
"Fiona, bisa kita bicara sebentar?" Seseorang menepuk bahu Fiona dari belakang. Fiona berbalik, seketika matanya membulat ketika melihat orang yang ada di depannya. "Kau Sera, bukan..? Kenapa kau bisa di sini?" tanya Fiona dengan wajah terkejut.
"Iyaaa, benar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Maaf, tapi aku harus bekerja. Aku akan terlambat nanti," tolak Fiona dengan sopan.
"Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar."
"Bukannya aku tidak mau, tapi perusahaanku juga memiliki aturan. Aku tidak bisa seenaknya."
"Baiklah, kalau begitu. Bagaimana dengan sore nanti setelah kau pulang bekerja?"
"Apakah ada hal penting yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Fiona tanpa menjawab pertanyaan Sera.
"Ini mengenai Steven."
"Jangan bertemu di sini. Lebih baik di tempat lain."
"Kenapa?"
"Steven menyuruh Doni untuk menjemputku di sini setelah aku selesai bekerja, apa kau tidak keberatan kalau Doni melihatmu berbicara denganku?" Fiona meneliti wajah Sera yang terlihat sangat tenang. Fiona yakin kalau Doni melihatnya berbicara dengan Sera, dia pasti akan melaporkannya pada Steven.
Sera tetap tenang dan berusahan tersenyum. "Baiklah, temui aku di cafe Sands pukul 6 petang."
Fiona sudah menduga kalau Sera menemuinya tanpa sepengetahuan Steven. Itulah sebabnya Sera langsung menyetujui usulnya.
"Baiklah." Sebelum pergi, Sera memandang Fiona yang terlihat sudah memasuki gedung kantornya.
******
"Masuk," ucap Steven setelah mendengar suara ketukan pintu ruangannya.
Ternyata yang datang adalah Sera. "Duduklah, aku akan menyelesaikan pekerjaanku sebentar," ucap Steven sambil memandang Sera.
"Baiklah, tidak perlu terburu-buru. Aku memiliki waktu luang hari ini."
"Apa kau tidak ada jadwal pemotretan hari ini?" tanya Steven tanpa mengalihkan padangannya dari berkas yang sedang dia baca.
"Aku sengaja mengosongkan jadwalku untuk bertemu dengankumu." Sera lalu berdiri dan berjalan ke arah dinding kaca menatap ke arah luar.
Steven tidak lagi mengeluarkan suaranya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia menghampiri Sera dan berdiri di sampingnya.
"Sera, aku minta maaf karena sudah meninggalkanmu saat di pesta kemarin."
__ADS_1
Meskipun Steven sudah mengirim pesan pada Sera, dia tetap merasa tidak enak hati padanya.
Sera tersenyum sambil menoleh pada Steven. "Tidak masalah. Aku hanya penasaran, hal penting apa yang sampai membuatmu meninggalkanku begitu saja tanpa menemuiku terlebih dahulu."
"Sera, kau tahu bukan kalau aku mencintai wanita lain?"
Sera menggangguk. "Ya, aku tahu," jawab Sera sambil menoleh pada Steven. "Lalu?" tanya dengan wajah tenang. Seolah perkataan Steven tidak berpengaruh sedikit pun padanya.
"Berhentilah menungguku. Hubungan kita berdua, tidak akan bisa lebih dari ini."
Sera tersenyum manis. "Steven, untuk sampai di posisiku saat ini, butuh perjuangan yang keras. Kau pikir mudah untuk menjadi pendampingmu? Fiona, dia tidak cocok denganmu," ucap Sera percaya diri.
"Apa kau mau bertaruh denganku? Aku yakin, dia tidak akan bisa bertahan lama di sisimu melihat lemahnya dirinya."
Steven menatap Sera dengan tatapan rumit. "Meskipun aku mundur, kau pikir tidak akan ada wanita lain yang berusaha untuk menggeser posisinya?"
Steven terdiam, selama ini dia tidak pernah berpikir hal itu. Dulu, sebelum ada Fiona, Dia hanya perlu untuk menghindari wanita yang berniat untuk menggoda dan mendekatinya, tapi sekarang berbeda, ada Fiona. Mungkin saja, mereka akan berbuat sesuatu pada Fiona jika dia tidak melindunginya.
"Steve, aku sudah lama berada di sisimu.
Mulai dari kita remaja sampai sekarang. Sudah tidak terhitung berapa wanita yang berniat buruk hanya untuk mendapatkanmu. Kalau aku tidak menjadi wanita yang kuat, aku yang akan tersingkir oleh mereka."
"Aku akan melindunginya, tidak akan kubiarkan ada yang menyakitinya."
"Itu adalah urusanku. Aku akan melakukan apapun untuk memastikan tidak ada yang berani mencelakainya."
Sera melipat kedua tangannya di dada. "Kau tidak bisa terus melindunginya, ada masa dimana kau akan lengah. Dia tidak bisa selalu bergantung padamu Steve. Dia harus bisa melindungi dirinya sendiri, jika ingin tetap bersamamu. Kalau hanya merepotkanmu, itu berarti dia tidak berguna dan aku tidak mau mengalah hanya demi wanita seperti itu."
Steven menghela napas. "Sera, aku harap kau tidak melakukan hal yang tidak aku sukai. Jangan sampai kau merusak hubungan baik kita, hanya karena ambisimu."
Sera membuang pandangannya ke samping sambil tertawa kecil. "Ambisi kau bilang? Kau salah Steve. Aku hanya memperjuangankan cintaku saja. Tidak ada yang salah dengan hal itu."
"Sera, jangan libatkan ibuku dalam masalah kita. Aku tahu, kau mendekati ibuku untuk mendapatkan dukungan darinya. Kali ini, aku memaafkanmu karena selama ini, kau sudah baik denganku dan ibuku. Jangan sampai kau memanfaatkan ibuku lagi."
"Steve, apa kau memiliki bukti kalau aku memanfaatkan ibumu?"
"Sera, aku mengenalmu dari dulu. Tidak sulit bagiku untuk menebak apa yang ada dipikiranmu."
"Kau menuduhku?"
"Tidak, aku hanya memberitahumu. Pada dasarnya, kau adalah wanita yang baik, jadi jangan rubah pandanganku terhadapmu."
Sera memutar badannya menghadap keluar. "Steve, apa yang membuatmu begitu mencintainya hingga kau tidak bisa melihatku sedikitpun? Kau baru mengenalnya, sementara kita sudah lama saling mengenal. Kalau ada yang salah denganku, beritahu aku. Aku akan merubahnya asalkan kau bisa menerimaku."
__ADS_1
Steven menunduk sejenak lalu menatap Sera yang masih menatap lurus ke depan. "Tidak ada yang salah dengamu, Sera. Hanya perasaanku tidak bisa dipaksakan. Sebaik apapun dirimu, kalau kau tidak bisa menggetarkan hatiku, percuma saja. Menyerahlah Sera. Jangan buang waktumu untuk hal yang sia-sia."
"Maaf Steve, aku tidak bisa berhenti begitu saja." Sera kemudian membalikkan tubuhnya menatap Steven. "Aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu lagi. Aku pergi dulu."
*******
Sore harinya, Fiona diantar oleh Doni pulang ke mansion Steven, Fiona menunggu Doni pergi setelah itu memesan taksi untuk pergi menemui Sera. Fiona hanya ingin tahu, apa yang ingin dikatakan oleh Sera padanya.
Setibanya di cafe, Fiona langsung mencari keberadaan Sera. Ketika melihat keberadaan Sera, Fiona langsung menghampirinya. "Maaf sudah membuatmu menunggu," ucap Fiona setelah berada di depan Sera.
Sera tersenyum. "Tidak masalah, duduklah."
Fiona mengangguk lalu duduk. "Aku tidak akan berbasa-basi padamu. Seperti yang kau tahu, aku adalah Sera. Orang terdekat Steven," ucap Sera cepat.
Fiona mengerutkan keningnya. "Apa kau juga tahu kalau aku adalah kekasih Steven?"
"Tentu saja, itulah sebabnya aku mendatangimu untuk menyuruhmu menjauhi Steven. Kau pasti tidak tahu kalau ibu Steven menjodohkan anaknya denganku," ucap Sera penuh percaya diri
"Maksudmu?"
"Apa Steven belum mengatakan padamu kalau ibunya ingin Steven segera menikahiku? Kau menghalangi hubungan kami."
Mata Fiona membesar karena terkejut. "Ibu Steven memintanya untuk memutuskan hubungan denganmu. Ibunya tidak menyukaimu, jadi lebih baik kau menjauhinya dan mundur dari sekarang."
"Terima kasih karena sudah memberitahuku, tapi aku tidak bisa menjauhinya. Maaf karena harus mengecewakanmu."
Sebenarnya Fiona ingin tahu alasan Steven tidak menceritakan padanya mengenai hal itu.
Sera tersenyum. "Tidak ada gunanya kau berkeras seperti ini. Hubungan kalian tidak akan berjalan dengan lancar. Ibu Steven tidak akan merestui hubungan kalian karena dia tidak menyukaimu."
"Itu urusanku dengan ibu Steven. Kau tidak perlu ikut campur. Steven adalah kekasiku, aku harap kau tahu posisimu dan tidak terlalu dekat dengannya karena aku tidak suka ada wanita lain menempel pada kekasihku." Fiona terlihat tidak terintimidasi sama sekali dengan kata-kata yang sudah dilontarkan oleh Sera.
Sera tersenyum sinis. "Mendengar perkataanmu seolah kau adalah istri Steven. Kau hanyalah kekasihnya, jauh sebelum kau mengenalnya, kami sudah dekat dan posisimu yang saat ini, entah esok atau kapan, aku bisa mendapatkannya," ucap Sera jemawa.
"Coba saja kalau kau memang bisa," tantang Fiona. Sebenarnya dia juga tidak begitu yakin dengan perkataannya. Hanya saja untuk saat ini, dia harus bersikap percaya diri agar Sera tidak bisa meremehkannya.
"Melihatmu mendatangiku seperti ini, membuatku berpikir kalau kau tidak percaya dengan dirimu sendiri," tebak Fiona. "Kau menemuiku tanpa sepegetahun Steven. Aku yakin kalau kau takut Steven akan marah padamu kalau dia tahu kau mendatangiku."
Sera tersenyum manis, dia tidak menyangka kalau Fiona bisa membalikkan kata-katanya. "Kita lihat saja nanti. Kau atau aku yang akan bertahan di sisi Steven."
"Kalau begitu tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi." Fiona lalu berdiri. "Aku harus pergi. Aku takut Steven akan mencariku karena aku tidak mengatakan apapun padanya ketika pergi ke sini."
Sera memegang kuat ponsel yang ada di tangannya sambil menatap kepergian Fiona.
__ADS_1
Bersambung...