Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Pertemuan Reynald dan Steven


__ADS_3

"Biarkan saja. Aku tidak mau berlama-lama di sini."


Fiona hanya bisa menghela napas sambil mengikuti langkah Steven. Sebelum sampai parkiran, seseorang menghadang mereka berdua.


"Tunggu, kau tidak bisa membawa Fiona pergi begitu saja." Reynald berdiri tepat di depan Steven seraya menatap nyalang padanya.


Steven berdecih. "Tuan Reynald, kau tidak memiliki memiliki kapasitas untuk mencegahku membawaanya. Seharusnya kau ijin terlebih dahulu padaku kalau mau membawanya pergi." Steven menatap Reynald dengan santai.


Reynald mengerutkan keningnya. "Apa maksudnya?" Reynald menatap heran pada Fiona. "Fiona, kau kenal dengannya?"


Reynald masih heran, bagaimana bisa Fiona mengenal Steven. Meskipun Reynald juga tidak mengenalnya, tapi dia tahu latar belakang keluarga Steven apalagi setelah Steven muncul di berbagai media.


"Iyaaa," jawab Fiona sambil mengangguk.


"Maaf Tuan Reynald, kami harus pergi." Steven terlihat tidak suka melihat tatapan Reynald pada Fiona.


"Tunggu. Meskipun Fiona mengenalmu, tapi tetap saja kau tidak bisa membawanya. Dia datang bersamaku, jadi aku yang akan mengantarnya pulang."


Steven membuang pandangannya ke samping sambil mendesis. "Anda tidak perlu repot-repot untuk mengantarnya pulang. Biarkan saja dia pulang bersamaku karena meskipun kau mengantarnya pulang, dia akan tetap pulang ke rumahku," ucap Steven dengan senyum penuh kemenangan.


"Apa maksudmu?"


Steven merangkul bahu Fiona agar merapat dengan tubuhnya. "Kami tinggal bersama."


Fiona langsung mendongak menatap Steven dengan wajah terkejut. Fiona tidak habis pikir, kenapa Steven mengatakan hal itu tanpa beban sedikit pun.


Sementara itu, mata Reynald terlihat membesar. "Tinggal bersama?" Dahi Reynald mengerut. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Wanita yang kau ajak pergi ini adalah kekasihku."


Reynald tampak masih belum bisa mencerna kata-kata Steven. Dia terdiam sesaat lalu berlalih menatap Fiona. "Apakah benar apa yang dia katakan Fiona?"


Fiona langsung menutup matanya dalam sekejap sambil menunduk lalu mengangkat kepalanya menatap Reynald. "Iyaaa."


"Bagaimana bisa?" Reynald terlihat belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan yang ada.


"Sudah cukup basa-basinya. Kami pergi dulu." Steven langsung menarik Fiona pergi dari sana.


Reynald mengejar Fiona lalu menahan tangan Steven. "Aku belum selesai bicara dengannya. Meskipun kau adalah kekasihnya tapi tetap saja kau tidak memiliki hak untuk membatasinya untuk berteman dengan orang lain"


Steven menoleh pada Reynald. "Jadi, apa maumu?"


"Biarkan Fiona yang memilih dengan siapa dia akan pulang." Reynald menatap Steven dengan berani.


"Baiklah." Steven menoleh pada Fiona. "Fio, aku tanya padamu, kau akan pulang dengan siapa?"


Ditanya hal seperti itu, membuat Fiona jadi bimbang, satu sisi adalah kekasihnya, satu sisi adalah orang terdekatnya. Dibandingkan dengan Steven, Reynald lebih banyak menghabiskan waktu dengan Fiona. Selama kepergian Steven, selain Leon, Reynald adalah salah satu orang terdekat Fiona apalagi perusahaan mereka menjalin kerjasama.


Fiona menatap Steven secara bergantian, menunduk lalu menghela napas. "Maaf Rey, lebih baik aku pulang dengan Steven. Lagi pula, ki...."


Belum selesai Fiona bicara, Steven sudah memotong ucapannya. "Kau dengar itu? Dia ingin pulang denganku." Selesai berbicara Steven langsung menarik Fiona pergi.


"Steve, tunggu dulu." Fiona menoleh ke belakang menatap Reynald yang masih berdiri mematung.


"Ada apa?" tanya Steven tanpa menghentikan langkahnya.


"Aku belum selesai bicara."

__ADS_1


"Apalagi yang ingin kau bicarakan padanya?" Steven tetap menarik tangan Fiona menuju mobilnya.


"Setidaknya aku harus menjelaskan padanya."


Setibanya di parkiran, Steven menghentikan langkahnya, membuka pintu mobil belakang lalu menoleh pada Fiona. "Masuk."


"Tapi...."


"Masuk Fio, sebelum aku marah." Fiona menghela napas lalu masuk ke dalam mobil begitu pun Steven.


Setelah duduk, Fiona langsung menoleh pada Steven. "Kenapa kau bilang padanya kalau kita tinggal bersama?" protes Fiona.


"Memangnya kenapa? Apa kau takut dia akan kecewa padamu?" Steven menatap Fiona dengan tatapan curiga.


"Bukan seperti itu Steve."


"Lalu?" tanya Steven sambik mengangkat salah satu alisnya.


"Sudahlah, lupakan saja." Fiona memilih untuk tidak memperpanjang masalah itu karena takut mereka akan berdebat lagi.


"Ingat, jangan coba-coba menjelaskan padanya. Biarkan dia berpikir seperti itu."


Fiona memicingkan matanya. "Steve, kau sengaja bukan mengatakan pada Reynald kalau kita tinggal bersama?"


"Rick, jalan," perintah Steven.


"Ke mana Tuan?" Erick sebenarnya terkejut ketika melihat Steven kembali dengan Fiona. Ketika berangkat dia datang bersama dengan Sera, tapi tiba-tiba saja Steven pulang bersama dengan Fiona. Baru saja kemarin bosnya bilang tidak ingin membahas Fiona tapi sekarang justru membawa Fiona bersamanya.


"Mansionku."


"Steve, aku sedang berbicara denganmu." Fiona merajuk karena diacuhkan oleh Steven.


"Kenapa sayang?"


Erick melirik ke belakang, sementara wajah Fiona memerah karena malu saat mendengar panggilan sayang dari mulut Steven.


"Jawab dulu pertanyaanku."


"Iyaaa, aku memang sengaja mengatakan itu agar dia tahu kalau kau adalah milikku dan tidak berharap lagi padamu, jadi kau tidak perlu menjelaskan apapun padanya. Biarkan saja dia berpikir sesukanya."


Fiona hanya bisa menghela napas. Sering kali, Fiona tidak berdaya menghadapi sifat dominan Steven. Setibanya di mansionnya, Steven menyuruh Erick langsung pulang.


"Rick, minta Doni untuk menjemput Sera. Pastikan Doni mengantarnya sampai di depan rumahnya," perintah Steven ketika dia baru saja turun dari mobil bersama dengan Fiona dan sedang berhadapan dengan Erick.


"Baik Tuan, oalau begitu saya permisi dulu," pamit Erick sambil membungkuk sebentar lalu berdiri dengan tegak.


Steven mengangguk setelah itu masuk ke dalam bersama dengan Fiona. Sepanjang perjalanan menuju lantai atas mereka hanya diam. Fiona terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Steven menoleh sejenak pada Fiona lalu tersenyum tipis. "Malam ini, tidurlah di kamarku." Steven melangkah menuju kamar lalu membuka pintu.


"Steve, kita tidak...."


Steven langsung memotong ucapan Fiona. "Aku tidak akan melakukan apapun padamu, Fio. Sebentar lagi kau pindah. Aku tidak akan bisa melihatmu sesering saat kau berada di sini."


Fiona menatap Steven dengan ragu. "Kita bisa membuat pembatas atau aku akan tidur di sofa kalau kau takut melewati batas seperti dulu," usul Steven. "Temani aku mengobrol sampai tertidur."


Fiona tampak berpikir sejenak. "Baiklah." Fiona baru teringat kalau Steven sering mengalami insomnia, sebab itulah Fiona setuju. Steven lalu menarik tangan Fiona masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Fiona terlihat masih canggung, meskipun dulu dia sering tidur di kamar Steven tapi itu sudah lama sekali terjadi.


Steven duduk lalu menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya. "Duduklah di sini."


Fiona mengangguk dan duduk bersebelahan dengan Steven di sofa panjang kamar Steven.


"Sekarang katakan padaku, selama aku tidak ada, apa kau sering pergi dengan Reynald untuk menghadiri acara seperti tadi?" Steven memiringkan sedikit tubuhnya menghadap Fiona.


Fiona ragu-ragu menjawabnya. Jika, dia menjawab dengan jujur, Steven pasti akan berpikiran yang tidak-tidak padanya. "Fio, kenapa kau diam?" tanya Steven lagi ketika melihat Fiona tampak termenung.


"Tidak juga," jawab Fiona singkat.


"Jangan coba-coba membohongiku Fio. Aku bisa dengan mudah mencari tahu mengenai kedekatanmu dengan Reynald kalau aku mau."


Meskipun hanya masalalu, Steven ingin mengetahui sebarapa dekat Fiona dan Reynald dahulu. Mungkin saja, Fiona sempat memiliki perasaan pada Reynald tapi hanya dipendamnya saja.


Mata Fiona berkedip beberapa kali karena gugup ditatap oleh Steven. "Untuk menghadiri acara pesta pribadi hanya beberapa kali, tapi jika ada acara yang berhubungan dengan rekan bisnisnya, aku biasanya menemaninya," jelas Fiona dengan suara pelan. Lebih baik jujur dari pada Steven mencari tahu sendiri.


Dua tahun lalu, setelah mendapatkan kabar kalau Steven tidak akan kembali lagi, Fiona berencana untuk membuka hatinya untuk orang lain, sebab itu dia tidak menolak ketika Reynlad berusaha mendekatinya.


Meskipun Fiona berusaha membuka hati, tapi nyatanya dia tidak juga bisa tertarik dengan pria lain termasuk Reynald. Steven adalah pria pertama yang membuat jantungnya berdetak kencang hanya dengan mendengar namanya saja.


Satu nama yang tidak bisa dia enyahkan dari pikirannya dan tertanam kuat dihatinya sehingga orang lain tidak memiliki kesempatan untuk menggeser posisi Steven di hatinya.


"Apa kau sering berdandan cantik seperti malam ini saat kau pergi dengannya?"


"Aku hanya tidak ingin membuatnya malu Steve."


"Tapi, aku justru berpikir kalau kau sengaja berpenampilan sangat cantik untuk menarik perhatiannya."


"Tidak, untuk apa aku melakukan hal itu." Fiona merasa salah tingkah di tatap Steven dengan intens.


Tiba-tiba ponsel Steven berbunyi. "Tunggu sebentar." Steven mengangkat telpon yang masuk di ponselnya.


"Baiklah, aku akan mengubungi Sera nanti. Kau boleh pulang." Steven mengakhiri panggilan telponnya setelah itu terlihat sibuk mengetika sesuatu pada layar ponselnya.


"Sepertinya kau sangat perhatian dengannya." Fiona sebenarnya sangat penasaran dengan wanita yang datang bersama dengan Steven tadi tapi dia tidak berani bertanya.


Steven mengalihkan pandangannya dari ponselnya kepada Fiona ketika mendengar perkataan Fiona. "Aku yang membawanya pergi tadi, sudah seharusnya aku memastikan dia pulang dengan selamat."


"Kalau kau begitu cemas padannya kenapa tidak mengantarnya sendiri? Kenapa justru pulang bersamaku dan meninggalkannya begitu saja kalau takut terjadi apa-apa dengannya?"


Senyum tipis tergambar di wajah Steven. "Kau cemburu dengan Sera?"


Fiona terdiam karena malu untuk menjawabnya. "Fiona." Steven mengangkat dagu Fiona ketika melihat menatap ke bawah menghindari tatapannya.


Mereka saling menatap. "Kau tidak perlu cemburu padanya. Kau adalah kekasihku, kau lebih penting dari pada dia." Fiona masih diam.


Steven menatap lekat mata Fiona sehingga membuat Fiona salah tingkah. "Apa kau tidak percaya padaku? Haruskah aku membuktikan padamu kalau hanya kau yang aku cintai?"


Steven memiringkan sedikit wajahnya lalu mendekatkan wajahnya pada Fiona hingga menyisakan sedikit jarak.



Fiona langsung gugup dan salah tingkah. "Ak-aku harus mandi." Fiona menjauhkan wajah mereka berdua lalu berdiri dengan cepat tapi justru tangannya ditahan oleh Steven ketika dia akan melangkah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2