Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Melepasnya...


__ADS_3

Melihat Fiona duduk terdiam, Steven lalu duduk di depan Fiona. "Fiona, apa sudah tidak ada tempat lagi bagiku di hatimu?"


Tatapan Steven menyiratkan kekecewaan yang mendalam.


Sementara Fiona menggenggam kuat kedua tangannya yang mulai bergetar, matanya mulai berkaca-kaca ketika mendengar pertanyaan Steven.


"Jawab Fio. Apa sudah tidak ada tempat lagi bagiku di hatimu?" ulang Steven lagi ketika tak kunjung mendapatkan jawaban dari Fiona.


Melihat Fiona masih diam sambil membuang pandangannya ke samping, Steven langsung menyimpulkan kalau Fiona memang sudah tidak mengharapkannya lagi.


"Fiona, apa kau tahu, selama setahun ini aku terus mencari dan menunggumu. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa kau belum kembali karena masih marah padaku, tapi ternyata kau sudah memiliki kehidupan bahagia di sini."


Fiona menghapus air matanya yang sudah menetes dengan cepat kemudian beralih menatap pada Steven. "Steve, jika kau sudah menunggu sekian lama tapi aku tidak kembali juga, itu berarti aku sudah tidak menginginkanmu. Seharusnya kau tahu itu."


Fiona berusaha menahan air matanya yang akan kembali menetes. "Lagi pula, bukankah dulu kau yang tidak menginginkan aku, lalu kenapa kau masih mencariku?" tanya Fiona dengan suara bergetar. Matanya kembali berair ketika melihat tatapan Steven. Tatapan penuh kerinduan yang ditujukan untuk dirinya.


"Fio, maafkan atas sikapku yang dulu yang sudah mengabaikanmu. Alasan kenapa aku tidak datang di hari lamaran kita adalah karena aku tidak mau mengambil langkah yang salah. Saat itu, aku bahkan tidak tahu siapa sebenarnya yang aku cintai. Aku ingin memastikan terlebih dahulu sebelum hubungan kita berlanjut ke tahap serius. Aku butuh waktu untuk memastikan bagaimana perasaanku yang sesungguhnya terhadapmu," ungkap Steven.


"Saat aku sudah tahu siapa sesungguhnya aku cintai, aku berniat untuk menemuimu setelah aku pulang dari rumah sakit untuk membicarakan mengenai pernikahan kita. Aku berniat langsung menikahimu, tapi ternyata kau sudah pergi menghilang tanpa memberiku kesempatan untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya," lanjut Steven lagi.


Fiona kembali menghapus air matanya. "Steve, semua sudah berlalu. Tidak ada gunanya lagi membahas masalah yang dulu," potong Fiona.


Steven menatap Fiona dengan wajah sendu. "Tidak bisakah kau memaafkan aku? Aku mohon jangan membenciku."


"Aku sudah memaafkan Steve jauh sebelum kau meminta maaf. Aku juga tidak membencimu, hanya saja kita sudah tidak bisa bertemu lagi."


"Tidak bisakah kau memberikan aku kesempatan satu kali lagi untuk menebus semua kesalahanku? Aku sangat mencintaimu, Fio."


Air mata Fio kembali menetes dan bibirnya terus bergetar. Hatinya sakit ketika melihat Steven juga menitikkan air mata. "Maaf Steve, aku tidak bisa. Saat ini yang terpenting bagiku adalah kak Leon, aku tidak mau menyakiti perasaanya jadi tolong lupakan aku."


"Apa kau sungguh mencintainya?"

__ADS_1


"Yaaa," jawab Fiona sambil mengalihkan pandanganya ke samping. Dia tidak sanggup menatap wajah Steven yang kecewa.


"Kau pasti berbohong, kan? Kau pasti masih marah padaku."


Fiona beralih menatap Steven. "Aku sudah tidak mencintaimu Steve, jadi tolong jangan ganggu aku lagi. Aku tidak mau kak Leon salah paham padamu."


Hati Steven langsung mencelos mendengar pengakuan Fiona. Setelah terdiam beberapa saat, Steven kembali berkata, "Tidak masalah bagiku kalau kau sudah tidak mencintaiku. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku. Aku akan tetap menunggu sampai kau mau membuka hatimu untukku." Steven kemudian berdiri.


"Kalau begitu aku pulang dulu. Besok aku ke sini lagi. Kau pasti lelah."


Fiona ikut berdiri ketika Steven akan melangkah. "Maaf Steve, ini terkahir kalinya aku mau menemuimu, tidak akan ada lain kali lagi."


Steven tersenyum lalu mengahampiri Fiona. "Aku akan tetap ke sini meskipun kau tidak mau menemuiku. Aku akan memperjuangkanmu sampai kau mau kembali padaku." Steven maju selangkah lalu mengecup pucuk kepala Fiona sebelum Fiona sempat menghindarinya.


"Aku pulang dulu. Tidurlah. Maaf karena sudah mengganggu waktumu."


*******


Keesokan malamnya, Steven kembali datang ke rumah Fiona pukul 7 malam, tapi dia sedang menunggu Leon pulang. Ketika dia baru sampai, dia melihat ada mobil yang di kendarai Leon di depan rumah Fiona. Steven memutuskan menunggu di dalam mobilnya sampai Leon pulang baru dia akan menemui Fiona.


Setelah menunggu selama 1 jam di depan pintu rumah Fiona, Steven memutuskan untuk menunggu Fiona di depan rumahnya sampai Fiona mau keluar. Dia duduk tepi bagian depan mobilnya yang terparkir dibawah pohon, tidak jauh dari rumah Fiona.


Steven nampak hanya duduk sambil terus memandang ke arah pintu Fiona berharap wanita yang dicintainya itu mau menemuinya. Tapi, itu hanyalah angannya saja, pada kenyataannya, Fiona tidak juga membuka pintu rumahnya meskipun tadi dia sudah memencet bel sambil memanggil namanya.


Setelah menunggu selama 5 jam, tepat pada pukul 12 malam, Steven memutuskan untuk pulang dan kembali lagi besok. Keesokan malamnya dia kembali lagi, sama seperti malam sebelumnya, setelah Leon pulang, Steven kembali memencet bel dan menunggu sampai Fiona mau membuka pintu rumahnya.


Tapi, Steven kembali harus menelan kekecewaan karena Fiona tidak juga mau menemuinya. Steven kembali pulang saat pukul 12 malam. Begitu terus sampai hari kelima. Steven nampak belum juga menyerah. Setiap hari dia datang ke rumah Fiona meskipun Fiona tidak mau bertemu dengannya.


Saat Steven akan pulang pada pukul 12 malam, Fiona membuka pintunya. Steven langsung menghampiri Fiona dengan wajah gembira. "Fio, akhirnya kau keluar juga."


"Steve, tidak bisakah kau membiarkan aku hidup tenang? Kenapa kau terus menggangguku?"

__ADS_1


Fiona menatap marah pada Steven. Dia tidak habis pikir dengan Steven, kenapa Steven keras kepala sekali padahal dia sudah mengabaikannya selama beberapa hari ini.


"Sudah aku bilang, aku tidak akan menyerah padamu. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku." Steven masih tetap berusaha tersenyum pada Fiona yang sedang menatap tajam pada dirinya.


"Steve, bukankah kau sudah akan menikah dengan Sonia, lalu kenapa kau masih mengejarku? Apa kau ingin mempermainkan wanita lain lagi sama seperti yang kau lakukan padaku dulu?" Fiona tentu saja tahu mengenai berita perjodohan Steven dan Sonia lewat media.


"Aku tidak mencintai Sonia, Fio. Aku hanya mencintaimu. Percayalah padaku," ungkap Steven.


"Tapi aku sudah tidak mencintaimu. Aku tidak mau kembali lagi padakm, Steve. Cintaku sudah habis untukmu dan tidak akan pernah ada lagi cinta untukmu. Tidak bisakah kau pergi dari hidupku dan berhenti menggangguku?" Fiona berusaha untuk menahan air matanya yang akan kembali menetes.


Steven tersentak mendengar perkataan Fiona. "Apa kau sungguh sudah tidak mencintaiku?"


"Tidak," jawab Fiona cepat.


"Kau sungguh tidak mau melihatku lagi?"


"Yaa."


"Jadi, kau tidak mau memberikan aku kesempatan sedikitpun padaku?"


"Steve, aku sudah bahagia tanpamu, jadi aku mohon jangan ganggu aku lagi," ucap Fiona dengan suara bergetar. Sebentar lagi air matanya akan kembali tumpah.


Steven terdiam sambil menatap Fiona dengan tatapan sedih dan kecewa. "Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku akan berhenti sampai di sini. Maafkan aku karena sudah mengganggumu selama beberapa hari ini. Aku akan melepaskanmu. Aku janji tidak akan pernah muncul di hadapanmu lagi. Sekali lagi, aku minta maaf. Semoga kau bisa bahagia dengan Leon," ucap Steven dengan suara serak dan bergetar.


Air mata yang sedari tadi Fiona tahan, langsung tumpah setelah mendengar ucapan Steven. "Jangan menangis, maafkan aku karena sudah mengganggumu." Steven menghapus air mata Fiona yang sudah mengalir dipipinya yang memerah.


Melihat Fiona tidak berhenti mengeluarkan air matanya. Steven maju lalu memeluknya dengan erat. "Aku sungguh minta maaf, Fio. Aku janji tidak akan menganggumu lagi, jadi aku mohon berhenti menangis." Fiona hanya diam membiarkan Steven memeluknya.


Setelah Fiona tidak menagis lagi, Steven kemudian melepaskan pelukannya. "Aku akan pergi sekarang kalau kau tidak suka melihatku. Jaga dirimu baik-baik. Aku harap Leon bisa membuatmu bahagia. Aku pergi."


Steven berbalik lalu berjalan ke arah mobilnya. Dia berusaha keras menahan air matanya yang akan mengalir. Membayangkan kalau dia tidak akan pernah melihatnya lagi membuat Steven merasa sangat sedih.

__ADS_1


Baiklah, aku akan melepasmu. Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku menyerah bukan karena aku tidak mencintaimu, tapi aku ingin kau bahagia dengan pilihanmu. Kalau aku ingin menuruti keegoisanku, aku pasti akan membawamu pergi ke tempat yang tidak bisa ditemukan oleh siapapun, tapi aku tidak mau menyakitimu lagi. Cukup sudah aku memberikan penderitaan padamu. Aku harap kau akan selalu bahagia, Fio.


Bersambung.....


__ADS_2