![Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]](https://asset.asean.biz.id/gala-asmara---jodoh-dari-kecil--.webp)
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Pemeriksaan kedua di rumah sakit keluarga semua berjalan dengan normal tanpa ada yang harus di khawatirkan. Usia kandungan pun kali ini sudah genap delapan minggu yang artinya sudah dua bulan janin calon penerus Tahta Rahardian hidup di rahim wanita muda bernama Asmara kasih. Si cantik yang sejak lahir sudah berada di lingkungan konglomerat sebagai anak angkat Bumi dan Khayangan. Tak ada yang bisa menebak kepada siapa jodoh akan berlabuh, yang penting setia dan baik pihak laki-laki Rahardian tak pernah mempermasalahkan.
"Masih ada tujuh bulan, bayi nya lahir" kata Ara saat keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Hem, moga kalian selalu sehat dan selamat sampai hari lahir nanti ya" sahut Gala sambil memakai seatbelt kemudian menyalakan mesin mobilnya yang terparkir di area depan rumah sakit.
"Kak Ala mau cewe atau cowo?"
"Dua-duanya juga boleh, biar langsung sekali cewe dan cowo, gimana?" kekeh Gala dengan menaik turunkan alisnya.
"Tapi Ara mau kembar cowo semua"
"Kenapa?" alis yang tadi naik turun kini berubah saling bertautan di kening pria tampan kaya raya.
"Biar Ara satu-satunya yang paling cantik. Nanti Ara di kelilingi tiga COGAN Rahardian. Keren ya"
Gala tertawa, ia begitu gemas dengan khayalan istrinya. Ara yang masih remaja tentu pikirannya lain dengan Gala, dan ia lah yang harus sering mengimbangi. Gala tak menuntut Ara untuk lebih dewasa justru ia yang harus terjun ke dunia pemilik hatinya agar si anak curut tetap merasa nyaman di pernikahan muda mereka.
"Baiklah, kalau begitu aku tak akan meminta bayi perempuan kembar. Padahal aku juga mau jadi paling ganteng di antara kalian loh" balas Gala.
__ADS_1
Perjalan dari rumah sakit terasa begitu menyenangkan karna di selingi obrolan ringan di antara pasangan suami istri tersebut. Tak ada yang luput dari pembicaraan mereka berdua mulai dari hal remeh, perdebatan tak penting sampai rencana masa depan yang mereka susun seindah mungkin.
"Mau beli apa sih disini?" tanya Gala saat kereta besinya menepi di area pasar modern.
"Mau beli buah pepaya."
"Lah, tiap malem mainin pepaya gantung aja, emang gak bosen?" sahut Gala.
Ara langsung memicing kan kedua matanya. Ucapan sang suami membuat ia ingin menguncir bibir tersebut hingga beberapa bagian.
"Kalo yang ini gak kenyang, punya kakak boleh juga di rujak. Mau?"
Keduanya turun dari mobil, masuk kedalam pasar modern yang sudah nampak sepi karna waktu menjelang sore. Hanya ada beberapa pengunjung yang sibuk memilah dan memilih barang yang akan mereka beli.
Langkah kaki keduanya kini menuju area buah buahan karna hanya pepaya yang dibutuhkan Ara, sebab seingatnya semua bahan makanan masih komplit di dalam kulkas apartemen.
.
.
"Terimakasih, bang" ucap Ara saat buah yang ingma cari sudah di bungkus dan diberikan padanya.
__ADS_1
"Sama-sama, kak"
Ara kembali menggandeng tangan Gala, tentu kini tujuannya adalah pintu keluar karna tak ada lagi yang harus di beli.
Masuk kedalam mobil, Ara menarik tangan Gala sampai pria itu menoleh dan tak jadi menyalakan mesin kendaraannya.
"Ara pengen batagor, tapi males masuk lagi"
"Oh, ya udah. Aku yang beli, kamu tunggu disini ya"
Ara mengangguk lalu Sekilas mencium pipi suaminya. Sambil menunggu Gala kembali ia pun memainkan ponselnya hingga hampir lima belas menit Pria tinggi berdada lebar itupun datang dengan satu bungkusan di tangannya.
"Loh, ini kan cilok! bukan batagor" kata Ara.
.
.
.
Sama aja, yang penting pake bumbu kacang!
__ADS_1