
Rumi menjadi buah bibir di kantor Galaksi sejak beberapa karyawan melihat Galaksi menggendong Rumi sambil menangis. Bahkan beberapa karyawan dengan lancang membicarakan hak buruk tentang Rumi telah menjadi simpanan Galaksi. Apalagi sosok Galaksi belum masuk kantor sejak insiden tersebut, dikarenakan Rumi hingga saat ini belum sadarkan diri.
Dua hari sudah Rumi masih tertidur cantik di samping Galaksi yang menunggunya dengan sabar. Tak bosan Galaksi berdoa dan memohon agar Rumi segera bisa kembali sadar dan sembuh seperti biasanya. Apalagi saat ini Rumi sedang mengandung buah cinta mereka dan tak sabar melihat bagaimana ekspresi Rumi jika dia mengetahui sedang hamil anak kembar.
Biarlah kabar keguguran salah satu anak mereka tak di beritahukan kepada Rumi demi kesehatannya kelak. Cukup Rumi mengetahui kabar baiknya jika dia sedang hamil calon anak kembarnya. Galaksi takut Rumi akan bersedih dan akan mengganggu kehamilannya kelak. Apalagi kedua calon janinnya masih retan dan belum terlalu kuat.
"Dea, Bu Rumi ada main belakang ya dengan pak Galaksi?" tanya salah seorang rekan kerjanya.
"Hush ga udah bergosip deh, nanti kelo kedengaran sama Pak Galaksi kalian akan kena masalah. Bukankah kemarin sudah diperingatkan oleh Pak Eddy jangan bergunjing apapun di kantor," ucap Dea mengingatkan.
"Abisnya gue penasaran tau. Dengan mata gue sendiri ya, gue liat tuh Pak Gala gendong Bu Rumi yang lagi berdarah -darah sambil berderai air mata. So sweet sih, tapi kan pak Gala sudah menikah mana istrinya cantik banget lagi. Kalau jauh dengan Bu Rumi. Apa jangan-jangan Bu Rumi bisa dapet posisi bagus karena naik ke ranjang Pak Gala," tuduhnya.
Dea yang memang sudah mengetahui faktanya merasa sakit hati saat Rumi temannya di bicarakan seperti itu. Ingin sekali dia membela dan menjelaskan semuanya tetapi Pak Eddy sudah menyuruhnya untuk diam dan tidak bertindak apapun.
"Andai lo tau jika Rumi istrinya Pak Galaksi sujud-sujud lo di kakinya!!" gerutu Dea
"Dahh jangan gosip aja kayak emak-emak di tukang sayur. Kerja -kerja!! Ketahuan pak Eddy bisa dapet SP loh," tegur Dea.
"Iya deh iya, beda deh kalo karyawan kesayangan bu Rumi pasti belain walaupun ketauan boroknya," ucapnya tak terima di tegur.
Dea hanya bisa menghela napas, bukan kali ini saja dia mendengar gosip panas mengenai Rumi dan Galaksi. Semoga ketika Rumi kembali bekerja semuanya sudah kembali seperti sedia kala.
.
.
Sudah dua hari ini Eddy menghandle pekerjaannya Galaksi, beberapa rekan bisnis sempat menanyakan keberadaan Galaksi yang tidak dapat di hubungi. Naun Eddy memberi tahu jika Galaksi sedang menjaga istrinya yang sedang sakit.
__ADS_1
Dan sudah dua hari ini Eddy berusaha menghindari Imelda yang terus memohon kepadanya agar dipertemukan dengan Galaksi. Pasca insiden yang disebabkan olehnya Galaksi memblokir semua aksesnya dan tak ingin bertemu denga Imelda.
"Eddy!!!!" sapa Imelda dengan senyuman sumringahnya
"Lo!!! Ngapain lagi sih kesini? Siapa juga yang mengijinkan lo masuk ke kantor ini!!?" hardik Eddy.
"Gue bisa berbuat apa saja Ed termasuk bebas keluar masuk ke sini. Jadi jangan pernah lo larang -larang gue untuk datang kesini karena lo bukan pimpinan apalagi pemilik perusahaan ini!" ucap Imelda merendahkan.
Eddy berusaha menahan emosi nya, menggenggam bolpoin nya sangat kencang. Ingin sekali rasanya dia bisa bekerja dengan tenang tanpa gangguan apalagi dia harus menghandle pekerjaan yang ditinggalkan oleh Galaksi.
Lucas yang sudah merasa gatal ingin berkata-kata akhirnya mengeluarkan suaranya juga setelah sekian purnama dia hanya jadi penonton perdebatan yang ada.
"Maaf mbak atau ibu, sebaiknya keluar dari kantor ini jika terus mengganggu dan memperlambat pekerjaan karyawan di sini. Jika mbak atau ibu tidak segera angkat kaki maka dengan terpaksa akan saya telepon sekuriti untuk menyeret anda keluar," ancam Lucas dengan raut wajah sedingin es.
Imelda melipat kedua tangannya di depan dada lalu berjalan menghampiri Lucas dengan langkah yang sombong.
"Anda jual saya beli!!!" balas Lucas.
Tangannya dengan lincah segera memencet tombol telepon untuk menghubungi bagian security. Imelda masih bisa bersikap sombong dan angkuh, dirinya merasa berkuasa karena kensl dekati dengan Galaksi.
Beberapa menit kemudian dua orang security berseragam hitam seperti bodyguard langsung datang menghampiri Lucas.
"Tolong segera bawa keluar wanita ini dari sini dan kalian bisa ambil foto kemudian cetak dan tempelkan di daftar orang yang di larang masuk. Cepat!!?" perintah Lucas, sorot matanya begitu tajam.
"Siap pak!!!" Ucap mereka serempak
Tanpa banyak babibu mereka langsung memegang tangan Imelda dengan begitu erat. Imelda yang tak terima diperlakukan seperti itu berusaha memberontak dan melepaskan diri. Dia merasa Lucas sudah menginjak-injak harga dirinya.
__ADS_1
"Lepasin gue sia-lan, jangan macam-macam sama gue atau kalian yang akan di pecat!! Lepaskan!! Breng-sek!!" Teriak imelda sambil meronta-ronta.
Agar suara imelda tidak mengganggu suasana kantor yang kondusif, salah seorang security berinisiatif untuk mengeluarkan saputangan dari kantong celananya dan memasukkannya kedalam mulut Imelda.
"Hhhhhmmmmppp" Imelda tak bisa lagi berteriak.
Imelda akhirnya di seret keluar kantor dan tidak akan pernah diperbolehkan masuk apapun alasannya kecuali sudah mendapatkan izin dari Galaksi.
"Pak Eddy, lain kali bersikap profesional. Jika mengganggu suasana kantor sebaiknya usir dan jangan di biarkan saja Karena akan melunjak. Saya kira Pak Galaksi akan melakukan hal yang sama," ucap Lucas sama sekali tak memandang Eddy.
Junaedi tercengang dengan perkataan Lucas yang jujur dan blak-blakan. Eddy sudah tidak fokus lagi untuk bekerja sehingga dia memutuskan untuk pergi ke pantry untuk membuat secangkir kopi
Namun saat masuk ke ruang Pantry, Eddy seperti mendengar suara isakan tangis yang sangat lirih. Sekujur tubuh Eddy merinding disko, takut sosok tak kasat mata menghuni Pantry di kantornya.
"Masa siang-siang gini ada makhluk halus sih? Mana sepi banget ini Pantry. Pada kemana coba jam segini udah kelayapan ga jelas," keluh Eddy sambil mencari kopi..
Huuuuuuhuuuu
Huuuuuuhuuuu
Terdengar lagi suara tangisan yang sangat menyayat hati. Bahkan suara tersebut semakin terdengar jelas. Bulu kuduknya sudah berdiri tegak, nyalinya menciut mendengar suara tangisan wanita
"Ahhh si-al kenapa gue jadi penakut begini" ucap Edi sambil mengendap-ngendap mencari di mana sumber suara tersebut.
Eddy berjalan perlahan-lahan sambil mendengarkan suara tersebut dengan teliti hingga tanpa sadar dirinya berdiri do dekat lemari penyimpan. Di pojokan ruangan terlihat seorang wanita dengan rambut panjang tengah sambil menekuk kedua kakinya dan menyembunyikan kepalanya..
Eddy berusaha menguatkan dan memberanikan diri untuk menghampirinya. Perlahan namun pasti, Eddy mulai mendekati dan mengukur tenanoo.
__ADS_1
"Elooo!!!"