
Entah pukul berapa Eddy menyudahi permainan panasnya bersama Imelda. Dua hari sudah Eddy menghabiskan malamnya bersama Imelda, menikmati waktu kebersamaan hingga berakhir tidur seranjang.
Eddy meraba tempat disamping mencari keberadaan seseorang. Dingin, itu yang dirasakan. Artinya Imelda sudah bangun dari tadi. Dengan berat, Eddy bangun dari tidurnya sambil mengucek matanya yang masih terlalu mengantuk.
"Imel..... Imelda..." Panggil Eddy
Hening, tak ada sahutan dari si empunya nama. Merasa ada yang janggal Eddy segera bangun dan mencari kolor yang entah tercecer dimana. Eddy berlari menuju kamar berharap Imelda ada di dalam sana.
Nihil, tak ada sosok Imelda di sana. Eddy masih berusaha berpikiran positif walaupun hatinya merasakan suatu ketidaktenangan.
"Ah, mungkin Imel lagi keluar membeli sarapan," pikir Eddy dalam hati.
Karena sudah terlanjur berada di kamar mandi, Eddy pun mulai membersihkan diri karena tubuhnya merasa lengket akibat aktivitasnya semalam.
Sekitar 10 menit kemudian Eddy sudah menyudahi kegiatannya di kamar mandi. Dengan menggunakan bathrobe Eddy keluar dengan wajah dan tubuh yang jauh lebih segar.
Tak sengaja matanya melihat ke arah meja rias yang sudah kosong, biasanya di sana banyak terdapat kosmetik dan skin care milik Imelda. Eddy mulai panik, firasat tidak enak mulai mengganggu pikirannya.
Langkahnya tergerak menuju lemari tempat penyimpanan pakaian. Ternyata di dalam lemari tersebut sudah kosong dan tidak tertinggal satupun pakaian milik Imelda. Bahkan kopernya sudah tidak ada.
Rasa frustasi kembali menyerang Imelda, bayangan -bayangan saat Imelda menghilang lima tahun yang lalu kembali muncul.
"Aaarrrrgggghh," teriak Eddy melampiaskan kegundahan hatinya.
Bokongnya dengan kasar dihempas ke ranjang, pikirannya sudah memburuk. Bayangan kehilangan Imelda kembali muncul.
"Imelda... breng-sek kau!!!!" teriak Eddy dengan penuh amarah.
Saat ini Eddy merasakan kekecewaannya teramat besar.
"Apa maksudnya dua hari kemarin hah jika pada akhirnya lo kembali pergi ninggalin gue hah!!! Lo jahat Imelda!!! Lo jahat banget Mel!!! Gue benci lo bang-sat!!!" umpat Eddy tanpa ampun.
Hatinya terlalu sakit dan kecewa. Kehilangan yang dua kali membuat Eddy kembali terpuruk. Dia meringkuk diatas ranjang sambil menangis tanpa suara.
Tangannya tak sengaja merasakan sesuatu berada diatas ranjangnya. Ternyata ada secarik kertas yang berada diatas bantal yang digunakan oleh Imelda. Dengan sigap Eddy mengambilnya dan membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.
Dear My bestie, Junaedi
Mungkin gue sudah ga di Indonesia saat lo membaca surat ini. Dengan surat ini gue memohon maaf yang sebesar -besarnya sama lo bersamaan dengan kepergian gue. Gue terpaksa kembali pergi ke Perancis untuk menyelesaikan segara urusan dan masalah yang sudah gue perbuat. Gue ga mau melibatkan lo kedepannya jadi gue akan menyelesaikan masalah ini sendiri.
Maafkan jika kepergian gue ini kembali membuat luka di hati lo. Tapi jika gue pamit pergi Lo pasti ga akan pernah izinkan gue. Jadi hanya dengan cara ini gue bisa pergi.
Terima kasih juga untuk hari -hati kemarin yang kita lewati bersama. Terima kasih atas segala dukungan dan perhatian lo selama ini. Maafkan jika sampai saat ini gue belum bisa membalas perasaan lo sama gue. Gue butuh waktu untuk melepaskan cinta pertama gue Ed, gue harap lo mengerti.
Biarkan apa yang kita lakukan bersama menjadi kenangan. Gue merasa bahagia dan senang melakukannya bersama lo. Walaupun tau apa yang kita lalukan itu dosa, tetapi biarlah ini menjadi dosa terindah yang pernah kita lalukan.
__ADS_1
Sekali lagi maafkan gue Ed, pergi tanpa pamit. Percayalah kepada takdir jika kita berjodoh kita akan kembali di pertemukan. Terimakasih untuk segalanya.
Imel
"Aaarrrrgggghh!!?" Pekik Eddy
Hatinya semakin sakit seakan terhunus pedang panjang. Memang sakit yak berdarah, apalagi dua kali terluka.
"Gue bener-bener membenci lo Imelda!!!! Lo jahat, Lo jahat!!!"
*
*
Wanita hamil itu tidak mengenal lelah sama sekali padahal sudah hampir setengah hari di berkeliling area Dunia Fantasi atau Dufan. Galaksi sampai khawatir terjadi apa-apa dengan kandungan istrinya tetapi melihat kebahagiaan dan keceriaan sang istri menjadi sirna.
Apalagi setelah lima kali naik komedi putar membuat Rumi semakin bersemangat. Ada tujuh wahana yang sudah di naikin oleh Rumi, untung saja wahana tersebut tidak berbahaya bagi wanita hamil.
"Sayang, ayo makan dulu yuk. Debaynya pasti lapar," ajak Galaksi.
Alasan dia saja, padahal Galaksi yang sudah lapar, cacing-cacing di perut nya mulai berdemo masal.
"Satu wahana permainan lagi ya By, please. Abis ini kita makan okey??" pinta Rumi.
Rumi cengengesan, melihat hal tersebut Galaksi merasakan firasat buruk.
"Yang itu by," tunjuk Rumi pada satu wahana permainan.
"HIS-TE-RIA," ucap Galaksi dengan mata membola.
Rumi cekikikan dan mengangguk dengan ruang.
"Apa kamu sudah gila bunny, kamu ingin anak kita brojol lebih dulu???" Pekik Galaksi didepan banyak orang.
Rumi menggelengkan kepalanya.
"Bukan aku yang naik Hubby. Tapi kamu," ucap Rumi sambil memeluk tubuh Galaksi
"AAPAHHH!!!!"
*
*
Satu jam kemudian
__ADS_1
Hueks
Hueks
Hueks
Rumi membantu memijat tengkuk Galaksi. Sehabis menaiki wahana histeria wajahnya memucat, tak lama langsung merasakan mual. Dan sekarang masih terasa mual, tetapi tak ada apapun yang dikeluarkan dari mulutnya selain cairan bening.
Melihat Galaksi begitulah tersiksa dengan rasa mualnya, entah mengapa membuat Rumi senang. Bahkan tertawa cekikikan dibelakang Galaksi, sungguh tega.
Setelah rasa mualnya sedikit mereda, Galaksi duduk di sebuah kursi, Rumi memberi air mineral agar tenggorokan Galaksi lebih nyaman.
"Kamu ini senang sekali melihat suaminya tersiksa. Huuu tega," ucap Galaksi pura-pura merajuk.
"Hehehehe ya maaf by, bukan begitu maksudnya. Aku kira kamu ga akan mau lo naik wahana itu. Huuu..aku aja ngeri ngeliat. Uuhhhh.. ternyata suami aku ini baik banget deh, "ucap Rumi sambil memeluk tubuh suaminya.
"Untung sayang!! Kalo enggak udah aku tinggalin di istana boneka," gerutu Galaksi
"Yey, tega bener siihhh!??" Rumi merajuk, kedua tangannya di lipat di depan dada.
"Kok cemberut gini siihhhh?? Khan bercanda sayang. Lagian kamu khan kesayangan aku, ga mungkin aku tinggalin begitu saja. Bisa -bisa di culik orang," ucap Galaksi sambil menangkup kedua pipi istrinya.
"Gitu ya!!! Ya makan yuk By, laper!!" Rengek Rumi sambil mengelus perutnya yang mulai keroncongan.
"Mau makan apa ?"
"Ayam chicken aja deh, hehehee lagi pengen itu," ucap Rumi dengan riang.
Galaksi berdiri kemudian menunjuk ke lengannya supaya Rumi melingkar tangannya kepadanya.
"Pegang yang erat biar ga di culik badut Ancol hahahah," seru Galaksi kegirangan.
Dari jauh Kevin terus mengikuti kebersamaan Galaksi dan Rumi. Dia masih penasaran dengan hubungan diantara mereka. Tangannya semakin terkepal saat melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa bahagianya hari ini, senyum manisnya tak ada habisnya.
"Tuan, sakit," ucap Nando
Kevin mendelik, ucapan asisten nya itu seakan menyindir dirinya.
"Apa maksudmu hah!!!" ucap Kevin tak terima.
"Disini Tuan, sakit tapi tak berdarah," ucap nya sambil menunjuk ke arah jantung, jangan lupakan wajahnya tanpa ada ekspresi apapun.
Wajah Kevin memerah, tangannya semakin terkepal hingga kuku-kuku nya menembus kulit, raganya bahkan terasa panas luar dan dalam.
"NANDO!!!!"
__ADS_1