Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]

Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]
Nikahi, dia...


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Assalamu'alaikum kak Gala" sapa salam dari wanita cantik berbalut gamis coklat susu dengan kerudung panjang yang menutupi dadanya.


Aisyah, sahabat Aurora di pondok pesantren sekaligus anak teman Bumi sesama donatur tempat tersebut. Ia cantik, sangat cantik dengan lesung pipi di bagian kanannya jika tersenyum tapi Aish jarang sekali memperlihatkannya karna seringnya ia menundukkan pandangan.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Gala dan Ara berbarengan.


"Kapan datang?" tanya Gala tanpa melepas genggaman tangannya, ia justru menarik tangan Ara ke sofa tepat di depan Aish kini berdiri saat mengucapkan salam.


"Tadi bareng Umi sama Abi" jawabnya sopan dan ramah.


"Ola gak pulang?" kini pertanyaan ia berikan pada orangtuanya.


"Lusa adek pulang, jangan di ajakin bertengkar terus ya, kak" pesan Khayangan.


"Hem, gak janji."


Ara yang mulai salah tingkah hanya diam mendengar kan, ia tak berani memeluk Umi yang kini duduk tepat di samping Aish, kini ia merasa benar-benar menjadi anak angkat keluarga konglomerat saat ada perempuan lain yang hampir sejajar dengan Rahardian.


Aku yang hanya anak curut mana mungkin jadi seekor kucing persia disini.


"Ara pamit ke kamar ya, Abi, Umi, mbak Aish" ucapnya sambil bangun dari duduk.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Nanti kita makan malam sama-sama mbak Aish juga" balas Khayangan.


"Iya, Umi." Ara yang mau melangkah di tarik lagi oleh Gala, pria itu ikut bangun dan kini sudah berdiri di belakang Ara.


"Bareng, kakak juga mau ke kamar" ujarnya dengan mata lekat menatap Ara.


"Gala, duduk!" titah tegas Bumi pada si sulung.


Gala yang menoleh masih bergeming dengan posisinya, sedangkan Ara buru buru pergi membawa banyak pertanyaan dalam hatinya.


.


.


"Ala gerah, Bi"


"Nanya apa? kata Abi sama Umi kan gak boleh terlalu kepo sama urusan orang"


"Ya sekedar basa basi dong, La. Kalian terakhir ketemu kayanya enam bulan lalu kan?" timpal Khayangan sembari mengelus punggung tangan Aish.


Aish yang masih menunduk tak lagi bicara, gadis cantik solehah itu sibuk menutupi rasa canggung dan malunya, jika saja Aish mendongak kan wajahnya tentu Gala sudah bisa melihat semerah apa kedua pipi anak tunggal seorang pengusaha kayu di kota kembang tersebut.


"Enam bulan cepet, Ala kadang suka kirim chat kok ke Aish"

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Bumi dan Khayangan berbarengan.


"Iya, kalau Ola lagi susah di hubungin, Ala pasti chat atau telepon Aish, iya kan?"


"Iya, Abi, Umi." jawab Aish.


"Tapi kami ingin kalian berkomunikasi lebih dari itu kalau bisa selangkah lebih maju, contohnya berkomitmen"


Gala yang paham namun masih pura pura menyangkal, setidaknya ia masih beranggapan jika pikirannya itu salah.


"Maksud Abi apa?" tanya Gala dengan perasaan berdebar hebat menunggu jawaban.


"Nikahi Aish, dia calon istri yang baik untukmu, Kak" tegas Bumi dengan nada bicara sangat serius, Gala langsung menoleh kearah Uminya tapi wanita yang melahirkannya itu pun malah mengangguk kan kepala.


"Ala gak suka bercandanya kalian!"


Gala bangun lagi dari duduk, kini langkahnya tak lagi kearah tangga menuju kamar tapi justru ke mobilnya yang sudah masuk kedalam garasi. Dengan perasaan tak karuan kini ia mengendari kereta besinya menuju rumah utama..


.


.


.

__ADS_1


Appa pasti mau bantuin Ala, kan??



__ADS_2