Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]

Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]
Sakit perut.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Ara sakit perut banget, aduh!"


Si cantik kesayangan Gala itupun langsung bangun dan melesat dengan cepat ke kamar mandi meninggalkan Biru yang mematung melihatnya.


"Kan udah di bilang, asem sama pedes. Malah gak percaya" ucap Biru sambil melanjutkan lagi pekerjaannya membuat puding.


Ara yang menahan sakit terus saja memegang perutnya sendiri. Rasa yang melilit membuat keringat dingin membanjiri kening hingga leher juga tengkuknya. Rambut yang tergerai sepinggang pun kini terasa basah oleh buliran cairan bening itu.


"Biasanya gak begini" lirih Ara yang sudah sangat lemas. Bahkan ia tak langsung bangun meski dirasa sudah selesai.


"Ra, kamu gak apa-apa?"


Suara Khayangan yang terdengar sedikit panik membuat Ara buru buru bangun dan berjalan kearah pintu berwarna coklat.


Ia menarik napas lebih dulu sebelum akhirnya membuka benda tersebut.


Cek lek


"Umi..." lirih pelan Ara.


"Sayang, Ara. Kamu kenapa, apa yang sakit?" tanya Khayangan sambil menangkup wajah pucat sang menantu dengan kedua tangannya.


"Ara makanan manisan, terus sakit perut" jawabnya seraya mengusap bagian tengah tubuhnya itu.


"Ya ampun, ya sudah kita ke kamar ya"

__ADS_1


Ara hanya mengangguk, ia di gandeng Umi menuju lift setelah Khayangan meminta tolong pada Biru di buatkan air jahe hangat.


.


.


Sampai di kamar, Ara di baringkan di ranjang. Keringat tak lagi membanjiri keningnya meski ia masih merintih kesakitan.


"Minum dulu, sayang" titah Khayangan saat Biru datang dengan satu gelas air jahe di nampan yang ia bawa.


"Iya, Umi."


Ara yang pasrah akhirnya meraih gelas kaca berukuran sedang itu, di teguknya sedikit demi sedikit hingga habis setengahnya. Rasa melilit di perutnya pun perlahan menghilang.


"Makasih Umi, Maaf"


"Iya, Umi" sahut Ara yang masih sedikit lemas.


"Mau aku temani?" tawar Biru yang masih berdiri di dekat tempat tidur.


"Gak usah, kakak lagi sibuk bikin puding, kan?"


"Kalau begitu kamu tidur ya, Umi keluar dulu" pesan wanita berhijab itu sebelum ia mencium kening istri putra sulungnya.


Sepeninggal Khayangan dan Biru. Ara kembali meringis kesakitan, ia habiskan sisa minuman yang tadi di bawa Biru berharap keadaan perutnya sedikit membaik. Tapi hanya rasa sakitnya saja yang hilang karna panggilan alam tetap tak bisa ia tahan.


Dalam waktu tak kurang dari enam puluh menit Ara susah empat kali keluar masuk toilet

__ADS_1


Jangan tanyakan bagaimana rasanya karna untuk berdiri saja seakan ia tak mampu.


"Ara, Nak"


Khayangan masuk dan memanggil Ara, ia ketuk pintu kamar mandi saat tak melihat sang menantu di ranjang nya.


"Iya, Umi"


Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Ara membuka pintu dengan sangat pelan. Bayangan matanya sedikit kabur saat berhadapan dengan mertuanya sendiri.


"Ara, ya ampun!" pekik Khayangan.


"Sayang, kamu kenapa? jangan bikin Umi takut, Nak" ucap Khayangan lagi. Ia langsung panik saat Ara jatuh lemas dalam pelukannya.


"Umi, sakit banget"


"Iya, Sayang iya. Ara kuat ya, Nak. Kita jalan ke tempat tidur pelan pelan."


Ara tak menjawab sama sekali, rasa lemas nya seakan membuat ia melayang tak merasakan apa-apa lagi kecuali sayup-sayup jeritan Umi nya meminta tolong.


.


.


.


Ra, buka matamu, Nak...

__ADS_1


__ADS_2