![Gala Asmara [ Jodoh Dari Kecil ]](https://asset.asean.biz.id/gala-asmara---jodoh-dari-kecil--.webp)
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Menikahi Ara?" pekik Abi, Umi dan Ibu berbarengan di ruang tengah lantai dua.
"Ara masih terlalu kecil untuk menikah" gumam Ibu yang tentunya kaget dengan permintaan anak laki-laki majikannya itu.
"Kartu Tanda penduduk pun belum punya" timpal Khayangan yang bingung.
"Tunangan saja dulu" selak Aurora tiba-tiba yang duduk di sofa single.
"Ide bagus!" cetus Bumi sambil menjentikan jari.
Senyum mengembang di antara empat orang yang kini ada di depan Galau saat mendapat jalan lain perihal permintaannya untuk menikahi Ara dalam waktu dekat.
"Tanggung, Bi. Kenapa gak sekalian ijab kabul aja sih. Ala juga udah kerja, udah bisa kasih nafkah lahir bathin buat Ara." protes si tampan kebanggan Tuan besar Rahardian.
"Nah, ini nih. Nafkah bathin yang jadi masalah" kata Bumi mulai membenarkan posisi duduknya lebih tegap.
"Ara masih di bawah umur, setidaknya tunggu beberapa tahun lalu. Kamu juga masih dua puluh tiga tahun, Kak. Masih banyak waktu. Jika Tunangan Ok tapi untuk menikah No" tegas Bumi.
"Abi gak seru!" sungut Gala kesal yang hanya di balas senyum kecil dari Uminya. Tatapan Khayangan begitu lekat pada si anak sulung.
__ADS_1
Rasanya baru kemarin kamu merengek ingin susu, tapi hari ini justru kamu sudah merengek ingin menikah. Begitu cepat waktu berlalu padahal Umi belum puas mengurusmu. bathin Khayangan.
"Pikirkan lagi, La. Yang namanya menikah pasti akan memiliki anak. Ara harus kuliah dan menjadi sarjana. Abi sudah urus semuanya"
Gala membuang napas kasar, ia kesal karna keinginannya di tolak oleh Abinya sendiri. Padahal dari cerita kakak sepupunya, menikah itu adalah ibadah ter nikmat tiada tara.
"Pertunangan pun harus di lakukan saat Ara Lulus sekolah, Abi tak ingin ada berita miring apapun tentang kalian. Kamu harus sabar untuk beberapa bulan ke depan. Sambil kita semua menyiapkan segalanya, bukan begitu Tin?" tanya Bumi pada Wanita yang melahirkan Ara penuh perjuangan di tengah hujan lebat delapan belas tahun lalu saat ia dan sang istri baru saja pulang dari rumah utama.
"Iya, Tuan. Saya juga harus bicarakan ini pada Ayah Ara dan keluarga di kampung. Mohon untuk tidak terburu-buru, Tuan muda" pinta Titin dengan sedikit menunduk. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Melihat Gala sebagai calon menantunya atau tetap anak dari majikannya.
"Kan, kamu dengar sendiri. Menikah butuh proses panjang, Gala. Tidak semudah itu kamu mengambil seorang anak gadis dari orangtuanya" kata Bumi lagi mengingat kan.
"Dan satu lagi"
Gala yang bingung tentu langsung mengernyitkan dahinya. "Apa?" tanya Gala cepat.
"Kamu dan Ara kini bukan lagi sekedar kakak dan adik seperti kami bayangkan dulu. Abi, Umi dan Ibu harap kalian bisa menjaga sikap. Jangan terlalu dekat karna bagaimanapun kalian belum halal. Abi tak ingin terjadi hal di luar batas" cetus Bumi dengan sangat tegas.
"Paham, kan Galasky ArMikha Rahardian Wijaya."
"Iya, Abi. Gala sangat sangat paham" jawabnya sedikit malas tapi tetap harus dengan nada meyakinkan.
__ADS_1
.
.
Gala yang kini kembali ke kamarnya langsung membaringkan tubuh di tengah ranjang king size yang begitu empuk dan nyaman, sambil menatap langit langit kamar ia pun terus bergumam.
"Apa tadi Abi bilang, gue disuruh jaga sikap karna tak ingin terjadi sesuatu. Padahal, Pas Kecil kalo Ara pipis kan gue yang pakein celana. Ya ampun masih inget banget gue!"
Gala mesum, otaknya lagi Travaling ke apem mini 🤣🤣🤣.
Like komennya yuk ramaikan.
#AirHujan
#SamuderaBiru
#Suamidadakan
Semua up ya 😏😏😏👍
__ADS_1