Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi

Gadis Somplak Pemikat Hati Tuan Galaksi
Rumi Merindukan Galaksi


__ADS_3

Rumi memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Tak lama matanya mulai terbuka dan melihat kondisi disekitarnya. Sebuah kamar yang cukup mewah. Rumi berusaha mengingat dimana dia berada sebelum tertidur.


"Ahh ya ampun!!!" pekik Rumi


Dia langsung membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan memeriksa pakaian yang di kenakannya dengan panik.


"Hah syukurlah," ucap Rumi dengan perasaan yang lega.


Selama dalam perjalanan Rumi benar-benar tertidur dengan pulas. Karena tak ingin mengganggu tidur Rumi terpaksa anak buah Kevin membopong tubuh Rumi saat masuk kedalam Villa.


Rumi bangun dari ranjangnya dan memeriksa kamar tersebut. Rumi berjalan mendekati jendela untuk melihat keadaan di luar Villa . Ternyata villa tersebut berada di tempat yang terpencil, jarak bangunan yang satu dengan bangunan yang salin saling berjauhan. Jalan di depan villa pun seperti jarang sekali di lalui oleh kendaraan.


"Berada di kota mana aku ini??" gumam Rumi.


Rumi menghembuskan napasnya dengan kasar, sesaat merasa telah salah mengambil keputusan. Mungkin lain ceritanya jika sebelumnya Rumi kabur atau bahkan berteriak minta tolong. Tetapi bisa juga Rumi justru terluka mengingat mereka juga sempat memukul Dea sebelum Rumi dibawa pergi oleh mobil tersebut.


Ceklek


Pintu terbuka, masuklah seorang wanita paruh baya sambil membawa makanan untuk Rumi.


"Silahkan Nyonya di makan," ucap mbok Darni sambil meletakkan nampan yang berisi makanan lengkap dengan susu ibu hamil.


Rumi tak bergeming, hanya melirik sepintas tak ada napsu untuk makan sama sekali. Padahal perutnya sudah sangat lapar. Tetapi saat ini Rumi justru ngidam ingin disuapi oleh Galaksi.


Mbok Darni merasa kasihan dengan Rumi, meskipun sejak kecil sudah mengenal Kevin. Dia tidak menyangka Kevin akan nekat menculik istri orang lain.

__ADS_1


"Maaf Nyonya, jika ada hal yang di perlukan bisa pencet tombol yang ada di atas nakas kecil disebelah kasurnya. Kalo begitu saya mohon undur diri," ucap Mbok Darni.


Sebelum mbok Darni berjalan menuju pintu, dengan segera Rumi segera memanggilnya.


"Tunggu Bu, bolehkah saya bertanya sesuatu," ucap Rumi ragu -ragu.


"Panggil saja saya simbok Nyonya. Nyonya ingin bertanya apa??" jawab Mbok Darni


"Panggil saja Rumi mbok, saya bukan pemilik rumah ini. Kalo boleh saya tau, saya berada di kota mana?" tanya Rumi dengan hati-hati.


"Maaf saya tidak bisa memberitahu Nyonya, nanti Tuan Muda bisa marah dengan simbok," ucap mbok Darni dengan sendu.


Rumi membalikkan badannya dan kembali melihat keluar jendela dengan tatapan kosong. Saat ini dia sangat rindu dengan suaminya. Berharap Galaksi dapat dengan segera menemukan keberadaan nya.


"Huph Tuan muda kayak ga ada wanita lain toh. Masa ngebet pengen istri orang, mana lagi hamil. Yo kasian tenan toh!!!" seru Mbok Darni begitu keluar dari kamar yang di tempati Rumi


"Husshh Mbok jangan asal ngomong nanti Tuan muda miarah besar," ucap salah seorang penjaga yang mendengar ucapan Mbok Darni


"Yo men, apik toh. Untung sayang, kalo ora wes tak bejek-bejek," umpat Mbok Darni.


Didalam kamar Rumi memilih meringkuk diatas ranjang sambil menahan rasa laparnya. Meskipun lapar, Rumi sama sekali bernafsu untuk makan. Saat dia begitu merindukan suaminya. Hanya segelas susu ibu hamil yang masuk kedalam perutnya


"Sabar sayang, kita tunggu papah datang menjemput ya. Bantu mamah supaya kuat, kalian adalah calon anak-anak kuat dan hebat. Mamah rindu papah kalian nak," gumam Rumi sambil memeluk erat perutnya.


Entah menahan rasa lapar berapa lama hingga akhirnya Rumi kembali tertidur. Nampak pula bekas jejak air matanya yang telah mengering dipipinya.

__ADS_1


Kevin yang baru saja tiba di villa miliknya langsung duduk di sofa. Sudah lama sekali Kevin tidak berkunjung, terakhir kali bersama almarhum ayahnya saat dirinya berusia lima tahun. Tak banyak yang berubah dari design rumah tersebut, perabotan yang ada juga masih sama, dijaga dengan baik oleh yang menjaganya.


"Tuan silahkan diminum dulu," ucap Mbok Darni membawakan segelas orange jus, minuman kesukaan Kevin.


"Terima kasih banyak Mbok. Oh iya, Rumi bagaimana kondisinya?" tanya Kevin.


Mbok Darni tampak ragu untuk menjawab. Sejujurnya dia ingin Kevin mengembalikan kepada suaminya.


"Sepertinya Nyonya tidak berselera makan Tuan. Makanan yang telah saya siapkan tidak disentuh sama sekali. Hanya susu ibu hamil yang diminum nya," jawab Mbok Darni sejujurnya.


Kevin nampak berfikir ada sedikit rasa khawatir di matanya, mbok Darni dapat melihat itu.


"Apakah dia menanyakab sesuatu?"


"Iya Tuan, dia menanyakan dimana saat ini dia berada. Tapi nggak Mbok jawab, Mbok ga berani Tuan," jawabnya sambil menundukkan kepalanya.


"Ya sudah mbok, bisa lanjutkan pekerjaan," ucap Kevin secara halus mengusir Mbok Darni dari hadapannya.


Mbok Darni meremas ujung baju yang di kenakannya, ingin mengucapkan sesuatu hanya saja dia segan. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan Kevin.


"Maaf Tuan, jika saya lancang. Saya kecewa dengan apa yang sudah Tuan lakukan. Mungkin jika Almarhum Tuan Besar masih hidup beliau akan sangat marah. Saya permisi tuan," ucap Mbok Darni dengan sorot mata yang sayu.


Akhirnya mbok Darni memberanikan diri mengungkapkan perasaannya. Sebuah kekecewaan teramat besar kepada sosok Tuan Muda Kevin yang dia sayangi.


Mendengar hal tersebut Kevin mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap di kulitnya. Ada amarah yang tak dapat diungkapkan. Bagaimanapun juga Kevin sudah menganggap Mbok Darni seperti ibunya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2