
"Ibu dan ayahku tidak bisa datang, jadi hanya ada aku di sini. Kenapa? Apa kau keberatan jika hanya aku yang datang? tanya James dengan alis terangkat.
Fiona merasakan perasaan tidak enak. "Fio, aku minta maaf soal tadi sore. Aku memang salah karena sempat lepas kendali," ucap James penuh sesal ketika melihat Fiona tampak sedang menatap curiga padanya.
Mendengar permintaan maaf James, seketika Fiona langsung luluh. Dia berjalan menuju kursi di depan James lalu duduk. "James, kedatanganku ke sini hanya untuk membatalkan perjodohan kita. Aku ingin bertemu dengan orang tuamu dan mengatakan langsung pada mereka."
Fiona tidak mau berlama-lama bersama dengan James sehingga dia langsung ke point utamanya.
James mengamati wajah Fiona cukup lama sebelum membuka mulutnya. "Fio, apa kau masih marah denganku karena masalah tadi sore?" tanya James.
"Tidak James, aku bukan wanita pendendam. Aku hanya ingin segera meluruskan masalah mengenai perjodohan kita agar kau tidak berharap lebih lagi padaku," terang Fiona.
"Fiona, kau bilang bukan karena kekayaan kau menyukainya, sekarang tolong beritahu aku, apa yang tidak kumiliki sehingga kau lebih memilih Steven?"
James terlihat lebih tenang tidak seperti sore tadi saat bertemu dengan Fiona di depan kantornya.
Fiona menghela napas. "Tidak ada yang salah denganmu James, hanya saja kau tidak bisa menggetarkan hatiku. Sementara Steven, menyebut namanya saja sudah membuatku berdebar. Aku harap kau bisa mengerti James tentang perasaanku dan tidak lagi memaksaku," terang Fiona dengan nada lembut.
"Dengan latar belakang dan wajah tampanmu, aku rasa banyak wanita yang suka rela menjadi pendampingmu. Contohnya Alexa, dari dulu menyukaimu. Wanita pintar, latar belakang keluarga yang bagus, dan cantik, aku rasa dia sangat cocok untukmu."
"Aku tidak mencintainya, kau juga tahu itu Fiona. Hanya ada kau di dalam hatiku."
"James, kalau kau sungguh mencintaiku, seharusnya kau merelakanku agar aku bisa bahagia."
James tersenyum miring. "Fiona, seadainya Steven tidak ada, apa kau bisa menerimaku?"
Dahi Fiona langsung berkerut. "Maksudmu?" Mendadak perasaannya tidak enak setelah mendengar perkataan James.
"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin tahu kalau Steven tidak ada di hidupmu, apa kau masih akan menolakku," jawab James santai.
Fiona tampak mulai merasakan aneh dengan pertanyaan James. "Lupakan saja perkataanku barusan," ucap James sambil tersenyum. "Lebih baik kita makan malam. Kau pasti belum makan, bukan?"
James terlihat sudah memesan beberapa menu makanan sebelum Fiona datang. "James, maaf aku sungguh tidak bisa meneruskan perjodohan ini." Fiona hanya ingin menegaskan kembali kepada James agar tidak ada kesalahpahaman lagi ke depannya.
"Aku tahu, aku akan menerimanya," ucap James dengan wajah santai. "Meskipun perjodohan kita batal, bukan berarti kita harus bermusuhan. Kita masih bisa berteman, bukan?" tanya James dengan alis terangkat sambil menatap Fiona dengan senyuman.
Fiona terlihat meneliti wajah James sesaat sebelum membalas ucapan James. "Apa kau sungguh sudah bisa menerima keputusanku?" tanya Fiona memastikan.
"Tentu saja, aku tidak bisa lagi memaksamu jika kau tidak mencintaiku," jawab James dengan santai.
"Sebelum pulang, kita makan malam dulu. Masalah orang tuaku, biarkan aku yang bicara pada mereka," lanjut James lagi.
"Baiklah." Fiona mulai meraih sendok dan garpu seperti yang dilakukan oleh James. Selesai makan, Fiona berbincang sedikit dengan James.
Fiona menatap jam yang ada di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. "James, sudah malam. Aku harus pulang," ucap Fiona sambil menatap James.
"Biar aku yang mengantarmu pulang," tawar James.
"Tidak usah James, aku bisa naek taksi," tolak Fiona cepat.
"Fiona, ini sudah malam, berbahaya jika kau pulang naik taksi. Lebih baik aku yang mengantarmu. Tante Sarah akan marah jika aku membiarkanmu pulang sendiri," kata James sambil berdiri setelah meraih kunci mobil.
Fiona berpikir sejenak lalu mengangguk. "Baiklah, terima kasih." Fiona lalu berjalan bersama dengan James menuju parkiran.
Sesampainya di rumah, James langsung berpamitan pulang. Setelah kepergian James, Fiona berjalan masuk ke dalam. "Apa kau sudah menyelesaikan urusanmu dengan James?" Suara Sarah langsung terdengar ketika Fiona baru saja memasuki ruang tengah di mana Sarah berada. "Sudah Ma," jawab Fiona cepat.
"Naiklah ke atas, Cinsy sudah menunggumu dari tadi," tital Sarah.
"Iyaa Ma."
__ADS_1
Ketika Fiona akan melangkah ponselnya berbunyi. "Triiiing." Sebuah pesan masuk ke ponsel Fiona. Setelah membukannya Fiona mengerutkan kening sesaat.
From : xxxxxxxxxx
Fiona, aku ada di depan. Keluarlah, aku ingin bertemu denganmu sebentar. Ponselku tertinggal di rumah. Aku memakai ponselku yang satunya.
Steven.
Dia kemudian menghubungi nomor ponsel Steven yang biasanya 2 kali tapi tidak diangkat. Fiona kemudian mendapatkan pesan kembali.
From : xxxxxxxxxxx
Fiona, cepatlah keluar. Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin melihatmu sebentar karena aku sangat merindukanmu. Aku menunggumu di dalam mobil yang terpakir di depan rumahmu.
Fiona menyimpan kembali ponselnya di tas lalu beralih menatap Sarah. "Ma, aku mau keluar sebentar," ijin Fiona. Dia memutuskan untuk kuar karena tidak ingin membuat Steven menunggu lama.
"Kamu mau ke mana lagi?" tanya Sarah dengan wajah tidak suka.
"Aku ingin bertemu dengan Steven sebentar Ma. Dia sedang ada di depan."
"Jangan lama-lama. Ini sudah malam."
"Iyaaa Ma." Fiona langsung berjalan keluar. Ketika dia sampai di depan rumah. Dia langsung menghampiri sebuah mobil sedan hitam yang terpakir di depan rumahnya. Mobil sama yang seperti biasa Doni gunakan untuk menjemputnya.
Ketika Fiona mengetuk kaca mobil, pintu belakang terbuka, seketika tangan Fiona ditarik masuk ke dalam dan hidungnya langsung dibekap hingga tidak sadarkan diri. Mobil itu kemudian melaju meninggalkan kediaman Fiona.
********
Erick mendekati Steven yang terlihat masih duduk di meja kerjanya. "Tuan, Nona Fiona sudah pulang diantar oleh tuan James," ucap Erick setelah berada di depan Steven.
Steven meletakkan pulpen yang ada di tangannya lalu beralih menatap Erick. "Apakah semua baik-baik saja?"
"Iyaa Tuan. Nona Fiona terlihat baik-baik saja." Steven manggut-manggut.
"Sejauh ini tidak ada Tuan."
"Baiklah, apakah Doni masih di sana?" tanya Steven lagi.
"Masih Tuan," jawab Erick cepat.
"Suruh dia pulang dan kembali lagi besok pagi untuk menjemputnya," perintah Steven.
"Baik Tuan."
"Antarkan aku pulang ke mansion orang tuaku," perintah Steven sambil berjalan keluar ruangannya.
Setelah berada di dalam mobil, Steven memejamkan mata sambil duduk bersandar. Sesampainya di mansion orang tuanya, Steven langsung masuk ke dalam setelah menyuruh Erick untuk pulang.
Ketika dia sudah berada di dalam kamar, Steven langsung mandi. Setelah mandi, dia memeriksa ponselnya. Terlihat Fiona menghubunginya 2 kali, dua jam lalu. Steven lalu menghubungi Fiona tapi tidak diangkat. Steven mencoba beberapa kali menghubungi Fiona tapi tidak diangkat juga.
Steven nampak mulai resah. Tidak biasanya Fiona mengabaikan telponnya berkali-kali. Dia berpikir sejenak, Apa mungkin Fiona sudah tidur. Fiona memang pernah mengatakan kalau ponselnya dalam mode senyap saat dia tidur.
Steven lalu menghubungi Erick. "Rick, minta Doni untuk ke rumah Fiona. Aku tidak bisa mengubunginya dari tadi."
"Baik Tuan." Terdengar jawaban dari Erick.
Steven lalu duduk bersandar di tempat tidur sambil terus menghubungi Fiona.
Setelah menunggu selama setengah jam, Erick menghubungi Steven dan mengatakan kalau Doni tidak mengangkat telponnya. Malam itu juga, Steven meminta Erick untuk menjemputnya dan memintanya untuk mengantarkan ke rumah Fiona.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Fiona, Steven langsung memencet bel. Beberapa kali Steven memencet bel tapi pintu gerbang belum juga terbuka. Setelah menunggu selama 5 menit, akhirnya pintu gerbang terbuka.
"Apa kau tidak punya etika bertamu pukul segini?" tanya Sarah dengan wajah kesal ketika melihat Steven yang berdiri di depan gerbangnya pukul 12 malam lewat.
"Aku ingin bertemu dengan Fiona." Steven terlihat tidak peduli dengan kekesalan Ibu Fiona.
"Apa kau sedang mabuk? Bukankah kau sendiri yang menjemputnya tadi?" Sarah terlihat masih kesal karena tidurnya sudah diganggu oleh Steven.
Steven mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti maksudmu."
"Fiona keluar untuk menemuimu, dia bilang kau ada di depan rumah untuk bertemu dengannya. Setelah aku menunggu cukup lama, Fiona tidak kembali lagi. Aku pikir kau membawanya pergi karena tidak memperbolehkan dia menginap di sini," ungkap Sarah.
Wajah Steven langsung menegang. "Dengarkan aku. Jangan coba-coba membodohiku. Aku tidak pernah ke sini untuk bertemu dengan Fiona."
"Kau bukan kau, lalu dengan siapa Fina bertemu?"
"Seharusnya pertanyaan itu yang harus aku tanyakan padamu."
"Aku juga tidak tahu. Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku mengatakan yang sebenarnya. Untuk apa juga aku berbohong padamu."
"Ada apa Ma?" Cindy ikut keluar gerbang menyusul ibunya
"Cindy, di mana Fiona?" Steven seolah tidak percaya dengan ucapan ibunya.
"Bukankah dia pulang bersamamu?"
"Untuk apa aku ke sini jika dia bersamaku. Aku tidak bisa menghubunginya, maka dari itu, aku ke sini."
"Dia tidak ada di sini," ucap Cindy.
"Cindy, aku sedang terburu-buru, jadi, jangan coba menutupi keberadaan Fiona."
"Steven, kami mengatakan yang sebenarnya. Untuk apa kami menyembuyikan keberadaan Fiona."
"Ibumu memiliki banyak alasan untuk menyembunyikan Fiona." Steven terlihat mulai tidak sabar. Dia kemudian menoleh pada pengawal yang ada di belakangnya.
"Cepat masuk ke dalam dan periksa setiap sudut rumah ini, jangan sampai ada yang terlewat," perintah Steven. Sebelum menuju rumah Fiona, Steven meminta Erick untuk membawa 10 pengawal.
"Kau tidak bisa seenaknya masuk ke rumahku." Sarah terlihat menghadang di depan pintu gerbang.
Wajah Steven langsung menggelap. "Kalau kau berani menghalangiku lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkan rumahmu, jadi jangan menguji kesabaranku."
Sarah seketika langsung gemetar. Baru kali ini, dia melihat sorot mata Steven yang mengerikan dan wajah garangnya. "Ma, biarkan Steven memeriksa ke dalam." Cindy menarik tubuh ibunya ke pinggir.
"Cepat masuk," perintah Steven. Dia ikut masuk ke dalam diikuti oleh Cindy dan Sarah di belakang. Setelah mencari selama setengah jam, semua pengawalnya kembali menemui Steven di ruangan tengah. Mereka mengatakan kalau mereka tidak menemukan keberadaan Fiona.
"Sudah aku bilang dia tidak ada di sini," ucap Sarah.
Steven beralih menatap Sarah. "Kalau sampai aku tahu kalau kau ada dibalik semua ini. Aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan menghancurkan keluargamu hingga tidak tersisa. Seharusnya kau tahu, dengan status keluargaku. Aku bisa berbuat apa saja. Tidak akan ada yang berani menghentikan aku," ucap Steven dengan sorot mata membunuh
Sarah menelan ludahnya dengan tubuh yang masih gemetar. "Aku memang tidak tahu mengenai keberadaan Fiona. Aku tidak berbohong."
Steven beralih pada Erick. "Rick, tinggalkan 4 pengawal di sini dan periksa semua CCTV di daerah ini," perintah Steven. "Minta juga Jorsh untuk menghubungi Doni sampai dia mengangkat telponnya."
"Baik Tuan."
"Kerahkan semua anak buah Jorsh untuk mencari Fiona. Jangan berhenti sebelum menemukannya. Aku mau 1x24 jam kalian harus sudah menemukan keberadaan Fiona."
"Baik Tuan."
__ADS_1
"Aku ingin tahu, siapa orang yang berani bermain-main denganku. Akan kuhancurkan orang itu kalau berani menyentuh dan menyakiti Fiona," ucap Steven dengan tatapan berkilat dan tangan yang mengepal.
Bersambung....