Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Hilang Kendali


__ADS_3

Leon menoleh ke samping. Dia menatap sejenak wajah Fiona yang sedang tertidur di mobilnya. “Fio, banguun. Kita sudah sampai,” ucap Leon sambil menepuk lembut pipi putih Fiona.


Fiona membuka matanya saat merasakan pipinya disentuh oleh seseorang. “Maaf kak, aku ketiduran,” ucap Fiona seraya membetulkan posisi duduknya.


Dia mengucek matanya kemudian mengedarkan pandangannya. Dia melihat saat ini sudah berada di depan mansion Steven.


Fiona baru saja bangun dan masih belum fokus. Dia kemudian merapikan rambutnya lalu menggerakkan tangannya untuk melepas seatbelt.


“Biar aku bantu,” ucap Leon saat melihat Fiona kesulitan melepaskan seatbeltnya. Leon langsung memajukan tubuhnya untuk membantu Fiona tanpa menunggu persetujuan dari Fiona.


Setelah selesai melepaskan seatbeltnya, Leon tidak sengaja bertatapan dengan mata Fiona. Mereka terdiam sesaat sambil terus bertatapan.


Wajah Fiona memanas. Dia kemudian mengalihkan pandangannya saat merasakan deru napas Leon menerpa wajahnya. Leon menjauhkan tubuhnya ketika menyadari jarak di antara mereka sangat dekat. Mereka terlihat canggung sesaat.


Tanpa mereka sadari sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.


“Kau yakin ini mansionya?” tanya Leon saat dia sudah turun dari mobilnya dan berdiri di depan Fiona yang sudah turun duluan dari mobilnya.


Fiona menoleh ke mansion Steven sekilas. “Iya benar kak. Terima kasih sudah mengantarku,” ucap Fiona saat melihat Leon tampak memperhatikan seksama mansion Steven.


Leon melepaskan jaketnya dan memakaikan pada tubuh Fiona. “Masukklah. Ini sudah malam,” ucap Leon sambil mengelus lembut pucuk kepala Fiona.


Fiona mengangguk dan tersenyum manis pada Leon. “Iyaa, kakak hati-hati dijalan,” ujar Fiona.


Leon mengangguk dan berjalan menuju mobilnya. Setelah memastikan Fiona masuk ke dalam mansion Steven, Leon baru melajukan mobilnya meninggalkan mansion Steven.


*****


“Kau dari mana saja? Kenapa baru pulang?”


Fiona dikagetkan suara berat yang berasal dari belakangnya. Fiona langsung menoleh dengan wajah terkejut, terlihat Steven sedang duduk di ruang tamu dan sedang menatap tajam dirinya.


Fiona tidak menyadari kehadiran Steven karena minim pencahayaan di ruangan itu. Steven sengaja tidak menghidupkan lampu di ruang tamu, jadi pencahaan hanya berasal dari ruang tengah.


“Ak-aku.. Bukankah sudah kukatakan kalau aku bertemu dengan temanku,” jawab Fiona terbata-bata saat melihat Steven berjalan ke arahnya.


“Apa ini alasanmu menyuruh Doni untuk segera pulang supaya kau bebas pulang malam dan bebas berduaan dengan laki-laki itu?” Steven langsung melontarkan tuduhan pada Fiona.

__ADS_1


Steven memang sengaja menunggu Fiona di ruang tamu sampai dia pulang. Ssat mendengar suara mobil berhenti tepat di depan mansionnya, dia langsung berjalan keluar.


Dia melihat dari kejauhan kalau Leon sedang menatap wajah Fiona yang sedang tertidur cukup lama setelah itu, dia terlihat memegang wajah Fiona.


Tidak lama kemudian Fiona bangun dari tidurnya, lalu terlihat kalau Leon sedang memeluk Fiona. Dengan tatapan dingin Steven terus melihat pemadangan di depannya tanpa sadar tangannya mengepal.


Steven merasa tidak suka dengan apa yang dia lihat saat ini. Dia memutuskan untuk duduk di sofa menunggu Fiona masuk.


Fiona menelan ludahnya. Dia memegang kuat-kuat paperbag yang ada di tangannya saat ini. “Apa maksudmu Steve?” tanya Fiona heran. Dia tidak mengerti kenapa Steven berkata seperti itu kepadanya.


“Sepertinya kau sangat menikmati saat dipeluk olehnya tadi," ucap Steven tanpa menjawab pertanyaan dari Fiona.


Dahi Fiona berkerut. Dia tampak berpikir sejenak. “Kau salah paham Steve, tadi dia hanya....” Ucapan Fiona terpotong saat melihat Steven berjalan meninggalkannya tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


Fiona menghela napas panjang. Dia berjalan mengikuti Steven dari belakang sambil membawa beberapa paperbag di tangannya.


Saat di mall tadi, Leon memaksa untuk membelikannya beberapa pakaian dan barang untuk Fiona. Melihat Leon yang tampak tidak peduli dengan penolakannya dan tetap memaksanya, Fiona memutuskan untuk menerimanya.


“Steve tunggu,” panggil Fiona saat melihat Steven tampak berjalan menuju tangga.


Steven memandang Fiona dengan tatapan dingin. ”Kalau kau ingin bebas berduaan dengan laki-laki itu, kau bisa pergi dari sini. Tidak ada akan yang melarangmu untuk pulang jam berapa dan pergi dengan siapa saja.”


Fiona sedikit terkejut mendengar perkataan Steven. Selama ini, Steven lah yang menahan Fiona untuk tinggal di mansionnya. Sekarang Fiona merasa heran kenapa tiba-tiba Steven berkata seperti itu. Dia merasa sedikit tidak mengerti dengan jalan pikiran Steven.


“Kau mengusirku Steve?” tanya Fiona saat melihat Steven tampak memalingkan wajahnya.


“Bukankah kau sendiri yang ingin pergi dari sini agar bisa tinggal di rumah laki-laki itu?” tanya Steven kembali seraya memandang wajah Fiona.


"Kau tidak bisa menuduhku sembarangan Steve," ucap Fiona dengan wajah emosi.


"Bukankah itu memang kenyataanya. Kau tidak suka tinggal di sini dan berharap pergi dari sini secepat mungkin, bukan? Kalau memang itu kemauanmu, maka pergilah," ujar Steven dingin.


Fiona mematung sesaat. Dia tidak menyangka kalau perkataan Steven akan sangat menyakitkan baginya. “Baiklah kalau begitu, aku akan pergi,” ucap Fiona dengan suara bergetar.


Tiba-tiba saja hatinya sakit mendengar ucapan Steven. Fiona berjalan meninggalkan Steven dengan langkah cepat dan mata yang sidah berkaca-kaca. Dia mencoba menelpon Leon untuk memintanya untuk mengantar ke apartemen Jesi.


“Kau mau ke mana?” Steven menarik tangan Fiona saat melihatnya pergi dan terlihat menghubungi seseorang.

__ADS_1


Langkah Fiona terhenti saat Steven menahannya. “Bukankah kau tidak ingin aku tinggal di sini lagi?” tanya Fiona tanpa menoleh ke Steven. Entah kenapa Fiona tiba-tiba kecewa saat mendengar kata-kata Steven tadi.


Ponsel Fiona berdering. “Halo Kak, tolo...”


Kata-kata Fiona terputus saat Steven sudah mengambil ponselnya dan memutuskan sambungan telponnya. “Apa yang kau lakukan Steve?” tanya Fiona dengan wajah terkejut karena ponselnya sudah berpindah tangan.


Steven menatap tajam Fiona. “Apa kau benar-benar ingin pergi ke rumah laki-laki itu?”


Fiona tampak mengalihkan pandangannya. “Lebih baik aku tidak tinggal di sini.”


Steven yang salah mengartikan jawab Fiona langsung berkata, “Aku tidak akan membiarkan kau pergi ke rumah laki-laki itu. Kau harus tetap di sini.” Steven kembali menarik Fiona masuk ke dalam mansionnya


Fiona berusaha melepaskan tangannya. “Lepaskan Steve!”


“Kau jangan menguji ke sabaranku, Fio,” ucap Steven dengan dengan suara berat dan wajah yang mengeras.


Fiona mulai tersulut emosi. Selain emosi, dia juga merada sedih karena Steven sudah berpikiran buruk kepadanya. Dia langsung berkata, “Kau tidak berhak mengaturku Steve. Aku bukan kekasihmu ataupun istrimu.”


Steven yang mendengar perkataan Fiona seketika emosi. Dia langsung menarik tangan Fiona ke arah lift menuju lantai 2. Sesampainya di lantai atas. Steven membawa Fiona masuk ke kamarnya.


“Lepaskakan Ste....”


Mata Fiona membelalak saat Steven sudah mencium bibirnya. Steven menekan tubuh Fiona ke dinding. Dia terus ******* bibir mungil Fiona dengan sedikit kasar.


Steven menarik tengkuk Fiona untuk memperdalam ciumannya. Fiona terlihat diam saja, dia tampak masih terkejut dan belum menyadari sepenuhnya.


“Aaww, sakit Steve.” Fiona mendorong tubuh Steven setelah Steven menggigit pelan bibir bawahnya. Tiba-tiba saja Steven emosi dan hilang kendali.


Steven mengusap sudut bibirnya. “Dengar Fio, jangan pernah memancingku lagi seperti tadi." Steven menatap lekat mata Fiona.


“Ak-aku... Aku hanya ingin meminta kak Leon untuk mengantarku ke rumah Jesi."


Fiona merasa gugup saat menyadari kalau jarak wajah mereka sangat dekat. Wajah dan telinganya memerah ketika membayangkan kejadian saat Steven menciumnya tadi.


“Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya. Aku tidak akan melepaskanmu seperti sekarang jika sampai terjadi hal seperti ini lagi.”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2