rahadian, dia tak ingin perusahaan ayahnya yang sedang berusaha dia bangkitkan harus hancur akibatnya tangan dingin keluarga Rahadian. Maka dari itu Satya memilih untuk menghasut Rumi untuk meninggalkannya Galaksi.
Rumi terdiam sejenak, dipandanginya wajah lelaki dihadapannya. Ternyata bukan hal mudah untuk membuat Satya pergi meninggalkannya. Padahal dia sudah tahu siapa suami Rumi tetapi justru semakin nekat. Dengan senyuman yang menyeringai, Rumi mengulasnya untuk Satya.
"Lo pikir suami gue semurah itu tergoda dengan nenek sihir macam dia? Suami gue memang tampan tentu banyak wanita yang mengejar -ngejar dia tapi sayangnya suami ku setia padaku. Wanita itu bahkan ga ada apa-apa dibandingkan gue, sekali gue sentuh pasti mental," kekeh Rumi.
Satya mengepal tangannya, ternyata Rumi tak terpengaruh dengan foto tersebut. Upayanya untuk membuat Rumi marah terhadap suaminya ternyata gagal.
Rumi mengulas senyum didepan Satya, padahal dalam hatinya sangat getir dimana suaminya kini tengah bersenang-senang dengan wanita lain, cinta pertamanya. Begitu juga Rumi sedang bersama lelaki yang menjadi cinta pertama tetapi juga cinta yang membuatnya terluka begitu dalam.
"Sebaiknya lo pergi sebelum gue hajar!!!" ucap Rumi begitu tegas.
Satya yang tahu siapa Rumi tak ingin membuat masalah apalagi beradu fisik dengannya. Satya memilih meninggalkan Rumi seorang diri.
Hujan deras mulai membasahi bumi saat itu juga seakan menemani Rumi yang mulai menetes air matanya. Kembali merasakan bagaimana rasanya dibuang, membuat luka yang sempat sembuh kini kembali terbuka.
Tak ada tujuan yang jelas, Rumi menyetop sebuah taksi menuju tempat yang kini ada di pikirannya saat ini.
*
*
Di tengah hujan deras yang tak berhenti Galaksi terus menyusuri jalanan kota melihat di sepanjang jalan mencari keberadaan Rumi. Tersisa penyesalan dalam hatinya saat dirimu melupakan sosok istrinya saat bersama Imelda. Jika bukan karena Eddy yang memohon untuk menuruti semua keinginan Imelda mungkin Rumi tak akan hilang seperti ini.
__ADS_1
Galaksi teringat jika dirinya dan Rumi terhubung dengan sebuah aplikasi yang bisa mengetahui keberadaan satu sama lain. Lantas Galaksi pun segera membukanya dan melihat dimana lokasi Rumi berada.
"Tempat ini kan di depan sana," gumamnya
Galaksi kembali melajukan mobilnya ketempat yang ditunjukkan oleh aplikasi tersebut. Ternyata setelah tiba disana, tak ada lagi jejak Rumi. Itu merupakan posisi Rumi terakhir sebelum handphone miliknya mati kehabisan daya.
"Rum, kamu dimana?" gumamnya dalam hati.
Lelah, jelas. Sejak pagi Galaksi sama sekali belum istirahat apalagi dia belum sempat makan malam. Fokusnya saat ini hanya ingin menemukan Rumi secepatnya. Galaksi merenung, sesalnya tak mengutamakan istrinya. Saat ini dia sudah pasrah dan mengikuti kata hatinya untuk mencari keberadaan Rumi.
"Tuhan, mohon bimbing aku untuk mencari istriku. Maafkan diriku yang tak menyadari jika aku mencintainya. Aku mencintai istriku, berikan aku kesempatan untuk mengutarakannya," doa Galaksi dalam hati.
Mobilnya melaju tak menentu, hanya mengikuti hatinya melintasi jalanan yang tampak asing baginya. Hingga akhirnya dia berhenti di sebuah tempat yang belum pernah dia kunjungi.
"Danau," gumamnya.
Sesaat Galaksi ragu jika istrinya berada di tempat ini, apalagi sudah terlalu malam untuk berada di tempat tersebut. Namun kakinya tak sengaja melangkah masuk dan berjalan menuju tepian danau. Hingga netranya melihat sosok wanita yang tengah duduk di pinggir danau.
"Rumi," ucapnya dengan lirih.
"Rumi!!!" teriaknya dengan kencang.
Rumi yang sedang merenung dengan kehidupannya mendengar suara yang sangat tak asing. Matanya celingak-celinguk mencari keberadaan orang tersebut. Seseorang berlari menghampirinya dan langsung memeluk tubuhnya. Kehangatan langsung menjalar di sekujur tubuhnya saat dirinya kedinginan terkena angin malam.
"Rum, ini kamu kan?? Aku mencarimu kemana-mana. Kenapa tak langsung pulang?? Aku mengkhawatirkan mu Rum," ucap Galaksi begitu sendu.
Didekapnya tubuh Rumi dengan sangat erat seolah tak ingin kembali kehilangannya walaupun untuk sedetik.
"Tu-tuan suami, Tu-tuan itu kamu?" ucap Rumi tak percaya dengan kehadiran suaminya di sampingnya saat ini.
"Tuan kenapa bisa sampai di sini?" tanya Rumi keheranan.
"Kenapa Tuan mencari ku? Bukan kah sudah ada wanita yang Tuan cintai?"
Galaksi melepaskan pelukannya, sesaat mencerna maksud perkataannya Rumi. Tangan Rumi terulur menyentuh dan mengusap wajah Galaksi, menghapus bekas jejak air mata.
"Tuan menangis?"
Galaksi menganggukkan kepalanya.
"Taukah kamu Rum, aku sangat kehilanganmu. Jika bukan karena Eddy, rasanya ingin ku tendang Imelda sejauh mungkin?"
Rumi mengangkat sebelah alisnya, merasa aneh dengan ucapan suaminya.
"Di tendang? Bagaimana mungkin? Bukannya dia cinta pertamanya Tuan?" ucap Rumi membuat Galaksi tertawa.
"Kamu percaya??"
"Heeemmmm, semuanya terlihat jelas Tuan. Apalagi Tuan hanya diam saja saat dia memelukmu. Bahkan tadi saja menghabiskan waktu hingga lupa memberikan kabar untukku," ucap Rumi sendu.
Galaksi menangkup kedua pipi Rumi yang bertambah chubby, lalu membubuhkan sebuah kecupan tepat di bibirnya.
"Apa yang kamu liat belum tentu seperti kenyataannya. Imelda memang sahabatku tapi bukan cinta pertamaku. Aku tidak pernah merasakan jatuh cinta dengan wanita manapun bahkan hingga menikah saat itu. Dulu aku tak menyukai wanita karena mereka menyebalkan hanya mengganggu waktuku saja. Saat itu aku hanya ingin sukses di usia muda seperti ayahku. Sama seperti kakakku Andra, kita tak pernah mengenal cinta di usia remaja," terang Galaksi.
Mata Rumi bergerak -gerak mencari kebohongan di mata Galaksi. Namun raut wajah Galaksi menunjukan keseriusannya dan semua yang di ucapkan olehnya adalah benar.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu tapi kamu wajib percaya dan meyakini nya dalam hatimu. Selalu menyimpannya dalam hati dan pikiranmu," ucap Galaksi sambil memandang lekat kedua mata Rumi.
Galaksi menghirup udara disekitarnya dalam-dalam, meyakinkan diri jika yang akan dia katakan untuk saat ini dan selamanya. Dia juga tak ingin Rumi kembali pergi dan menghilang tanpa izin darinya.
"Rumi, aku mencintaimu," ucap Galaksi.
__ADS_1
Deg
Rumi mengerejap, berusaha kembali mencerna ucapan Galaksi yang tiba-tiba. Bukannya Rumi tak percaya tapi itu hal yang paling mustahil menurutnya.
"Rumi istriku, aku Galaksi putra Rahadian mencintaimu dan kamulah cinta pertamaku Rum. Kamu yang sudah membuat jantung ini berdebar -debar setiap detik. Beberapa jam kehilanganmu membuatku menyadari betapa pentingnya arti hadirmu dalam hidupku," ucap Galaksi dengan sungguh-sungguh.
"Apa kamu juga mencintai ku Rum?" tanya Galaksi dengan ragu.
Rumi memejamkan matanya berharap ini bukanlah mimpi semata. Tangannya terulur meraba wajah tampan dihadapan, tak ingin mencubit pipinya takutnya ini memang nyata dan menyakiti Galaksi. Tapi jika ini hanya mimpi Rumi tak berharap untuk segera bangun, dia juga ingin merasakannya kebahagiaan Walaupun hanya dalam mimpi.
"Hei, kok menangis sayang?" ucap Galaksi sambil menghapus airmata.
"Aku ingin pulang Tuan, bolehkah?" tanya Rumi.
Galaksi mendesah, Rumi tak menjawab pernyataan cintanya. Tapi Galaksi tak kecewa mungkin Rumi membutuhkan waktu untuk menjawabnya apalagi hal tersebut sangat tiba-tiba bagi Rumi.
"Tentu boleh istriku, itu kan rumahmu juga. Lagi pula ini sudah sangat malam, aku tak ingin kamu jatuh sakit,"
Galaksi bangun dan mengukur tangannya untuk mengajak Rumi pulang. Mereka bahkan tak menyadari jika mereka hanya berdua di sisi danau.
"Gendong boleh," pinta Rumi malu-malu.
Galaksi tersenyum, " As you wish my wife," ucap Galaksi begitu lembut.
Setengah jam mereka sudah sampai di apartemen miliknya. Tubuh lelah mereka hempaskan di sofa empuk yang berada di ruang tengah.
Krucuk krucuk
Terdengar suara lucknut yang berasal dari perut Rumi, sungguh malu di buatnya.
"Sayang, kamu belum makan?" ucap Galaksi, sapaan nya terdengar sangat lembut.
Rumi menggelengkan kepalanya sambil menundukkan kepalanya, malu rasanya ketahuan lapar.
"Maaf ya, sudah membuatmu kelaparan seperti ini. Sebenarnya aku juga sudah lapar sejak sore tapi karena harus mencarimu terlebih dahulu aku melupakannya," ucap Galaksi sambil membelai wajah Rumi.
Rumi menegakkan kepalanya
"Tu-tuan lapar? Biar aku siapkan makan terlebih dahulu ya," ucapnya
Galaksi mencekal tangan Rumi saat hendak pergi ke dapur.
"Biar aku yang siapkan, kamu mau makan apa? Mungkin yang cepat saja ya, karena sudah malam kamu juga perlu istirahat," ucap Galaksi dengan lembut.
"Mmmmmm mie instan boleh? Pake cengek 2," pintanya malu-malu.
"Good choice! Aku siapkan dulu ya, jangan dulu tidur okey," Rumi menganggukkan kepalanya dengan senang.
"Aku yang siapkan minumnya ya," ucap Rumi.
Lima belas menit berlalu dan kini sudah tersaji mie instan spesial buatan Galaksi. Dengan lahap Rumi menyantapnya bahkan di tambah nasi, untung aja masih ada sisa nasi tadi pagi. Akhir-akhir ini Rumi merasa porsi makannya semakin banyak. Galaksi tersenyum bahagia melihat istrinya makan dengan lahap.
Sekarang mereka berdua sudah berada di kamarnya, terbaring bersama diatas ranjang. Tak lupa sebuah kecupan di kening Rumi agar dapat bermimpi indah. Tak lama sebuah dengkuran halus terdengar pertanda jika Galaksi sudah tertidur. Sedangkan Rumi masih terjaga, masih mengira jika yang terjadi hanyalah mimpi. Matanya dengan lekat memandang wajah Galaksi yang begitu tampan, betapa beruntungnya dirinya menjadi istri seorang Galaksi.
"Aku juga mencintaimu suamiku," ucap Rumi sesaat sebelum tidur.
Galaksi tersenyum mendengarnya, kemudian tangannya memeluk Rumi dalam tidurnya. Sejak tadi dia hanya berpura-pura tidur. :)
****
bab ini sangat panjang? semoga kalian suka 🤗🤗🤗
__ADS_1