![Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]](https://asset.asean.biz.id/gala-asmara---jodoh-dari-kecil--.webp)
20.56.
Itulah waktu terakhir Ara membalas pesan Gala.
Ara mengatakan jika sebentar lagi ia akan sampai di rumah orang tuanya. Berhubung batrei ponselnya pun hampir habis, Ara pun sudah mewanti wanti agar tak khawatir jika tak ada kabar, karna saat disana nanti Ara hanya ingin membersihkan diri lalu tidur dengan lelap.
Gala hanya pasrah, ia pun akan melakukan hal yang sama karna esok ia akan menjemput Appa dan Ammanya di rumah utama. Pasangan baya itu tak mau melewatkan acara bersejarah sang cucu kesayangan mereka.
Air dan Hujanpun akan ikut serta untuk menjaga orang-tua mereka. Tapi tidak dengan sang putra atau keluarga yang lain karna semuanya memiliki kesibukan masing-masing lagipula masih ada acara di ibu kota yang bisa mereka hadiri.
.
.
Pagi hari Bumi dan Khayangan sudah mulai bersiap, begitu pun dengan Aurora yang nampak begitu sibuk, anak gadis Rahardian itu seolah dialah yang akan bertunangan karna semua ia lah yang mengatur.
"Ala pergi dulu ya, Umi" pamitnya pada Khayangan.
"Iya, Nak. Hati-hati di jalan dan cepat kembali ya" pesan sang ibu pada putra sulungnya yang kini tinggi badannya sudah lebih tinggi darinya.
"Siap, Umi"
__ADS_1
Gala berlalu menuju pintu utama setelah mencubit pipi adik kembarnya, meski lahir di hari dan rahim yang sama, keduanya tak memiliki kemiripan. Tak seperti Abinya yang sekilas masih mirip dengan Cahaya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, ia tak ingin terlalu terburu buru dan mengambil resiko. Esok adalah langkah awal kebahagiaannya tentu ia tak akan gegabah pada dirinya sendiri.
Hanya beberapa menit, mobil mewahnya pun kini sudah terparkir di rumah utama bak istana itu. Dulu saat ia bayi ia sempat tinggal disana sebelum Ammanya percaya jika Khayangan benar-benar bisa mengurus anak kembarnya sendiri.
"Assalamu'alaikum" sapanya saat masuk kedalam kamar Tuan besar Rahardia setelah mengetuk pintu beberapa kali.
Ruangan yang sering di pakainya bertengkar dengan Samudera untuk berebut pelukan Appa mereka.
"Amma kira nanti" ucap Melisa setelah Gala puas menciumi wajah cantik si wanita baya yang memiliki sentuhan hangat di tangannya.
"Disuruh sekarang sama Abi, biar gak capek"
Ketiganya keluar dari kamar menuju lift, si kotak besi yang akan membawa mereka ke lantai bawah.
Gala mengulum senyum manakala kedua netranya melirik kearah dua tangan yang saling menggenggam seolah tak ingin di lepas.
Semoga aku dan dia seperti mereka... Cintaku yang tak bertepi ku harap akan kekal abadi.
.
__ADS_1
.
.
Lain di rumah utama, tentu lain juga dengan di kediaman Bumi. Pria itu tak hentinya memperhatikan sang istri yang begitu sangat cantik jelita dan indah di pandang. Saking berharganya Khayangan kadang Bumi ingin sekali meminta bidadari dunianya itu diam dirumah. Tapi Bumi sadar jika wanita halalnya itu terlalu banyak kegiatan di luar rumah yang kebetulan menyangkut orang banyak.
Lamunannya buyar saat ponsel miliknya berdering di saku celana. Dengan senyum yang masih menghiasi wajah tampannya ia pun dengan cepat merogoh untuk mengambil si benda pipih tersebut.
"Siapa, Bi?" tanya sang istri.
"Belum tahu, Umi" jawab Bumi yang memang belum melihat siapa yang menghubunginya saat ini.
"Hallo, Assalamu'alaikum"
Satu detik.. dua deti.. tiga detik..
.
.
.
__ADS_1
Apa, kecelakaan?