Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]

Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]
Nanya dong!


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Deg...


Jantung Ara benar-benar berdegup kencang saat di baringkan oleh Gala, sedekat apapun mereka tapi ini adalah yang pertama kalinya ia dan Gala saling bersentuhan secara intim suka sama suka tanpa di bumbui perdebatan lebih dulu.


Gala mencium kening Ara begitu lembut penuh kasih sayang meski terselip gejolak napsu bir Ahi dalam jiwanya.


Ara yang merasakan perlakuan manis sang suami hanya bisa memejamkan matanya. Sentuhan bibir Gala begitu nyata mengecup kening, pipi hingga lehernya.


Ara yang belum sembuh dan masih memakai Gips tak bisa Gala gaga Hi dengan cepat, ia tetap pada posisinya dari samping.


******* geli lolos begitu saja dari mulut Ara, ia mencengkram kain sepre saat lidah Gala bermain di telinga, deru napas pria itu begitu hangat Ara rasakan.


"Jangan di situ, pindah, Kak" pinta Ara.


"Panggil aku, Sayang" bisik Gala.


Panggilan kakak seolah menjadikannya masih sebagai kakak angkat Ara padahal kini jelas status mereka adalah suami istri, meski Gala tahu jika Ara hanya sekedar menghormatinya saja.

__ADS_1


"Sayang?!" gumam Ara, ia memang biasa di panggil seperti itu, tapi untuk memanggil Gala dengan sebutan sayang tentu itu adalah hal baru baginya.


"Hem, mulai hari ini kamu harus memanggiku Sayang, paham!"


"Tapi, kak...?"


"Jangan ngebantah, nanti masuk neraka" kata Gala dengan senyum seringainya.


Keturunan Rahardian itu melanjutkan lagi aksinya, kini tangannya membuka kancing ketiga di piyama Ara, satu persatu hingga habis sampai brA berwarna coklat muda itu jelas didepan matanya.


"Buka semua ya"


"Pake helm, biar gak malu" balas Gala sambil terkekeh.


Selama sakit Ara hanya memakai piyama model dress, kakinya belum bisa tersentuh atau di tutupi apapun kecuali kain tipis, jadi sudah bisa di pastikan Gala dengan mudahnya menikmati tubuh putih sang istri. Dua gundukan daging kenyal pun menjadi incaran Gala saat ini karna hanya disana lah ia bisa berwisata Ria selagi lembah kenikmatan anak curutnya masih belum bisa di jamah oleh si pepaya gantung.


Gala terus saja menciumi bahu Ara yang putihnya seputih susu dan mulus tanpa cacat sedikitpun. Ia melakukannya tanpa takut dan ragu lagi karna Ara mulai sedikit menikmatinya. gadis itu hanya bergeliat kecil jika lidah Gala lah yang bermain-main.


"Jangan di tahan, Desah anmu justru membuatku menggila, Dear" ucap Gala dengan napas berat, ia benar-benar tak kuat lagi menahan hasratnya.

__ADS_1


"Ara... kegelian, Ara bingung harus gimana?" jawabnya dengan mata terpejam.


"Nikmati, Sayang. Cukup hanya itu"


Untuk menenangkan sang istri, keduanya kembali berciuman, bibir mereka saling bersentuhan dengan lembut agar lebih santai dan bisa melanjutkan ke yang lebih intim nantinya. Gala tak melepaskan Ara sama sekali kecuali membiarkan gadis itu sejenak mengambil napas.


Ara yang pasrah membiarkan suaminya itu berwisata sesukanya, ia tak melarang atau memprotes lagi. Ara yang cerdas tentu tak tahu tentang Penyatuan tubuh tapi Ara belum paham tentang pemanasannya maka tak salah jika gadis cantik itu begitu penasaran sampai begitu menikmatinya.


"Kamu ngapain?" tanya Ara saat tangan Gala sibuk di punggungnya.


"Mau buka ini, mana sih kaitannya? aku cari cari gak ada?" sungut Gala kesal.


.


.


.


Nanya atuh Sayang, kan kaitannya ada didepan nih. Lupa ya?

__ADS_1


__ADS_2