![Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]](https://asset.asean.biz.id/gala-asmara---jodoh-dari-kecil--.webp)
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Flashback.
Ara yang baru saja merayakan ulang tahun ke tujuh belas tahunnya di sebuah hotel mewah milik keluarga Rahardian tak hentinya menebar senyum dan bersyukur. Semua teman dekatnya hadir dan banyak memberikan kado dan doa. Ada yang tulus berteman, ada yang hanya memanfaatkan dan tak sedikit juga yang mencibir namun berpura-pura baik karna bagaimana pun Ara bukan siapa-siapa keluarga Rahardian sebab namanya pun masih Asmara Kasih tanpa penambahan nama si keluarga konglomerat di belakangnya.
Kenapa? bukankah Ara begitu sangat di sayangi.
Ya, tapi Ara masih memiliki keluarga yang jelas dan ibunya pun ikut mengurusnya. Bumi dan Khayangan cukup memberinya kasih sayang berlimpah dan harta yang sama rata dengan anak kandung mereka. Menayangkut masalah adopsi resmi tentu pasangan itu harus berdiskusi secara serius dan matang bersama keluarga besarnya.
.
.
"Suka?" tanya Gala yang berdiri di belakang Ara.
Tangannya memeluk pinggang ramping si gadis remaja setelah memakaikan kalung di leher jenjang putihnya. Tak lupa Gala juga meletakkan dagunya di bahu sebelah kiri Ara yang putih dan harum.
"Suka dong, bagus banget. Makasih ya kak" ucap Ara dengan perasaan senang sambil memegangi liontinnya yang berhuruf AG.
__ADS_1
"Kenapa gak AK, kok AG?" tanya Ara.
"AraGala" jawab Si pria tampan seraya mengeratkan pelukan.
Setelah acara selesai lima belas menit lalu keduanya pun kini berada di dalam kamar hotel. Gala yang beralasan hanya mengantar, nyatanya memberikan kado spesialnya saat mereka sedang berdua saja.
"Aku mencintaimu" bisik Gala.
Ini bukan yang pertama, karna Gala sering mengungkapkannya meski tak pernah mendapat jawaban tapi saat itu Gala sangat paham sebab Ara masih terlalu dini untuk mengenal cinta apalagi mendalami perasaannya sendiri.
"Bisa kita lebih dari ini, Aku ingin memilikimu" bisiknya lagi, Gala akan merubah panggilannya jika hanya ada ia dan Ara. Karna saat itu ia akan memposisikan dirinya sebagai pria dewasa yang mencintai seorang gadis bukan lagi kaka pada adik kecilnya yang manja.
Gala tersenyum kecil, ia sudah bisa menebak jawaban si pemilik hati. Tapi Gala tak pernah marah meski terus memaksa. Karna ia sadar cintanya tak pernah main-main, terbukti hingga detik ini masih ada satu nama yang terukir jelas dalam jiwanya.
"Aku paham, dan aku akan menunggu tapi ku mohon jangan sakiti hatiku dengan penolakanmu"
Ara yang masih di peluk langsung memutar tubuhnya, jadilah dua insan yang sebenarnya sedang kasmaran itu saling berhadapan.
"Kakak bilang apa tadi? jangan menyakiti dengan cara penolakan?" tanya Ara memastikan, karna takutnya gadis itu salah mendengar barusan.
__ADS_1
"Ya, kenapa? Ara keberatan?" Gala balik bertanya dengan senyum penuh arti.
"Berarti sama aja dong Ara harus Terima, itu sih namanya pemaksaan!"
Gala langsung tertawa, ia menarik pinggang Ara agar lebih dekat dengannya. Kini mereka saling memeluk hangat dengan Gala memberanikan diri mencium pucuk kepala Ara sebagai tanda sayangnya. Ia melakukannya berkali-kali sampai rasa nyaman terus mereka rasakan.
"Ra... bisa aku kita melakukan sesuatu?"
Entah kenapa Ara malah mengangguk kecil, kepalanya yang menempel di dada membuat jiwa kelelakian Gala seakan tertantang.
Gala mengurai pelukannya, ia dongakan wajah cantik Ara agar mereka bisa saling menatap satu sama lain. Ibu jari Gala mengusap bibir ranum merah muda gadis kesayangannya dengan hidung yang sudah saling menempel. Namun, suara pintu terbuka membuat keduanya terlonjak kaget.
.
.
.
"Kalian...?"
__ADS_1