![Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]](https://asset.asean.biz.id/gala-asmara---jodoh-dari-kecil--.webp)
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Jangan, ibu mohon jangan Tuan Muda Gala!" tegas Ibu pada Ara yang ia cengkram bahunya.
Titin yang masuk kedalam kamar hotel menyaksikan langsung putrinya sedang di peluk dan hendak di cium oleh anak sang majikan. Jika saja Titin telat datang satu detik sudah bisa di pastikan jika bibir ranum Asmara tak lagi perAWAn. Dan di saat yang sama pula hati seorang ibu itu pasti hancur dan kecewa.
"Kenapa? kak Gala baik, Bu"
"Ingat, Ra. Gala siapa dan kamu siapa!"
Ara menunduk, sebaik apapun hidupnya selama ini ia memang tetap anak ibu, bukan anak keturunan Rahardian. Limpahan kasih sayang dan harta yang Ara dapat memang sering membuat ia lupa dari mana asalnya. Satu tetes air mata pun akhirnya jatuh.
"Kak Gala katanya cinta sama Ara, Bu" ucap Ara polos.
"Dia hanya menyayangimu sebagai adiknya. Mana mungkin pria setampan dan sekaya itu serius padamu, Ara. Buang pikiran mu yang sudah sangat jauh itu. Gala dan kamu berbeda, meski ia benar menyukaimu belum tentu juga Tuan dan Nyonya mau menerimamu. Kamu tak boleh jadi anak tak tahu diri, sudah di urus sejak bayi dan sekarang kamu ambil anaknya, ibu tak suka!" cetus Titin.
__ADS_1
Ara yang lemas akhirnya duduk di tepi ranjang, ibu tak pernah setegas ini bicara padanya, apalagi melarang ia melakukan apa yang ia inginkan. Nada bicara ibu sangat berbeda karna terkesan dingin.
Baru bebeberapa waktu lalu ia merasa sebagai tuan putri, tapi detik ini ia seakan di paksa untuk sadar posisinya yang hanya upik abu.
"Iya, Bu. Ara paham. Kita tak layak untuk mereka" lirih Ara, perasaan yang baru tumbuh itu nyatanya harus ia tahan bahkan harus di buang sebelum berani membalasnya.
"Ra, anggap Gala cukup sebagai kakakmu ya. Sadar diri jauh lebih baik. Jangan menaruh harapan terlalu tinggi pada manusia karna kita tak tahu jodoh kita siapa." pesan Ibu yang kini ikut duduk disisi putrinya. Ibu mengusap punggung Ara yang kini tangisnya sedikit keras.
Ia sangat mengerti perasaan sang buah hati semata wayangnya itu. Tapi sebelum semua terlambat, Titin akan bertindak lebih dulu.
"Tapi apa Ara boleh untuk menyimpan perasaan ini, Bu? Ara janji, Ara gak akan kasih tau kak Gala. Cukup Ara sama ibu yang tahu" pintanya memohon.
"Untuk apa? hilangkan perasan itu karna semuanya hanya bagai bom waktu, Ra"
Ara tak lagi menjawab, ia benar-benar bingung karna keinginan mereka sangat jauh bertolak.
__ADS_1
Bahkan untuk menyimpan sendiri pun ia tak di izinkan ibunya.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Jalani saja seperti biasa layaknya kakak dan adik tapi kamu harus ingat batasan kalian, paham Ara?"
"Iya, Bu"
Ara menatap punggung ibu yang kini berjalan ke luar kamar hotel, ia hapus air matanya kemudian bangun dari duduk. Kini Ara berdiri di depan Cermin yang begitu besar dan jelas menggambarkan dirinya seolah semakin menegaskan bahwa ia dan Gala seperti BULAN dan MATAHARI
.
.
Mulai hari ini, kamu adalah sosok pria yang tak akan ku sebut sebagai milikku di depan banyak orang.
__ADS_1