Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Hadiah Untuk Steven


__ADS_3

Malam harinya, Setelah makan malam bersama dengan Erick dan berbincang selama satu jam, Steven dan Fiona memisahkan diri dari Erick. Mereka berdua duduk di balkon kamar atas menikmati secangkir coklat panas sambil melihat pemandangan luar.


"Steve," panggil Fiona dengan suara pelan.


"Hheemmm."


Fiona menoleh pada Steven. "Terima kasih."


Steven yang baru saja menyesap coklat panasnya, seketika menoleh pada Fiona. "Untuk?" tanya Steven dengan wajah heran.


"Terima kasih untuk semuanya. Jika bukan karenamu, aku mungkin tidak akan pernah tahu mengenai orang tuaku."


Steven meletakkan susu coklat di meja setelah selesai meminumnya. "Kau tidak perlu berterima kasih padaku, Fio. Aku melakukannya dengan tulus dan tidak mengharapkan apapun darimu."


"Benarkah?"


"Yaaa," jawab Steven dengan yakin.


"Padahal aku berniat untuk memberikanmu hadiah."


Steven langsung menoleh pada Fiona. "Hadiah? Apa?" tanya Steven antusias. Matanya terlihat berbinar.


"Kau bilang tidak mengharapkan apapun dariku?"


"Aku mau. Sekarang katakan padaku, hadiah apa yang ingin kau berikan padaku?" tanya Steven tidak sabar.


Fiona tidak menyangka kalau Steven akan antusias dengan hadiah yang akan dia berikan. Padahal Fiona berpikir kalau Steven sudah memiliki segalanya dan pasti tidak membutuhkan apa-apa lagi karena dia bisa membeli apapun yang dia inginkan.


"Aku belum menentukan hadiah apa yang akan aku berikan padamu. Aku baru berpikir untuk memberikanmu sesuatu."


"Bolehkan aku memilih hadiah apa yang aku mau?" tanya Steven penuh harap.


Fiona berpikir sejenak. "Iyaaa, tapi aku tidak bisa memberikanmu hadiah yang mahal," ucap Fiona dengan kepala tertunduk.


Sebenarnya dia malu karena mungkin hadiah yang akan dia berikannya nanti tidak menarik minat Steven. Fiona takut kalau dia tidak akan bisa memberikan hadiah yang diinginkan Steven.


Senyum mengembang tercetak jelas di wajah tampan Steven. "Hadiah ini tidak bisa dinilai dengan uang."


Fiona langsung mengangkat kepalanya menatap heran pada Steven. "Memangnya hadiah apa yang kau inginkan?"


Steven merubah posisi duduknya menghadap Fiona. "Yang kuinginkan adalah ini," jawab Steven sambil mengusap lembut pada bibir Fiona.


Tanpa menunggu persetujuan dari Fiona, Steven menangkup wajah Fiona lalu menyatukan bibir mereka berdua. Fiona terlihat terkejut untuk sesaat, setelah itu mereka saling mencecap dan mamagut.


Suasana hening, ditemani dengan rembulan yang bersinar terang membuat suasana terasa lebih intim. Steven menyudahi pagutannya setelah beberapa saat lalu menatap dalam mata Fiona.


"Fiona, teruslah berada di sampingku dan jangan pernah tinggalkan aku."


Fiona mengangguk. "Iyaaa." kemudian dia menunduk sambil merapikan rambutnya.


Tidak lama setelah itu, ponsel Steven berbunyi. "Fio, aku angkat telpon dulu," ucap Steven setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Fiona mengangguk. Steven berdiri lalu berjalan sedikit menjauh dari Fiona. Sebenarnya, Fiona ingin tahu siapa yang menelpon Steven sehingga dia harus menjauh darinya tapi dia tidak berani bertanya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Steven kembali duduk. "Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Fiona ketika melihat Steven menghela napas sebelum menghampirinya.


Steven tersenyum. "Tidak ada." Steven kembali berdiri, "tunggu di sini. Jangan ke mana-mana."


Fiona menatap heran pada Steven lalu berkata, "Iyaaa." Steven kemudian masuk ke dalam dan kembali dengan membawa selimut.


"Di luar dingin. Aku tidak mau kau sakit." Steven membungkus tubuh Fiona dengan selimut lalu kembali duduk.


"Kau masukhm ke dalan hanya untuk mengambil ini?" tanya Fiona dengan wajah terkejut.


"Iyaaa," jawab Steven sambil mengangguk.


Ketika Steven memegang wajah Fiona tadi, dia merasakan wajahnya dingin. Dia takut Fiona akan terkena flu jika terlalu lama terkena udara malam sehingga dia memutuskan untuk mengambil selimut.


"Lalu kenapa kau tidak memakai jaket atau selimut juga?"


Steven tersenyum. "Tidak perlu. Aku bisa menahannya. Lagi pula, jika aku sakit, ada kau yang bisa merawatku," canda Steven.


"Kau tidak boleh sakit. Banyak yang kepala yang bergantung padamu."


"Kau menghawatirkan itu? Bukan karena cemas padaku?"


Fiona tersenyum lalu menjawab pertanyaan Steven. "Tentu saja aku khawatir denganmu."


Steven langsung tersenyum mendengar itu. "Steve, aku ingin bertanya sesuatu padamu."


"Apa?" tanya Steven cepat.


"Sera, seberapa dekat kau dengannya?"


"Pantas saja aku sering melihatmu bersamanya."


"Iyaaa. Kami memang sering bertemu, terkadang dia mengunjungiku ke kantor atau aku yang mengunjungi dia ke tempatnya bekerja. Kami sering menghabiskan waktu bersama," aku Steven.


"Apa kalian juga sering berlibur bersama?"


Pikirian itu tiba-tiba saja terlintas di benaknya. Fiona berpikir kalau mereka mungkin saja memiliki banyak kenangan indah bersama saat Steven belum mengenalnya.


"Tidak juga. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berlibur. Kami hanya beberapa kali pergi ke luar negeri, itupun karena ada pekerjaan dan Sera menemaniku."


Ada rasa iri sekaligus tidak suka dalam hati Fiona ketika mengetahui kedekatan mereka. Meskipun dia kekasih Steven, tapi ibu Steven lebih menyukai Sera. Itu berarti Sera lebih unggul darinya karena tanpa restu dari ibunya, mereka tidak akan bisa menikah.


"Jadi, dia sering menemanimu bekerja di luar negeri?"


Steven mengangguk. "Iyaaa."


Fiona tersenyum kecut. "Dia terlihat seperti istri yang sedang menemani suaminya bekerja."


Steven terkekeh kecil mendengar itu. "Kau cemburu dengannya?"


Fiona memalingkan wajahnya ke samping lalu menjawab, "Tidak."


Steven meneliti wajah Fiona beberapa saat kemudian berkata, "Mulai sekarang kau yang akan menemaniku ke luar negeri."

__ADS_1


"Tidak perlu. Kau bisa mengajak Sera seperti biasanya."


Steve semakin yakin kalau Fiona sedang cemburu. "Aku tidak pernah mengajaknya Sayaang, dia yang mendatangiku ke luar negeri."


Melihat Fiona hanya diam, Steven meraih tangan Fiona lalu menggenggamnya. "Fio, aku dengan Sera hanya berteman, meskipun kami akrab, tapi hubungan kami hanya sebatas itu saja, tidak lebih. Apa kau tidak percaya denganku?"


Fiona menatap serius Steven selama beberapa saat kemudian berkata, "Kalau ibumu tidak merestui kita dan menyuruhmu untuk menikah dengan Sera? Apa yang akan kau lakukan?"


Fiona ingin memastikan terlebih dahulu langkah apa yang akan Steven ambil jika ibunya tidak merestui mereka. Dia hanya tidak mau perjuangannya sia-sia nanti.


"Aku akan mendapatkan restu ibuku bagaimana pun caranya. Cukup percaya saja denganku."


Fiona tersenyum. "Baiklah."


"Lebih baik kita masuk ke dalam, sudah larut malam."


"Iyaaa." Fiona memegang selimut yang membungkus dirinya sambil berjalan kembali kamarnya bersama Steven.


"Fio, tidurlah. Aku akan mengajakmu berkeliling besok pagi," ucap Steven ketika mereka baru saja masuk ke dalam kamar.


Fiona mengangguk lalu berjalan menuju tempat tidur. "Kenapa kau masih berdiri? Kau tidak mau tidur?" Fiona menatap heran pada Steven karena melihat dia tidak ikut naik ke tempat tidur.


"Aku akan tidur di luar. Tidurlah." Steven berniat melangkah keluar, tapi Fiona menghentikannya.


"Di luar mana maksudmu?" Seingatnya, Steven mengatakan hanya 2 kamar yang bisa dipakai. Selain kamar utama, ada satu kamar lagi yang bisa ditempati, tapi kamar itu ditempati oleh Erick.


"Aku akan tidur di sofa," jawab Steven sambil tersenyum.


Seketika Fiona merasa tidak tega pada Steven. Bagaimana mungkin, dia membiarkan Steven tidur di sofa sementara dirinya dengan nyaman tidur di kasur yang empuk. Steven mungkin saja tidak pernah merasakan hidup susah berbeda dengannya.


"Tidurlah di sini. Kita bisa berbagi tempat tidur."


"Tidak perlu. Kau bilang takut terjadi sesuatu pada kita jadi lebih baik kita tidur terpisah. Lagi pula, aku tidak mau membuatmu merasa tidak nyaman."


"Lebih baik kau tidur di sini. Kita tidak punya pilihan lain lagi."


"Fio, aku tidak...."


"Kalau kau masih bersikukuh tidur di luar, maka, aku akan tidur di sofa juga menemanimu."


Steven menghela napas lalu berjalan menuju pintu. "Steve, kau sungguh ingin membiarkanku tidur di sini sendirian?" tanya Fiona cepat.


Steven menoleh sebentar pada Fiona lalu berkata, "Aku hanya ingin mengunci pintu." Wajah Fiona seketika memerah karena sudah salah paham pada Steven.


Setelah mengunci pintu, Steven naik ke tempat tidur di sisi yang kosong. "Tidurlah."


Fiona mengangguk, berbaring menghadap Steven lalu memejamkan matanya. Steven tidak langsung memejamkan matanya, melainkan menatap Fiona dengan tatapan rumit.


Fio, mungkin akan sulit meyakinkan mama, tapi aku akan mencari cara agar mama merestui kita. Maafkan aku karena tidak bisa langsung menikahimu.


Steven menghela napas berat.


Seandainya mama langsung merestui kita ketika aku membawamu ke rumah, aku pasti sudah menikahimu saat ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2