
"Steve, berhentilah. Kau bisa mabuk nanti. Ibumu akan marah jika dia tahu kalau kau kembali minum. Apa kau ignin berakhir di rumah sakit seperti waktu itu?"
Sonia menahan tangan Steven yang akan menuangkan minuman ke gelasnya yang sudah kosong. Steven sudah menghabiskan 1 botol minuman, maka dari itu, Sonia harus menghentikannya.
Setelah pulang dari rumah Fiona, Steven mengarahkan mobilnya menuju hotel tempatnya menginap. Dia bukan pergi ke kamarnya, melainkan ke bar yang ada di lantai bawah hotel tersebut.
Saat dia sedang baru saja masuk ke loby, Sonia melihat Steven sedang berjalan sendirian. Sonia memutuskan untuk mengikuti Steven dari belakang.
Steven menoleh pada Sonia yang duduk di sampingnya. "Aku sudah melepasnya Sonia. Dia tidak mau kembali lagi padaku." Steven tertawa. Dia sedang menertawakan dirinya sendiri. "Dia sudah bahagia dengan pria lain. Aku sudah kalah. Aku...."
Steven menunduk lalu terdiam sesaat. "Dia bilang sudah tidak mecintaiku, Sonia. Padahal aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa hidup tanpanya, Sonia. Aku harus bagaimana sekarang?" Suara Steven berubah menjadi serak dan bergetar.
Menyadari keanehan pada Steven, Sonia mengangkat kepala Steven dan melihat wajahnya basah oleh air mata. "Steve."
Suara Sonia seolah tercekat ditenggorokan ketika melihat raut kesedihan di wajah Steven. Baru kali ini, dia melihat Steven sangat terpuruk karena wanita. Dulu, saat kepergian Gwen, Steven tidak terlihat serapuh ini.
Steven menatap Sonia dengan tatapan sendu. "Aku merindukannya Sonia, padahal aku baru saja bertemu dengannya tadi. Bagaimana aku menjalani hidupku jika tanpa dia di sisiku?" Steven memegang lengan Sonia, "katakan padaku, apa yang harus aku perbuat sekarang? Aku sangat mencintainya Sonia."
Sonia tidak bisa berkata-kata untuk sesaat. Di satu sisi dia bahagia karena memiliki peluang untuk bersama dengan Steve, tapi sisi lain , dia tidak bisa melihat Steven terpuruk dan menderita. "Steve, kenapa kau tidak mencoba untuk meluluhkan hatinya kembali?"
Steven menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia sudah tidak mau melihat wajahku. Aku tidak mau membuatnya semakin membenciku. Dia bilang sudah mencintai pria lain dan tidak mungkin mencintaiku lagi."
"Ternyata kau di sini, bersenang-senang dengan wanita lain setelah membuat Violita menderita." Steven dan Sonia menoleh saat mendengar suara seorang pria.
"Kau memang pantas untuk dihajar." Reynald menarik kerah Steven lalu memukul wajahnya.
Buuuugggghhh..
Steven terjatuh setelah menerima satu pukulan dari Reynlad. Sonia langsung berlari ke arah Steven, setelah itu langsung menghadang Reynald ketika dia akan kembali memukul Steven.
"Apa kau gila? Kenapa kau memukulnya?" Sonia terlihat menatap tajam pada Reynald.
"Pria brengsek ini sudah membuat adikku terbaring di rumah sakit," tunjuk Reynald
Steven berusaha untuk berdiri setelah memegang sudut bibirnya yang terasa sakit. "Adik? Siapa yang kau maksud?" Steven berjalan mendekati Reynald tanpa takut dipukul lagi.
Reynald tertawa sinis. "Apa begitu banyak wanita yang ada di hidupmu sampai kau melupakan wanita yang baru saja kau temui?" Steven mengerutkan keningnya sambil menatap heran pada Reynald.
__ADS_1
"Violita Pramesti Baldwin adalah adik sepupuku. Apa kau tidak menyadari kenapa dia bisa memakai nama keluargaku? Bukankah seharusnya kau tahu nama keluargaku karena kau sudah pernah menyelidiki aku?"
"Apa??" Bola mata Steven membesar, "kau bilang Fiona adalah adikmu? Bagaimana bisa?"
"Apa kemampuan dari keluarga Pradigta sudah menurun sehingga kau tidak tahu mengenai keluarga asli dari mendiang ibu Fiona?"
"Jadi, kau adalah keluarga dari mendiang ibu Fiona?"
"Aku ke sini bukan untuk membahas mengenai asal usul Fiona. Di mana dia berada, kau pasti yang menyembunyikannya, kan?" Reynald kembali menarik kerah baju Steven.
"Apa maksudmu?" tanya Steven dengan dahi mengerut.
"Fiona menghilang dari rumah sakit dan kau orang terakhir yang bertemu dengannya sebelum aku membawanya ke rumah sakit."
"Menghilang?" Steven kembali terkejut mendengar penuturan Reynald. "Katakan padaku, apa yang terjadi dengan Fiona? Ada apa dengannya?" Steven melepaskan tangan Reynald lalu berbalik mencengram kerahnya.
"Dia pingsan setelah bertemu denganmu. Kau yang sudah membuatnya pingsan." Reynald menghempaskan tangan Steven saat cengkaramannya melemah.
Ketika Reynlad tidak bisa menghubungi ponsel Fiona, dia langsung mengecek Fiona lewat CCTV yang terhubung dengan ponselnya, saat itulah dia tahu kalau Fiona pingsan di depan rumah setelah kepergian Steven.
"Tapi, aku tidak melakukan apapun padanya." Steven menatap ke bawah dengan wajah linglung.
Seketika tubuh Steven melemah dan lemas setelah mendengar penuturan Reynald. Fakta yang baru saja tahu membuatnya sangat terkejut. Dia tidak menyangka kalau Fiona ternyata sama menderitanya sama sepertinya dirinya saat mereka terpisah.
"Aku sungguh tidak tahu mengena hal ini, kalau aku tahu, aku....." Steven tidak mampu berkata apa-apa lagi.
"Jika sampai terjadi apa-apa dengan Fiona, aku akan membuat perhitungan denganmu. Aku tidak peduli lagi dengan latar belakang keluargamu." Dengan wajah emosi, Reynald berjalan meninggalkan Steven yang masih berdiri mematung.
"Tunggu, beritahu aku dulu ke rumah sakit mana kau membawa Fiona. Aku akan membantumu untuk mencarinya," ucap Steven sambil menghadang Reynald.
"Untuk apa kau tahu?"
"Dengar Reynald, ini ada hubungannya denganku, Fiona seperti itu karena aku. Kali ini, aku tidak akan meninggalkannya lagi." ujar Steven penuh penekanan. "Aku akan mencarinya sampai ketemu," lanjut Steven lagi.
Reynald berpikir sejenak. "Rumah sakit Clevand. Aku sudah menyuruh orangku untuk mencarinya ke seluruh rumah sakit, tapi dia tidak ada di sana."
"Mungkin dia sedang bersama dengan Leon," tebak Steven.
__ADS_1
"Leon juga sedang mencarinya."
"Mungkin saja dia ada di rumah," ucap Steven.
"Leon sudah mencarinya ke sana, tapi tidak ada siapa-siapa di sana."
Seketika ponsel Reynald berbunyi. Reynald dengan cepat mengangkat telponnya ketika melihat nama Leon yang tertera pada layar ponselnya. Wajah Reynald tampak lesu setelah telponnya terputus.
"Fiona, belum ditemukan," ucap Reynald dengan wajah putus asa.
"Baiklah, aku akan mencarinya. Aku juga akan meminta bantuan pada petinggi di sini untuk mengerahkan polisi untuk segera mencari Fiona."
Hubungan Steven dengan petinggi di negara tersebut memang dekat karena dulunya ayahnya memiliki hubungan baik dengan mereka. Steven juga sudah lama tinggal negara tersebut dan mengenal beberapa orang penting. Beberapa dari mereka sering meminta bantuan pinjaman dana darinya ketika mereka memerlukan dana yang besar.
"Baiklah, kabari aku jika kau yang menemukan keberadaan Fiona duluan."
Reynald memberikan kartu namanya sebelum pergi. Meskipun Reynald masih kesal dengan Steven, tapi mau tidak mau, dia harus menerima bantuan dari Steven, bagaimana pun saat ini prioritasnya adalah menemukan Fiona.
Steven meminta Sonia untuk kembali ke kamarnya, setelah itu dia menghubungi Erick dan Bryan untuk memintanya mencari Fiona.
Dia juga menghubungi beberapa orang sebelum dia mencarinya sendiri.
Steven mulai mencarinya di area rumah sakit, kemudian kantor Fiona lalu dia memutuskan untuk mencari di rumahnya, mungkin saja Fiona sudah pulang ke rumahnya, meskipun Reynald bilang kalau Leon sudah mencari Fiona ke rumahnya, tapi dia tetap ingin mengeceknya sendiri.
Ketika Steven sampai di depan rumah Fiona, matanya langsung terbelalak saat melihat Fiona sedang duduk di bawah pohon tempat biasanya dia memarkirkan mobil saat menunggu Fiona keluar dari rumahnya.
Dengan langkah cepat, Steven menghampiri Fiona yang sedang duduk sambil mendekap kedua lututnya. "Fio, apa yang kau lakukan di sini?" Steven berjongkok di depan Fiona seraya memegang lengannya
Fiona langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara Steven. "Steve." Mata Fiona kembali meneteskan air mata ketika melihat Steven berada di depannya.
"Kenapa kau duduk di luar? Kau bisa sakit nanti. Semua orang sedang mencarimu. Kau hampir membuatku gila, Fio," Steven sambil memeluk erat tubuh Fiona.
"Kenapa kau kembali ke sini lagi?" tanya Fiona dengan suara lemah.
"Aku tarik kembali kata-kataku saat aku bilang akan melepasmu. Kali ini, aku tidak akan pergi meningglakanmu, meskipun kau mengusirku ataupun menyuruhku meninggalkanmu. Aku akan merebutmu dari Leon. Aku tidak peduli, meskipun dia adalah tunanganmu. Fiona, aku janji tidak akan menyakitmu lagi, jadi aku mohon jangan pernah melepaskan genggaman tanganku lagi."
Setelah tahu fakta bahwa Fiona masih mencintainya, Steven sudah bertekad untuk kembali memperjuangkan cintanya. Kali ini, tidak berniat untuk mundur sedikitpun.
__ADS_1
Bersambung....