Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Melakukan Pencarian


__ADS_3

Steven meletakkan ponsel di pangkuannya setelah melihat Erick masuk ke dalam ruangannya. "Cari tahu apakah Fiona ada di rumah ibunya. Ponselnya tidak aktif, aku tidak bisa menghubunginya dari tadi pagi." Steven menatap datar Erick yang sedang berdiri di depan ranjangnya.


"Baik Tuan. Saya akan meminta orang untuk mengecek nona Fiona." Erick berbalik sambil menghubungi seseorang, sementara Steven kembali meraih ponselnya.


Ketika sudah mendapatkan kabar dari orang suruhannya, Erick kembali masuk ke dalam ruangan Steven. "Maaf Tuan, nona Fiona tidak ada di rumah nyonya Sarah."


Mendengar hal itu, dahi Steven langsung mengerut. "Apakah dia sedang pergi dengan Leon?" tanya Steven sambil mengalihkan pandangannya dari layar ponsel berpindah menatap ke arah Erick.


"Nona Fiona sudah 2 hari tidak pulang ke rumah nyonya Sarah, setelah kepergiannya dengan tuan Leon."


"Suruh orang untuk mengecek ke rumah Leon, mungkin saja dia ada di sana," perintah Steven cepat.


"Saya sudah meminta orang untuk ke sana juga, tapi rumah tersebut kosong, Tuan. Tidak ada siapapun di sana."


Setelah mendapatkan informasi kalau Fiona pergi dengan Leon, Erick langsung menyuruh orang suruhannya untuk mengecek ke rumah Leon tanpa menunggu perintah dari Steven.


Sorot mata Steven seketika menajam. "Urus kepulanganku sekarang juga. Aku akan mengecek Fiona apakah dia ada di apartemennya atau tidak."


Steven menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya lalu melepaskan selang infus dari tangannya.


Erick maju mendekati Steven ketika dia akan turun dari tempat tidur. "Maaf Tuan, nyonya bilang anda tidak boleh keluar sebelum benar-benar pulih. Anda harus tetap di sini," cegah Erick sambil berdiri di hadapan Steven.


"Minggir!" Steven melayangkan tatapan berkilat ke arah Erick ketika melihat Erick menghalangi jalannya.


"Tapi Tuan, nyonya akan marah besar jika sampai tahu Anda keluar tanpa seijin dokter."


"Semenjak kapan kau berpihak pada ibuku? Apa kau sudah bosan bekerja denganku?" ujar Steven penuh penekanan.


Saat Erick ingin menjawab, seseorang masuk ke dalam ruangan Steven. "Steve, tanganmu berdarah?" Sera langsung berlari kecil menghampiri Steven yang sedang berdiri dengan darah yang menetes dari punggung tangannya.


"Sera, jangan sentuh aku!" Steven menghempaskan tangan Sera ketika dia memegang tangannya, "pergilah, jangan ganggu aku." Tubuh Sera tersentak ketika mendengar Steven membentaknya.


Steven beralih menatap Erick. "Kenapa kau masih di sini? Cepat urus kepulanganku sekarang juga, jangan sampai aku mengulangi perkataanku lagi."


Erick membungkuk sejenak lalu berkata, "Baik, Tuan."


Setelah melihat Erick keluar, Steven berbalik menuju lemari, mengambil baju lalu berjalan ke arah kamar mandi meninggalkan Sera yang sedang berdiri mematung di tempatnya.


Selesai mengganti bajunya, Steven kembali menuju tempat tidurnya. "Steve, kau mau ke mana? Wajahmu masih pucat, kau belum boleh keluar dari sini," ucap Sera setelah melihat Steven duduk di tepi ranjang.


"Sera, berhenti menggangguku, aku sedang tidak ingin diganggu, pergilah!" ucap Steven sambil meraih ponselnya.


"Tapi Steve, kau mau ke mana?"


"Aku harus mencari Fiona," jawab Steven seraya mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.


Sera melangkah mendekati Steven. "Steve, untuk apalagi kau mencarinya? Bukankah kau sudah tidak mencintainya?"


Steven melayangkan tatapan tajam pada Sera karena tidak sedang dengan perkataan Sera. "Siapa bilang aku tidak mencintainya?" tanya Steven dengan wajah yang mengeras.


Sera menelan salivanya saat melihat wajah mengerikan dari Steven. "Kalau kau mencintainya lalu apa alasanmu tidak datang saat acara lamaran kalian? Bukankah sudah jelas kalau kau tidak mencintainya?"


Steven meletakkan ponselnya di ranjang lalu berdiri tepat di depan Sera. "Sera, biar aku beritahu padamu agar kau tidak salah paham. Fiona adalah satu-satunya wanita yang aku cintai saat ini. Alasan kenapa aku tidak datang saat lamaran, bukanlah urusanmu." Steven mengalihkan pandangannya ke arah pintu ketika Erick baru saja masuk.

__ADS_1


"Anda sudah boleh keluar, Tuan." Erick berjalan mendekati Steven.


Steven menatap Sera yang terlihat sedang menahan amarahnya. "Pulanglah, jangan ikut campur urusanku lagi."


Steven berbalik meraih ponselnya yang ada di ranjang setelah itu berjalan ke arah pintu. "Antarkan aku ke apatemen Fiona," ucap Steven ketika dia melewati Erick.


Sesampainya di apartemen Fiona, Steven langsung menuju kamarnya untuk mengecek lemari, pakaian masih lengkap. Dia kemudian mencari sosok Fiona di seluruh apartemennya. "Rick, kau bilang terakhir kali Fiona pergi dengan Leon, 'kan?"


Erick maju selangkah mendekati Steven seraya mengangguk. "Benar, Tuan."


"Cari tahu di mana keberadaan Leon, aku yakin Fiona pasti bersamanya," perintah Steven.


"Baik, Tuan."


"Antarkan aku ke rumah Sarah sekarang."


Steven melangkah cepat, tetapi belum sampai pintu, Steven hampir ambruk jika tidak ditangkap oleh Erick.


"Tuan, apakah Anda tidak apa-apa?" Erick membantu Steven untuk berdiri.


"Aku tidak apa-apa." Steven menumpukan tangan kanannya ke tempok untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Tuan, lebih baik Anda kembali ke rumah sakit. Saya berjanji akan mencari nona Fiona sampai ketemu."


Melihat wajah pusat Steven membuat Erick khawatir, apalagi ibunya sudah berpesan untuk tidak membiarkan Steven pergi sebelum pulih.


"Aku akan ke rumah sakit jika sudah menemukan Fiona." Steven kembali melangkah keluar dari apartemen Fiona dengan langkah pelan.


Sesampainya di rumah Fiona, Steven langsung masuk ketika Cindy membukakan pintu untuknya. "Di mana Fiona?" Tanpa basa-basi, Steven langsung mengatakan maksud kedatangannya.


Steven melirik tajam pada Sarah. "Jangan memancing kemarahanku. Apa kau ingin aku ungkapkan pada semua orang bagaimana kau memperlakukan Fiona selama tinggal bersamamu?"


Sarah seketika menciut. "Steve, Fiona sudah pergi, dia tidak akan kembali lagi ke sini." Cindy akhirnya membuka suara karena tidak ingin masalah semakin besar.


"Kapan dia pergi?"


"Dua hari yang lalu," jawab Cindy.


Wajah Steven menengang. Dua hari yang lalu adalah saat Fiona menelponnya. Pantas saja Fiona mengucapkan kata-kata aneh seperti akan pergi jauh.


"Pergi ke mana? Dengan siapa? Apa Leon yang membawanya pergi?" cecar Steven.


Cindy tidak langsung menjawab pertanyaan Steven, melainkan dia menatap wajahnya beberapa detik. "Yaa benar. Dia pergi dengan Leon, tapi aku tidak tahu ke mana mereka pergi. Fiona juga sudah memutuskan kontak dengan kami jadi kami tidak tahu apapun lagi tentangnya."


Wajah Steven menggelap dan matanya mengobarkan api kemarahan. "Tidak mungkin kau tidak tahu, jangan coba-coba membohongiku."


"Kami sungguh tidak tahu," jawab Cindy tenang, "tunggu sebentar." Cindy berjalan ke arah dalam, setelah beberapa saat, dia datang membawa sesuatu di tangannya.


"Fiona menitipkan ini untukmu." Cindy meletakkan kotak cincin, kartu debit dan kartu akses masuk apartemen Steven.


Steven menunduk menatap benda yang tergeletak di atas meja. Tatapannya memanas ketika melihat cincin yang dia berikan pada Fiona saat melamarnya ternyata dikembalikan lagi oleh Fiona.


"Semua uang yang pernah kau gunakan untuk membantunya selama ini, sudah dia masukkan ke kartu ini," tunjuk Cindy pada kartu yang berada di samping kotak cincin berwarna merah, "nominalnya senilai 3 Miliar, itu untuk membayar rumah peninggalan ibunya yang sudah kau belikan untuknya."

__ADS_1


Steven menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya. "Dari mana dia dapat uang sebanyak itu?" Meskipun Steven tahu kalau Fiona memiliki tabungan, tapi jumlahnya tidak sebanyak itu.


"Dia menjual sahamnya dan sebagian lagi dia dapat dari harta warisan peninggalan ibunya," jawab Cindy.


Wajah Steven semakin gelap, deru napasnya memanas dan rahangnya mengetat. "Bagaimana bisa Fiona mendapatkan warisannya, sementara Fiona...." Ucapan Steven terhenti ketika sebuah ingatan tiba-tiba muncul di benaknya.


Steven seketika menoleh pada Erick. "Cepat kerahkan semua orangku untuk mencari Fiona. Lakukan dengan cara apapun untuk menemukannya, aku akan memberikan pelajaran pada Leon karena sudah berani membawa Fiona pergi," ucap Steven sambil berdiri.


"Baik, Tuan."


"Steve, tunggu!" Cindy berdiri ketika melihat Steven akan pergi.


"Ada apa?" tanya Steven sambil menoleh pada Cindy.


"Tolong biarkan Fiona pergi, jangan mengganggunya lagi, biarkan dia mencari kebahagiaanya sendiri. Aku mohon lepaskanlah dia," pinta Cindy dengan raut wajah memohon.


"Aku tidak akan pernah melepaskannya. Fiona adalah milikku, tidak akan kubiarkan orang lain mengambilnya dariku."


"Tapi kau sendiri yang sudah membuangnya," timpal Sarah dengan wajah mencemooh.


"Itu memang salahku karena aku sudah membatalkan lamaran kami, tapi bukan berarti aku tidak menginginkannya." Steven berbalik menghadap Sarah.


"Jika kau bisa memberitahuku di mana Fiona berada, aku akan memberikan perusahaan suamimu yang sudah menjadi milikku. Semua saham atas namaku akan aku alihkan padamu," tawar Steven.


"Steven, kami memang benar-benar tidak tahu ke mana Fiona pergi. Lebih baik kalian berpisah dari pada saling menyakiti. Lepaskan dia Steve jika kau memang ingin melihatnya bahagia," pinta Cindy.


"Sudah aku bilang, aku tidak akan pernah melepaskannya. Aku akan membawanya kembali dengan cara apapun." Setelah selesai berbicara, Steven meninggalkan rumah Sarah.


Erick melajukan mobilnya menuju mansion orang tua Steven. "Ma, di mana Fiona berada?" Steven mendekati ibunya dengan wajah pucat.


Ibu Steven menoleh dengan wajah terkejut. "Kenapa kau bisa di sini? Bukankah kau seharusnya masih di rumah sakit?"


"Ma, Fiona pergi meninggalkan aku. Mama pasti tahu bukan, di mana dia berada?" Steven mengabaikan pertanyaan ibunya dan terus mendesaknya.


"Erick, antar dia ke rumah sakit."


"Katakan padaku dulu, di mana Fiona berada, Ma."


"Mama tidak tahu." Ibu Steven mengalihkan pandangannya ke samping.


"Baiklah. Kalau mama tidak mau memberitahuku, aku akan mencarinya sendiri."


"Steve, jangan mencarinya lagi jika kau hanya ingin menyakitinya," teriak Ibu Steven ketika melihat anaknya berjalan keluar.


Steven mengabaikan teriakan ibunya dan memilih berjalan menuju mobilnya.


"Periksa semua penerbangan 2 hari yang lalu dan lacak daftar perjalanan atas nama Fiona di seluruh pelosok negeri dan luar negeri," perintah Steven setelah dia berada di dalam mobil.


"Baik, Tuan."


"Minta bantuan kepada semua koneksiku dan koneksi papaku. Kalian harus menemukannya paling lambat 3 hari. Pasang pengumuman mengenai Fiona, berikan imbalan besar bagi yang bisa menemukannya. Lakukan dengan cepat," perintah Steven sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Baik Tuan, saya akan melakukannya dengan cepat."

__ADS_1


Fiona, selamanya, kau akan tetap menjadi milikku. Kau tidak akan bisa lari dariku karena aku akan mengejarmu kemanapun kau pergi.


Bersambung....


__ADS_2