Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Mempercepat Pernikahan


__ADS_3

"Kau sedang apa sayang?" Steven menghampiri Fiona yang sedang berdiri di depan dinding kaca kamar hotel mereka. Sehabis makan malam, Steven langsung mengajak Fiona pulang karena malam sudah semakin larut.


Fiona menoleh sedikit ke belakang ketika Steven sudah melingkarkan tangannya di perutnya. "Aku sedang memandang langit."


Steven mengeratkan pelukannya lalu mencium pipi Fiona. "Besok kau ingin jalan-jalan ke mana?"


"Terserah kau saja. Aku tidak mengenal tempat yang bagus di negara ini," ucap Fiona sambil memegang tangan Steven yang ada di perutnya.


Steven meletakkan dagunya di pundak Fiona sambil berkata, "Baiklah, aku akan menyuruh Erick untuk menyewa tur guide untuk kita besok."


Sebenarnya Steven sudah sering ke negara C untuk urusan bisnis, tapi dia hanya mengetahui beberapa tempat bagus di negara tersebut, itulah sebabnya dia ingin menyewa tur guide agar bisa merekomendasikan tempat bagus yang belum pernah dia datangi.


"Baiklah, jam berapa kita akan pergi?"


"Setelah sarapan kita sudah bisa berangkat. Semua terserah padamu. Aku akan mengikuti kemauanmu."


Saat Fiona akan membuka mulutnya, ponsel Steven berbunyi. "Aku angkat telpon dulu." Steven melepaskan pelukannya lalu mencium pipi Fiona sebelum menjawab telponnya.


Fiona mengangguk. "Halo Ma," ucap Steven sambil berjalan ke arah balkon lalu menutup pintunya.


Fiona memperhatikan dengan seksama saat Steven sedang menerima telpon. Wajah Steven nampak serius, sesekali dia menunduk sambil memainkan kakinya, setelah itu menata ke sembarangan arah, menghela napas, dan sesekali terlihat menoleh ke arah Fiona dengan tatapan yang sulit diartikan.


Seketika perasaan tidak nyaman muncul di hatinya. Steven tersenyum ke arah Fiona sambil berbicara di telpon. Fiona merasa kalau Steven sedang memaksakan senyumannya.


Beberapa saat kemudian, Steven mengakhiri panggilan telponnya. Dia memasukkan ponsel ke sakunya, menghembuskan napasnya lalu kembali masuk ke kamar.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Fiona dengan wajah heran.


"Tidak ada apa-apa."


Melihat sikap aneh Steven, Fiona mengerutkan kening lalu melepaskan pelukan Steven. "Katakan padaku ada apa?"


"Fio, sepertinya kita harus pulang besok pagi. Maaf karena tidak bisa mengajakmu untuk berkeliling di sini."


"Kenapa tiba-tiba?"


"Ada hal penting yang harus aku urus. Apa kau keberatan kalau kita pulang besok pagi?"


"Tidak, aku akan berkemas malam ini."


Steven menghentikan Fiona ketika dia akan melangkah. "Besok saja sayang." Steven menarik tangan Fiona menuju tempat tidur lalu menuntunnya menaiki ranjang. "Biarkan begini." Steven tidur di pangkuan Fiona.


Fiona menunduk menatap Steven dengan tatapan penasaran. "Kenapa kau mengerutkan keningmu?" Fiona menyentuh dahi Steven dengan pelan.


"Aku sedang memikirkan usulan William tentang anak. Bagaimana kalau kita membuatnya sekarang saja?" gurau Steven.


"Tidak boleh! Kita harus menikah dulu," tolak Fiona dengan wajah cemberut.


"Aku hanya bercanda sayang." Steven memencet hidung Fiona sambil tersenyum.


******

__ADS_1


Paginya harinya, setelah sarapan, Fiona, Steven dan Erick langsung menuju bandara. Sesampainya, di negara mereka, Steven langsung mengantar Fiona menuju apartemennya.


"Fio, aku ada urusan, mungkin aku tidak bisa menemuimu hari ini. Kau bisa memesan makanan pesan antar jika kau lapar."


Steven membuka dompertnya lalu mengeluarkan kartunya. "Gunakan ini untuk membeli sesuatu yang kau inginkan." Steven meletakkan kartu di tangan Fiona. Kartu itu adalah kartu yang pernah diberikan oleh Steven tetapi di kembalikan lagi oleh Fiona.


"Baiklah." Fiona menyimpan kartu debit yang diberikan oleh Steven di dalam tasnya.


"Ingat Fio, kau tidak boleh pergi ke manapun tanpa seijinku. Jika, kau bosan, kau bisa berkeliling di sekitar apartemen ini."


"Apa besok kau akan ke sini?"


"Kemungkinan sore aku baru akan ke sini. Aku sudah menyuruh Erick untuk mengatur orang untuk mengantar jemput untuk bekerja."


"Baiklah."


"Aku pergi dulu." Steven mencium pucuk kepala Fiona sebelum pergi.


Setelah berpamintan dengan Fiona, Steven meminta Erick untuk mengantarnya ke rumah ibunya. Setibanya di rumah ibunya, Steven langsung menemui ibunya.


"Plaaaaak" Steven tersentak ketika mendapatkan tamparan tiba-tiba dari ibunya.


"Ma, kenapa kau menamparku?" Steven menatap ibunya dengan wajah terkejut seraya memegang pipinya yang memerah.


"Steven, apa kau mau membuat malu keluarga kita dan menghancurkan reputasi keluarga kita?"


Steven mengerutkan keninganya. "Apa maksud Mama?"


Steven belum juga mengerti kenapa ibunya tiba-tiba marah dan menuduh Fiona. "Ma, Jangan menyebut Fiona seperti itu. Dia itu wanita baik-baik Ma."


Ibu Steven menatap nyalang pada anaknya. "Wanita yang melakukan hal kotor demi menjebakmu dan menaiki ranjangmu kau sebut wanita baik-baik?"


Seketika Steven mengerti apa yang dimaksud oleh ibunya. Seseorang sudah memutarbalikkan fakta demi merusak hubungnnya dengan Fiona. "Ma, siapa yang mengatakan hal itu pada Mama?"


"Kau tidak perlu tahu mama tahu dari mana. Mama ingin kau mengakhiri hubunganmu sekarang juga dengan Fiona."


"Apa Sera yang sudah mempengaruhi Mama?" tebak Steven sambil memicingkan matanya.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Sera. Jangan kau libatkan dia dalam hal ini."


Meskipin ibunya tidak mengakuinya, tapi Steven sangat yakin kalau Sera lah yang sudah mengatakan yang tidak-tidak pada ibunya. "Ma, ini tidak seperti yang mama dengar. Fiona tidak pernah menjebakku apalagi menaiki ranjangku demi menjeratku. Aku lah yang mendatanginya Ma."


"Apa maksudmu?"


"Sera menjebakku dengan memasukkan obat ke minumanku, dia bahkan memintaku untuk menyentuhnya dan memberikan benihku padanya. Jika, Fiona tidak datang tepat waktu, dia mungkin sudah memanfaatkan aku saat aku tidak berdaya. Fiona hanya menolongku, Ma."


Mata ibu Steve membesar sesaat. "Sera, tidak mungkin melakukan hal itu," ucap ibu Steven sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku memiliki bukti kalau Sera yang sudah menjebaku, dia bahkan membuat Fiona pingsan agar dia tidak menghalangi rencananya."


"Bagaimana mungkin Sera melakukan itu. Dia itu wanita terhormat. Tidak mungkin dia melakukan hal rendah seperti itu."

__ADS_1


"Ma, memang itulah kenyataannya. Dia yang menjebakku. Wanita yang seharusnya mama bilang murahan adalah Sera, bukan Fiona."


Ibu Steven terdiam. Dia memejamkan mantan sejenak lalu berbalik untuk duduk di sofa sambil memegang dadanya yang terasa sakit. "Ma, kau kenapa?" Steven mendekati ibunya lalu duduk di sampingnya.


"Ambilkan obat mama." Ibu Steven meremas kuat dadanya kirinya yang terasa nyeri.


"Tunggu sebentar," Steven berjalan dengan cepat menuju kamar ibunya lalu kembali dengan membawa obat dan air minum.


"Ma, minum dulu." Steven mengeluarkan satu butir obat lalu menyodorkan pada ibunya. Selesai memasukkan obat, ibunya meneguk setengah air putih yang diberikan oleh Steven.


"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit, Ma?" tawar Steven dengan wajah khawatir. Inilah yang membuat Steven tidak ingin memberitahunya mengenai Sera karena takut penyakit jantung ibunya kambuh.


"Tidak perlu, mama baik-baik saja. Mama hanya tidak menyangka kalau Sera bisa melakukan hal seperti itu. Dia bilang kalau Fiona sengaja menjebakmu agar bisa memilikimu dan mengandung benihmu." Ibu Steven mengatur napasnya sambil memejamkan matanya sejenak.


"Ma, Fiona adalah wanita yang baik. Dia bahkan tidak mengambil kesempatan apapun dariku. Justru aku merasa bersalah karena sudah memanfaatkannya."


Ibu Steven mengangkat kepalanya dan tatapannya langsung tertuju pada tanda merah di leher Steven. "Minta Fiona datang ke sini besok."


"Ma, sudah aku bilang Fiona tidak bersalah. Dia hanyalah korban."


"Mama hanya ingin bertemu dengannya untuk membicarakan pernikahan kalian."


"Maksud Mama?" tanya Steven dengan wajah yang terkejut.


"Segera nikahi Fiona. Kau harus bertanggung jawab padanya. Jangan menundanya lebih lama lagi. Mama akan menyuruh orang untuk mempersiapkan pernikahan kalian." Ibu Steven mengira kalau Steven sudah menyentuh Fiona karena jebakan dari Sera.


"Mama sungguh merestui hubungan kami?"


"Kenapa? Apa kau tidak mau menikahinya?" tatap ibunya dengan tajam.


"Aku mau Ma. Aku akan membawa Fiona kemari besok."


"Ingat! Sebelum kalian resmi menikah, jangan pernah menyentuhnya lagi. Jangan membuat masalah sebelum hari pernikahan kalian."


"Baik Ma."


Selesai berbicara dengan ibunya, Steven mengajak Erick untuk berbicara di ruangan kerjanya. "Rick, mulai sekarang, awasi setiap gerak-gerik Sera. Jangan sampai dia menemui ibuku lagi. Beritahu pengawal di depan untuk melarang Sera masuk kemari."


"Baik Tuan."


"Bagaimana dengan James, apakah dia sudah mau membuka mulutnya?" Steven memang masih menahan James untuk mencari informasi mengenai dalang dari penculikan Fiona.


"Belum Tuan. Sepertinya, dia memang tidak tahu siapa dalang dari penculikan Nona Fiona."


"Kirim dia ke penjara. Biarkan saja dia membusuk di sana." Keluarga James sudah hancur, tidak ada yang bisa membantunya menghadapi tuntutan hukum karena tidak berani melawan Steven.


"Baik Tuan."


"Gunakan cara lain untuk mencari tahu siapa dalangnya. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi."


"Saya akan mengusahakan secepatnya Tuan."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2