
"Rumi kamu kenapa diam saja? Kamu sakit?" tanya Galaksi, pasalnya sejak masuk kedalam mobil Rumi hanys berdiam diri.
Rumi menggelengkan kepalanya, sebenarnya dia takut dimarahin Galaksi atas insiden kartu pemberian Galaksi. Kartu tersebut merupakan kartu ATM yang berisi uang nafkah untuk kebutuhan Rumi. Galaksi melarang Rumi untuk menggunakan uang miliknya bahkan kartu ATM nya saja Galaksi rusak agar Rumi tidak bisa menggunakan uangnya di rekening.
Rumi gugup, sesekali menggigit bibirnya dan jemarinya sesekali dimainkan. Sebenarnya dia ingin cerita tapi takut bila Galaksi akan marah.
"Ya sudah, kita pulang saja ya sepertinya kamu lelah," ucap Galaksi sambil menyalakan mobilnya.
Sesampainya di apartemen milik mereka, Rumi langsung masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri sedangkan Galaksi menuju ruang kerjanya. Terpaksa di hari libur Galaksi masih berkutat dengan pekerjaannya karena proyek baru yang dipegangnya saat ini harus segera dilaksanakan pengerjaannya bulan depan.
Rumi gelisah di kamarnya, mondar mandir bolak-balik tidak jelas. Matanya menatap kartu debit yang sudah rusak terbelah menjadi dua. Mau tidak mau dia harus mengatakan yang sebenarnya, bisa sudah jika hendak mengantar uang untuk kebutuhannya nanti.
Tok
Tok
Tok
Rumi mengetuk pintu ruang kerja Galaksi, dia langsung tau keberadaan Galaksi setelah mencarinya ke sudut apartemen. Sepatu dan sandal nya yang masih berada di tempat yang berarti galaksi masih berada di dalam apartemen.
Galaksi beranjak dari kursi nya dan membukakan pintu untuk Rumi.
"Rumi ada apa?" tanya Galaksi
"Mmmmm... Anu... Itu....mmmmm gimana ya," ucap Rumi kebingungan. Bingung bagaimana cara menjelaskanny kepada Galaksi.
"Ada yang ingin kamu bicarakan?" tebak Galaksi
Rumi menganggukkan kepalanya dan menyuruhnya untuk masuk kedalam ruang kerjanya.
"Katakanlah apa yang ingin kamu bicarakan?" ucap Galaksi dengan lembut
"Ta-tapi Tuan suami jangan marah ya??" jawab Rumi sedikit ragu, tangannya meremas baju yang di pakainya.
Galaksi memperlebar senyumannya, "apa aku pernah marah sama kamu Rum," tanya Galaksi, Rumi menggelengkan kepalanya.
Rumi menghela napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Tangannya mulai merogoh saku celananya mengeluarkan sesuatu yang hendak dia perlihatkan kepada Galaksi.
Galaksi mengereyitkan mata melihat benda yang ada di telapak tangan Rumi.
"Kartu debit yang Tuan suami berikan rusak dan patah menjadi dua, tapi aku sungguh tidak sengaja melakukannya," cicit Rumi sambil menundukkan kepalanya
Dia tidak sanggup melihat wajah Galaksi seperti apa saat ini. Tangan Galaksi mengambil kartu debit yang sudah rusak itu. Diamati bentuknya yang sudah terbelah menjadi dua bahkan di beberapa bagian terdapat bekas gesekan yang cukup dalam. Kalaupun tidak patah kartu debit ini tetap tidak bisa digunakan karena tergores dibagian pentingnya.
Galaksi menarik lengan Rumi dan mengajaknya duduk di sofa.
__ADS_1
"Rum, aku kira ada apa. Ternyata hanya perkara kartu debit yang rusak. Ga mungkin aku marah hanya karena hal sepele seperti ini. Besok kartu penggantinya akan ada,kamu masih ada pegangan uang?" tanya Galaksi dengan lembut.
Entah mengapa melihat wajah Rumi yang polos, membuat Galaksi tak bisa marah apapun hal konyol yang Rumi lakukan.
"Mmmm masih ada seratus ribu, cukup sampai minggu depan," jawab Rumi terlalu jujur
"Heh, seratus ribu? Bahkan untuk makan sehari saja tidak cukup Rum. Pantas saja jumlah uang direkening tak pernah berkurang banyak, apa kamu tak ingin berbelanja sesuatu?" Galaksi selalu penasaran kenapa Rumi tidak pernah menarik uang lebih dari dua ratus ribu padahal setiap minggu Galaksi memberikannya uang jajan dua ratus juta bahkan kadang lebih banyak jika Galaksi mendapatkan untung besar.
Rumi menggelengkan kepalanya.
"Rumi ga pengen belanja apa -apa, cukup jajan boba di kantin atau beli bakso di mang Dayat. Apalagi kalo bawa bekel Rumi ga jajan lagi di kampus," jawab Rumi, membuat Galaksi semakin gemas dan mengacak-acak rambut Rumi
"Lalu bagaimana ceritanya kartu debitnya bisa patah begini?" tanya Galaksi penasaran.
"Buat ganjel pintu toilet," Rumi memperlihatkan giginya yang rapi.
Galaksi hanya bisa melongo mendengar jawaban Runi, tak pernah pahan dengan jalan pikiran istrinya bagaimana biss kartu debit untuk berbelanja atau mengambil uang justru dipakai untuk ganjal pintu toilet. Sungguh malang nasib kartu debit tersebut.
"Kok pintunya harus di ganjel? Memangnya rusak?" Galaksi semakin penasaran
"Iya rusak, soalnya kalo pintu nya tertutup malah sudah di bukanya yang ada Rumi bisa terjebak di dalam toilet. Jadi aku punya ide buat ngeganjel celah di antara pintu sama kusennya dengan kartu sehingga tidak tertutup rapat. Tapi ternyata ketika Rumi tarik pintunya kartunya malah jadi patah," jawab Rumi, membuat Galaksi geleng -geleng kepala.
"Ya sudah kalau kayak gitu nanti aku kasih uang cash buat pegangan kamu sementara sampai kartu debit yang baru ada. Kalau misalnya masih kurang kamu tinggal ngomong aja ya," ucap Galaksi.
Rumi menganggukkan dengan senang. Tapi ada lain yang ingin Rumi bicarakan ini ada hubungannya dengan Satya. Apalagi hanya Galaksi yang bisa menolongnya.
"Apa itu??"
"Mmm.. ketika di kampus aku bertemu dengan Satya, dia masih berusaha mengangguku tuan, tapi tidak aku hiraukan. Aku kesal dengan sikap sombongnya yang selalu membanggakan harta keluarganya, apalagi katanya dia sudah menjadi CEO perusahaan keluarga dan semakin menjadi angkuh," ucap Rumi dengan kesal.
Rumi menarik napas dahulu sebelum melanjutkan pembicaraannya.
"Lalu?" Galaksi masih menyimak.
"Karena kesal aku mengatakan jika suami ku bisa membeli kampus tempat aku kuliah. Besok pasti dia akan mengolok -ngolok ku," ucap Rumi sendu.
Setelah mendengar perkataan Rumi, Galaksi berdiri dan mengambil handphone-nya dan menelepon seseorang. Rumi hanya terdiam, seperti dia sudah melakukan kesalahan besar.
"Halo Eddy, besok tolong kamu urus pembelian universitas Nusa Pelita lalu jadikan nama Rumi sebagai pemilik atau pemegang saham terbesar. Berikan saja harga yang mereka minta tampa ada tawar menawar hargs supaya prosesnya bisa dipercepat," ucap Galaksi.
Ternyata dia menelepon asisten pribadinya untuk membekukan kampus tempat Rumi berkuliah. Rumi yang mendengar hanya bisa ternganga, logikanya seketika merasa sakit.
"Tu-tuan apakah Tuan benar -benar membeli kampusku?" Ucap Rumi tergugu, seluruh tubuhnya bergetar.
"Tentu saja, itu hal mudah. Besok jika kembali bertemu dengan mantanmu itu katakan saja suamimu ini sultan bahkan perusahaan miliknya bisa aku beli sekarang juga," ucap Galaksi dengan sombong.
__ADS_1
"Ta-tapi berapa banyak uang yang harus di keluarkan?" tangan Rumi gemetaran.
"Ya..mungkin sekitar lima puluh miliar," jawab Galaksi Enteng
"Apaaahhhhh lima puluh miliar??" pekik Rumi tak percaya.
"Itu uang atau daun kelor???" Rumi menggelengkan kepalanya tak percaya suaminya menggelontorkan uang sebanyak itu.
Galaksi tersenyum tipis, perlahan-lahan tubuhnya mendekat dan menghimpit tubuh Rumi.
Deg
Deg
Deg
Berada dalam jarak yang dekat membuat jantung Rumi berdebar kencang. Melihat ketampanan suami dari jatah dekat membuatnya semakin menegang.
"Aku sudah melakukan dua permintaanmu sekarang giliran aku meminta sesuatu, dua hal?" ucap Galaksi dengan seringai diwajahnya
"Tu-tuan suami min-minta apa?" tanya Rumi gugup
"Yang pertama, panggil aku sayang sekarang juga?"
"Hah apahhhh?" tanya Rumi memastikan, takut dia salah dengan.
"Panggil aku sayang sekarang juga," ulang Galaksi dengan suara seraknya.
Rumi menelan ludahnya dengan kasar, irama jantungnya semakin kencang belum lagi suhu udara di ruangan itu terasa semakin panas.
"Saaa-yaaaang," ucap Rumi gemetar.
"Sekali lagi, lebih lembut," ucap Galaksi serius
"Sayang!!"
Nyes
Tubuh Galaksi dibuat melayang padahal awalnya dia hanya berencana mengerjai Rumi saja. Suara Rumi yang lembut berhasil membangun gejolak rasa yang sudah lama mati suri. Sebuah ide melintas begitu saja di otaknya. Dia menginginkan hal yang lebih.
"Yang kedua, kamu harus mau dan aku tidak menerimanya penolakan," ucap Galaksi dengan serius.
Glek
Glek
__ADS_1
Rumi hanya bisa menelan ludahnya, Rumi merasa terancam saat ini.
"Aku menginginkanmu Rum malam ini"