Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]

Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]
kecelakaan


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Lamunan Bumi buyar saat ponsel miliknya berdering di saku celana. Dengan senyum yang masih menghiasi wajah tampannya ia pun dengan cepat merogoh untuk mengambil si benda pipih tersebut.


"Siapa, Bi?" tanya sang istri.


"Belum tahu, Umi" jawab Bumi yang memang belum melihat nama siapa yang menghubunginya saat ini.


Dahinya mengernyit dengan dua alis yang saling bertautan, perasaannya entah kenapa langsung tak enak saat membaca nama Titin di layar gawainya itu.


"Hallo, Assalamu'alaikum" sapa Bumi, ia membenarkan posisi duduknya saat dengan jelas suara isak tangis sang calon besan lah yang ia dengar di sebrang sana.


satu detik.. dua detik.. tiga detik...


Bumi masih mendengarkan Titin yang belum mengatakan apapun, hingga suara tarikan napas berat berhasil wanita itu hembuskan denga perlahan.


"Ara kecelakaan, dia kini ada di rumah sakit!"


"Apa, kecelakaan? sahut Bumi.


Khayangan yang memang berada di tepat di depan Bumi tentu langsung menoleh dengan wajah bingung.


" Ada apa, Bi?" tanya Yayang.

__ADS_1


"Siapa yang kecelakaan, Bi?" timpal Ola yang tak. kalah bingung juga dari Umi nya.


Dua wanita berhijab itu pun sangat butuh penjelasan dari Bumi yang masih diam membisu, sampai akhirnya panggilan telepon pun terputus.


"Abi, kok diem aja sih"


"Ara kecelakaan, sekarang ada dirumah sakit"


Khayangan dan Aurora tentu kaget dan sangat masih tak percaya, terutama wanita bergamis biru muda itu, pasalnya baru dua jam lalu ia di telepon Ara yang merengek ingin pulang padahal baru satu malam si cantik berada di kampung.


"Abi gak lagi bercanda, kan?" tanya Ola, ia memegang bahu Umi nya yang duduk lemas. Dunia Khayangan bagai berhenti berputar, apa yang kini ia lihatnya seolah berbayang menjadi beberapa bagian.


"Bu Titin yang telepon Abi, La."


"Entah, kalau Gala tahu, ia pasti langsung menghubungi kita, Abi rasanya ia belum tahu. Titin mungkin baru mengabari Abi, Mi" Jawab Bumi.


Bumi beranjak dari duduknya, ia memerintahkan beberapa orang suruhannya untuk melesat ke kampung halaman Ara lebih dulu. Kali ini Ara memang tak mendapat pengawalan darinya. Ia hanya pergi bersama sang supir yang saat ini sudah kembali ke kediamannya setelah memastikan Ara sudah masuk kedalam rumahnya semalam.


.


.


Gala yang fokus pada jalan di depannya, sampai tak sadar jika lampu lalu lintas sudah berwarna hijau tanda semua kendaraan bisa melanjutkan perjalanan, tapi mobil Gala justru masih berhenti di tempatnya.

__ADS_1


"La, kamu kenapa? ayo jalan" ucap Reza sambil menepuk lengan cucu keduanya tersebut.


"Hah? ya Ampun! maaf Appa" sahutnya kaget, terlebih suara klakson seakan saling bersahutan.


"Kamu melamun, ada apa?"


"Enggak ada apa-apa, cuma lagi inget Ara aja" jawab Gala dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


"Besok kalian bertemu, sudah serindu itukah?" kekeh Melisa menggoda.


"Iya, Amma. Aku merindukan anak curutku"


Gala mulai memfokuskan lagi pikirannya pada jalanan jangan sampai hal barusan terjadi lagi, mengingat kini ia membawa dua orang paling berarti dalam keluarga Rahardian Wijaya.


Mobil masuk kedalam garasi, Ada beberapa orang di teras rumah yang Gala tahu jika itu bukan orang biasa.


"Ada apa, Bi?" tanya Gala saat masuk ke ruang tamu.


.


.


Ara kecelakaan, La...

__ADS_1


__ADS_2