![Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]](https://asset.asean.biz.id/gala-asmara---jodoh-dari-kecil--.webp)
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Belanjaan kamu mau di kirim kemana?" tanya Gala saat istrinya kembali.
"Haha, kak Ala tau aja Ara abis belanja. Udah ada notifnya ya" kekeh Ara yang berhambur memeluk suaminya.
Gala tersenyum kecil sambil mencubit hidung sang istri. Walau anak curutnya tak memasang wajah imutnya pun ia tak akan mungkin marah. Rayuan Ara bagai bonus untuknya. Lelah pun hilang seketika saat melihat bidadari hatinya itu tersenyum begitu tulus.
Dua puluh menit berlalu, Cici datang dengan beberapa bungkusan di tangannya. Gala yang sedari tadi memperhatikan sekertaris nya itupun sampai mengernyit kan dahi.
"Banyak banget, gak salah?"
"Tidak, Tuan. Semua pesanan Nona" sahut Cici yang kemudian pamit untuk keluar.
Ara membuka satu persatu apa yang sudah di pesannya, dari semua makanan di atas meja hanya ada satu menu milik Gala yaitu seporsi sate ayam karna sisanya kepunyaan Ara.
"Kamu lagi laper banget, Ra?"
"Iya, pengen makan semua, kenapa?" tanya Ara sambil menyuapkan satu sendok nasi dengan gulai kambing.
"Hem, enggak" sahut Gala aneh.
Keduanya melanjutkan makan siang mereka dengan lahap, ada sisa sisa sedikit yang tak di habiskan oleh Ara yang lalu di bereskan untuk di bawa pulang karna pantang membuang rejeki.
.
.
__ADS_1
Usai mengisi perut kini saatnya mereka pergi menuju rumah utama. Gala yang sudah berjanji akan menjenguk Nyonya besar Rahardian itu pu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi.
"Nginep?" tanya Ara.
"Hem, gak tahu. Nanti obrolin dulu sama Abi juga Umi. Kita lihat kondisi Amma dulu ya"
Setegar apapun Gala, hatinya tetap berdebar hebat dengan perasaan tak tenang. Wanita yang kemarin tak sadarkan diri itu tentu salah satu deretan bidadari hatinya. Masih jelas dalam ingatan Gala bagaimana lembutnya tangan sang Nyonya besar membelai wajahnya saat ia berkunjung ke rumah bak istana itu.
Lebih dari tiga puluh menit mobil mewah milik Gala berhenti di garasi rumah utama. Keduanya turun dan masuk lewat pintu samping agar bisa langsung sampai ke ruang tengah.
"Sepi"
"Mungkin di atas, Ra. Kita langsung ke kamar Amma aja ya" ajak Gala masih menggenggam tangan sang istri.
Dengan menggunakan lift, pasangan suami istri itupun sampai di lantai dua. Sama seperti di bawah, diatas pun tak ada siapa siapa.
Gala mengetuk pintu dengan sedikit pelan. Saat terdengar sahutan dari dalam, ia dan Ara pun bergegas masuk.
Gala mengedarkan pandangan, hanya ada Reza, Samudera, Air dan Hujan disana. Ia sama sekali tak melihat orangtuanya.
"Abi sama Umi kemana?" tanya sambil berjalan mendekat.
"Kerumah sakit, La" sahut Air.
Gala dan Ara langsung memeluk Melisa secara bergantian.
"Amma kenapa? bikin Ala Khawatir"
__ADS_1
"Amma ga apa-apa, faktor usia saja, Sayang" sahut Melisa, ia tangkup wajah cucu keduanya itu dengan tangannya.
"Janji sembuh ya, gak boleh gini lagi"
"Iya, Sayang"
Lain Gala, Lain juga dengan Ara. Setelah menanyakan kabar gadis itu malah berhambur memeluk Hujan yang berdiri di samping suaminya.
Ara menatap lekat Samudra sampai tak berkedip. Pria tampan itu pun menoleh saat merasa di perhatikan.
"Kenapa liat liat?" tanya Samudera pada istri sepupunya itu.
"Ara boleh minta satu hal?" ucapnya pelan karna ragu dan takut.
"Mau minta apa?"
.
.
.
.
.
Ara pengen cium ketek kakak Ganteng.
__ADS_1