Goresan Luka di Hati Fiona

Goresan Luka di Hati Fiona
Bukan Pengantin Baru


__ADS_3

"Temani aku makan malam di mansion orang tuaku."


"Makan malam di rumah orang tuamu? Kenapa kau mengajakku?" tanya Fiona dengan wajah heran. Maksud Fiona adalah kenapa Steven tidak mengajak kekasihnya dan justru mengajaknya.


Steven kembali duduk di dekat Fiona yang terlihat sedang mendongakkan kepala menatap bingung padanya. "Aku ingin mengenalkanmu dengan ibuku."


"Dalam rangka apa?" tanya Fiona lagi yang masih tidak mengerti maksud Steven mengajaknya ke sana.


"Tidak ada, hanya makan malam biasa. Agar kau juga tahu di mana aku tinggal supaya kau lebih mudah mencariku, jika kau tidak bisa menghubungiku."


Entah Steven menyadari atau tidak, tapi Fiona sempat menunjukkan sorot mata kecewa. "Baiklah."


Tanpa sadar aku kembali berharap padanya.


"Bi Asih sudah tidak bekerja lagi di sini. Aku mengirimnya ke rumah orang tuaku. Aku akan mencari penggatinya nanti," info Steven.


"Tidak perlu, Steve. Aku hanya tinggal di sini sementara. Aku bisa melakukan semuanya sendiri."


"Baiklah. Aku pergi ke kantor dulu." Steven berdiri lalu diikuti oleh Fiona. "Iyaa."


******


Sore harinya, Fiona yang baru saja selesai mandi, mendengar bunyi bel. Dia langsung berjalan menuju pintu utama. Butuh waktu 10 menit untuk bisa sampai di pintu utama.


"Selamat sore, Nona." Fiona tertegun saat melihat Doni yang barus saja membungkuk sejenak lalu berdiri tegak setelah menyapanya.


"Selamat sore, Don," jawab Fiona ramah.


"Tuan Steven meminta saya untuk mengantarkan Nona Fiona."


Fiona membuka pintu lebar lalu maju mendekati Doni. "Ke mana?" tanya Fion dengan wajah penasaran.


"Pergi ke Mall XXX. Tuan Steven sudah menunggu di sana."


"Baiklah. Aku siap-siap dulu."


"Baik Nona," ucap Doni sambil mengangguk.


Fiona kembali masuk ke dalam menuju kamarnya. Setelah berkaca diri dan mengambil ponselnya, Fiona berjalan keluar menghampiri Doni.


"Aku sudah siap," ucap Fiona ketika baru saja melangkah mendekati Doni.


"Mari Nona." Doni berjalan mendahului Fiona lalu membuka pintu mobil belakang.


Fiona menghentikan langkahnya di depan Doni. "Aku duduk di depan saja."


Doni menatap bingung pada Fiona karena biasanya Nona muda yang lain, lebih memilih duduk di belakang dari pada duduk bersebelahan dengan supir. Meskipum sebenarnya Doni bukan supir melainkan pengawal, tetap saja status mereka berbeda.


"Jangan Nona, tuan Steven bisa memecat saya kalau tahu Nona duduk bersama saya di depan."


Selama ini, Steven terkenal tegas dan tidak menyukai adanya kesalahan kecil apapun itu. Doni tidak mau kalau sampai dia kehilangan pekerjaan karena tidak menuruti aturan dari Steven, apalagi Erick sudah memperingatkan dirinya untuk menjaga jarak dengan Fiona dan tidak boleh banyak berinteraksi dengan Fiona karena takut bosnya akan cemburu.


"Steven tidak akan marah padamu hanya karena hal sepele seperti itu, Don."


Itu hanya menurutmu, Nona. Aku sudah pernah melakukan kesalahan dan tidak mau terulang lagi. Aku bisa melihat tuan Steven sangat posesif terhadapmu.


"Maaf Nona, tolong jangan mempersulit saya," ucap Doni dengan tatapan memohon.


"Baiklah. Maafkan aku Don karena sudah menyusahkanmu." Fiona langsung merasa tidak enak pada Doni.


"Tidak masalah Nona. Ini sudah menjadi tugas saya." Doni mengarahkan tangannya ke dalam mobil. "Silahkan Nona."

__ADS_1


Fiona mengangguk. "Terima kasih." Fiona lalu masuk ke dalam mobil.


Beruntung sore ini tidak macet sehingga perjalanan yang ditempuh kurang dari satu jam. Setibanya di mall tersebut, Fiona dan Doni langsung menuju lantai 3 tempat Steven menunggu.


"Steve," panggil Fiona ketika melihat Steven nampak sedang duduk sambil menatap fokus ke layar ponselnya.


Steven yang namanya dipanggil segera menoleh ke kiri. "Kau sudah datang?" Steven mengarahkan pandangannya ke tempat duduk depannya. "Duduklah."


Erick langsung berdiri dan mencari tempat duduk lainya bersama Doni, tidak jauh dari tempat duduk Steven.


Fiona mengangguk lalu duduk di depan Steven. Mereka sedang berada di salah satu restoran terkenal yang berada di dalam mall tersebut. "Apa kau sudah makan?" tanya Steven ketika sudah duduk berhadapan dengan Fiona.


"Iyaa, sudah." Siang tadi, Doni membelikan makanan untuk Fiona atas perintah dari Steven.


"Kau tidak ingin memesan sesuatu?"


Fiona menggeleng. "Tidak."


"Baiklah." Steven menoleh pada Erick yang duduk di meja belakagnya. "Rick, bayar sekarang," perintah Steven.


"Baik Tuan." Erick langsung berjalan menuju kasir. Setelah selesai, dia berjalan menghampiri Steven lagi.


"Sudah, Tuan."


Steven mengangguk lalu berdiri sambil menatap Fiona. "Ikut aku."


"Iyaaa." Fiona berjalan berdampingan dengan Steven, diikuti Erick dan Doni di belakang mereka.


Steven mengajak Fiona ke salah satu outlet dengan brand terkenal. Mereka langsung disambut hangat ketika baru saja masuk ke dalam outlet tersebut.


"Carikan beberapa pakaian terbaik dan keluaran terbaru untuknya," ucap Steven sambil mengarahkan pandangannya pada Fiona.


Pegawai wanita itu langsung mengangguk. "Baik, Tuan. Silahkan menunggu di sana, Tuan." Pegawa tersebut mengarahkan Fionda dan Steven ke salah satu sofa panjang.


"Jangan menolak." Steve sudah bisa menebak apa yang akan Fiona katakan, sebab itu dia langsung memotong ucapan Fiona sebelum dia menyelesaikan ucapannya.


Fiona langsung bungkam ketika melihat wajah Steven yang tidak ingin dibantah. Beberapa saat kemudian pegawai tadi kembali bersama tiga pegawai lainnya dengan membawa banyak sekali pakaian di tangan mereka lalu memperlihatkan pada Fiona.


Fiona nampak kebingungan yang mana yang harus dia pilih. "Bungkus semuanya." Steven terlihat tidak sabar melihat Fiona yang belum juga memutuskan pakaian mana saja yang dia inginkan


"Steve, itu terlalu banyak. Aku hanya membutuhkan beberapa pakaian saja. Kenapa membeli begitu banyak?"


Kalau dihitung-hitung jumlahnya mencapai 14 pakaian lebih, diantaranya ada pakaian rumah, pakaian semi formal, dress untuk bepergian dan 1 gaun pesta.


"Kalau kau tidak suka, buang saja atau kau tidak kau bisa memberikan pada orang lain."


Steven berjalan meninggalkan Fiona menuju kasir dengan wajah acuh. Steven merasa tidak suka dengan penolakan Fiona.


"Totalnya Rp.1.145.996.654 Tuan," sebut pegawai kasir tersebut. Steven langsung mengeluarkan kartunya dengan wajah santai, seolah total tersebut tidak mengejutkanya.


Berbeda dengan Steven, Fiona justru menampilkan wajah tercengang. Mata Fiona langsung membelalak mendengar jumlah yang mencapai 1 Miliar lebih. Meskipun dia tahu itu adalah salah satu brand mahal yang terkenal di dunia tapi dia tidak menyangka kalau semua totalnya akan semahal itu.


Bukannya Fiona tidak pernah membeli brand tersebut, hanya saja dia membeli dalam jumlah sedikit, hanya 1 atau 2 pakaian saja. Dia tidak pernah membeli dalam jumlah banyak.


Setelah selesai membayar, Steven kembali mengajaknya untuk memasuki outlet yang sangat terkenal dengan harga tas yang fantastis. "Kita mau apa lagi?" Fiona mencoba menghentikan Steven ketika dia ingin memasuki outlet itu.


"Membeli sesuatu untukmu." Tanpa menunggu reaksi dari Fiona, Steven langsung menariknya masuk.


Steven melepaskan tangan Fiona setelah berada di dalam outlet itu. "Pilih yang kau suka, jika tidak, aku akan menyuruh Erick mengambil secara acak atau meminta pegawainya untuk mengambilkan yang termahal."


"Tidak, biarkan aku saja yang memilih," ucap Fiona cepat. Lebih baik dirinya yang memilih sendiri, dengan begitu dia bisa mengambil yang termurah.

__ADS_1


Steven mengangguk. "Beli sepatu dan tas untuk kau bekerja juga."


Fiona terdiam. "Kalau kau tidak mau, maka...."


"Iyaa... Iyaaa. Aku akan mengambil juga." Fiona memilih untuk menuruti perkataan Steven dari pada terus berdebat dengannya.


Steven langsung mencari tempat untuk duduk sambil menunggu Fiona selesai memilih. Fiona sengaja mencari dengan harga yang tidak terlalu mahal karena merasa tidak enak ada Steven. Selain untuk bekerja, Steven juga tadi menyuruhnya untuk membeli sendal dan tas yang akan dipakai ke rumah orang tuanya.


"Steve, sudah selesai." Fiona menghampiri Steven yang sedang duduk sambil melihat ke arah ponselnya.


Mendengar suara Fiona, Steven seketika mengalihkan pandangannya pada Erick. "Rick, bayarkan belanjaan Fiona." Steven memberikan kartunya pada Erick.


"Baik, Tuan." Erick mengambil kartu tersebut lalu membayarnya. Setelah selesai membayar, mereka keluar dari outlet tersebut.


"Steve, aku ingin membeli sesuatu," ucap Fiona dengan suara pelan dan wajah malu.


Steven menghentikan langkahnya lalu menatap Fiona. "Apa?"


Fiona terlihat ragu sambil menatap ke bawah. "Apa yang ingin kau beli?" Steven mengulangi pertanyaannya.


Fiona menoleh kebelakang, melihat Erick dan Doni yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka sambil membawa belanjaannya. "Membungkuklah sedikit, aku akan memberitahumu." Fiona terlihat sedang menahan malu.


Steven menuruti permintaan Fiona dengan mendekatkan telinganya pada Fiona. "Aku ingin membeli dalaman," bisik Fiona dengan suara sangat pelan.


Steven langsung menoleh pada Fiona secara tiba-tiba sehingga membuat wajah mereka berada di jarak yang sangat dekat. Fiona langsung menjauhkan diri, setelah mereka sempat bertatapan sejenak.


"Biar aku temani." Steven menyunggingkan sudut bibirnya sebelah sambmenahan senyumnya ketika melihat wajah Fiona merona merah.


Fiona langsung menggeleng cepat. "Tidak perlu Steve. Aku akan pergi sendiri," tolak Fiona, "kau bisa menungguku di restoran. Aku akan menyusulmu nanti," ucap Fiona.


Bagaimana bisa dia membiarkan Steven menemaninya untuk membeli pakaian dalam. Dia bahkan tidak sanggup untuk memilih jika kau Steven berada di dekatnya. Itu adalah hal sangat privasi baginya.


"Aku tidak suka menunggu. Kau tidak perlu malu denganku. Aku bahkan pernah melihat yang lebih dari itu." Steven berjalan mendahului Fiona tanpa menunggu persetujuannya terlebih dahulu.


Wajah Fiona kembali memerah. "Steve, kenapa kau membahas masaalalu lagi?" protes Fiona sambil mengejar langkah Steven.


Steven terlihat tidak menghiraukan teriakan Fiona dan terus berjalan hingga tiba di depan salah satu outlet yang khusus menjual pakaian dalam. "Tunggu Steve." Fiona menahan tangan Steven.


"Kau tidak mungkin serius ingin masuk ke dalam, bukan?" tanya Fiona mamastikan.


"Memangnya ada larangan untuk pria masuk sini?" tanya Steven dengan wajah santai.


"Tidak ada, hanya saja apa kau tidak merasa malu masuk ke dalam? Ini...."


"Cepatlah. Setelah ini kita harus ke mansion orang tuaku." Steven berjalan masuk tanpa menghiraukan Fiona yang terlihat tidak setuju kalau Steven ikut masuk ke dalam.


Tidak jauh dari mereka, Erick dan Doni dibuat tercengang melihat tingkah bos mereka. Steven bahkan belum pernah memasuki mall hanya untuk membeli pakaian. Dia terbiasa menyuruh Erick atau designer pribadinya untuk membuatkan dia pakaian.


Fiona menghembuskan napas panjang lalu dengan wajah pasrah dia mengikuti langkah Steven dari belakang. Terlihat seorang pegawai menyapa mereka dengan ramah setelah iti mengikuti Fiona dan Steven yang terlihat sedang melihat-lihat sambil menjelaskan tentang produk mereka pada Fiona. Fiona bahkan tidak fokus dan tidak tahu harus memilih yang mana karena merasa tidak nyaman ada Steven di dekatnya.


"Ini keluaran terbaru dan bahannya sangat halus. Model ini cocok untuk pengantin yang baru saja menikah. Ini edisi terbatas," ucap pegawai tersebut sambil menunjukkan lingeri berwarna merah menyala dengan bahan sangat tipis dan terbuka.


Seketika wajah Fiona langsung memerah. Ternyata pegawai tersebut salah paham terhadap hubungan mereka. "Kami bukan pengantin baru," jelas Fiona cepat sambil menahan malu.


"Benar, kami bukan pengantin baru."


"Maafkan saya Tuan, Nona saya kiraa...."


"Kami baru berencana untuk menikah tahun ini," sambung Steven lagi sambil merapatkan tubuh Fiona padanya. Ucapan Steven langsung membuat Fiona melongo. "Apa kau ingin membelinya sayang untuk pernikahan kita nanti?"


Steven terlihat tersenyum sambil menoleh pada Fiona dengan wajah tidak bersalah dan tanpa beban sedikit pun.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2